Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Keputusan Mengejutkan


__ADS_3

Seorang pria ber jas hitam, terlihat baru turun dari mobil. Rambut pirang yang tersisir rapi ke belakang, membuat gaya maskulinnya begitu terpancar. Lelaki itu benar-benar terlihat sangat gagah.


Dia adalah Sky, sekretaris pribadi Edzar.


Sky sudah bekerja dengan keluarga Alantska sejak 5 tahun yang lalu. Ia sudah tahu betul bagaimana sifat Tuan Mudanya itu.


Edzar juga yang sudah membantu perekonomian keluarga Sky, bahkan hingga saat ini keluarga Sky bisa hidup tenang dan enak, adalah sebagian besar karena Edzar yang selalu berbaik hati padanya.


Maka, mengabdikan diri untuk bekerja bersama Edzar adalah pilihan yang tepat, setidaknya dengan bekerja sepenuh hati, dan mampu menuruti semua perintah Tuannya itu, Sky bisa sedikit membayar kebaikan Edzar yang begitu sangat besar.


 


Sky berjalan memasuki ruang kamar Edzar.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapa Sky sambil membuka pintu, setelah ia mendapat izin untuk masuk.


Edzar masih terlihat acak-acakan, dengan kaos oblong dan celana piyama hitam panjang yang masih melekat di tubuhnya. Dia masih terlihat frustrasi atas kehilangan adiknya itu.


 


"Bagaimana urusan di kantor?" tanya Edzar, beranjak keluar menuju balkon. Dan Sky pun mengikuti langkahnya satu meter dari belakang.


 


"Untuk urusan kantor semuanya sudah beres Tuan."


 


"Lalu?"


 


"Untuk masalah pendaftaran ke kantor pusat atas pernikahan Anda, sudah saya tangani juga Tuan, besok pun Anda sudah bisa menikah."


 


"Baguslah. Sekarang kau keluarlah dan nanti ikut denganku ke ruang bawah tanah. Aku ingin bersiap terlebih dahulu." Sky pun mengangguk dan berjalan keluar dari kamar Edzar.


 


"Masalah apa lagi yang akan aku hadapi, belum selesai masalah adiknya, kini dia tiba-tiba ingin menikahi gadis yang berada di penjara itu. Haduh." Sky hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Pagi itu keadaan terasa sedikit berbeda, pasalnya Bi Ella datang memberi mereka makan lebih cepat dari biasanya.


 


"Tumben Bi, kami belum lapar Bibi sudah membawa makanan untuk kami," ujar Gerald ketika menerima nasi bungkus yang ternyata kini ada sayur dan lauk pauk di atasnya serta ada satu kotak buah segar yang sudah dipotong.


"Wah, ada lauknya juga," ujar Clara begitu senang. Mereka berdua pun segera melahap makanannya itu.


 


"Makanlah yang banyak, hari ini Tuan Muda sedang berbaik hati," ujar Bi Ella sedikit berbisik.

__ADS_1


 


"Hm, tidak disangka pria itu ternyata mempunyai hati nurani juga," gumam Gerald, tersenyum kecut.


Bi Ella memandang Clara dengan tatapan begitu sedih. Ia tahu, bahwa Clara pasti belum mengetahui masalah pernikahannya itu, yang tiga hari lalu, secara tiba-tiba Edzar mengumumkan kepada seluruh orang di rumahnya, bahwa dirinya akan segera menikahi Clara, si gadis penjara bawah tanah yang ditahannya itu.


 


"Gadis malang, seandainya aku bisa membebaskanmu dari tempat ini, pasti sudah aku lakukan. Tapi apalah dayaku, aku hanya seorang pelayan yang tak mempunyai daya apa pun di sini,” batin Ella memandang sendu ke arah Clara.


 


Tak lama kemudian, terdengar langkah sepatu yang berbenturan dengan lantai tangga, menggema di seluruh penjuru ruang bawah tanah itu.


 


Edzar dan Sky, berjalan menuruni anak tangga, dan menghampiri mereka semua. Bi Ella yang sedang berada di sana segera membersihkan bungkus makanan bekas Clara dan Gerald yang sejak 5 menit lalu sudah mereka habiskan.


 


Bi Ella pun berpamitan untuk segera pergi dari sana. Sambil berjalan membungkuk penuh kesopanan.


 


Dan kini dua pria bertubuh tinggi itu tengah berdiri menjulang di depan sel mereka. Clara dan Gerald hanya diam mengacuhkan keberadaan dua orang yang paling mereka benci saat itu.


