Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Pelanggaran Pertama


__ADS_3

Sementara itu, selepas selesai mandi dan berpakaian rapi, Edzar mencari-cari keberadaan istrinya itu di kamar, tapi ia tidak dapat menemukannya.


"Ke mana dia? Beraninya sekali meninggalkan kamar ini tanpasepengetahuanku!" Edzar melemparkan topi yang di pakainya.


Tadinya ia berniat untuk mengajak olahraga bersama Clara di taman samping rumah, akan tetapi niatnya ia urungkan saat dirinya tak mendapati keberadaan Clara di kamarnya itu.


Edzar pun keluar dari kamarnya, berjalan meniti anak tangga menuju ruang tengah.


"Dimana istriku?" tanya Edzar, tidak ramah dengan suaranya yang menggelegar memecah seisi ruangan. Semua pengawal yang berjaga di ambang pintu luar pun segera menghampiri Tuannya itu.


Mereka menundukkan kepalanya, sudah ketakutan akan amarah Tuannya di pagi hari seperti ini.


***


Sementara itu, seorang pengawal terlihat berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Sky, yang berada di taman belakang, sedang melakukan brifing dengan beberapa para pelayan.


"Tuan Sky ... gawat!" adu seorang pengawal setengah baya yang terlihat begitu panik.


Sky mengerutkan dahinya, menatap heran pada pengawal itu. "Ada apa?"


"Tuan Muda, sekarang sedang marah, Tuan."


"Apa!" Tanpa pikir panjang Sky langsung menerobos masuk lewat jalur pintu belakang yang terhubung langsung ke dapur.


Kedua matanya langsung memeblalak sempurna,  ia dikejutkan dengan kehadiran Clara di dapur kotor, yang tengah asyik membuat suatu makanan di atas meja sana. Di sampingnya terlihat Geriel yang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu melihat tatapan tajam dari Sky. Sky hanya menggelengkan kepalanya, melihat ulah dari istri tuannya itu.


"Nona Clara, Anda sedang apa di sini?" tanya Sky sejenak menghentikan langkahnya.


"Seperti yang kau lihat, aku sedang membuat sarapan untuk tuan Leon," jawab Clara begitu santai.


Sedangkan Geriel yang berdiri satu meter di samping Clara, lelaki itu sudah tampak berkeringat dingin, ketakutan. Ia tahu, tak seharusnya dirinya membiarkan Clara untuk memasak di dapur. Dan dirinya pun sudah tahu, tidak lama lagi ia pasti akan mendapat hukuman dari Sky, atas kejadian pagi ini.


"Nona, sebaiknya Anda segera temui suami Anda, Nona, berada di sini tidaklah baik untuk Anda dan para pegawai di sini," ucap Sky kemudian berlalu begitu saja meninggalkan mereka.


"Hih, memangnya siapa dia, berani-beraninya mengaturku," gerutu Clara dalam hati, sambil mendelik sebal melihat kepergian Sky dari sana.


"Benar, Nona. Pekerjaan ini biar saya yang lanjutkan, Nona." Kini, Geriel yang meminta, karena bagaimana pun sebagai ketua dapur, Geriel harus bisa mengatasi masalah ini.


"Tanggung, sebentar lagi akan saya selesaikan," jawab Clara, yang masih sibuk membuat clam cowdah.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya ia dapat menyelesaikan masakannya, clam cowdah yang tersaji di atas piring itu di hiasnya serapi dan seindah mungkin.


"Yeay selesai." Clara terlihat begitu senang, ia menepuk-nepuk tangannya yang sedikit kotor itu. Lalu ia pun segera  membawa piring yang berisi satu clam cowdah buatannya ke ruang makan. Berharap Edzar akan menyukainya dan


sedikit memberi kebaikan padanya.


***


"Bagaimana kalian ini! Kerja yang benar, istriku keluar dari kamar saja kalian tidak ada yang tahu!" seru Edzar kepada empat pengawal yang kini sedang duduk berlutut di hadapannya.


"Tuan Edzar, Nona Muda ada di belakang," ucap Sky begitu ia menghampiri Edzar, dan berdiri di samping empat pengawal itu.


Perhatian Edzar beralih kepada Sky. Tampak sebelah alisnya yang diangkat, menjadi runcing dan tajam.


"Di belakang? ... Untuk apa?" Edzar mengerutkan dahinya, merasa heran.


Namun, sebelum Sky kembali menjawab. Ternyata Clara sudah datang sambil membawa satu piring clam cowdah di tangannya.


