
Hari ke hari berlalu semakin cepat, tak terasa sudah bertemu lagi di hari Minggu. Tepat hari di mana Brayen akan pergi ke gunung San Gabriel California, bersama Gerald.
Sky langsung membawa Brayen pergi ke kamar Gerald atas perintah Edzar. Sejak kejadian di pameran lukisan waktu itu, Edzar sedikit enggan untuk bertatap muka dengan Brayen. Entah apa penyebabnya, yang jelas ia seakan mulai tidak menyukai Brayen.
"Hey, tunggulah di sini, jangan pergi ke mana-mana, aku akan menemui kakakmu dulu," ujar Edzar hendak pergi keluar kamar. Namun, suara Clara menghentikan langkahnya.
"Suamiku, apa aku boleh bertemu dengan kak Gerald terlebih dahulu sebelum dia berangkat?" Clara memohon penuh harap.
Edzar terdiam, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya pelan. "Hm, boleh ... tapi nanti, jika dia mau berangkat. Kalau sekarang kau tinggallah dulu di sini," ujar Edzar kemudian pergi dan menutup pintu kamar dengan cukup keras.
Clara pun hanya bisa mencebikkan bibirnya merasa kesal. "Hm... padahal aku kan ingin melihat persiapan kak Gerald dulu," lirihnya cukup sedih.
***
Edzar memasuki ruangan yang Gerald tinggali. Di sana terlihat ada Sky yang sedang berdiri mematung memantau Brayen dan Gerald yang sedang briefing.
Mereka semua mengalihkan pandangannya saat mengetahui Edzar datang.
"Tuan Edzar ," ucap Brayen berdiri dari duduknya.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Edzar melihat ke arah dua tas cariel besar yang terlihat begitu padat.
"Sudah Tuan, kami sedang brifing mengenai jalur pendakian yang akan kami tempuh terlebih dahulu," ucap Brayen.
"Baguslah, kalau begitu pakailah ini." Edzar mengeluarkan dua gelang tangan berwarna hitam dan ada lampu LED berwarna merah di tengahnya, lalu Edzar memberikannya kepada Brayen dan Gerald.
Brayen memicingkan matanya, menatap dengan heran. "Itu, untuk apa, Tuan?" tanya Brayen begitu heran.
"Ini gelang GPS, kalian berdua harus memakainya, untuk berjaga-jaga agar aku tidak kehilangan jejak kalian nantinya," jawab Edzar menjelaskan.
__ADS_1
Brayen mengangguk paham. "Oh begitu, baiklah akan kupakai ini." Brayen pun mengambil gelang itu lalu memberikannya salah satu kepada Gerald.
"Sky, apa kau sudah melepas borgol kakinya?" tanya Edzar kepada Sky. Karena tadi, Edzar menyuruh Sky untuk melepaskan borgol kaki yang melingkar di pergelangan kaki Gerald.
"Sudah Tuan, sudah selesai," jawab Sky begitu kaku.
"Baguslah. Kalau begitu, saya tunggu kalian semua di ruang depan." Edzar dan Sky pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Kini hanya ada Gerald dan Brayen di sana.
"Argh, merepotkan sekali Kalau bukan karena Clara, aku tidak akan pernah pergi mencarinya!" gerutu Gerald sambil membalutkan sarung tangan di jari-jemarinya.
Brayen jadi ingat akan sesuatu hal. Ia pun melirik penuh maksud kepada Gerald. "Ger, sebenarnya aku masih bingung, kenapa adikmu itu bisa menikah dengan tuan Edzar?" tanya Brayen sedikit mencari info.
Gerald mengembuskan nafasnya pelan. "Ya apalagi kalau bukan karena kasusku. Aku benar-benar merasa bersalah, karena untuk masalahku yang kali ini, Clara sampai harus berkorban seperti ini dan menikah dengan lelaki jahat itu," keluh Gerald masih dengan rasa kebenciannya kepada Edzar yang membara di hatinya.
"Kalau begitu, kenapa kamu mau untuk membantu tuan Edzar menemukan adiknya?" tanya Gerald.
