
"Apa kau membenciku?" Ana menatap David dengan tajam.
Hening, tak ada jawaban keluar dari mulut pria yang sangat di cintainya itu. Ana mendesah, situasi seperti ini benar-benar membuatnya gusar.
"David Prasetyo, katakan padaku. Apa kau membenciku?" tanya Ana sekali lagi.
David mendengus kasar, ia menoleh dan menatap Ana.
"Bukankah kau yang membenciku Anandita Wijaya?" David memandang Ana dengan tatapan dan senyuman sinis.
"Darimana pemikiran seperti itu kau dapatkan?" tanya Ana, ia sungguh tak mengerti.
"Menurutmu?" tanya David.
Ana menghela nafasnya, ia benci menghadapi sifat David yang sangat keras kepala seperti ini.
"Aku tidak pernah membencimu, David. Tidak pernah," ucap Ana penuh penekanan.
"Dasar pembohong, kau bilang tidak membenciku tapi kau membatalkan pernikahan rencana pernikahan kita," sahut David kesal.
"Itu tidak benar," tukas Ana. "Aku tidak pernah berniat membatalkan rencana pernikahan kita, aku hanya ingin menundanya," ucapnya setengah menghiba.
"Memang apa bedanya membatalkan dan menunda, tidak ada, kan?" sahut David.
"Tentu saja berbeda. Kau itu bodoh atau terlalu bodoh sampai tidak bisa membedakan dua buah kata yang sangat jauh berbeda maknanya," Ana tersenyum kecut menanggapi kebodohan pria ini.
"Ya, aku memang bodoh. Aku bodoh karena terlalu mencintaimu," David berucap sambil menundukkan kepala.
Ana meraih tangan David. Ia menautkan jemarinya dengan jemari David.
"Sayangku David Prasetyo, lihat aku," pinta Ana dengan lembut.
David mengangkat wajahnya. Matanya bersitatap dengan mata sendu milik Ana. Tampak wajahnya yang masih sembab. Matanya bahkan menjadi agak sipit, mungkin karena semalaman menangisi dirinya.
"Kau tahu, kau adalah laki-laki paling sempurna di hidupku, selain ayah dan kakakku. Kaulah orang yang membuka hatiku agar mau menerima seseorang dalam hidupku lagi setelah peristiwa yang membuat aku malu dulu. Kau selalu memberikan apa yang kumau, kau selalu berusaha untuk membuatku tersenyum sepanjang waktu. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu? Aku terlalu mencintaimu, David."
Penuturan Ana tadi membuat David tersenyum sumringah. Matanya kini menunjukkan binar-binar kebahagiaan mengetahui wanitanya ternyata sangat mencintainya.
"Benarkah itu, An?" tanya David, bukan keraguan melainkan ia ingin merasa yakin.
"Apa aku terlihat berbohong saat ini?" Ana mencebikkan bibirnya.
"Bukankah kau sangat mencintai Ardian? Kau melakukan ini untuk membuatku merasa senang saja, kan?"
__ADS_1
"Ck, kau selalu saja begini. Harus berapa kali aku katakan jika aku hanya mencintaimu?" Ana mencoba meyakinkan David.
"Mungkin kau berkata seperti ini juga di depannya," tukas David.
"Mengapa kau tidak mau percaya padaku, sih?"
"Karena aku melihat sendiri raut wajahmu yang tiba-tiba terkejut saat aku memperkenalkanmu padanya!" David berucap dengan nada tinggi.
Ana kembali menghela nafasnya, inilah alasannya meminta rencana pernikahan mereka ditunda sementara. David adalah tipe pria pecemburu akut dan memiliki tingkat rasa percaya pada pasangannya yang sangat rendah.
"Aku terkejut karena orang yang kau perkenalkan padaku adalah orang yang sangat kubenci, orang yang selalu ingin kuhindari karena telah mempermalukanku dan kedua orang tuaku!" ucapnya kemudian.
Ana mulai menangis saat dipaksa kembali teringat masa paling menyedihkan sekaligus memalukan dalam hidupnya. Ia akui jika Ardian meninggalkannya karena kesalahannya sendiri. Namun ia sangat membenci caranya yang seolah memberi harapan yang tinggi namun ternyata hanya ingin dihempaskan ke bawah.
"Maafkan aku, An," David sangat tak kuasa melihat wanitanya menangis.
Ana tak menjawab, ia masih menangis. Lelehan air mata jatuh membasahi kedua pipinya.
"Maafkan aku karena tidak bisa mengendalikan emosiku," ucap David lagi.
"David, aku sangat mencintaimu. Tapi sikapmu yang selalu cemburu pada siapapun yang dekat denganku, membuatku lelah. Kau tidak pernah mempercayaiku, kalau iya, itu pun terpaksa," ucap Ana.
Ana mengusap air matanya, sementara David hanya bisa diam menyadari semua kesalahan yang telah ia lakukan.
