
Sejak Gerlad memutuskan untuk membantu mencari ralline ke gunung nanti. Sikap Edzar terhadap Clara sedikit berubah, ia tidak terlalu mengekang Clara seperti sebelumnya, sudah beberapa hari ini Edzar memperbolehkan Clara untuk pergi menemui Gerald ketika ia sedang bekerja. Tapi, tentunya ia pun tetap harus mengingatkan Clara jika hal itu bisa Clara lakukan ketika Edzar tak ada di rumah.
Dan sore ini, Edzar baru saja menyelesaikan rapat penting bersama beberapa team pengembangan untuk mengeluarkan produk makanan instan terbaru yang lebih alami dan menyehatkan.
"Sky, apa malam ini kau ada acara?" tanya Edzar saat mereka berdua memasuki mobil untuk pulang.
"Tidak ada, Tuan."
"Baguslah kalau begitu, nanti malam ikutlah denganku untuk makan malam di luar, dan kau juga aturlah tempatnya, aku akan mengajak dia untuk pergi keluar," ucap Edzar, seketika teringat akan gadis lugu yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Dia? Apa nona Clara, Tuan?"
"Ya siapa lagi kalau bukan dia!"
"Maaf, Tuan, saya kira dia itu, tuan Gerald," jawab Sky tanpa merasa berdosa.
"Kau ini, memangnya aku ini siapanya dia! Sampai harus mengajaknya makan malam segala! cerca Edzar.
"Anda adik iparnya Tuan," jawab Sky dengan benar, namun entah kenapa, mendengar kata 'adik ipar' cukup menggelikan di telinga Edzar saat mendengarnya.
"Hah, aku adik ipar dia?" gumamnya bertanya pada diri sendiri, sambil membuang wajah ke arah jendela mobil.
Sesampainya di rumah, seperti biasa, dua pengawal dan sang istri sudah menyambutnya di depan pintu rumah.
Kali ini penampilan Clara cukuplah terlihat anggun dan beda dari biasanya. Entah kenapa dres pendek berwarna putih dengan aksen butiran swarovsky di bagian dada, dan dengan model lengan yang sedikit menggelembung, membuat penampilan Clara sangatlah cantik dan menawan. Di tambah, kali ini ia tak perlu mengomentari masalah riasan wajah Clara, karena Clara kali ini hanya memakai lipstik tipis-tipis bahkan warna lipstiknya saja hampir sama dengan warna bibir aslinya.
"Sore Kak Edzar," ucap Amel dan Agnes saat Edzar dan Clara hendak menaiki anak tangga.
"Hm... sore," jawab Edzar dingin.
Entah kenap Amel dan Agnes cekikikan saat melihat Clara penampilan Clara, yang menurut mereka baju yang digunakannya terlihat aneh dan lucu seperti badut.
"Kau melihatnya bukan?" tanya Amel, Agnes menganggukkan kepalanya sambil terus tertawa pelan.
"Benar-benar ya, dia tidak mengerti fashion. Baju seperti badut saja ia berani memakainya di depan Kak Edzar," ujar Agnes.
__ADS_1
Telinga Edzar cukup tajam untuk mendengar desas-desus pembicaraan kedua sepupunya itu.
Sejenak Edzar pun menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Clara yang berada di belakangnya tak sengaja menubruk punggungnya, bahkan karena Clara cukup terkejut, ia tak sengaja menurunkan sebelah kakinya. Dan ....
"Arrghh...." Clara hampir saja akan terjatuh, tapi dengan cepat Edzar menahan punggung istrinya itu dengan sebelah tangannya, dan sebelah tangannya lagi menggenggam erat lengan Clara. Menahannya agar istrinya itu tidak terjatuh.
Deg, deg, deg. Detak jantung diantara keduanya tiba-tiba berdetak begitu cepat. Aliran darah seakan menghangat dan membuat kedua mata mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan begitu dalam.
"Ya ampun, apa yang terjadi. Kenapa jantungku tak terkontrol seperti ini?" gumam Clara dalam hati.
"Kenapa dia bisa semanis ini?" gumam Edzar dalam hati.
"Argh... ya ampun Kak Edzar apa yang kalian lakukan?" pekik Amel histeris melihat posisi mereka yang bisa dibilang terlalu romantis. Bahkan membuatnya iri.
"Daebak!!! Adegan romantis apa ini?" seloroh Agnes yang sompral alam berbicara.
Suara pekikkan kedua sepupunya itu, membuat Clara dan Edzar sama-sama tersadar. Lalu dengan cepat Edzar membenarkan posisi dirinya dan membantu Clara untuk bisa berdiri dengan benar.