Kini tatapan elang itu beralih kepada Clara. Kedua maniknya menatap tajam seolah menyiratkan sebuah amarah di dadanya.


Clara merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk ke pori-porinya. Mencekam dan menegangkan. Ketakutan pun semakin menyelimuti pikiran Clara.


Namun, ia tetap tak gentar untuk melangkahkan kakinya menghampiri suaminya itu.


"Dari mana saja kau?" tanya Edzar, memasang wajah yang tak ramah, dengan urat-urat yang menegang di pelipisnya.


"Sa-saya tadi di dapur mem—" belum selesai Clara menjawab, Edzar terlebih dahulu menimpalinya.


"Ikut aku ke kamar!" Perintahnya kemudian berbalik, berjalan terlebih dahulu menuju kamarnya.


Sementara Moura kini ia hanya melemparkan pandangannya ke arah Sky dan keempat pengawal itu. Clara pun menyimpan piring yang ada di tangannya itu di atas meja yang terdapat di ruang tengah itu, lalu dirinya segera mengejar suaminya ke kamar.


"Bangunlah, dan bekerjalah dengan lebih baik. Untuk kedepannya kalian harus lebih berhati-hati dengan setiap pergerakan Nona Muda. Atau jika, kalian ceroboh dan lalai seperti ini lagi, Tuan Edzar tak akan segan untuk


memecat kalian dari pekerjaan ini," ujar Sky kemudian ia berlalu menuju dapur untuk menyelesaikan masalahnya dengan Geriel.


"Ck! sudah kuduga, wanita itu pasti akan sering membuat kekacauan di rumah ini," gumam Sky sambil menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


"Kau tahu, kalau kau sudah melanggar peraturan dariku!" seru Edzar, begitu Clara berdiri menghadap padanya.


"Melanggar? ... Melanggar apa?" tanya Clara, dengan polosnya ia tak menyadari kesalahannya itu.


"Kau sudah melakukan kesalahan dan kau tak menyadarinya?!" suara Edzar kian meninggi.


"Maaf, Tuan, tapi saya benar-benar tidak tahu."


Edzar semakin merasa geram. "Kau tahu bukan di dalam peraturan itu, setiap orang yang ada di rumah ini, tak bisa bertindak seenaknya tanpa izin dariku!"


"Lalu?" tanya Clara, yang benar-benar merasa tak bersalah, dan malah menampilkan wajah tanpa dosanya.


Edzar menggeram, sambil mengeratkan gigi-gigi gerahamnya, menahan kesal yang teramat sangat kepada  gadis polos yang tengah berdiri di hadapannya kini.


"Sudahlah, aku jelaskan pun kau tak akan paham! Pelajari lagi peraturannya bersama Sky!"


Tiba-tiba, sebelah tangan Edzar mengangkat dagu Clara. Meniliknya penuh maksud, membuat kedua alis Clara saling bertautan.


"Dan ingat! Pagi ini kau sudah melakukan kesalahan bahkan sampai kau tak menyadarinya, itu berarti hukuman kembali berlaku untuk kakakmu itu!"


"Apa?!" Clara membulatkan matanya ketika ia mengingat akan hukuman yang harus ditanggung Gerald akibat ulahnya.


"Tuan, kumohon jangan menghukum kakakku, saya berjanji saya tidak akan melakukan kesalahan lagi. Dan jika ada kesalahan yang saya perbuat, hukum saya saja, Tuan, jangan kakak saya," ucap Clara terbata, karena dagunya yang masih tertahan oleh tangan Edzar.


Fokus Edzar semakin terganggu, ia tak bisa mengontrol pikirannya, ketika kedua netranya malah fokus memperhatikan pergerakan bibir Clara saat berbicara padanya. Dan dengan cepat, Edzar pun melepaskan


tangannya sambil membuang wajah ke sembarang arah.


"Pergilah, pelajari semua peraturan di rumah ini! Dan jangan membuat pelanggaran lagi!" seru Edzar.


"T-tapi, Anda tidak akan menghhukum kakak saya 'kan?" tanya Clara.


"Tergantung dengan perbuatnmu hari ini."


"T-tapi, Tu--"


"Pergi! Atau aku akan menyiksa kakakmu!" sentak Edzar.


Membuat Clara terperanjat mendengarnya. Ia menarik nafas begitu pasrah, lalu dirinya pun mengangguk mengiyakan kemudian keluar mencari Sky.

__ADS_1


"Clara kau harus mempelajari peraturan rumah ini dengan benar. Atau kalau tidak, kak Gerald yang akan menjadi sasaran amarahnya," gumamnya penuh tekad.


__ADS_2