Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Little Doggy


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja, dan ini sudah hari ke 7 Edzar, mencari informasi tentang keberadaan adik kesayangannya itu tapi masih tetap saja tak membuahkan hasil apapun.


 


Prang ....


 


Terdengar suara barang yang dibanting keras ke lantai. Barang itu tak lain ialah ponsel milik Edzar sendiri. Edzar terlihat begitu frustrasi dan emosi, karena lagi-lagi ia menerima laporan lewat telepon, bahwa adiknya itu masih belum bisa di temukan.


 


Bahkan Edzar sudah meringkus 20 gangster yang di ketahui telah ikut dalam aksi penculikan adiknya itu, namun para gangster itu memang tidak tahu keberadaan Ralline di mana. Akhirnya mau tidak mau, Edzar hanya bisa menjebloskan mereka yang bertanggung jawab atas kesalahan dari kasus penculikan itu ke penjara resmi di kantor polisi.


 


Sementara Gerald dan Clara, mereka masih di sekap di penjara bawah tanah. Edzar, benar-benar masih tidak percaya kalau Gerald tidak terlibat dengan kasus penculikan adiknya itu.


 


"Ralline... di mana kau ini. Ya Tuhan, bantulah aku agar bisa menemukan adikku secepatnya," ucapnya penuh harap. Tubuhnya ia lemaskan tepat di atas sofa di ruang kerjanya itu. Lalu setelah berdiam menenangkan diri selama beberapa menit, Edzar menelepon lewat telepon khusus yang menyambung ke ruang belakang tempat para pelayannya berada.


 


Setelah menyuruh seorang pelayan untuk membersihkan kepingan handphone yang hancur berserakan di lantai ruang kerjanya. Kini, ia melenggangkan kakinya meniti anak tangga menuju penjara bawah tanah.


 


Seperti biasa, Edzar akan melampiaskan amarahnya kepada Gerald dan juga Clara.

__ADS_1


 


Edzar duduk di sebuah kursi kayu yang ada di tengah-tengah ruang bawah tanah. Sambil sesekali meneguk sebotol soda. Meskipun dia hidup dalam lingkungan yang bebas, dan usianya sudah cukup dewasa untuk bisa menikmati wine, akan tetapi Edzar tetaplah orang yang paling anti meminum minuman yang bisa memabukkan dirinya, karena ia tahu hal tersebut akan berefek buruk baginya kelak.


 


"Hey, kalian berdua. Ayo jujurlah, di mana kalian menyembunyikan adikku hah?" Edzar, berbicara dengan suaranya yang mendayu-dayu, ia benar-benar sudah frustrasi dan putus asa.


 


Gerald dan Clara hanya bisa diam, tak mau menjawab, mereka begitu lemas, karena entah sudah berapa belas jam, mereka belum makan. Bahkan, perut pun rasanya seperti dililit dan diperas begitu kencang, sungguh menyakitkan.


 


"Hey... kenapa kalian diam saja hah! Jawab!" teriak Edzar. Lalu Edzar pun berjalan mendekati jeruji besi yang di dalamnya ada Clara.


 


 


"Hey gadis... kemarilah," ujar Edzar dengan matanya yang semakin layu, pun bbibirnya yang menyeringai tajam.


Clara masih diam bersender di bata putih itu, tak menghiraukan panggilan lelaki yang tengah depresi berat di hadapannya tersebut.


 


Tidak mendapat sahuta dari gadis lusuh yang ada di hadapannya, Edzar merasa begitu geram. "Hey apa kau tuli! Aku bilang kemari, ya kemari! Jangan diam saja!" teriaknya penuh emosi.


 

__ADS_1


"Heh brengsek, jangan berteriak seperti itu kepada adikku!" seru Gerald, yang ada di sel sebelah. Ia begitu tidak suka jika ada orang lain yang berani mengkasari Clara.


 


Edzar yang mendengar, langsung berbalik dan menggeser tubuhnya mendekati sel milik Gerald.


 


Edzar menggelengkan kepalnya pelan. Sambil menyeringai sinis. "Aih... gara-gara bedebah sialan ini, otakku jadi sakit." Selintas ide terbesit di pikiran Leon, bibirnya mengembang menciptakan sebuah senyuman yang terlihat sedikit menakutkan. Seolah-olah ada rencana aneh di balik senyumannya itu.


 


"Hey Bung, adikmu lumayan juga ya. Bolehlah aku bermain dengannya sebentar," ucap Edzar tersenyum miring. Seraya melirik sejenak kepada Clara, memberikan kedipan genit.


 


"Apa maksudmu berbicara seperti itu hah?" Seketika Gerald menarik kerah jas yang digunakan Edzar. Meski ia sedikit kesulitan karena terhalang oleh jeruji besi yang memisahkan jarak di antara mereka. Namun, karena Edzar yang terlihat sedikit lesu dan setengah stres itu, Gerald jadi lebih mudah, menarik tubuh lelaki itu.


 


"Jangan macam-macam kepada adikku!" teriak Gerald, dengan kedua bola matanya yang sudah melotot seakan keluar dari tempatnya.


 


Namun, reaksi Edzar ternyata di luar dugaan, jika sebelumnya ia terbiasa untuk emosi dan marah-marah, tapi kali ini ia malah tertawa lepas, seakan mengejek.


 


"Kalau aku ingin macam-macam dengan adikmu, memangnya kau bisa apa hah?" gelegar tawanya kembali menggema mengisi seluruh ruangan itu.

__ADS_1


 


Bersambung...


__ADS_2