"Itulah yang membuatku menunda pernikahan kita, aku hanya ingin menyelesaikan masa kerjaku yang hanya tinggal satu tahun lagi. Setelah itu aku akan menikah denganmu dan hanya fokus mengurus rumah tangga kita. Aku tidak ingin selalu di hantui rasa cemburumu saat aku bekerja jika kita menikah sekarang," sambungnya.
Ternyata alasan dibalik keinginan Ana menunda rencana pernikahan mereka adalah karena dirinya. Sifatnya yang terlalu cemburu membuat Ana merasa takut menikah sekarang, apalagi Ana masih terikat kontrak kerja dengan sebuah perusahaan keuangan. Ia saja yang tidak peka pada keadaan.
***
Sebulan sudah sejak kejadian pembegalan itu terjadi. Kini kondisi kesehatan Nissa semakin baik. Ia sudah mulai melatih gerakan dasar ilmu bela dirinya lagi setelah sebulan lamanya ia tak melakukannya.
Ardian juga sudah berubah. Ia sudah bukan tuan angkuh yang hobi memerintah Nissa lagi. Ia juga sudah bukan bos besar yang hobi membentak lagi.
Selama dua minggu ini Ardian selalu memperhatikan kesehatan Nissa. Tidak hanya itu, ia juga selalu memberikan menu makanan sehat untuk Nissa.
Semua kebutuhan Nissa dipenuhi olehnya. Nissa bagaikan seorang ratu yang dilayani oleh dayangnya, ingin apa tinggal bilang.
Ardian melakukan itu semata karena ia merasa bersalah telah berbuat kasar pada Nissa sekaligus sebagai ungkapan terima kasih karena telah menolongnya. Ia sendiri yakin jika yang dilakukannya tidak akan cukup untuk membalas jasa Nissa padanya.
Lain Ardian lain pula dengan Nissa. Sebagai seorang wanita yang tidak pernah jatuh cinta apalagi mendapat perhatian lebih dari lawan jenis tentu saja membuat jiwa feminimnya meronta.
Katakan saja Nissa baper alias terbawa perasaan. Memang siapa yang tidak luluh hatinya jika seorang pria tampan seperti Ardian memberi perhatian khusus pada dirinya. (Author aja mau, tapi sayang hati author udah milik mas suami 🤭)
__ADS_1
Walaupun perubahan itu baru terjadi selama dua minggu kebelakang ini, namun hal itu telah membuat benih-benih cinta tumbuh di hati Nissa. Tanpa ia sadari ia mulai jatuh cinta pada Ardian, tuan paling menyebalkan yang sebelumnya sering ia maki dalam hati.
Tapi Nissa bukanlah gadis yang akan menerima begitu saja perasaan yang tumbuh di hatinya. Walaupun jantungnya selalu berdetak begitu cepat saat berada di dekat Ardian, bahkan saat memandang wajahnya. Nissa selalu bisa mengendalikan dirinya dengan baik.
Nissa menyadari hubungan yang terjalin di antara mereka hanyalah sebatas hubungan antar majikan dan pelayan serbaguna saja. Jadi sebisa mungkin ia menepis rasa itu, sampai ia yakin jika rasa ini benar-benar nyata dan bukan karena sikap baik yang ditunjukkan Ardian.
Tok tok tok
Nissa tersadar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintunya. Terdengar suara Ardian memanggil namanya dari luar.
"Nis, Nissa!"
Nissa bergegas membuka pintu sebelum pria berparas tampan itu semakin nyaring berteriak.
"Ada apa, tuan?"
"Ayo makan, setelah itu aku akan mengantarmu memeriksakan bekas operasimu," ucap Ardian.
Ardian memindai Nissa dari atas ke bawah. Ia heran karena melihat pakaian Nissa basah.
"Kenapa tubuhmu basah? Apa yang kau lakukan di dalam?"
"Oh, saya hanya melatih gerakan dasar saja, tuan. Sudah lama tidak melakukannya, saya takut nanti tidak bisa selincah dulu lagi," jawab Nissa jujur.
"Astaga, lukamu belum sembuh benar. Kalau bekas jahitanmu terbuka bagaimana?" ucap Ardian yang mulai geram.
"Haha, tidak akan terjadi apa-apa, tuan. Bekas jahitannya sudah kering, kok. Lagipula saya sudah tidak merasakan nyeri lagi,"
"Memangnya kamu dokter?" tanya Ardian kesal.
"Bukan," Nissa menggelengkan kepala.
"Kalau begitu hentikan kegiatanmu. Lakukan itu jika dokter sudah menyatakan sembuh dan mengizinkanmu melakukannya," perintah Ardian yang langsung di angguki oleh Nissa. Ia tahu jika tuannya ini tidak bisa di bantah.
"Cepat bersiap, aku menunggumu di meja makan," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Nissa.
BERSAMBUNG
Hai gengss, terima kasih sekali lagi mbak tika ucapkan karena telah sudi membaca karya receh ini.
Saya berikan penghargaan yang terdalam untuk kalian yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini setiap hari.
Thank you soo much 😍😍
__ADS_1
See u next chapter gengss
Luv u all 😘😘