Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Mengawasi Clara


__ADS_3

Satu minggu sudah pernikahan Edzar dan Clara berlalu, sejak kejadian di depan pintu ruang kerja Edzar malam itu. Kini Clara menjadi lebih penurut dan lebih berhati-hati. Clara masih ingat saat Edzar dengan tak segan membuat jantungnya berdebar kencang, merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Jadi malam itu ....


Edzar mendorong tubuh Clara ke atas tempat tidur. Seringai senyuman penuh maksud terpancar di wajah tampannya. Edzar menatap Clara yang terlihat sedang ketakutan terhadapnya, tapi wanita itu tetap tidak bersuara, Clara hanya memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari Edzar.


"Sepertinya kau bukan wanita lemah seperti yang aku duga," ucap Edzar mulai merangkak naik ke atas tempat tidur mendekati Clara.


Clara mencoba untuk bangun, tapi Leon lebih dulu menahan tubuh Clara.


"Kau mau ke mana hah?" tanya Edzar setengah berbisik, membuat bulu kuduk Clara meremang dan merinding. Kini Clara sudah berada dalam kungkungan tubuh Edzar. Jarak tubuh di antara keduanya pun begitu dekat.


"Tu-Tuan, s-saya minta maaf Tuan," ucap Clara gelagapan takut.


"Apa kau takut kepadaku?" Edzar menaikkan sebelah alisnya menatap Clara penuh damba.


Clara dengan cepat menggelengkan kepalnya. "Benarkah? Kau yakin tak takut kepadaku?" bisik Edzar tepat di sebelah daun telinga Clara, membuat tubuh wanita itu merasa geli, saat hembusan nafas suaminya terasa begitu hangat merasuk ke dalam lubang telinganya.


"Hey ... apa kau begitu sensitif?" Edzar menjauhkan wajahnya dari Moura. Ia dapat melihat ketegangan di wajah Clara, saat wanita itu memalingkan pandangannya, mungkin karena takut.


"Apa sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal ini?" batin Edzar sedikit penasaran.


Jari jemari Edzar mulai menyingkapkan helaian rambut Clara yang menutupi wajah cantik istrinya itu.


"Tuan ja-jangan menyentuh saya Tuan," pinta Clara sambil memejamkan matanya kuat-kuat.


"Memangnya kenapa kalau aku menyentuhmu hah?" bisik Edzar dengan suaranya yang agak serak-serah basah.


Edzar merasa ada sedikit kesenangan, saat melihat istrinya dibuat salah tingkah seperti itu. Tapi karena tak tega melihat istrinya ketakutan terlalu lama, Edzar pun menegakkan tubuhnya kembali, duduk di dekat Clara. Masih dengan posisi Clara yang terbaring di samping Edzar.


Mata Edzar kini tertuju dengan sebelah tangan Clara yang sedang mencengkeram erat seprai, tiba-tiba Edzar  menyatukan jari tangannya dengan jari tangan Clara. Membuat Clara langsung membuka matanya dan sadar bahwa suaminya telah berganti posisi.


Clara pun cepat bangun dan terduduk di tengah tempat tidur dengan perasaan yang masih berdebar tak karuan.

__ADS_1


Clara mencoba menarik tangannya itu dari ikatan jari Edzar. Namun Edzar malah semakin mengeratkan tangannya itu seolah menguncinya.


"Kenapa? Apa kau merasa tak nyaman dipegang olehku seperti ini?" tanya Edzar menatap dalam-dalam kedua manik mata berwarna kelabu itu. Clara pun perlahan menganggukkan kepalanya, meskipun dengan ragu.


“I-iya Tuan, maaf.”


Edzar mengusap pelan jari jemari tangan Clara yang masih menyatu dengan jari-jari tangannya itu. "Kau tahu? Jari-jemari tanganmu ini bisa aku patahkan, jika kau sembarangan menyentuh sesuatu!"


Clara langsung membulatkan kedua matanya. Ia begitu takut dengan perkataan yang diucapkan suaminya itu.


"Maafkan saya, Tuan, maafkan, saya tidak akan sembarangan menyentuh apa pun lagi," ucapnya pelan.


Seketika Edzar melepaskan tangan Clara dari genggamannya.


"Kalau begitu patuhlah kepadaku!" tegas Edzar, Clara mengangguk mengiyakan.


