
Hari ini Ardian kesal sekali. Pagi ini ia berniat memanggil Randy dan memberinya surat pemutusan hubungan kerja secara langsung. Namun target malah lebih dulu mengirimkan surat pengunduran dirinya.
Kekesalannya bertambah karena pujaan hatinya masih kekeh untuk menolak permintaannya menjadi kekasihnya. Padahal ia telah melakukan segala hal untuk mendapatkan hati Nissa, namun gadis itu benar-benar tangguh. Ia tak terpengaruh sama sekali. Ardian sungguh heran dengan sikap gadis itu.
"Diajak kencan si set*an itu mau, tapi giliran dijadikan pacar pangeran tampan sepertiku malah menolak. Sebenarnya apa maunya?" gumamnya kesal.
Tok tok tok
"Masuk," sahutnya.
Asisten Roli masuk, ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Ardian.
"Ini adalah berkas perjanjian kontrak kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan konstruksi dari kota P, pak," ucap asisten Roli.
"Ini sudah lengkap semua berkasnya?" tanya Ardian, wajahnya berubah serius jika menyangkut masalah pekerjaan.
"Sudah lengkap, pak," jawab asisten Roli singkat.
Ardian membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Ia memeriksa berkas tersebut, matanya sampai menyipit membuktikan betapa telitinya seorang Ardian.
"Baiklah, kau boleh keluar," perintahnya.
Kemudian Roli melangkahkan kaki menuju keluar ruangan. Namun Ardian kembali memanggilnya.
"Roli, ada yang mau kutanyakan padamu," ucapnya.
"Anda ingin menanyakan apa, pak? Saya akan berusaha sebisa mungkin menjawabnya."
"Eemmm, bagaimana cara menarik perhatian seorang gadis. Aku sudah melakukan semua yang aku tahu namun dia tetap menolakku," ucap Ardian.
Asisten Roli tampak berpikir sebentar. "Sepertinya anda harus melepasnya, pak," ucapnya kemudian.
"Apa katamu?! Aku tidak mungkin melepasnya, Nissa satu-satunya wanita yang kuinginkan menjadi ratu dalam hidupku," ujar Ardian.
"Cinta tidak bisa dipaksakan, jika anda terlalu memaksa maka bukan tidak mungkin kalian berdua malah akan saling menyakiti satu sama lain," ucap asisten Roli menasehati.
"Lebih baik anda ikhlaskan perasaan anda, jika kalian berjodoh maka akan selalu ada jalan untuk hubungan kalian kedepannya," sambungnya kemudian.
Ardian terdiam mendengar ucapan asistennya. Akhirnya ia sadar jika selama ini ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Nissa.
"Kalau tidak ada yang perlu ditanyakan lagi saya permisi, pak."
"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Ardian.
Ardian kini termenung seorang diri, ia meresapi apa yang diucapkan asisten Roli tadi.
__ADS_1
Apa aku memang harus melepaskanmu, Nis? Apa kekuranganku di matamu, Nissa?
***
Tiga hari berlalu sejak saat itu. Ardian benar-benar mengikuti saran dari asisten sekaligus sahabatnya. Ia tak pernah lagi mengganggu Nissa saat di apartemennya. Tak ada lagi kalimat ajakan untuk berpacaran yang dilontarkan Ardian.
Sementara Nissa kini merasa kehilangan, tapi apa, ia sendiri pun tak tahu. Yang pasti ia kini merindukan Ardian yang selalu masuk tanpa izin ke dalam unitnya. Ardian yang selalu menyatakan keinginannya untuk menjadikan Nissa sebagai kekasihnya.
Jika biasanya Ardian akan bersikap over protective padanya, kini pria itu seakan membiarkannya melakukan apapun. Tak ada lagi kata larangan yang keluar dari mulutnya. Dan hal itu malah membuat Nissa bersedih.
"Selama beberapa hari ke depan kamu bisa berlibur, Nis. Aku mau pulang menemui kedua orang tuaku," ucap Ardian saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam.
"Baik, tuan."
Tak ada lagi percakapan setelah itu, Nissa dibuat merindu. Merindu pada apa yang sangat ingin ia hindari.