Brayen semakin mengerutkan dahinya. "Memangnya sebelumnya kau pernah bermasalah dengan Edzar?" tanya Brayen penasaran.
"Hm." Gerald mengangguk pelan, seperti mengingat sesuatu.
"Masalah apa?" tanya Brayen semakin kepo.
Gerald tidak ingin memperpanjang obrolannya ini, ia menarik nafas panjang, lalu tersenyum tipis kepada Brayen.
"Tidak, bukan apa-apa, hanya masa lalu saja. Sudahlah, ayo, kita bersiap berangkat sekarang," ajak Gerald penuh semangat.
Brayen pun mengangguk, mengiyakan. Mereka berdua pun segera pergi untuk menemui Edzar di ruang depan.
__ADS_1
Setelah memberi tahu Clara bahwa Gerald akan segera pergi, Edzar dan Clara pun menunggunya di ruang depan bersama Sky juga. Di sana juga ada Agnes dan Amel serta Bi Dora yang ingin melihat kepergian mereka.
Brayen dan Gerald pun datang menghampiri mereka. Agnes seakan terpana melihat ketampanan Gerald. Ini untuk pertama kalinya tiga nenek sihir itu mengetahui wajah Gerald dengan jelas, karena jika biasanya mereka hanya bisa mendengar suaranya saja.
"Ya ampun,, ternyata selama ini di rumah ini ada makhluk yang begitu tampan, kenapa aku baru mengetahuinya?" gumam Agnes dalam hati, sambil melipat bibirnya ke dalam, merasa gemas.
"Kakak." Clara seketika langsung memeluk Gerald dengan begitu erat. Ia seakan sedih, karena harus di tinggal oleh Gerald.
"Kakak, kau harus pulang dengan cepat ya Kak, jangan lama-lama pergi jauh dariku," ujar Clara dengan suara parau yang manja dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jadi, si Clara ini adik kandungnya lelaki tampan itu? Argh... kesempatan bagus," gumam Agnes mempunya maksud.
"Iya Sayang, Kakak pasti pulang dengan cepat. Kakak janji tidak akan lama meninggalkan kamu di sini. Kamu juga di sini baik-baik ya, jaga kesehatan kamu, jangan banyak pikiran." Gerald mengusap-usap punggung Clara memberinya pelukan yang hangat dan menentramkan.
Edzar yang merasa jengah melihat Gerald dan Clara yang masih berpelukan itu, ia pun dengan paksa menarik tubuh Clara dari dekapan kakaknya itu.
"Sudah, jangan mengulur waktu dia untuk pergi," seru Edzar.
Clara hanya bisa mengusap sedikit bulir air yang keluar dari kedua sudut matanya.
"Hey Rubah Kecil, jangan menangis seperti itu. Kita berdua pasti akan cepat pulang kok," ujar Brayen menenangkan Clara.
Clara pun dengan terpaksa harus melebarkan senyumannya. "Baiklah, kalau begitu kalian berdua hati-hati ya... dan semoga Nona Ralline bisa berhasil di temukan dalam keadaan baik-baik saja," lanjut Clara.
"Aih... sungguh menyebalkan sekali," gumam Dora melihat mereka semua. Dora pun memilih untuk pergi ke ruang TV dari pada melihat drama perpisahan yang ada di depan matanya itu. Begitu pun dengan Amel ia lebih memilih mengikuti Mamanya, setelah tahu kalau itu hanyalah drama perpisahan yang begitu amatir dan menyebalkan. Tapi tidak dengan Agnes, ia malah ikut keluar mengantar Brayen dan Gerald naik mobil.
Sebelum menaiki mobil, Gerald membisikkan suatu kalimat kepada di dekat telinga Edzar.
"Jangan macam-macam kepada adikku, apalagi jika kau sampai menyakiti Clara. Dan ingat baik-baik janjimu untuk menceraikan adikku secepatnya jika Raliine sudah ditemukan," bisik Gerald begitu pelan penuh penekanan.
__ADS_1
Bersambung....