
"Apa adikku membuat kesalahan?" tanya Gerald sedikit takut. Edzar tidak langsung menjawab, pria bermata elang itu, hanya menatap tajam ke arah Gerald lalu, tiba-tiba ....
"Argh!!!" Gerald berteriak kencang, merasa kesakitan saat sebelah kakinya tiba-tiba terasa seperti di setrum, membuat betisnya terasa begitu keram dan sulit di gerakkan. Hanya ada rasa sakit luar biasa yang menjalar di seluruh urat-urat kakinya.
"Bagaimana ... sakit bukan?" tanya Edzar sesaat setelah mematikan kembali remote itu di tangannya.
Gerald masih berdiri terbungkuk, sambil memegangi sebelah kakinya yang terasa sakit itu. Remote itu, benar-benar menjadi senjata pamungkas untuk menyiksa Gerald.
"Dasar sialan!" batin Gerald menatap penuh amarah kepada Edzar.
Edzar tertawa jahat. Sambil berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Gerald.
"Kalau kau tak ingin merasakan sakit ini lagi, beritahulah adikmu yang nakal itu, agar dia patuh kepadaku!" bisik Edzar pelan, penuh penekanan.
Edzar menyeringai, lalu ia menepuk bahu Gerald sekilas, dan pergi begitu saja meninggalkan Gerald sendirian di ruang itu.
"Argh, sialan! Berani-beraninya dia mengancam adikku dengan benda sialan ini!" gerutu Gerald sambil memandang benci ke arah borgol aneh yang melingkar di sebelah pergelangan kakinya.
***
Edzar mendaratkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah, matanya fokus menatap ke arah piring putih yang terdapat clam cowdah di atasnya.
Ia mengingat kejadian tadi saat Clara datang menghampirinya, membawakannya sepiring sarapan lezat untuknya.
Edzar sejenak mengamati makanan itu lebih dekat.
"Apa dia tadi ke dapur membuatkanku makanan ini?" gumamnya.
Edzar pun mulai mengicip clam cowdah buatan Clara tersebut, menggunakan sendok yang terdapat di atas piring itu. Perlahan ia menyuapkan satu sendok clam cowdah ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan lidahnya mulai menari-nari menikmati rasa lezat dari clam cowdah itu.
__ADS_1
"Hm, tidak terlalu buruk," ucapnya sampai tak terasa satu piring clam cowdah ludes tak tersisa dibuang ke dalam perutnya.
Edzar pun beranjak menuju ruang makan, lalu mengambil segelas air putih, dan meminumnya untuk melarutkan sis-sisa makanan yang tersangkut di kerongkongannya.
"Lumayan juga masakannya."
***
Clara dan Sky kini tengah berada di ruang perpustakaan. Perpustakaan khusus yang disediakan di rumah ini.
"Oh ya, sekretaris Sky, di peraturan ini tertulis, kalau suamiku sedang bekerja dan tidak ada di rumah, aku bebas melakukan apa pun, apa itu benar?" tanya Clara memasang wajah antusias.
"Benar, tapi sebaiknya bertindaklah sewajarnya, dan jangan melakukan hal apa pun yang bisa membuat Tuan Edzar murka kepada Anda, Nona,” jawab Sky, begitu jelas.
"Hm ... baguslah, kalau begitu aku akan dengan semangat menantikan waktu dia untuk pergi bekerja. Dengan begitu aku bisa leluasa bergerak di rumah ini, dan bisa menemui kak Gerald," gumamnya dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Haih, sudah kupastikan, besok kalau tuan Edzar bekerja, dia pasti akan membuat kekacauan lagi," gumam Sky dalam hati, saat sekilas melihat ekspresi Clara yang tengah senyum-senyum sendiri.
Ingin rasanya Clara menanyakan hal itu langsung kepada Sky, kenapa Geriel bisa sampai ditampar seperti tadi. Tapi rasa takutnya lebih besar dibanding keberaniannya. Hingga pada akhirnya ia memilih diam dan fokus membaca ulang peraturan yang harus dihafalkannya itu.