Esoknya Ardian berangkat kembali ke kota asalnya, kota T. Kemarin Ibu Marissa menghubunginya dan memintanya untuk segera pulang ke rumah. Sepertinya ada hal yang ingin kedua orang tuanya sampaikan hingga mereka berharap sekali Ardian mau pulang.
Tiin tiin
Ardian membunyikan klakson mobilnya di depan pagar sebuah rumah mewah. Seorang pria berseragam putih hitam, seragam khas seorang satpam, keluar dan segera membuka gerbang pagar tersebut.
Ardian segera mengarahkan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah mewah tersebut. Setelah ia merasa mobilnya telah terparkir sempurna, Ardian segera keluar.
Satpam yang tadi membukakan gerbang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Mereka berdua kemudian saling menyapa satu sama lain. Setelah itu Ardian bergegas memasuki rumah utama.
Pelan tapi pasti, Ardian berjalan mengendap-ngendap untuk memberi kejutan pada sang ibu. Ia kini sudah dalam posisi siap untuk mengagetkan ibu Marissa.
"Kalau masuk ke dalam rumah itu sebaiknya ucapkan salam dulu, Di," ucapan sang ibu yang tiba-tiba benar-benar mengejutkan Ardian.
"Ibu kok tau kalau aku sudah pulang?" tanyanya heran.
"Tuh," Ibu menunjuk lemari kaca di depannya, tampak pantulan mereka berdua melalui lemari kaca tersebut. Walaupun tampak samar namun tetap bisa terlihat.
Ardian tersenyum, kemudian ia mengecup pipi ibunya.
CUP
"Kangen, bu," ujarnya.
"Kalau kangen kenapa tidak pulang? Kalau tidak ibu dulu yang memintamu untuk pulang sampai sekarang kamu pasti masih sibuk mengurus perusahaanmu itu," ucap sang ibu bernada sewot.
Ardian terkekeh geli. Ia paling senang jika ibunya marah-marah seperti ini. Bukan karena dia anak durhaka atau apa, hanya saja jika sang ibu masih bisa marah atau mengomel maka bisa dipastikan jika ia baik-baik saja.
"Sudah makan?" tanya sang ibu.
__ADS_1
"Belum," sahutnya.
"Kenapa tadi tidak singgah dulu ke warung makan?" tanya sang ibu.
"Malas, aku cuma mau masakan ibu," jawabnya dengan jujur.
"Yasudah, kamu tunggu di meja makan, ibu siapkan makan buat kamu," perintah sang ibu.
Ardian segera pergi menuju ruang makan keluarga. Sudah cukup lama ia tidak makan bersama keluarga besarnya. Paling ia pulang jika perayaan hari besar keagamaan.
Tak lama ibu datang membawa dua buah piring berisi lauk dan tumis jagung. Beliau menyajikan sendiri makanan tersebut di atas meja.
"Ica mana, Bu?" tanya Ardian.
"Nissa tadi jalan sama Joko," jawab ibu.
"Ibu sudah ketemu sama Joko?" tanya Ardian dengan raut wajah terkejut.
"Sudah, bahkan dia kemari bersama kedua orang tuanya untuk melamar Ica."
"Kok Ardi tidak dikabari?" tanya Ardian.
"Gimana mau dikabari kalau kamu sibuk terus. Lagipula kalau dikabari lewat telpon kurang sreg, lebih baik kamu mendengar berita ini secara langsung," ucap sang ibu.
"Berita apa, bu?" tanya Ardian.
"Ica dan Joko akan mengadakan acara pertunangan dua minggu lagi," jawab sang ibu.
"Kenapa tidak langsung menikah saja?" celetuk Ardian.
"Ica bilang dia akan menikah setelah kamu menikah lebih dulu," sahut ibunya.
"Loh, kenapa begitu?"
"Kamu tanya sendiri sama Ica, apa alasannya," ujar sang ibu.
"Menurut ibu, Joko gimana orangnya? Baik atau tidak?"
"Baik, Joko tipe anak yang selalu jujur dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengejar cita-citanya," jawab ibu.
"Baguslah kalau begitu."
"Kamu kapan nyusul?" pertanyaan sang ibu membuatnya terkejut bukan kepalang.
"Kapan-kapan, deh," sahutnya kemudian.
__ADS_1
Dan ia berakhir mendapat tatapan mematikan dari sang ibu.