Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Belajar


__ADS_3

Nissa keluar dari apartemen itu dengan bersungut-sungut. Belum sempat ia merapikan barang-barang yang dibawanya, Ardian menghubunginya lebih dulu dan meminta untuk segera kembali ke perusahaan.


Nissa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan pak supir di basement gedung itu.


Cepat sekali pak supir menghilang, padahal belum ada lima menit dia pergi.


Nissa akhirnya menghubungi Ardian dan memberi tahu bila supir yang mengantarnya sudah kembali lebih dulu ke perusahaan.


"Kau bisa naik taksi atau angkot. Kalau kau tidak mau gunakan kakimu untuk berlari. Yang penting kemari SEKARANG!" teriaknya.


Nissa tersentak, ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


Dasar bos gila!!


Nissa segera mencari taksi atau angkot atau apalah yang penting ia segera sampai di sana.


"Ck, dasar lamban. Kau sudah membuatku rugi karena sudah menyia-nyiakan waktu untuk menunggumu," ejek Ardian saat Nissa masuk ke ruangannya.


Nissa mengatur nafasnya yang tak beraturan karena ia harus berlari dari halte menuju gedung ini.


"Capek?" tanya Ardian mengejek.


"Tidak, pak," sahut Nissa tegas.


"Ikut aku," perintahnya. Ardian langsung berjalan melewati Nissa.


Nissa langsung memutar tubuhnya dan mengikuti Ardian dari belakang. Langkah kaki Ardian yang besar dan juga cepat membuat Nissa kewalahan mengikuti gerakan pria didepannya.


Baru juga habis lari-lari, sekarang harus lari lagi.


"Kita mau kemana, pak?" tanya Nissa saat mereka di dalam lift.


Ardian tak menjawab, ia hanya melirik lewat sudut matanya. Nissa semakin geram dibuatnya.


Sesampainya di depan lobby Nissa melihat sebuah mobil sedan mewah telah terparkir disana.


"Masuk," perintah Ardian.


Nissa menuruti ucapan bosnya namun masih dengan raut wajah penasarannya.


"Duduk di depan, memangnya saya supirmu," ucap Ardian saat melihat Nissa duduk di kursi belakang.


Nissa menghela nafas kesal. Sabar, sabar Nissa. Anggap aja dia itu orang-orangan sawah.


Nissa pun keluar dan pindah ke kursi depan di samping kursi pengemudi.


"Pakai seatbeltnya," perintahnya lagi.


Nissa melihat cara Ardian memakai sabuk pengaman dan mengikutinya. Namun sepertinya Nissa kesulitan memakainya, wajar saja ini adalah kali pertamanya memakai sabuk pengaman.


Melihat Nissa kesulitan seperti itu membuat Ardian mendesah karena kesal.


"Kau itu menyusahkan saja," ucapnya sambil membantu Nissa memasang sabuk pengaman tersebut.


Tatapan mereka bertemu, Nissa memasang wajah datarnya sementara Ardian terpaku melihat kedua bila mata Nissa dari dekat.


"Bapak kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Nissa.

__ADS_1


"Ck, percaya diri sekali kau ini. Aku melihat matamu, bukan melihatmu," sahutnya.


"Bedanya apa, pak?" tanya Nissa dengan polosnya.


"Diamlah, jangan banyak bertanya. Sekarang fokus saja pada saat ini. Aku akan mengajarimu mengendarai mobil," ucap Ardian.


Ardian pun mulai menjalankan mobilnya. Nissa memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ardian. Ia memperhatikan secara seksama dimana posisi tangan dan kaki Ardian.


"Ini kalau mau pindah gigi, lihat baik-baik," perintah Ardian.


Nissa kembali memperhatikan dengan seksama pelajaran yang diberikan Ardian. Kini mereka memasuki jalan bebas hambatan.


Melihat suasana jalanan yang lengang saat ini membuat ide jahil Ardian muncul. Sekali-kali dikerjai boleh juga, batinnya.


Ardian mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia melirik Nissa di sampingnya.


Senyum kemenangan terbit saat ia melihat Nissa mencengkram seatbelt dengan erat sementara wajahnya sudah memperlihatkan bahwa gadis itu ketakutan saat ini.


"Pak, bisa diperlambat sedikit tidak mobilnya?" tanya Nissa.


"Tidak bisa, saya memang suka mengendarai mobil seperti ini," ucap Ardian senang.


Pak Ardian, sadar dong. Yang bapak bawa itu nyawa bukan mainan.


