Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Jangan Menyentuhku!


__ADS_3

Sore harinya, setelah pulang dari lapang golf Edzar terlebih dahulu menemui seseorang yang dipercaya bisa melacak keberadaan adiknya itu.


Edzar mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu di sebuah bar yang dekat dengan lapang golf miliknya.


"Kau yakin bisa melacak keberadaan adikku?" tanya Edzar sambil menyesap secangkir teh yang ada di tangannya, lalu menyimpannya kembali di atas meja.


"Iya Tuan, saya yakin bisa melacak di mana keberadaan nona Ralline. Hanya saja, saya memerlukan akses untuk penelitian saya, agar saya lebih mudah diizinkan untuk mengecek CCTV di kota ini," ujar lelaki yang bernama


Brayen itu, dia adalah seorang detektif rahasia yang begitu hebat di California. Dia juga sudah beberapa kali berhasil memecahkan permasalahan yang sangat rumit sekalipun. Bahkan ia juga berhasil mengungkap kejahatan-kejahatan di dunia pemerintahan dan orang-orang besar para pebisnis.


"Baiklah, untuk surat izin itu biar sekretarisku yang mengurus, kau besok bisa langsung temui dia saja ke rumahku," ucap Edzar menatap serius.


"Baik terima kasih, Tuan, sudah mempercayakan misi ini kepada saya. Saya berjanji akan melakukan semuanya semaksimal mungkin," ucap Brayen, begitu bangga.


Setelah pertemuannya dengan Brayen, kini Edzar kembali lagi ke rumah, pulang menaiki mobil bersama sopirnya yang bernama Pak Arvan.


Jalanan sore itu tampak sedikit macet, Pak Arvan harus dengan lihay menjalankan mobil, karena terkadang tuannya itu sering marah-marah apabila dirinya terjebak dalam kemacetan jalanan.


Dan setelah 30 menit bekrendara, akhirnya mereka pun sampai. Pak Arvan segera membukakan pintu mobilnya sesaat setelah mereka sampai di halaman rumah.


Calara yang sudah tampil cantik dan wangi, sehabis mandi sore, ia melihat kedatangan suaminya lewat jendela kamarnya di lantai dua. Lalu ia pun bergegas turun ke bawah untuk menyambut kedatangan suaminya tersebut.


Ia terpaksa melakukan semua ini, karena teringat akan peraturan rumah dan ancaman hukuman yang harus diterima kakaknya. Apalagi setelah tadi pagi sampai siang ia mengobrol dengan Gerald. Clara jadi tahu, ia harus bagaimana dan seperti apa.


"Ah... sungguh menyebalkan, kenapa sih aku harus menyambutnya seperti ini." Clara berdiri di dekat tangga, begitu suaminya itu datang.


Edzar melangkah menaiki teras rumah, menatap Clara yang berdiri mematung di dekat tangga sana. "Hm, cerdik juga dia, datang menyambutku dengan penampilannya yang seperti itu," gumam Edzar dalam hati, sambil sedikit menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


"Hey, siapa suruh kau berdandan semenor ini hah?" Edzar mengangkat dagu Clara dengan telunjuk tangannya. Menampilkan wajah cantik Clara yang penuh dengan riasan. Bahkan dengan sengaja Clara memakai lipstik berwarna merah menyala, yang ia kira warna seperti itu akan disukai oleh suaminya.


Akan tetapi, sepertinya Edzar kurang menyukai riasan Clara. Memang, kemampuan Clara dalam merias diri cukuplah buruk, bahkan ia sendiri tidak terlalu mengetahui soal makeup.


"Hapus riasanmu itu, kau tahu warna bibirmu yang menyala ini hanya membuat mataku sakit melihatnya," ucap Edzar sambil menjauhkan tangannya dari dagu Clara.


Clara hanya mencebik kesal. Lalu ia pun berjalan mengekori Edzar dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Clara langsung menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Edzar pun bergegas pergi ke kamar mandi, sedangkan Clara ia sibu menghapus riasannya.


"Huh, sungguh payah sekali dia, seharusnya dia senang aku memakai lipstik merah seperti ini. Bukannya kebanyakan wanita di luaran sana juga sering memakai lipstik berwarna merah menyala seperti ini," gerutunya sampai ia benar-benar sudah selesai membersihkan semua makeup yang menempel di wajahnya itu.


"Ya sudah lah, kalau begitu aku cukup memakai bedak saja."


Tak lama kemudian Edzar kembali menghampiri Clara, di lihatnya istrinya itu sedang sibuk membaca sebuah buku, yang sempat Clara ambil tadi pagi dari perpustakaan.


"Kau membaca apa?" tanya Edzar penasaran.


"Kau tidak lihat, aku sedang membaca buku, masa ia aku membaca koran," jawab Clara dengan asal.


Seketika Edzar memandangnya dengan tatapan tajam, ia tak suka dengan jawaban yang diberikan Clara, apalagi dengan nada bicaranya yang tampak seperti orang kesal.


"Aku ,tahu kau membaca buku! Yang ku maksud kau membaca buku tentang apa!" balas Edzar berseru keras.


