
Terlihat seorang lelaki paruh baya tengah duduk sigap sambil mengamati monitor yang terhubung dengan seluruh CCTV di istana itu.
Tiba-tiba, ruangan CCTV yang jarang terjamah oleh siapa pun kecuali Pak Han, sang penjaga. Hari ini, sang Tuan pemilik rumah datang menghampirinya.
"Tuan." Pak Han begitu terkejut ketika Edzar yang tiba-tiba datang, dan sudah masuk begitu saja ke ruangan CCTV ini.
"Perlihatkan CCTV sel bawah tanah," ujar Edzar berdiri memandangi satu-persatu layar monitor yang ada di sana.
"Sebelah sini Tuan." Pak Han menunjukkan layar monitor yang merekam ruang bawah tanah.
"Sudah berapa lama mereka sadar?" tanya Edzar, sambil melihat pergerakan dua insan manusia, yang berada di dalam sel.
"Tadi malam saat Anda memeriksa mereka Tuan, mereka baru sadar. Dan kebetulan Tuan sedang mengecek keadaan mereka," ujar Pak Han menjelaskan.
Lalu Rdzar pun mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang terpajang di ruangan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Itu artinya sejak mereka sadar, mereka belum diberi makan apa-apa hingga seharian seperti ini.
Edzar hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Rasakanlah, bagaimana rasanya kalian kelaparan," batin Edzar. Setelah beberapa menit memandangi pergerakan mereka yang hanya duduk berdiam di sel.
Edzar pun memutuskan untuk menyudahinya. Ia berlalu begitu saja meninggalkan ruangan CCTV itu.
Dalam hati Pak Han, ia seakan tak percaya dengan perilaku Tuannya itu. Sebelumnya Pak Han mengenal Edzar sejak Tuannya itu masih kecil, dulu, Edzar adalah seorang lelaki yang begitu hangat, baik dan penyayang. Tapi sejak kedua orang tuanya wafat, entah hal apa yang membuat Edzar berubah jauh dari dirinya yang sebelumnya. Pak Han bisa tahu perubahan yang begitu jauh dari diri Edzar, karena ia sudah bekerja di keluarga Alantska ini sekitar 20 tahun.
"Kasihan sekali nasib kalian Nak, semoga Nona Ralline secepatnya bisa ditemukan, agar kalian berdua bisa terbebas dan rumah ini," gumam Pak Han dalam hati, sambil melihat layar monitor yang menampilkan keadaan ruang bawah tanah.
Ia sedikit iba, melihat kakak beradik itu harus ditahan di sel bawah tanah, bahkan tak diberi makan sedikit pun.
***
Menit demi menit berlalu begitu saja, entah sudah berapa jam mereka duduk termenung di dalam jeruji sel itu. Dengan perut kosong yang sudah terasa begitu perih karena menahan rasa lapar. Namun, tak ada yang bisa mereka makan. Mereka berdua pun tak tahu, apakah sekarang itu sedang siang, sore atau malam. Di ruang bawah tanah ini, tak ada sedikit pun sinar matahari yang tembus. Benar-benar ruang yang jauh dari kehidupan.
Dengan terpaksa, mereka berdua hanya bisa meminum air keran yang ada di WC. WC di sana cukup terawat, mungkin karena tidak pernah ada orang yang meninggalinya, atau bahkan tak pernah terjamah oleh siapa pun kecuali mereka berdua, yang mungkin —menjadi tahanan pertama— di sel ruang bawah tanah itu.
Gerald meraba saku jeans yang dikenakannya. Karena ia baru teringat, saat membeli hamburger waktu itu, ia juga membeli permen susu kesukaan Clara.
"Clara," panggil Gerald.
"Iya Kak."
__ADS_1
"Kemarikan tanganmu, Kakak punya sesuatu untukmu," ujar Gerald. Clara pun menurut padanya dan mengulurkan tangannya ke dalam sisi jeruji sel milik Gerald yang ada di sampingnya.
Gerald melihat ada 4 bungkus permen di dalam sakunya, ia menyimpan tiga bungkus permen itu di atas telapak tangan Clara. Lalu Clara pun menarik tangannya kembali.
Dan ia begitu senang ketika melihat ada tiga permen susu kesukaannya. Namun, senyumannya tiba-tiba sirna begitu saja. Ia selalu ingat, bahwa terkadang Gerald selalu memberi semua yang dimilikinya, tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Clara pun kembali memberikan dua permen itu kepada Gerald. “Kakak, ambillah ... kau belum membaginya 'kan?” Namun hal itu jelas langsung Gerald tolak.
Dengan terpaksa Gerald harus berbohong kepada adiknya itu. "Clara, aku sudah punya tiga, aku membaginya sama denganmu," ujar Gerald, kembali mengangsurkan tangan Clara.
"Benarkah?" tanya Clara. Gerald mengiyakannya.
"Kalau begitu tunjukkan padaku," pinta Clara, untuk meyakinkan.
"Aku sudah memakannya Clara," kilah Gerlad berbohong.
"Ya sudah tunjukkan cangkang permennya."
