Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Hari semakin malam, namun Ardian masih betah berada di sini. Nissa yang mulai merasa bosan sekaligus jengah melihat tingkah Ardian menjadi geram.


Nissa turun ke lantai dansa dan melangkahkan kaki mendekati Ardian yang asik menari bersama para wanita bertubuh seksi. Tanpa aba-aba Nissa mencengkram pergelangan Ardian dan menariknya keluar dari kerumunan pengunjung yang sedang menggila.


"Apa-apaan kamu, Nis!" Ardian menghempaskan cengkraman Nissa pada tangannya dengan kasar.


"Lihat ini," ucap Nissa sambil menunjukkan layar ponselnya.


"Apa ini?" Ardian bertanya sambil menggaruk keningnya sendiri.


Huh, Nissa menghela nafas mencoba untuk bersabar.


"Ini sudah larut malam, Tuan. Bukankah besok anda ada meeting dengan klien di pagi hari," ucap Nissa mengingatkan.


"Ah, sial. Aku sampai lupa bila besok ada meeting," sahut Ardian setelah ia menyadarinya.


"Ayo kita pulang. Ini ambil," Ardian memberikan kunci mobilnya pada Nissa.


Dengan sigap gadis itu menerimanya lalu segera melangkahkan kaki keluar dari klub malam ini.


Edi yang menyadari kepergian mereka langsung berlari mengejar sampai keluar.


"Hati-hati, Nis!" teriaknya. Nissa berbalik dan tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Sudah, ayo cepat," ucap Ardian ketus.


Segera Nissa melajukan mobilnya membelah jalan yang sudah mulai sepi. Ardian yang memilih duduk di depan tampak menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


Hanya tinggal beberapa kilometer lagi mereka sampai, namun ada kendala lain. Terjadi kecelakaan di depan mereka, hingga arus lalu lintas di tutup sementara.


Nissa tak habis akal, ia mengaktifkan sistem navigasi dan mencari jalan alternatif sementara Ardian masih terpejam. Nafasnya berhembus teratur menandakan ia telah tertidur pulas.


Nissa mulai menyusuri jalan alternatif yang ia dapatkan dengan kecepatan sedang. Jalan tersebut agak menanjak dengan hutan dikiri dan kanannya. Selain itu penerangan yang minim membuat Nissa meningkatkan kewaspadaannya.


Beberapa saat lagi mereka keluar dari jalan ini, namun tiba-tiba mobil mereka bergerak dengan tak biasa. Nissa segera menghentikan mobilnya.


"Kenapa, Nis?" Ardian terbangun saat mobilnya berhenti.


"Sepertinya ban mobilnya bocor," jawab Nissa.


"Kenapa kita ada disini?" tanya Ardian lagi.


"Tadi ada kecelakaan dan arus lalu lintas ditutup, jadi saya menggunakan sistem navigasi untuk mencari jalan alternatif," ucap Nissa menjelaskan.


Nissa mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Ardian menatapnya dengan heran.


"Kamu kenapa, seperti ada yang kamu tunggu di luar sana?" tanya Ardian heran.


"Bukan begitu, hanya saja perasaan saya tidak enak," jawabnya.


"Biar aku keluar mengecek ban mobilnya," ucap Ardian kemudian ia meraih kenop pintu.

__ADS_1


"Tunggu, tuan," Nissa menarik baju Ardian.


"Kenapa?" tanya Ardian bingung.


Nissa melihat hutan disamping kiri mobil mereka, ada sesuatu yang berkilat yang di tangkap oleh kedua matanya. Nissa yakin ada yang tidak beres disini, terlebih lagi tadi ban mobil mereka bocor secara tiba-tiba.


Nissa meraih ponselnya dan segera menghubungi Asisten Roli.


"Pak Roli, tolong lacak keberadaan saya dan Tuan Ardian sekarang, selain itu kirimkan bantuan kemari secepatnya!" ucapnya cepat setelah itu Nissa segera mematikan ponselnya.


Ardian mengerutkan keningnya, ia heran sekaligus takjub dengan kesigapan Nissa. Nissa sudah terlihat seperti seorang pengawal profesional menurutnya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk jendela mobil mereka dari luar tepat di samping Nissa. Nissa menoleh, matanya membulat saat melihat seseorang tersenyum menyeringai padanya.


"Nissa, awas!" seru Ardian.


Prangg!


Kaca jendela mobil didekat Nissa pecah terkena pukulan batu dari pria tadi. Nissa sempat menghindar dengan memutar tubuh serta mengapit kepalanya diantara kedua lengannya.


Ardian terperanjat, kemudian segalanya terjadi dengan begitu cepat. Pintu mobil di samping Nissa di buka dengan paksa, seorang pria melepas sabuk pengaman Nissa kemudian menyeret gadis itu keluar dari dalam mobil.


Kini Nissa sudah berada dalam kekuasaan seorang pria bertubuh gempal. Ia memaksa Nissa berdiri dan menghunuskan sebuah pisau ke lehernya. Nissa hanya bisa diam tak bergerak karena jika ia melakukan gerakan sedikit saja lehernya akan terluka.


"Keluar!" teriak pria lain, seorang pria kurus bertato yang tadi menghancurkan kaca jendela mobil.


"Apa mau kalian? Uang? Aku bisa memberikan semuanya pada kalian," ucap Ardian mencoba bernegosiasi, suaranya bergetar karena takut.