Setelah membaca ulang seabrek peraturan itu sampai 3 kali, tampak mulut Clara yang terus menguap, bahkan kedua matanya sampai berair, menahan rasa kantuk saat membaca peraturan-peraturan itu.
“Padahal ini masih pagi, tapi kenapa kalau membaca seperti ini mataku selalu mengantuk,” lirihnya pelan, sambil mengucek kedua matanya, pelan.
Clara yang mulai bosan, akhirnya ia a memutuskan untuk mencari buku lain untuk dibacanya. Ada buku yang ingin ia baca yaitu buku mengenai cara mengendalikan emosi orang.
Ia mencari-cari hingga sampai pada sebuah rak, yang terdapat buku yang berjudul 'Menguasai Emosi Jiwa'.
Clara pun hendak mengambil buku itu, akan tetapi ia kesulitan karena buku itu terletak tepat di susunan paling atas.
Sky yang sedari tadi diam berdiri di dekat kursi baca. Akhirnya ia pun memilih menyerah dari pertahanannya, sedari tadi kedua matanya terganggu dengan pergeraka Clara. Dan akhirnya Sky pun berjalan mendekati Nona Mudanya itu hendak membantu Clara untuk mengambilkan buku yang diinginkannya.
__ADS_1
Namun, sesuatu hal tak diduga terjadi. Clara yang hampir berhasil mengambil buku yang diinginkannya itu, tanpa sengaja, ia malah menjatuhkan buku-buku lain yang ada di atas. Dan dengan cepat Sky merangkul Clara dalam dekapannya. Menangkupnya dalam lindungan tubuhnya yang kekar, hingga buku-buku itu pun
berjatuhan menimpa punggung Sky.
Tentunya hal ini membuat jarak di antara Sky dan Clara begitu sagat dekat, bahkan saat Clara mendongak dan kedua matanya mereka saling beradu pandang, dengan jarak wajah di antara keduanya yang berkisar sekitar 10cm saja. Membuat jantung dari keduanya seakan tak terkontrol.
Dug-deg ... dug-deg ... dug-deg.
Jantung Sky terasa berdebar begitu kencang, saat ia melihat kedua manik mata berwarna kelabu yang begitu meneduhkan pandangan.
Satu detik ... dua detik ... tiga detik.
Dengan cepat Sky membuang pandangannya ke sembarang arah.
Dan Sky sangat dikejutkan, bahkan jantungnya terasa mau copot dari tempatnya, saat matanya melihat dengan jelas, kehadiran Edzar yang berada 5 meter darinya.
"Tuan." Sky langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Clara dan menundukkan kepalanya sedalam mungkin.
Clara pun sama, ia begitu terkejut saat Sky menjauhinya, ia berbalik badan saat mengetahui ada suaminya di belakangnya.
Seketika suasana pun terasa begitu mencekam dan menakutkan. Tatapan tajam dari kedua bola mata Edzar yang ditujukan kepada Clara dan Sky, seolah ingin menusuk mereka dengan tatapannya itu.
Jika dilihat dari mimik wajahnya, lelaki itu sama sekali tidak menampilkan keramahannya, yang ada hanya ekspresi tajam seolah ingin membunuh, membuat Clara memejamkan matanya sambil menunduk takut.
"Sky, bereskan semuanya, dan berdiamlah di sini sampai aku kembali!” serunya pada Sky.
“Sudah aku sangka, Nona Muda ini pembawa sial, dan pasti sekarang Tuan Muda akan menghukumku, argh, sial!” batin Sky, sudah paham duluan.
Kini mata Edzar beralih ke manik Clara. “Dan kau! ... ikuti aku sekarang juga!" ucapnya begittu tegas kepada Clara. Membuat hati dan jantung Clara tak terkontrol dan berdebar semakin kencang.
“Ya Tuhan, tolong selamatkan hambamu ini, dari lelaki dingin yang kejam ini, Tuhan,” batin Clara memohon.
__ADS_1