"Lihatlah, aku sudah memakannya dua tadi, dan ini tinggal satu lagi," jawab Gerald, sambil memperlihatkan satu bungkus permen di tangannya.
Tiba-tiba rasa sesak di dada, kembali Clara rasakan. Ia tahu betul bahwa Kakaknya itu sedang berbohong. Dan tak terasa air matanya pun kembali ikut menetes, sambil menatap tiga bungkus permen yang ada di tangannya.
"Clara, ayo kita makan sama-sama permennya," ajak Gerlad di balik tembok.
Sungguh kedua kakak beradik itu tidak bisa saling bertatap muka, hanya tangan lah yang bisa saling menggenggam. Kalau ada penobatan Kaka beradik paling solid, merekalah pemenangnya.
"Clara," panggil Gerald sekali lagi saat tak mendapat sahutan dari adik kesayangannya itu. Clara pun segera menghapus air matanya.
"Iya Kak, aku akan memakannya. Terima kasih Kak," ujar Clara dengan hati yang terasa begitu pilu. Perlahan Clara membuka bungkus permen itu, lalu melahapnya dan mengunyahnya diiringi dengan aliran air mata yang semakin deras membasahi kedua pipinya.
Sementara Gerald, ia sengaja membelah dua permen miliknya, untuk dimakan nanti lagi.
***
Dan kini, entah sudah berapa lama mereka tertidur. Entah itu, 3 jam, 5 jam, atau mungkin 8 jam, mereka tidak tahu. Namun, mereka terbangun ketika ada seorang wanita paruh baya, berusia sekitar 50 tahunan, yang membangunkan mereka.
Wanita paruh baya itu adalah salah seorang pelayan di kediaman keluarga Alantska. Dan wanita itu pula, yang membangunkan Gerald serta Clara dari tidur nyenyak mereka. Lalu memberi mereka sebungkus nasi.
Clara dan Gerald pun segera mengambil bungkus nasi itu. Yang ternyata ketika mereka membukanya ... itu hanya berisi nasi putih saja, tanpa ada lauk maupun sayuran apa pun di atasnya.
__ADS_1
Tapi mereka berdua tetap menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Bu," ujar Clara sambil melahap nasi putih itu menggunakan sendok plastik yang tersedia.
"Ini minumnya," ujar Ibu itu menyodorkan sebotol air mineral kepada Gerald dan Clara lewat jeruji besi bagian bawah.
"Terima kasih Bu," ujar Clara kembali. Wanita itu hanya tersenyum pilu, melihat Clara yang makan dengan begitu lahap, walau hanya makan nasi putih saja.
"Anak-anak ini benar-benar malang," batin Ella.
Ella, masih sibuk menatap mereka secara bergantian. Rasa iba yang ia rasakan begitu menusuk ke dalam hati. Karena ketika ia melihat Gerald dan Clara, ia jadi teringat akan kedua anaknya yang sudah meninggal akibat kecelakaan mobil lima tahun lalu.
"Kalau anakku masih ada, mungkin mereka sudah sebesar ini. Laki-laki itu Kakaknya dan perempuan ini adiknya," batinnya. Tiba-tiba sebulir air mata, berhasil lolos dari salah satu sudut matanya, membuat Ella dengan cepat menghapus air matanya itu.
"Oh ya Bu, apa Ibu tahu, kita di sini sudah berapa hari ya?" tanya Clara, di sela-sela aktivitas makannya.
Bi Ella yang masih berjongkok di depan sel mereka berdua, ia masih terdiam tak menjawab.
Lalu .... "Panggil saya Bi Ella saja, atau kalian boleh manggil saya Bibi," ujar Ella. Clara dan Gerald pun mengangguk mengiyakan.
"Kalian di sini itu sudah 4 hari. Dua malam pertama kalian di sini, kalian masih belum sadar, dan kalian baru sadar ketika kemarin malam Tuan Edzar kemari memeriksa kalian," ujar Bi Ella begitu pelan, setengah berbisik.
"Empat hari?" Clara tercengang mendengarnya.
"Iya." Bi Ella langsung kembali berdiri ketika ada seorang pria ber-jas hitam yang datang menghampirinya. Dan Bi Ella yang terlihat sedikit ketakutan itu pun segera berlalu kembali ke atas, meninggalkan mereka tanpa pamit.
Lelaki berjas hitam itu, tak lain ialah salah satu pengawal yang waktu itu menangkap mereka. Pengawal itu ditugaskan oleh Rdzar untuk mengawasi setiap pergerakan dari Gerlad dan Clara di sel bawah tanah itu.
"Cih, apa harus si Tuan Kejam itu menaruh robot kaku di sini," gumam Clara yang tak suka dengan kehadiran pengawal itu, apalagi saat pengawal itu menatapnya dengan tatapan dingin dan menyeramkan. Ia pun memilih untuk membelakangi pengawal itu, dan fokus kembali untuk menyantap nasinya yang belum sempat ia habiskan.
Bersambung.
Jika kalian suka jangan lupa kasih reviewnya di bawah, dan jangan lupa kasih votenya ya biar author makin semangat up ceritanya.
Sarangheyoooo para pembacaku.
__ADS_1