
Maaf kemarin ada kesalahan upload, silakan baca ulang bab sebelumnya dulu ya. Biar nyambung.
***
Udara terasa begitu panas. Jelas itu panas bukan dari panas matahari, melainkan dari panasnya api yang membara, menyala-nyala.
Perlahan Brayen membuka matanya yang masih terasa begitu berat dan kepalanya yang masih terasa sangat pusing. Ia begitu terkejut saat mendapati kobaran api besar, tepat di hadapannya.
"Api? Argh... di mana aku?" Brayen mengedarkan pandangannya, ia melihat ada empat orang lelaki yang berpenampilan aneh, mereka bertelanjang dada dan hanya menggunakan rok pendek dari kulit hewan, rambut mereka begitu gondrong dan panjang.
"Lulululululululululu." Satu dari ke empat lelaki aneh itu, berteriak seolah memberi kode. Dan tak lama kemudian, datanglah sepuluh orang yang sama-sama berpenampilan aneh bin ajaib, mereka berdiam di dekat kobaran api, sambil menatap tajam ke arah Brayen yang masih duduk kebingungan di atas tanah.
"Siapa mereka? Apa mereka akan memanggang ku hidup-hidup?" pikir Brayen ketakutan. matanya berkeliling mencari-cari keberadaan Gerald.
"Di mana Gerald?" gumamnya pelan.
Dari orang-orang aneh itu, muncullah seorang perempuan yang sepertinya Brayen kenal.
"Tuan, kau sudah sadar?" tanya Ralline, adik Edzar yang sudah hilang berminggu-minggu.
"Dia," gumamnya dalam hati. langsung mengucek mata agar tidak salah mengenali orang.
"Tuan," panggil Ralline.
Brayen mengangguk penuh ketakutan dan tanda tanya. Ia benar-benar bingung dengan apa yang sudah terjadi dan apa yang ada di sekelilingnya itu.
Lalu pria paruh baya pun datang menghampiri Brayen yang masih terduduk di dekat kobaran api itu.
__ADS_1
"Apa dia temanmu juga?" tanya lelaki berusia 70 tahun, bernama Kanu.
"Iya Ishi," jawab Meghan mengangguk sopan. Ishi adalah panggilan khas untuk suku Yahi. Mereka adalah suku Yahi yang masih hidup di jaman modernisasi sekarang ini. Tapi jumlah mereka tidak banyak, hanya tersisa 10 jiwa saja.
"Apa tujuanmu datang ke hutan ini?" tanya Ishi Kanu.
"S-saya ingin menjemput Nona Ralline, saya di perintahkan oleh Tuan Edzar untuk menemukannya dan membawanya pulang," jawab Brayen gugup.
"Kau Nona Ralline kan?" tanya Brayen menatap ke arah Ralline. Ralline mengangguk perlahan.
"Apa yang menyuruhmu adalah para petinggi suatu perusahaan? Yang menginginkan hutan ini?" tanya Ishi Kanu. Brayen hanya terdiam tak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan oleh lelaki tua itu.
Brayen pun kembali menggelengkan kepalanya. "T-tidak, saya kemari hanya ingin membawa Nona Ralline untuk pulang saja," jawabnya lagi ketakutan.
Ishi Kanu terdiam, masih dengan menatap tajam kedua bola mata Brayen, memastikan bahwa lelaki muda itu tidak sedang berbohong kepadanya.
"Nona Ralline, aku mau di bawa ke mana?" tanya Brayen menoleh ke arah Ralline.
"Tidak perlu takut, ikuti saja. Dan jangan terlalu banyak berbicara jika kau ingin selamat," ucap Ralline begitu serius.
Deg ... hati Brayen semakin ketakutan, tapi mau tak mau ia harus tetap ikut masuk ke dalam gubuk itu bersama orang-orang aneh itu.
Sementara itu, Ralline kembali menghampiri Gerald yang masih pingsan tak sadarkan diri di gubuk kecil yang berada di belakang pohon besar di sana.
Ia mendudukkan tubuhnya di samping Gerald. "Apa lelaki ini ikut bersama dia juga untuk mencariku? Tapi, apa hubungannya kalau lelaki ini sampai ikut untuk menemukan keberadaanku?" gumam Ralline terheran-heran.
Kedua mata Gerald mulai terbuka, matanya masih terasa buram, tak mampu melihat dengan jelas. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Clara, ia memanggil-manggil nama Clara dengan suaranya yang lirih.
__ADS_1
"Clara," ucapnya sangat pelan. Ralline yang sedang duduk melamun, ia langsung menoleh ke arah Gerald, lelaki yang belum ia ketahui identitasnya itu.
"Clara," ucapnya lagi begitu lirih.
"Tuan," panggil Ralline mengembangkan senyumannya saat mengetahui kalau lelaki yang sedang terbaring lemah itu, mulai sadar.
"Tuan, kau sudah sadar?" tanya Rallinelagi.
Tiba-tiba Gerald tersenyum menatap Ralline. Ia pun bangun dan tiba-tiba, Leon langsung menarik tubuh Ralline ke dalam dekapannya.
"Clara, kau baik-baik saja kan? Kakak merindukanmu Clara," ucap Gerald begitu terharu. Ia tak menyangka, dirinya sudah berada di sisi Clara lagi. Meski itu hanya sebatas bayangannya saja.
"T-Tuan, lepaskan Tuan." Ralline memberontak, hingga ia berhasil melepaskan diri dari dekapan tubuh Gerald.
"Clara? Kau kenapa seperti ini kepada Kakak? Apa kau membenciku?" tanya Gerald dengan matanya yang terlihat sayu. Gerald benar-benar masih belum sadarkan diri, di dalam pandangannya yang ia lihat, Ralline itu adalah Clara, padahal aslinya bukan.
"Tuan, Anda salah mengenali orang," gerutu Ralline.
"clara? Apa yang kamu katakan aku ini Kakakmu. Apa yang salah?" tanya Gerald merasa kecewa. Ralline semakin mengerutkan dahinya.
"Kakak? ... Siapa Clara? Apa adiknya hilang juga di hutan ini?" gumam Ralline dalam hati, menduga-duga.
Tiba-tiba Gerald kembali merasakan sakit di kepalanya "Argh... kepalaku," lirihnya merasa kesakitan, hingga akhirnya ia pun kembali tak sadarkan diri, dan ambruk jatuh pingsan begitu saja di atas tanah yang beralaskan tumpukan daun kelapa itu.
"Waduh, kok malah pingsan sih!' batin Ralline terheran-heran.
Bersambung....
__ADS_1