Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Tanda Kepemilikan


__ADS_3

“Wah... apa ini—?” Elin tak mampu berkata-kata, cukup pikirannya saja yang travelling, membayangkan sesuatu yang terjadi di sana. “Apa Nyonya dan Tuan semalam sudah ... ah aku tidak boleh berpikiran ke sana,” tukasnya menyadarkan diri.


Sementara itu, Clara yang sedang duduk di depan meja rias yang besar, ia memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin, melihat lehernya yang dipenuhi dengan tanda merah akibat ulah suaminya tadi malam dan barusan di kamar mandi.


“Aih benar-benar ganas sekali dia ini, bahkan tandanya sampai sebanyak ini huft,” keluhnya. Lalu segera menutup lehernya itu menggunakan syal putih yang terbuat dari rajutan benang wol.


“Permisi Nyonya,” suara Angel yang sudah berdiri di ambang pintu.


Clara menoleh lalu mempersilakan perempuan itu untuk masuk dan meriasnya.


Angel mengingat perkataa Tuanya, untuk menggelung rambut Clara, dan mendandani Clara dengan make up yang tipis tidak terlalu menor.


“Maaf ya Nyonya, saya pinjam dulu rambutnya,” ucap Angel begitu sopan, saat ia hendak mengikat rambut Clara. Clara pun mempersilakanya.


Lalu Angel pun mulai merias wajah Clara terlebih dahulu, setelah selesai, pelayan itu pun mulai merapikan rambut Clara.


“Oh ya Angel, rambutnya uraikan saja deh, tidak perlu diapa-apakan,” pinta Clara.


“Maaf Nyonya, tapi... tadi Tuan Muda meminta saya untuk menyanggul rambut Nyonya,” jawabnya.


“Apa! Kenapa begitu?”


“Tidak tahu Nyonya, tapi saya harus tetap melakukanya Nyonya, kata Tuan Muda, jika Nyonya tidak mau, dia akan menghukum Nyonya,” lanjutnya, seketika membuat Clara kesal mendengarnya.


“Dasar! Lelaki egois, apa-apa harus sesuai dengan kemauannya, kalau tidak dia akan main menghukum orang seenaknya, huft dasar menyebalkan!” umpatnya begitu kesal, bahkan Angel sampai terkejut tidak menyangka, saat tahu kalau Clara  berani mengumpati suaminya seperti itu.


Dan saat Angel hampir menyelesaikan riasan sanggulnya, ia tak sengaja, menggeser sedikit syal yang menutupi leher majikannya itu, sekilas ia melihat ada beberapa tanda merah di leher majikannya itu, dan tentunya hal itu membuat Angel bertanya-tanya, bahkan membuat pikiran wanita ini sudah berkeliaran ke mana-mana.


“Sudah selesai Nyonya, saya pamit terlebih dahulu,” pamitnya.


“Hm, terima kasih,” ucap Clara.

__ADS_1


“Oh ya Nyonya, Tuan juga sudah menunggu Nyonya untuk sarapan bersama di bawah,” ujarnya mengingatkan.


“Iya, nanti saya ke sana,” jawabnya dengan malas. Lalu Angel pun pergi dari sana.


Sementara itu, di bawah sudah ada Edzar, Amel, Agnes, dan Bi Dora, mereka sudah menantikan kehadiran Clara, karena Edsar melarang siapa pun untuk sarapan terlebih dahulu sebelum Clara datang.


“Huh, lama sekali sih wanita itu! Sudah jam 9 juga, masih belum turun!” gerutu Amel dalam hati, yang sudah merasa lapar sejak tadi.


Sementara itu, Edzar sedang menantikan penampilan Clara pagi ini. Ia seolah berbangga diri, saat tadi pagi melihat begitu banyak tanda kepemilikkan yang dibuatnya di tubuh istrinya itu.


“Itu Kak Clara sudah datang,” ucap Agnes saat melihat Clara yang baru saja membuka pintu ruang makan, dan berjalan menghampiri mereka.


Edzar ikut senang saat mendengarnya dari Agnes, ia pun langsung menoleh. Namun, kedua alis Edzar langsung menaut, saat melihat penampilan Clara yang tak sesuai harapannya. Matanya tajam lurus menatap Clara, sampai Clara ikut mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan di dekat Edzar, lelaki itu masih menatapnya kesal.


“Maaf membuat kalian menunggu lama,” ucap Clara dengan begitu anggunya.


Amel berdecak sambil memutar kedua bola matanya. Merasa jengah melihat sikap Clara yang menurutnya sok lembut.


Amel, Agnes dan Bi Dora pun langsung mengambil makanan yang ingin mereka santap. Sedangkan Edzar, ia masih melemparkan tatapan tajamnya kepada Clara. Membuat Clara merasa bingung dan tak enak hati.


“Apa nih, dia lihat-lihat seperti itu?” batin Clara.


“Apa-apaan dia ini, menutupi tandanya menggunakan syal itu!” batin Edzar kesal.


“Oh, iya, sebentar ... akan aku ambilkan makananmu,” ucapnya tersenyum hendak mengambil piring milik Edzar. Namun, Edzar langsung menghentikannya.


“Tunggu,” perintah Edzar, membuat Clara mengurungkan niatnya. Sementara yang lainnya sekarang tengah sibuk menyantap makanan mereka.


“Kenapa kau memakai syal hah?” tanyanya dengan suara yang begitu dalam dan dingin.


“Hah? Em... t-tidak apa-apa, aku hanya merasa dingin saja,” jawab Clara tersenyum kaku.

__ADS_1


“Lepas!” perintahnya lagi. Membuat Clara membulatkan kedua matanya.


“Apa!” Lepas? Apa kau ingin mempermalukanku di depan mereka hah? Dengan semua tanda yang kau buat ini,” ucapnya dalam hati, karena kalau aslinya ia tak mungkin seberani itu berseru kepada Edzar.


“T-tapi Suamiku, cuaca pagi ini kan sedang dingin,” kilah Clara terbata.


“Dingin apaan! Lagi musim gugur begini cuaca yang ada gersang Kak Clara,” seloroh Agnes tiba-tiba, sambil mengunyah roti campur selai kacang kesukaannya. Wanita itu pun langsung mendapat tatapan dingin dari kedua manik Edzar.


“Jangan berbicara ketika makan!” tegurnya, membuat Agnes mengangguk takut, lalu kembali fokus akan makanannya.


“Cepat lepas!” ucap Edzar, pelan namun penuh penekanan.


“Ish dasar! Lelaki macam apa sih dia ini! Selalu saja memaksa!” gerutunya dalam hati.


Dan pada akhirnya mau tidak mau, Clara harus melepaskan syal yang menutupi lehernya itu. Hingga ia menampilkan tanda merah yang terpampang banyak di lehernya itu. Edzar tersenyum menyeringai saat melihat tanda ulahnya itu bertebaran di sana.


Tiba-tiba ....


“Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk!” Amel, Agnes dan Dora, terbatuk serentak saat melihat tanda merah yang bertebaran di leher Clara. Mereka bertiga pun langsung meneguk air di dalam gelas mereka masing-masing.


“What! Apa-apaan ini? Kenapa banyak sekali tanda merah di leher wanita penggoda itu?” batin Amel saat ia meneguk air mineral dari gelasnya.


"Ya Tuhan, suamiku ini benar-benar ingin mempermalukanku!" batin Clara meringis tidak paham dengan pemikiran dan maksud dari suaminya itu.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2