 


"Bagaimana rasanya bisa kembali makan enak hah?" Edzar menjongkokkan tubuhnya tepat di depan sel Clara.


 


 


"Silakan Nona, sekarang Anda bisa keluar," ujar Sky mempersilakan.


 


Clara masih terdiam, memandang Sky dengan kedua matanya yang berkerung. "Apa ini? Kenapa tiba-tiba dia membebaskanku seperti ini? Apa hukuman ini sudah berakhir? Apa adik dari Tuan kejam itu sudah ditemukan?" batin Clara.


 


"Kenapa diam saja? Keluarlah!" seru Edzar yang kini sudah duduk di sebuah bangku kayu yang ada di sana.


 


 


Clara menoleh ke arah Edzar. Perlahan ia pun berdiri, lalu melangkahkan kakinya berjalan keluar dari sel tahanan yang selama ini mengurungnya.


 


Kakinya yang polos tanpa alas itu, ia langkahkan menghampiri sel penjara milik Gerald. Clara begitu bahagia dan terharu ketika ia bisa melihat kembali wajah kakaknya setelah berhari-hari mereka tak bertatap muka.


 

__ADS_1


Namun, kepiluan kembali Clara rasakan, saat melihat keadaan Gerald yang semakin terlihat kurus dan lusuh, tak jauh beda dengannya.


 


"Kakak." Senyuman bahagia mengembang di wajah manis Clara. Begitu pun dengan Gerald yang begitu senang bisa bertatap muka dengan adik kesayangannya itu.


 


"Tuan apa kakakku juga akan dibebaskan?" tanya Clara menoleh ke arah Edzar yang sedang duduk memperhatikannya.


Edzar tampak membuang muka sambil tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Clara. Tapi ia tetap saja diam tak menjawab.


 


Karena tak mendapat jawaban dari Edzar, Clara pun mengalihkan pandangannya menatap ke arah Sky yang sedang berdiri satu meter di sampingnya.


 


"Tuan, kenapa kau tidak membuka gembok sel kakakku?"


 


Sky hanya diam membisu layaknya robot yang tak berguna. Lelaki itu akan berbicara atau bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuannya. Maka, jika Edzar tidak memberinya perintah atau kode apa pun, ia hanya akan diam seribu bahasa tanpa pergerakan sedikit pun.


 


"Apa kau ingin kakakmu itu dibebaskan?" tanya Edzar kepada Clara.Ia melangkahkan kakinya mendekati Clara yang masih setia berdiri di depan Gerald meski mereka terhalang jeruji besi.


 


"Hey, Bung. Apa kau ingin melihat adikmu ini bisa hidup normal?" tanya Edzar kepada Gerald. Clara menoleh dan menatap lelaki bertubuh jangkung itu dengan heran. Sedangkan Gerald, ia hanya diam sambil menatap manik mata berwarna kelabu milik lelaki yang ada di hadapannya itu.


 


lagi-lagi mata elang milik Tuannya itu melirik sinis ke arah Sky seolah memberikan kode. Sky yang paham, langsung menyodorkan selembar kertas kepada Gerald.


Kertas tersebut berisi mengenai perjanjian pernikahan antara Clara dan Edzar. Dan Gerald harus menandatanganinya sebagai bentuk persetujuan untuk pernikahan mereka berdua. Agar kelak, jika sesuatu terjadi pada Clara, Gerald tidak bisa mengganggu gugat.


 


Edzar terbilang cukup licik dalam hal ini. Tapi semua itu ia lakukan, agar kelak jika sesuatu terjadi padanya, ia bisa membereskan masalahnya itu dengan lebih mudah.


 


"Apa ini?" Kedua mata Gerald membelalak ketika membaca surat itu. Ia langsung meremas kertas tersebut dengan penuh emosi, membuat Clara yang melihatnya heran dan penasaran dengan isi dari kertas tersebut.


 


Kevin mendongak, menatap lurus dan tajam kea rah Edzar "Dasar brengsek! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyetujuimu menikah dengan adikku!" Gerald langsung merobek kertas itu dengan penuh emosi.


 


"Apa?" Clara terpanjat mendengarnya.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya baru bisa upload lagi, authornya baru selesai operasi dan alhamdulillah sekarang masih pemulihan. Insyaallah untuk novel ini akan author up seminggu 3 atau 4 kali ya. Happy reading and enjoy... jangan lupa like, vote, dan komennnya ya.


__ADS_2