"Maaf Tuan, tadi saya tidak sengaja menubruk punggung Anda," ucap Clara menunduk malu.
"Lagian, kenapa juga dia tadi tiba-tiba berhenti mendadak seperti itu. Aku kan jadi tak bisa mengontrol langkah kakiku," gerutu Clara dalam hati.
Edzar yang tadinya ingin menegur kedua sepupunya karena telah menghina baju yang Clara gunakan. Akhirnya ia urungkan, karena mood-nya yang sudah berubah. Edzar pun dengan cepat melangkahkan kembali kakinya menaiki anak tangga. Begitu pun dengan Clara yang mengikutinya satu meter di belakang, menjaga jarak agar hal seperti tadi tidak terulang lagi.
"Cih! Dasar wanita tidak tahu malu, berpura-pura mau jatuh karena ingin menggoda Kak Edzar," umpat Amel dalam hati.
***
Malam harinya. sebelum jam delapan malam, Sky sudah terlebih dahulu bersiap dan datang sebelum waktu yang dijanjikan.
Sky menghubungi Edzar lewat ponsel, karena di jam malam seperti ini, ia tak berani jika harus mengabari Edzar dengan langsung mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan, saya sudah siap dan menunggu di ruang tengah," ucap Sky, kemudian ia segera menutup teleponnya.
"Hey, bersiaplah. Malam ini kita akan makan di luar," ucap Edzar kepada Clara, yang sedari tadi sedang asyik membaca novel di atas sofa santai di sudut ruangan.
__ADS_1
"Hah? Makan malam diluar?" tanyanya takut salah dengar.
"Hm ... cepat bersiaplah, Sky sudah menunggu kita di bawah," ucap Edzar dengan dingin. Sambil sibuk memasangkan jam tangan di pergelangan tangannya.
Clara pun hendak pergi ke ruang wardrobe untuk berganti pakaian. Namun, Edzar terlebih dahulu menahannya.
"Tidak perlu berganti baju, waktu kita tidak banyak. Cepat ambil tasmu saja, dan segera turun ke bawah. Aku duluan," ujarnya masih dengan nada dingin, sedingin salju.
"Benarkah? Dia membiarkanku untuk memakai baju seperti ini? Ah tapi sudahlah, bagus pula tak perlu aku repot-repot berganti baju."
Clara pun sejenak merapikan rambutnya yang tergerai itu dengan mengikatnya dengan bentuk kuncir kuda, hingga menampilkan leher putihnya yang begitu indah dan bersih. Tak lupa Clara juga menambahkan sedikit riasan di wajahnya, seperti mengoleskan sedikit lipstik berwarna merah orange di bibirnya. Ia memakainya setipis mungkin dan terakhir polesan sedikit bedak dan blash on di pipinya.
"Oke sudah siap." Clara memandangi dirinya yang terlihat begitu lebih fresh dan menambah kesan yang lebih muda, seperti anak sekolahan.
Ia turun meniti anak tangga, menghampiri Sky dan Edzar yang sudah duduk menunggunya di atas sofa di ruang tamu.
Edzar seakan terpana melihat penampilan Clara yang seperti itu. Tak bisa dipungkiri, hatinya memuji, bahwa istrinya itu memanglah sangat cantik. Tapi entah kenapa ia seakan tak terima, jika Sky yang berada di sana, ikut melihat kecantikan istrinya tersebut.
"Kenapa dia berdandan seperti itu?" gumam Edzar mengerutkan kedua alisnya hingga menyatu.
Clara pun sudah berdiri di depan mereka berdua. Tak lupa ia memberikan sapaan hangat untuk Sky. Dan lagi-lagi Sky dibuat tidak nyaman, dengan keramahan Nona Mudanya itu.
"Ya ampun Nona, bisa tidak, jangan bersikap seperti itu kepadaku. Aku masih ingin bekerja dan hidup dengan tenang di kota ini," gumam Sky dalam hati.
"Cih! Apa harus dia menyapa Sky seperti itu," batin Edzar merasa tidak suka.
Edzar berdiri menghadap Clara. "Kenapa kau berpenampilan seperti ini hah!" seru Edzar.
Clara langsung membelalakkan kedua matanya, merasa terkejut dan tak mengerti kenapa Edzar bisa terlihat marah seperti itu.
"Ya ampun, apa aku melakukan kesalahan dengan riasanku ini?" gumam Clara dalam hati, dan mulai panik.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen dan votenya juga ya mentemen, terima kasih.