
Ardian duduk di depan ruang operasi sebuah rumah sakit. Kondisinya sangat kacau, rambutnya berantakan, dan pakaian yang digunakannya saat ini kotor karena terkena darah Nissa.
Matanya tak berkedip menatap lampu bulat berwarna hijau itu. Beberapa kali ia meremas jarinya sendiri, mencoba mengurangi perasaan khawatir yang menderanya saat ini.
Asisten Roli perlahan berjalan memghampirinya. Ia membawa paper bag berwarna coklat dan menyerahkannya pada Ardian.
"Mendingan loe ganti baju dulu, Di," saat menghadapi situasi seperti saat ini Roli akan berperan menjadi seorang sahabat, bukan lagi sebagai asisten.
Ardian mendongak. "Gue gak bisa ninggalin Nissa sendirian, Rol," sahutnya dengan tatapan sendu.
"Nissa didalam gak sendiri, Di. Ada dokter dan perawat yang menemaninya," ucap Roli.
"Tapi, gimana kalau..."
"Gak ada tapi, gue minta sama loe sekarang, cuci muka dan ganti baju loe. Enek gue liatnya," ucap Roli sewot.
Akhirnya Ardian bangkit dan meraih paper bag dari tangan Roli dengan kasar. Roli yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa mencibir kesal.
Dengan cepat Ardian berganti pakaian di dalam kamar mandi, setelah sebelumnya ia mencuci wajahnya. Kemudian ia bergegas kembali ke ruang operasi dimana Nissa sedang berjuang saat ini.
Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah. Ardian segera berdiri dan menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Ardian, dari wajahnya tampak sangat cemas dengan kondisi Nissa.
"Kita harus bersyukur karena Nona Nissa mampu berjuang sampai detik ini, tadi saja kami bahkan hampir kehilangannya. Untuk saat ini pasien akan kami observasi terlebih dahulu, jika keadaannya sudah stabil maka akan kami pindahkan ke ruang rawat biasa," ucapnya menjelaskan pada Ardian.
"Bagaimana dengan luka tusuknya, apakah akan mempengaruhi kehidupannya di masa depan, dok?" tanya Ardian kembali.
"Luka tusukan di perut pasien tidak terlalu dalam dan tidak melukai organ tubuh yang lain. Hanya saja untuk satu bulan kedepan pasien dilarang melakukan pekerjaan berat," jelas dokter berkacamata tersebut.
Tak lama Nissa keluar dari ruang operasi. Selang oksigen terpasang di hidungnya, beberapa alat medis yang lain tampak menempel di tubuhnya.
Nissa dimasukkan ke ruangan khusus pasien operasi. Diruangan itu kondisi Nissa akan dipantau selama 24 jam kedepan. Ardian hanya bisa melihat Nissa dari luar ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca.
"Hei, bro," tiba-tiba Roli menepuk pundak Ardian.
Ardian tersentak kaget dan menoleh. Wajahnya sungguh terlihat suram, namun Roli malah tersenyum mengejeknya.
"Nyesel gak, loe?"
"Maksudnya?" Ardian balik bertanya sambil menatap heran.
"Orang yang loe benci malah rela kesakitan kaya gitu demi ngelindungi loe," ucapnya sambil menatap tubuh Nissa yang terbaring di brankar dari arah luar.
Ardian diam, ia tak bisa menanggapi ucapan Roli. Ia sadar jika sikapnya selama ini sudah sangat keterlaluan pada Nissa. Ia juga sadar jika selama ini Nissa hanyalah korban pelampiasan amarahnya saja.
__ADS_1
Namun egonya terlalu tinggi hingga ia selalu menyangkal walaupun Roli sudah berulang kali mengingatkannya. Egonya juga yang membuatnya menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menyakiti orang yang tidak bersalah.
Ardian kembali didera perasaan bersalah saat ia mengingat semua kelakuan buruknya pada Nissa, saat ia semena-mena memerintah gadis tersebut. Bahkan tadi sore ia sudah membuat daftar pekerjaan berat yang harus dilakukan oleh Nissa esok hari.
"Di, nyonya besar nelpon gue mulu, nih," ucap Roli sambil memperlihatkan panggilan dari Ibu Marissa.
"Siniin hape, loe. Biar gue yang ngomong langsung," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Roli memberikan ponselnya kepada Ardian. Kemudian Ardian segera menghubungi ibunya. Wanita paruh baya tersebut memang membayar Roli untuk memperhatikan segala tindak tanduk Ardian sejak ia pindah ke kota B.
"Halo, Bu," sapa Ardian dengan lembut.
"Halo, Nak. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Ibu Marissa, dari suaranya terdengar wanita itu sangat khawatir.
"Ardi baik-baik saja, kok. Ibu tidak usah cemas," ucap Ardian menenangkan sang ibu.
"Lalu mengapa kalian berada di rumah sakit? Apa kau berbohong pada ibu, Nak?" tanya ibu, sepertinya beliau mulai curiga dengan keberadaan Ardian di rumah sakit.
Ardian menatap Roli dengan tajam. Mulutnya bersungut-sungut memaki sahabatnya tanpa mengeluarkan suara.
