
"Nissa, maukah kau menjadi ISTRIKU? Maukah kau memgizinkanku menjadi suamimu?"
Nissa tercekat, dadanya bergemuruh mendapat lamaran dari Ardian. Ingin rasanya ia berkata 'Ya, Aku Mau', namun hatinya masih ragu.
"Mengapa?" tanya Nissa dengan tatapan sendu.
"Apanya yang mengapa?" balas Ardian heran.
"Mengapa anda menginginkan saya menjadi istri tuan, bukankah anda sendiri yang bilang kalau kita ini tak satu level. Selain itu apa kata dunia jika seorang Ardian Sanjaya menikahi seorang BA-BU?" Nissa melontarkan pertanyaan tersebut dengan penuh penekanan. Ia hanya ingin mendengarkan alasan Ardian berkata seperti itu.
"Waktu itu aku..." Ardian menghentikan ucapannya sendiri.
Kini ia menyadari sepenuhnya. Alasan Nissa pergi dari resto pada hari itu adalah karena ucapannya yang pasti didengar oleh Nissa. Astaga!! Ardian ingin sekali menenggelamkan dirinya di lautan.
"Nissa, aku minta maaf. Aku..." Ardian tercekat, lidahnya begitu kelu untuk melanjutkan kalimat permintaan maaf.
"Apakah anda yakin dengan perasaan anda ini, tuan?" tanya Nissa lagi.
"Tentu saja, Nissa. Aku sangat yakin sekali," ucap Ardian tegas.
"Tapi saya tidak yakin, tuan."
Ardian terperanjat mendengar ucapan Nissa. Dadanya berdenyut nyeri mendengar nada bicara Nissa yang terkesan pasrah.
"Saya takut anda salah paham pada perasaan anda sendiri, tuan. Mungkin anda hanya merasa bersalah pada saya atas luka yang saya dapat pada malam itu. Anda mungkin mengira perasaan bersalah yang bercampur dengan rasa kasihan itu sebagai perasaan yang lain."
Suara Nissa bergetar saat mengucapkannya. Ia sendiri tidak yakin sanggup menahan sesak di dada yang sudah ia rasakan dari tadi. Namun setidaknya ia harus melakukan itu agar ia tak terlalu terbawa perasaan yang ia pikir palsu itu.
"Tidak, kamu salah. Aku memang merasa bersalah padamu. Aku memang merasa kasihan padamu. Namun aku bukanlah pria bodoh yang tidak bisa membedakan mana rasa bersalah, kasihan dan rasa cinta yang sudah ada sejak lama," ucap Ardian.
Hati Nissa menghangat mendengarnya. Namun ia kembali menyangkal perasaan itu.
"Sejak kapan? Bukankah selama ini anda membenci saya, tuan? Bukankah anda sengaja mempekerjakan saya sebagai pelayan, supir, sekaligus pengawal hanya untuk membalaskan dendam anda saja, tuan? Lalu sejak kapan perasaan itu tumbuh?" tanya Nissa lagi.
Ardian menatap wajah Nissa dengan sendu. Tampak mata Nissa yang mulai berkaca-kaca. Perlahan ia menangkup wajah Nissa dengan tangan kekarnya.
CUP
Ia mencium bibir merah merekah itu sekilas. Kemudian ia tersenyum, ditatapnya lagi wajah Nissa yang kini berubah terkejut.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan ini. Yang aku tahu, aku selalu benci melihatmu berdekatan dengan pria lain. Aku benci melihatmu tersenyum pada pria lain. Dan aku merindukanmu saat aku tak melihatmu. Bahkan aku sudah memiliki perasaan itu jauh sebelum aku menciummu pada malam itu. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya."
"Aku minta maaf padamu jika telah menyakiti perasaanmu. Aku juga minta maaf karena selalu bersikap semena-mena padamu. Kau tahu, kau adalah wanita pertama yang membuatku panik. Kau adalah wanita pertama yang membuatku tak bisa tidur nyenyak saat kau jauh dariku. Dan aku ingin kau menjadi wanita satu-satunya dalam hidupku."
Nissa mengerjabkan matanya. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Ardian tadi. Namun ia merasakan kehangatan menyelimuti hatinya. Apa pria ini berkata jujur? Begitulah batinnya.
CUP
Ardian kembali mencium bibir Nissa. Nissa kembali terkejut mendapat serangan tiba-tiba seperti itu. Walaupun hanya kecupan sekilas, tetap saja perlakuan Ardian tadi membuat jantungnya berlompatan kesana kemari.
"Jadi, bagaimana? Apakah lamaranku diterima?" tanya Ardian lagi.
__ADS_1
Nissa segera beringsut mundur kebelakang. Ia menundukkan kepala di hadapan Ardian. Ia sungguh malu, bagaimana bisa ia rela dicium tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Haissh, jatuhlah sudah harga diriku sebagai seorang srikandi dunia persilatan.
Nissa mer*mas jemari tangannya, wajahnya terlalu berat untuk kembali ia perlihatkan pada makhluk tampan yang kini menyorotnya dengan tajam itu.
"Nissa, bagaimana? Kau mau tidak menjadi pasangan hidupku?" tanya Ardian.
Wajah Nissa semakin merona. Belum lagi dengan debaran jantungnya yang berdetak semakin cepat.
Astaga, apa seperti ini rasanya dilamar?
Nissa turun dari atas ranjang dan segera berlari keluar kamar rawat tersebut. Sementara Ardian dibuat melongo melihat tingkah gadisnya.
***
Nissa masuk kembali ke ruang perawatannya. Ia naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar malu dan tak ingin dilihat siapapun, bahkan nyamuk pun dilarang untuk melihatnya.
