
Sementara itu, Sky baru saja keluar dari dalam gedung, ia ingin memantu Clara, karena ia masih merasa was-was, kalau Nona Mudanya itu akan membuat kekacauan di sana.
Baru saja Sky menemukan keberadaan Claara. Tapi tiba-tiba ....
Byur... Clara terjatuh ke dalam kolam renang. Semua para tamu undangan yang berada di sekitar sana, mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang.
"Nona Muda," ucap Sky, ia langsung berlari dan langsung terjun begitu saja mencebur ke dalam air, berenang untuk menggapai nona mudanya itu.Dan setelah berhasil mendapatkannya, Ia langsung membantu Clara untuk naik ke permukaan.
Sementara itu, di dalam aula, terlihat sebagian orang yang ramai-ramai melihat ke luar. Edzar yang masih sibuk mengobrol bersama rekan-rekan bisnisnya, ia ikut mengalihkan perhatiannya ke arah keramaian.
"Ada apa itu?" tanya Edzar kepada salah satu temannya.
"Ada perempuan yang terjatuh ke kolam," jawabnya.
"Perempuan? Clara?" gumam Edzar dalam hati, tanpa berpikir lama, ia langsung berlari ke luar untuk memastikan siapa wanita yang terjatuh itu. Dan ia begitu terkejut, saat mendapati kalau wanita yang terjebur itu adalah istrinya sendiri. Kedua matanya membeliak dahsyat, mendapati Clara yang basah kuyup bersama Sky.
Edzar langsung menghampiri mereka berdua. "Clara apa yang terjadi?" tanya Edzar seakan khawatir. Clara yang masih dirundung rasa mabuk, ia malah diam tak menjawab, ia pun bingung kenapa dirinya bisa sampai tercebur ke dalam kolam.
Edzar pun segera membuka jasnya, dan membalutkannya di punggung Clara.
Semua mata yang melihat, seolah iri melihat bagaimana sikap Edzar dalam memperlakukan Clara semanis itu.
"Lihatlah, apa yang dilakukan Tuan Edzar itu benar-benar manis sekali."
"Iya benar, aku jadi iri dengan wanita itu, kalau tahu akan begitu aku pun ingin tercebur juga, gak apa-apa deh, yang penting ditolong-in sama Tuan Edzar."
"Beruntung banget ya wanita itu, bisa menjadi pendamping hidup Tuan Edzar."
Begitulah, ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut para gadis cantik yang ada di sana.
__ADS_1
"Sky, kita pulang sekarang," ajak Edzar. Seky mengangguk siap, mengiyakan.
"Ayo bangun," ucap Edzar hendak membantu Clara untuk berdiri.
Clara pun mencoba berdiri dan menegakkan tubuhnya, tapi ketika ia mencoba berjalan, Clara tak bisa berjala dengan normal, langkah kakinya sempoyongan, hingga membuat Edzar, terpaksa harus menggendongnya.
Edzar memasukkan Clara ke dalam mobil. Sepanjang ia memboyong Clara dalam pangkuan tangannya, sepanjang jalan itu juga ia menjadi pusat perhatian di sana.
"Argh... kepalaku sakit sekali," lirih Clara begitu pelan. Sky pun segera melajukan mobilnya, saat Clara dan Edzar sudah duduk dengan benar di dalam mobil.
"Sky, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa dia bisa jatuh ke dalam kolam?" tanya Edzar kepada Sky yang sedang fokus mengendarai mobil.
"Saya juga kurang tahu, Tuan, tadi saat saya mendapati Nona di luar, tiba-tiba Nona jatuh tercebur begitu saja ke dalam kolam. Namun, dilihat dari kesadarannya, sepertinya Nona Clara mabuk, Tuan," ucap Sky menjelaskan.
"Mabuk?"
Edzar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sembari melirik ke arah Clara yang sedang terduduk kedinginan sambil melipatkan kedua tangannya di atas perut.
Terdengar, suara getaran gigi yang beradu, ternyata itu adalah suara mulut Clara yang tengah menggigil kedinginan. Begitu pun dengan Sky, ia juga sebenarnya sangat kedinginan. Namun, sebisa mungkin ia menutupi rasa dinginnya itu agar tak terlihat oleh Edzar.
Edzar seolah kasihan melihat Clara yang kedinginan dan menggigil seperti itu.
"Hey, apa kau begitu kedinginan?" tanya Edzar. Clara yang setengah sadar ia mengangguk, lalu menggeser tubuhnya agar lebih mendekat dengan tubuh Edzar.
Edzar pun berinisiatif untuk menghangatkan tubuh Clara. Ia meraih kedua tangannya, lalu menggosok-gosokkan tangannya dengan tangan Clara agar Clara merasa lebih hangat.
Tapi, tanpa di duga Clara semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Edzar, semakin dekat dan semakin rapat, hingga tanpa aba-aba, Clara langsung membenamkan wajahnya di dada bidang milik Edzar. Edzar semakin terkejut, karena untuk pertama kalinya ada wanita yang berani memeluk dirinya seperti itu, selain Ralline-adiknya.
"Hey, apa yang kau lakukan?" protes Edzar.
__ADS_1
"Tuan, aku kedinginan," ucapnya lirih masih dengan memejamkan matanya sambil menempelkan tubuhnya dengan tubuh Edzar, memeluknya.
Sky yang sesekali melihat lewat kaca pion dalam, ia hanya bisa bergumam dalam hati melihat drama yang ada di belakangnya itu.
"Argh... adegan apa lagi ini yang aakan aku lihat ini," batin Sky, ia pun memilih untuk mengaktifkan gorden pembatas antara supir dan penumpang di belakang.
Dan perlahan, gorden itu pun bergerak, menutupi jarak antara Edzar dan Sky yang berada di depan.
"Hey Sky, kenapa kau mengaktifkan gorden pembatasnya?" tanya Edzar seolah tak terima.
"Silakan nikmati malam Anda, Tuan," ucap Sky , simple penuh maksud, sambil tersenyum simpul.
"Aih... dasar wanita ini!" keluh Edzar sambil membuang muka ke arah jendela mobil.
"Heh Sky, jangan berpikiran yang macam-macam ya, aku dan wanita ini tak melakukan apa-apa!" tegas Edzar, takut Sky mengira yang tidak-tidak padanya.
Sky hanya tersenyum kikuk, menahan suara tawanya.
"Iya Tuan, saya percaya kepada Anda," jawab Sky sambil cengengesan.
"Anda mau berbuat yang macam-macam pun itu bukan urusan saya," batin Sky, tersenyum kikuk sambil membayangkan bagaimana ekspresi kaku Tuannya itu, jika menghadapi Clara, si cewek bar-bar yang terkadang menyebalkan itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1