"Ardi tidak berbohong, Bu. Hanya saja pengawal Ardi tadi terluka hingga harus dilarikan kerumah sakit, Bu."
"Kamu sekarang memiliki pengawal? Sejak kapan?" Ibu Marissa kembali menghujani Ardian dengan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
"Iya, Bu. Ardi sekarang menyewa jasa pengawal pribadi. Sudah sejak dua bulan yang lalu," jawabnya berbohong.
"Pengawal itu tidak apa-apa, Bu. Hanya menderita luka tusuk di bagian perutnya saja,"
"Apa! Ardian Sanjaya, luka tusukan adalah hal serius. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu pada orang yang menyelamatkanmu?" Ibu Marissa terdengar sangat marah karena ucapan Ardian tadi.
"Bukan begitu maksud Ardi, Bu,"
"Besok pagi-pagi sekali ibu akan kesana. Ibu akan melihat keadaan pengawalmu itu," ucap Ibu memaksa.
Wajah Ardian berubah tegang, ia tidak bisa membiarkan ibunya bertemu dengan Nissa. Ia tak bisa membayangkan betapa murka ibunya jika mengetahui pengawal yang terluka adalah seorang perempuan, bukan laki-laki seperti yang di pikirkan oleh sang ibu.
"Percuma, Bu. Jika ibu kemari akan sia-sia saja," ucap Ardian berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya.
"Mengapa sia-sia?" tanya Ibu Marissa.
"Karena pengawal yang Ardi sewa berasal dari agen yang sangat di rahasiakan. Jika ada orang lain yang mengetahui identitasnya maka keluarganya akan terancam keselamatannya," ucap Ardian dengan penuh keyakinan.
"Benarkah? Kau tidak berusaha menutupi sesuatu, kan?" tanya Ibu Marissa seakan tak percaya dengan ucapan putra keduanya itu.
"Benar, Bu. Untuk apa Ardi berbohong pada Ibu," jawabnya.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas ibunya dari pelantang suara di ponselnya.
"Baiklah, kalau begitu Ibu tidak jadi mengunjunginya. Tapi tolong sampaikan padanya jika Ibu sangat berterima kasih karena dia telah melindungi putra ibu yang berharga," ucap Ibu Marissa.
"Iya, Ibuku yang cantik," sahut Ardian terkekeh.
"Dan untukmu, Ibu mohon jangan terlibat hal yang berbahaya," ucap sang ibu penuh harap.
"Siap, laksanakan," sahut Ardian lagi.
Setelah perbincangan mereka melalui sambungan telepon berakhir Ardian mengembalikan ponsel itu kepada Roli.
Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya, wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta. Namun di sisi lain ia bersyukur karena ibunya percaya kebohongannya.
***
Sudah 24 jam Nissa menjalani proses observasi, dan selama itu pula Ardian selalu berada dirumah sakit. Ia melakukan semua pekerjaannya di ruang rawat khusus VVIP yang ia pesan untuk Nissa.
Nissa kini telah di pindahkan ke ruang VVIP. Semua peralatan medis yang menempel ditubuhnya sudah dilepaskan. Hanya tersisa selang infus serta selang oksigen yang masih terpasang di di hidungnya.
Ardian duduk di samping ranjang Nissa. Ia menatap lekat wajah pucat gadis cantik itu. Tangannya memegang ponsel Nissa. Dari pagi tadi seseorang mencoba memghubungi Nissa hingga ia merasa terganggu.
Randy lagi, batinnya menggerutu. Sebenarnya ada hubungan apa Nissa dan Randy, pikirnya.
"Bagaimana dengan keluarga Nissa? Apa kau sudah mengetahui keberadaan mereka?" tanya Ardian pada asisten Roli.
"Sudah, pak," ucap Roli dengan tenang.
Disaat jam kerja maka Asisten Roli akan bersikap profesional, bahkan ia merubah panggilannya dengan bahasa yang formal.
"Bersiaplah, setelah perawat yang ku minta kau carikan untuk merawat Nissa itu datang kita akan segera berangkat menemui orang tua Nissa. Setidaknya aku harus memberi tahu kondisi putri mereka sekaligus meminta maaf karena membuat anaknya terluka," ucapnya.
Baru saja mengatakannya seorang wanita masuk ke dalam ruang perawatan Nissa. Rupanya ia adalah orang yang telah dibayar Asisten Roli untuk menjaga Nissa.
Ardian segera berdiri, ia meletakkan ponsel Nissa di atas nakas lalu berbalik hendak beranjak keluar ruangan ini.
GREP
Seketika Ardian berbalik saat merasa pergelangannya di cengkram dengan kuat. Ardian membelalakkan mata saat mengetahui orang yang mencengkram tangannya.
Mata Nissa terbuka, ia sudah sadar. Ardian mengulas senyum di bibirnya. Nissa menatap Ardian dengan tatapan sayu. Ia menarik pergelangan tangan Ardian hingga posisi pria itu semakin dekat dengannya.
"Saya mohon, jangan beritahu keadaan yang saya alami pada mereka. Saya mohon," ucap Nissa lirih, air matanya kini mengalir perlahan membasahi pipinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Hai gengss, jangan lupa like and comment ya, supaya mbak tika semakin semangat berkarya. OK!