Haruskah aku menerimanya? Sepertinya Pak Ardian tadi berkata jujur. Tapi apakah aku pantas bersanding dengannya?
Nissa terus larut dalam pergolakan batinnya. Hingga akhirnya matanya semakin berat dan ia pun terlelap.
***
Sayup-sayup suara azan subuh yang berkumandang dari masjid rumah sakit membangunkan Nissa dari tidur nyenyaknya. Gadis itu segera terbangun dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kemarin ia sempat meminta bantuan pada Roli untuk dibawakan perlengkapan sholat, jadi Nissa bisa melakukan sholat tanpa harus pergi ke masjid yang terletak di samping IGD.
Nissa meraih ponselnya, jam di ponselnya masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Masih terlalu pagi jika ingin keluar kamar. Kemarin ia sempat melihat ada taman yang cantik dilengkapi dengan air mancur yang terletak tepat di belakang ruang perawatannya. Mungkin nanti, saat matahari mulai menampakkan sinarnya, pikir Nissa.
Nissa kembali berbaring, karena merasa jenuh tidak tahu ingin melakukan apa, ia kembali tertidur.
***
Nissa terbangun saat sinar matahari masuk dan menyilaukan matanya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi cahaya tersebut kemudian mulai mengerjabkan matanya. Aroma masakan tercium dan membuat perutnya meronta. Mungkin jatah sarapan pagi sudah datang, pikirnya.
Nissa bangkit dari posisi berbaringnya, ia mengangkat kedua tangannya keatas, bermaksud untuk meregangkan ototnya.
DEGG
Jantungnya seakan berhenti berdetak mendapati ada makhluk tampan hadir dan kini sedang duduk diatas ranjangnya.
Makhluk tampan itu menatapnya dengan tajam, menampilkan senyum menawan dari bibir yang semalam sempat mendarat di bibirnya.
"Tu-tuan, kenapa ada disini?" ucap Nissa terbata.
"Aku ingin mempelajarimu," jawabnya.
"Mempelajari?" kening Nissa berkerut. "Apa aku ini alien yang harus dipelajari?" lirihnya sendu. Nissa mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Kamu memang alien, alien yang sudah membuatku tak bisa tidur karena tak mau menjawab pertanyaanku. Oleh karena itulah aku kemari karena aku ingin mempelajarimu," ucap Ardian.
__ADS_1
Uhh, so sweet. Tapi sayang, aku masih belum bisa menjawabnya.
"Ayo bangun, cuci mukamu dulu, setelah itu kita sarapan bersama," titahnya pada Nissa.
Nissa segera turun dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu ia keluar dan baru menyadari jika terdapat beberapa menu makanan yang telah tersaji di atas meja. Lengkap dengan kursinya. Meja itu diatur sedemikian rupa hingga terkesan romantis.
Kapan dia mengatur semua ini? Apa waktu aku tidur tadi?
Nissa menatap meja makan tersebut sambil mencoba memikirkan sesuatu. Kemudian ia menepuk jidatnya, wajahnya berubah merah seketika.
Astaga, kalau dia menyusun ini saat aku tidur berarti dia melihat mulutku yang menganga saat tertidur. Aduh, mau kusembunyikan dimana wajahku ini!!
Nissa tersenyum tipis saat Ardian menatapnya. Gadis itu kini jadi salah tingkah sendiri, tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ardian.
"Ayo kita sarapan," ajak Ardian.
Nissa mengangguk. Perlahan ia berjalan mendekati meja makan tersebut. Ardian yang sudah berdiri disana segera menarik kursi kebelakang.
"Duduk sini, Nis."
Nissa semakin salah tingkah, baru kali ia diperlakukan seperti itu. Setelah keduanya duduk sarapan pun dimulai. Suasananya begitu hening, tak ada yang berbicara baik Ardian maupun Nissa. Mereka tenggelam dalam rasa canggung yang tercipta tanpa sengaja.
"Nissa, bagaimana dengan pertanyaanku tadi malam? Apa kau sudah bisa menjawabnya?" tanya Ardian. Ia menatap Nissa dengan intens.
Astaga, dia ini kebelet atau apa? Tak bisa sabar sama sekali. Batin Nissa menggerutu.
"Tuan serius dengan lamaran tuan?" tanya Nissa memastikan.
"Iya, Nis. Harus berapa kali aku meyakinkan padamu jika aku benar-benar serius," ucap Ardian.
"Lalu bagaimana dengan hobi tuan yang suka gonta-ganti wanita. Bahkan aku pernah melihat tuan me*emas bo*ong seorang wanita tepat di depanku," ucap Nissa meminta kepastian.
"Aku memang br***sek, tapi aku bukan baj*ngan. Ku akui aku memang suka berkencan dengan para wanita di klub malam, tapi aku tidak pernah tidur dengan mereka, dan aku tak pernah memberikan hatiku pada mereka. Dan saat itu aku melakukan itu hanya untuk melampiaskan kemarahanku karena kegagalanku di masa lalu."
Ardian menghela nafasnya. "Nissa, aku berjanji padamu, hanya kaulah yang ada dihatiku. Dan kumohon jangan ingatkan aku pada saat tergila itu, karena aku ingin merangkai hari-hari indah dan bahagia bersamamu."
Nissa terharu mendengar penuturan Ardian. Ia hampir saja menitikkan air matanya.
"Jadi, apa kau mau menjadi istriku, Annissa Nur Hafizah?"
Nissa terdiam sejenak, ia berpikir kembali untuk menerimanya atau tidak.
Kemudian ia menghela nafasnya perlahan lalu menatap kedua bola mata Ardian dengan tajam.
"Aku..."
BERSAMBUNG
Hai gengss, tetap berikan dukungan untuk karya Mbak Tika yaa 😍
See u next chapter
__ADS_1
Luv u all 😘😘