Clara yang baru sadar bahwa Edzar tengah murka kepadanya, ia pun segera menutup buku itu rapat-rapat. Lalu dengan tampang tak berdosa, ia malah mengembangkan senyuman manis di wajahnya.


"Oh, i-ini buku biasa, tadi a-aku mengambilnya dari perpustakaan," jawabnya sedikit gugup, masih tersenyum menyengir kuda.


Edzar mengernyitkan dahinya, melihat perubahan sikap Clara yang secara tiba-tiba terasa aneh.


Edzar masih menatapnya dengan tatapan penuh curiga, ia pun perlahan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, aku meminta izin untuk pergi ke perpustakaan ingin mengembalikan buku ini, Tuan, apa boleh?" tanya Clara, memasang wajah sok imut.


Edzar sejenak terdiam sebelum ia menjawab. "Ikutlah bersamaku, aku pun akan ke perpustakaan," ajaknya berjalan terlebih dahulu. Dibuntuti oleh Clara yang berjalan di belakangnya.


Sesampainya di perpustakaan, Clara di kejutkan dengan rak buku yang sudah berbeda susunannya.


"Wah ... kenapa jadi berubah seperti ini, perasaan tadi pagi susunannya bukan seperti itu," gumamnya dalam hati. Ia terus berjalan mengekori Edzar dari belakang.


Sampai pada akhirnya matanya dikejutkan dengan kehadiran Sky yang sepertinya begitu kelelahan. Sky terduduk di atas lantai di penjuru perpustakaan itu. Dengan dirinya yang tengah terlelap tidur dengan posisi duduk.


"Ehem!" Edzar berdehem keras, hingga suaranya membangunkan Sky dari tidurnya.

__ADS_1


Sky yang masih setengah sadar, ia langsung berdiri tegap saat melihat Tuan dan Nona Mudanya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Beres Sky?" tanya Edzar.


"Siap sudah beres semua, Tuan," jawab Sky dengan suara lantangnya, meski sebenarnya kedua matanya tengah berkunang-kunang merasakan gelap yang memusingkan kepala.


"Wah, wah, wah, lelaki dingin ini, dia benar-benar begitu penakut kepada suamiku," gumam Clara dalam hati, sambil tersenyum mesem.


"Baguslah." Edzar pun berbalik dan berjalan melihat buku-buku yang sudah tersusun sesuai abjad itu.


"Hey, sekretaris Sky, apa kau yang merubah susunan semua buku di perpus ini?" tanya Clara setengah berbisik.


Sky hanya menatap Clara dengan binar mata kesal. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya pelan. "Hm."


"Wah ... hebat sekali, kau mampu merapikan semua buku yang begitu banyak ini hanya dalam waktu kurang dari 12 jam. Hebat, hebat," puji Clara pelan, sambil mengedarkan pandangannya melihat semua buku-buku yang berjajar di rak.


Akan tetapi, pujian itu tidak berpengaruh kepada Sky. Dirinya masih merasakan kesal terhadap wanita polos yang ada di depannya itu.


"Huh, aku seperti ini pun gara-gara Anda Nona Clara. Kalau saja aku tidak membantumu tadi, tidak mungkin aku mendapatkan hukuman gila seperti ini," gerutu Sky dalam hati, sambil sesekali mengumpati Clara, yang dengan wajah polosnya ia tidak merasa berdosa sama sekali. Bahkan ia juga tidak sadar, kalau Sky melakukan semua ini adalah karena ulanya yang melanggar peraturan rumah tadi pagi.


“Lebih baik aku jauh-jauh dari perempuan ini, atau kalau tidak aku bisa-bisa kena masalah lagi,” batin Sky, lalu pergi menghampiri Edzar untuk meminta izin keluar dari perpustakaan.


“Hm, istirahatlah,” titah Edzar pada Sky.


“Baik, terima kasih, Tuan.”


Dan lagi-lagi, saat Sky hendak keluar, Clara yang tengah membuka-buka lembaran buku sambil berjalan tidak melihat jalan itu, kembali menubruk tubuh Sky secara tidak sengaja.


“Eh, sekretaris Sky, apa kau tidak apa-apa?” Clara hendak saja memegang lengan Sky.


Akan tetapi, lebih dulu Sky memundurkan langkahnya. “Jangan memegang saya!” serunya gemetar takut. Membuat kedua alis Clara menaut keheranan.


“Aku tidak apa-apa, asal jangan menyentuh anggota tubuh saya saja,” ucap Sky, sejenak melirik ke arah Edzar, yang ternyata sedang mengawasinya di pojok sana.


Clara pun menjauhkan tangannya dari tubuh Sky.

__ADS_1


“Saya permisi, Nona,” ucap Sky buru-buru sambil menunduk, lalu pergi dengan cepat meninggalkan perpustakaan.


“Kenapa dia aneh sekali? Dan kenapa dia terlihat ketakutan saat aku ingin menyentuhnya?” gumamnya dalam hati melihat kepergian Sky yang sudah menjauh dari pandangan. "Hm."


__ADS_2