"Haa! Kau pikir siapa dirimu hingga berani melakukan penawaran denganku," ucap si ketua.


"Lalu apa mau kalian sebenarnya?" tanya Ardian lagi.


"Aku mau kalian berdua ma*i!" ucapnya berteriak.


"Apa? Tidak, kalian tidak bisa membu*uh kami. Aku akan menuruti segala keinginan kalian asal kami dibebaskan," ucap Ardian kemudian.


"Bebas? Kalau aku membebaskan kalian sama saja aku menyerahkan diri pada polisi," sahutnya santai.


"Lalu mengapa kalian ingin menghabisi kami berdua?"


"Kau ini bodoh atau apa? Memangnya ada begal yang membiarkan korbannya tetap hidup dan memberikan saksi pada kepolisian?" tanya si ketua. Setelah itu ia tertawa terbahak-bahak diikuti oleh dua orang yang lain.


Nissa mengedipkan matanya pada Ardian. Berkali-kali ia melakukannya namun Ardian malah bingung melihat Nissa seperti iti.


Nissa kembali mengedipkan matanya dan melirik ke arah pria kurus bertato yang tidak memegang apa-apa. Nissa melirik kaki pria itu, kemudian melirik Ardian lagi.


Huh, dasar bodoh! Umpatnya dalam hati. Nissa memanfaatkan para begal yang masih asik tertawa itu. Ia mulai beraksi melihat musuhnya mulai lengah.


Dengan gerakan cepat Nissa menyikut pria yang mengarahkan pisau kelehernya tepat di ulu hati pria bertubuh gempal itu. Pria itu memgerang kesakitan dan melepaskan kungkungannya pada Nissa.

__ADS_1


Setelah itu ia menendang tangan pria itu hingga pisau yang dipegangnya terjatuh. Dua orang begal yang lain segera membantu temannya dan menyerang Nissa bersamaan. Perkelahian satu lawan tiga pun terjadi.


Ardian yang melihatnya hanya melongo tak percaya, ia belum pernah melihat Nissa berada dalam mode galak seperti ini. Tak mau kalah, Ardian bergegas menarik tangan si kurus dengan kencang.


Si kurus terhempas kebelakang hingga jatuh, secepat kilat Ardian naik ke atas perutnya dan memukuli wajah si kurus dengan memb*bi buta. Melihat temannya dipukuli si ketua beralih mendatangi Ardian, ia datang membawa sebuah kayu besar.


Nissa sendiri kini mulai kewalahan menghadapi tenaga si gempal yang ia pikir tak ada habisnya. Bahkan saat ini posisi Nissa sedang di kunci olehnya.


Saat itulah Nissa melihat si ketua mengarahkan kayu ke kepala Ardian.


"Tuan, awas di belakangmu!" teriaknya.


Nissa mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari kuncian si gempal. Ia menjatuhkan si gempal dan berlari mencoba menggapai kayu yang di arahkan si ketua.


Namun naas, Nissa terlambat. Si ketua berhasil memukul kepala Ardian hingga ia tumbang seketika.


Melihat Tuannya seperti itu amarah Nissa memuncak. Ia seperti tokoh komik yang keluar tanduk di kepalanya saat ia marah.


Nissa menyerang si ketua habis-habisan. Ia memberikan pukulan dan tendangan bertubi-tubi terhadap si ketua. Sigempal datang dan membantu si ketua, hingga sekarang Nissa harus menghadapi dua orang sekaligus.


Dari kejauhan terdengar suara sirine polisi. Sepertinya Roli berhasil melacak keberadaan mereka.


Mendengar suara itu si gempal dan si ketua segera berlari masuk ke dalam hutan. Sementara si kurus masih belum sadarkan diri akibat pukulan membabi buta dari Ardian tadi.


Dua buah mobil polisi tiba, di belakangnya sebuah mobil semi matik mengikuti. Roli keluar dari mobil dan mendekati Ardian yang kini terbaring di jalan.


"Bro, bangun, bro!" ucap Roli sambil menepuk pipi Ardian.


Perlahan Ardian membuka matanya, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Jalan yang gelap berubah terang karena lampu mobil polisi dan juga mobil Roli.


Ardian bangkit dan duduk. "Gue gak apa-apa, kali," ucapnya.


"Syukurlah, gue kira loe kenapa tadi," sahut Roli. Kekhawatirannya akhirnya sirna.


Nissa yang melihatnya langsung bernafas lega. Ia berdiri dan melihat si kurus yang terkapar kini di tangani polisi. Nissa berjalan mendekati Ardian.


Ardian memperhatikan Nissa dengan lekat, wajah gadis itu pucat. Pandangannya kini tertuju pada kaus yang dipakai Nissa.


Matanya membulat melihat kaus Nissa yang berwarna putih kini berubah menjadi merah di bagian perutnya, terangnya lampu mobil membuatnya semakin jelas. Darah, batinnya.


"Nissa, perut kamu," ucapnya sambil berdiri.


BRUKK


Tubuh Nissa ambruk seketika. Semua yang ada disana terkejut, termasuk Ardian yang kini berlari mendekati Nissa. Darah mengalir keluar dari luka di perutnya. Ardian mengangkat kepala Nissa dan memeluknya.


"Bertahanlah, Nissa. Aku yakin kamu kuat," ucapnya dengan nada bergetar.


BERSAMBUNG


Hai gengss, jangan lupa like and comment, supaya mbak tika semakin semangat berkarya, OK.

__ADS_1


__ADS_2