
Pagi itu, Edzar mengajak Clara untuk pergi ke suatu ruangan bersama Sky. Kini mereka bertiga sudah sampai di sebuah ruangan semacam kamar pada umumnya, tapi suasana kamar itu cukup gelap dan sedikit menakutkan. Di kamar itu terdapat pintu yang menuju ke sebuah ruangan besar.
Mata Clara terbelalak begitu melihat ada seorang lelaki yang tengah duduk terkunci di sebuah kursi mesin yang cukup besar. Orang itu tak lain ialah Gerald saudaranya.
"Kakak," panggil Clara begitu melihatnya. Clara hendak berlari menghampiri Gerald. Namun, sebelah lengan Edzar terlebih dahulu menahannya.
"Kau ku bawa kemari bukan untuk menghampiri dia. Aku bawa kau kemari tak lain adalah untuk memperlihatkan, jika kau melakukan pelanggaran di rumah ini, maka Kakakmu lah yang akan menanggungnya," ujar Edzar begitu tegas penuh penekanan.
"Apa! ... Kenapa harus Kakakku yang menanggung hukumannya, kenapa tidak aku saja?" Clara benar-benar tidak mengerti akan jalan pemikiran dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Edzar hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Bukannya kalian ada di sini untuk saling menguatkan, berbagi kesedihan satu sama lain. Dan tentunya menanggung masalah bersama-sama 'kan. Jadi kalau Kakakmu yang melakukan kesalahan maka kau yang berhak menanggung hukumannya. Dan jika kau yang melakukan kesalahan, maka Kakakmu lah yang harus dihukum," tegasnya, sambil menilik tajam kedua netra Clara.
"Apa! Apa dia ini psikopat?" batin Clara, memandangnya penuh benci.
"Sky, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan," ucap Edzar, meilirik sinis ke arah Sky.
"Siap, Tuan." Sky si pria dingin itu benar-benar sudah memahami setiap kode maupun ucapan yang dilontarkan oleh Tuannya. Lelaki itu terlihat mendekati kursi yang diduduki Gerald.
Dengan keadaan Gerald yang setengah sadar, akibat efek bius. Gerald hanya bisa menundukkan kepalanya yang terasa pusing dan sakit itu, ia tahu di depannya ada Clara, akan tetapi kepala benar-benar terasa berat jika diajak mendongak.
Sky pun mengeluarkan sebuah benda, semacam senter besi, dari balik kursi besar yang di duduki Gerald. Tapi jelas itu bukan senter, itu adalah alat setrum yang memang di khususkan untuk menyetrum orang sebagai hukuman. Jadi aliran listriknya pun tidak teralu tinggi dan tidak akan melukai, hanya saja, cukup untuk membuat tubuh sedikit mengejang.
__ADS_1
"Kau sudah siap melihat saudaramu itu kesakitan?" tanya Edzar, tersneyum sinis kepada Moura.
"Sky, lakukan!" Perintah Edzar.
Dan tanpa berlama-lama, Sky pun dengan cepat melancarkan aksinya. Ia menempelkan benda itu tepat di bahu Gerald. Membuat tubuh Gerald seketika mengejang dan berteriak kesakitan.
"Arrrrrgh."
"Stop! Jangan lakukan itu kepada Kakakku!" Clara begitu tak percaya karena ternyata mereka memang benar-benar melakukannya. Dan hal itu cukup membuat Clara tahu, orang seperti apa Edzar dan sekretarisnya tersebut.
Meski Sky melakukannya hanya satu kali saja. Akan tetapi hal tersebut langsung membuat kesadaran Gerald kembali pulih. Lelaki itu meringis kesakitan antara linu dan tidak enak badan setelah disetrum.
"Clara." Gerald menyipitkan kedua matanya, saat melihat adik kesayangannya itu mematung beberapa meter di hadapannya.
"Lepaskan aku!" Clara menatap tajam, berusaha menepiskan lengannya dari genggaman tangan Edzar, tapi cengkeraman tangan Edzar lebih kuat dari pada tenaga yang Clara kerahkan.
"Eih, eih, eih... sudah kubilang bukan, kalau kau melakukan pelanggaran di rumah ini, maka Kakakmu yang akan kembali menerima hukumannya." Edzar langsung melepaskan tangan Clara begitu saja.
Ia tersenyum palsu. "Silakan jika kau ingin melihat Kakakmu kembali tersiksa. Aku dengan senang hati
mengizinkannya."
__ADS_1
Seketika Clara terdiam bergeming di tempatnya, kedua matanyaa menilik penuh benci ke arah lelaki yang ada di sampingnya itu. Ia mendesah pasrah demi mengingatkan akan konsekuensi jika ia melanggar peraturan.
"Clara." lagi-lagi Gerald memanggil adik kesayangannya itu dengan suaranya yang terdengar parau dan lemah.
"Kakak ...." Clara mengalihkan pandangannya ke arah Gerald, matanya kembali berkaca-kaca melihat orang yang disayang harus menanggung kesakitan.
"Satu ... dua ... tiga. Baiklah, sudah selesai, cepat kembali dan bersiaplah untuk pernikahan kita nanti," titah Edzar berbalik badan.
"Al, kau pindahkan dia lagi ke ruangan lain," sambungnya kemudian berlalu meninggalkan mereka semua.
Clara masih mematung di tempatnya. Namun, dengan cepat Sky segera menegurnya agar cepat kembali ke kamarnya, mempersiapkan diri untuk pernikahannya nanti sore.
"Nona, jika kau masih di sini, saudaramu akan kembali menanggung hukuman
atas pelanggaran yang kau buat Nona," ucap Sky begitu ia melepaskan
borgol tangan yang mengunci tangan Gerald di kursi itu.
Lagi, Clara hanya bisa mendesah pasrah, dengan berat hati ia mengiyakan ucapan Sky. Lalu segera pergi
meninggalkan ruangan itu, dengan langkah gontai merasa enggan untuk meninggalkan Gerald di sana.
__ADS_1
Bersambung
Follow ig aku @dela.delia25