Nissa menutup mata saking takutnya. Ia memang gadis tangguh dan ahli bela diri, tapi sekuat-kuatnya Nissa, ia juga punya kekurangan.


Nissa merapalkan doa agar mereka selamat dalam perjalanan ini. Sungguh Nissa ingin memaki habis-habisan pria di sampingnya ini.


Selama 30 menit mobil yang mereka tumpangi melaju di jalan bebas hambatan. Kini Nissa sudah bisa bernafas lega karena jalanan sedang ramai hingga Ardian mulai memperlambat laju mobilnya.


Ardian membawa mobilnya memasuki parkiran sebuah swalayan.


"Kamu punya waktu 15 menit untuk berbelanja bahan makanan malam ini," sambungnya.


Nissa melotot tak percaya dengan ucapa Ardian barusan. Apa? 15 menit?


"Kenapa? Kau mau membantah?" tanya Ardian.


"Tidak," ucap Nissa sambil menggelengkan kepala.


"Cepat kerjakan perintah saya sekarang," ucap Ardian.


Nissa segera berlari menuju pintu swalayan tersebut, namun beberapa detik kemudian ia kembali.


Nissa menengadahkan tangannya di depan Ardian.


"Uangnya, pak," ucapnya sambil tersenyum.


"Ini," Ardian menarik sebuah kartu dari dalam dompetnya, lalu memberikannya pada Nissa.


Nissa menerimanya dan segera berlari tanpa mengucapkan apa-apa. Tapi beberapa detik kemudian ia kembali. Lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Ardian kesal.


"Saya harus belanja apa untuk makan malam nanti?" tanya Nissa.


Ardian mendengus kesal. Dasar b***h, umpatnya.

__ADS_1


"Terserah kau mau beli apa?" ucapnya.


Nissa segera masuk ke dalam swalayan tersebut. Ia memilih bahan makanan untuk malam ini.


Nissa memilih kangkung dan cumi serta cabai dan tomat. Setelah itu ia mengantri di kasir.


Sesekali Nissa melirik jam tangannya. Masih ada waktu lima menit.


Setelah membayar belanjaannya Nissa berlari menuju parkiran. Nampak Ardian berdiri dengan tubuh bersandar pada pintu mobil.


"Ambil ini," ucapnya sambil melempar kunci mobil kepada Nissa.


"Apa ini?" tanya Nissa heran.


"Itu kunci mobil, bukankah salah satu tugasmu adalah menjadi supir pribadiku," jawab Ardian kesal.


"Tapi, pak. Saya belum bisa mengendarai mobil," rengek Nissa.


"Ingat peraturannya. Kau harus selalu menuruti perintahku, kapanpun, dimanapun bahkan apapun," ucap Ardian seketika membungkam Nissa.


"Tapi kalau nanti saya menabrak seseorang atau sesuatu bagaimana, pak?"


"Bukan urusanku," sahut Ardian ketus.


What! Dasar pria br*****k gila!!


Akhirnya dengan berat hati Nissa masuk dan duduk di kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin mobil sesuai arahan dari Ardian.


Nissa mulai menjalankannya, dan benar saja. Baru beberapa meter Nissa menabrak sebuah tong sampah.


"Kau itu bisa menyetir tidak?" tanya Ardian berpura-pura kesal.


"Bukankah tadi saya sudah katakan, saya belum bisa menyetir. Tapi bapak memaksa," ucap Nissa tanpa dosa.


Ardian keluar dan memeriksa kerusakan yang ditimbulkan oleh Nissa. Ia tersenyum licik melihat bagian depan mobil yang lecet.


"Nissa!" teriaknya.


Sontak Nissa berlari mendengar teriakan Ardian.


"Iya, pak,"


"Kau lihat itu, mobilku lecet karena ulahmu. Kau tahu biaya perawatan mobilku ini tidak murah,"


"Maaf, pak. Saya yang salah karena mematuhi perintah bapak tadi," ucapnya.


"Jadi kau pikir ini salahku, bukannya kau tadi yang menabrakkan mobil ini ke tong sampah?"


Astaga, maunya apa sih manusia s*t*n ini? Ingin rasanya ku hajar orang aneh ini agar ia sadar. Berilah hamba-Mu ini kesabaran dalam menghadapi makhluk ciptaanmu ini, Ya Allah


*********


BERSAMBUNG


🌿🌿🌿🌿🌿


Hai readers tercintahhh

__ADS_1


Jangan lupa like and comment oke, mbak tika sangat menghargainya 😊😊


Dan terima kasih πŸ€—πŸ€—


__ADS_2