Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Panggilan Khusus


__ADS_3

Dari jauh ada dua pasang bola mata yang tengah mengawasi Clara, yaitu sepasang mata Sky dan sepasang mata Edzar, yang sama-sama memperhatikan Clara dari kejauhan.


"Perempuan ini, benar-benar selalu mencari masalah!" batin Edzar. Ia mengepalkan kedua tangannya merasa begitu kesal.


"Lihatlah, sekarang juga aku akan memberikan kamu pelajaran Clara!" gumam Edzarmenatap tajam ke arah Clara  dan Brayen.


Sky sekilas melirik ke arah Edzar, yang sepertinya sedang menahan amarah kepada Clara.


"Baiklah, kita lihat drama apa yang akan terjadi di antara mereka bertiga," batin Sky, ia bersiap untuk menyaksikan semuanya.


Edzar pun segera mengakhiri obrolannya dengan rekan bisnisnya itu, kemudian dengan langkah tegap dan penuh amarah, ia melenggangkan kakinya menghampiri Clara dan Brayen yang terlihat tengah bercanda ria. Seolah Bumi hanya ditinggali oleh mereka berdua dan yang lainnnya dianggap pindah ke Neptunus.


"Eherm...." Edzar berdehem begitu keras, sambil menghentikan langkahnya, tepat berdiri di samping Clara.


"Tuan Edzar," sapa Brayen tersenyum manis. Edzar pun sejenak menjabat uluran tangan Brayen.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Edzar melirik ke arah Clara.


"Hah? A-aku sedang melihat lukisan itu," jawab Clara dengan polos.


"Sudah selesai?" tanyanya lagi. Clara mengangguk pelan. "Sudah."


"Baiklah kalau sudah, ayo kita pergi melihat lukisan yang lain," ajak Edzar. Clara pun lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Kami pamit duluan Tuan Brayen." Edzar memaksakan senyumnya kepada Brayen. Brayen mengangguk, sambil membalasnya dengan senyuman tulus.


"Silakan. Sampai bertemu nanti Rubah Kecil," ucap Brayen.


"Bye, Pak Kelinci," ucap Clara dengan senyuman yang terkembang kepada Brayen.

__ADS_1


Edzar pun melingkarkan salah satu lengannya di pinggang kecil istrinya itu, lalu menariknya agar lebih mendekat dengan tubuhnya. Kemudian membawanya pergi menjauh dari Brayen.


"Apa! Tuan Muda memeluk pinggan Nona Muda hingga serapat itu?" gumam Sky, memantau dari kejauhan.


Clara merasa tidak nyaman, karena ini untuk pertama kalinya ada laki-laki yang memeluk pinggangnya seperti itu, terlebih ia tidak nyaman karena Edzar melakukannya di tempat ramai seperti ini.


"Pak Kelinci?" batin Edzar memikirkan perkataan terakhir Clara, sebelum mereka berpisah dengan Brayen. Ia seakan tidak suka, ketika Clara memberikan panggilan itu kepada Brayen. "Apa mereka masing-masing mempunyai panggilan khusus?" pikirnya. “Si Brayen memanggilnya dengan sebutan Rubah Kecil, dan dia memanggil lelaki itu dengan sebutan, Pak Kelinci,” batinnya.


"Tu-Tuan, bisakah kau-"


"Apa!" seru Edzar memotong ucapan Clara. Membuat Clara langsung membungkam mulutnya, tidak jadi berbicara.


"Aih... kalau kena semprot begini, aku jadi takut untuk meminta dia melepaskan tangannya itu dari pinggangku," batin Clara. Ia pun mengurungkan niatnya itu.


“Em... kita mau ke mana, Tuan?” tanya Clara, mencari aman dalam berucap.


“Hih! Apa harus dia menjawabnya seperti itu,” gerutu Clara dalam hati, sambil mencebikkan bibirnya.


Clara terus berjalan mengikuti arah Edzar menggiring tubuh mungilnya itu. Sky juga ikut mengikuti mereka lima meter dari belakang. Dan kini, masuklah mereka berdua ke sebuah ruangan privat yang ada di ujung galeri. Sky si sekretaris setia itu, ia lebih memilih untuk menunggu di luar pintu, sekaligus mengawasi sekitar untuk berjaga-jaga.


Edzar langsung melepaskan tangannya dari pinggang Clara. Lalu ia pun melepaskan jas yang melekat di tubuhnya itu, hingga menyisakan kemeja putih yang dipakainya saja.


Clara celingukan, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Ruang apa ini?" gumamnya pelan.


"Hey, apa kau begitu senang mengobrol dengan teman kakakmu itu?" tanya Edzar tiba-tiba dengan nada suara yang tak ramah, sambil melipatkan lengan kemejanya hingga sikut, membuat tampilannya semakin maskulin dan gagah.


"Em, memangnya kenapa Tuan?" tanya Clara dengan polosnya.


"Kenapa? Aku sudah bertanya seperti itu pun dia masih bilang, Kenapa!" batin Edzar. Ia berdecak kesal. "Dasar, tidak peka sekali dia ini."

__ADS_1


"Apa kau dan dia mempunyai panggilan khusus?" tanyanya lagi. Clara sejenak terdiam, mencerna pertanyaan Edzar dengan baik agar tak salah jawab. Lalu dengan pelan ia pun menganggukkan kepalanya, lalu mengiyakannya.


"Haha, menjijikkan sekali," gumam Edzar dalam hati, tersenyum getir sambil mengulum lidahnya. "Dia memanggil orang lain dengan sebutan khusus, sementara denganku, dia hanya memanggilku dengan sebutan Tuan?" gerutunya dalam hati.


"Beri aku panggilan khusus!" ucap Edzar dengan lantang, sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Clara.


Kedua mata Clara terbelalak ketika mendengar permintaan suaminya itu. "Apa? Panggilan khusus?" pekik Clara.


"Kenapa?" Edzar melebarkan kedua matanya, sambil mengangkat kedua alisnya menatap sinis ke arah Clara, lalu ia pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di sana. Dengan gaya duduk yang macho, ala pria dewasa.


Clara masih berdiri mematung di tempatnya. "Permintaan macam apa ini? Dia menginginkan panggilan khusus dariku," batin Clara.


"Kenapa diam saja hah! Kau tidak bisa memberikanku panggilan khusus hah?" seru Edzar, sambil menyatukan jari-jemari kedua tangannya, dengan sikut lengan yang di tekuk di atas lutut.


"Hah ti-tidak, Tuan," ucap Clara spontan. "Eh, maksudnya bisa, Tuan," ulangnya, meralat jawaban paling aman.


"Ya sudah, cepat! Coba panggil aku dengan sebutan khusus darimu!" titahnya tidak sabar.


.


.


.


Bersambung


wah kira-kira, Clara bakalan ngasih Edzar panggilan apa ya???


Tebak dong yang cocok buat mereka panggilannya apa hehe

__ADS_1


__ADS_2