"Sudahlah, aku ingin tidur." Begitu mendengar perkataan itu, Clara langsung beranjak pergi untuk mematikan lampu kamar. Clara menggidikkan bahunya, ketika membayangkan bagaimana jika suaminya itu benar-benar mematahkan jati-jemarinya.


"Tapi, apa salahku? Sampai dia mau mematahkan jari-jariku ini? Lagi pula aku kan tidak pernah menyentuh barang milik dia," batin Clara yang masih tidak sadar akan kesalahannya tadi saat berani menyentuh Sky.


***


Sky turun terlebih dahulu. Namun, sepertinya kali ini ada yang berbeda, Sky bukan hanya membukakan pintu untuk Edzar saja, tapi juga untuk 3 wanita yang sama-sama muncul dari dalam mobil yang sama.


"Siapa mereka?" gumam Clara tak mengenali.


Namun, kejadian tak disangka dan tak pernah di duga, tiba-tiba saja terjadi. Edzar datang menghampirinya dan langsung merangkul pinggang Clara, menarik tubuh istrinya itu agar lebih merapat dengan tubuhnya.


Seorang wanita yang terlihat seperti berusia 40 tahunan, ia menurunkan kacamata hitam yang melekat di matanya . Wanita paruh baya itu cukup tercengang saat melihat Edzar memperlakukan Clara seperti itu, pun dua wanita gadis yang ada di belakang wanita paruh baya itu, mereka berdua terlihat, memandang jijik ke arah Clara.


"Perkenalkan dia adalah Bibi Dora, adik dari almarhum ibuku, dan dua gadis itu, mereka sepupuku, yang kanan namanya Amel dan yang kiri Agnes," jelas Edzar memperkenalkan.


"Dan Bibi, perkenalkan ini istriku ... Moura."

__ADS_1


Wanita bernama Dora itu hanya tersenyum kecut tanpa ada ramah-ramahnya sama sekali. Sedangkan Clara wanita itu hanya bisa mengembangkan senyuman manisnya ke arah tiga wanita itu.


"Bibi mau beristirahat," ucap Dora menyelonong begitu saja masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh kedua anak gadisnya itu.


***


Edzar mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan. Amel si gadis berusia 24 tahun itu hendak mendudukkan tubuhnya di samping Edzar. Namun dengan cepat Edzar berkata. "Duduklah di kursi lain, itu tempat duduk istriku!" Perkataan itu cukup menegaskan bahwa Clara kini sudah mempunyai tempat di rumah ini.


Amel terlihat mencebikkan bibirnya seperti kesal. Wanita itu pun mendudukkan tubuhnya di kursi lain, di susul oleh Agnes dan Dora, kemudian tak lama Clara datang dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Edzar.


"Makanlah, dan jangan ada yang bersuara." Penegasan Edzar cukup membuat semua orang yang ada di sekitarnya diam membisu.


Setelah menghabiskan makanannya Edzar beranjak untuk pergi, diikuti oleh Clara yang secara otomatis mendirikan tubuhnya.


"Habiskan dulu makanannya," ucap Edzar saat melihat setengah makanan milik Clara belum habis. Clara pun menurut dan kembali mendudukkan tubuhnya menyantap makanannya.


Edzar sejenak menoleh ke belakang. "Hm ... semoga saja dia kuat dengan omongan Bibi," gumam Edzar.


Lelaki itu sudah tahu, kalau Bibinya pasti akan berbicara sesuatu yang mungkin dapat menyinggung perasaan Clara. Tapi, selama satu minggu mengenal Clara, setidaknya Edzar juga tahu bahwa Clara bukanlah wanita yang cengeng yang mudah termakan omongan orang.


Edzar pun pergi ke ruang TV untuk sekedar bersantai, sampai menunggu Clara kembali dari ruang makan.


“Pak Bram,” panggil Leon saat Pak Bram melewat di ruang tengah. Pak Bram pun menghampiri Edzar.


“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Berdiamlah di ruang tamu, dan awasi istriku yang sedang bersama Bibi Dora di sana,” titah Edzar.


Lelaki paruh baya itu mengangguk, mengiyakan. Lalu dengan cepat Pak Bram bergegas pergi untuk mengawasi Nona Mudanya itu di salah satu sudut ruang makan. Pak Bram mengawasinya tanpa diketahui oleh mereka semua, bahwa di ruangan itu ada seorang lelaki yang berdiam mengawasi.


 


Bersambung...

__ADS_1


 


 


__ADS_2