
Clara menggeliat-kan tubuhnya, matanya yang terpejam perlahan terbuka. Wajah tampan bak pangeran, ia lihat setengah sadar. Clara semakin melebarkan senyumannya saat melihat wajah tampan yang tengah terlelap pulas itu.
"Tampan sekali lelaki ini," gumamnya pelan, "emh ... mimpi yang indah, bangun tidur sudah disuguhi wajah tampan seperti ini."
“Eh.” Tiba-tiba, ia membulatkan matanya dengan sempurna, ia baru sadar kalau wajah lelaki yang ada di depannya kini, tak lain ialah wajah suaminya sendiri.
"Ya ampun, jam berapa ini." Clara semakin membuka matanya lebar-lebar dan segera bangun dari tidurnya.
"Ah, untung baru jam tujuh," ucapnya sesaat setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.55 pagi.
Clara perlahan turun dari atas tempat tidur, ia tak ingin suaminya itu terbangun akibat pergerakan yang dilakukan.
Setelah berhasil menjauhkan diri dari tempat tidur, ia pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan bersiap-siap untuk melakukan tugas, di hari pertamanya sebagai istri dari--Edzar Alanska.
Edzar terbangun dari tidurnya. Ia menyipitkan kedua matanya, mencari-cari keberadaan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Ia melenggangkan kakinya menuju ruang wardrobe. Untuk mengambil pakaian olahraga miliknya.
"Ah, aku lupa, seharusnya dia yang menyiapkan semua ini," gumamnya.
Edzar pun hendak keluar dari ruang wardrobe miliknya. Namun, ketika ia membuka pintu, kedua netranya tak sengaja melihat Clara yang tengah berganti pakaian.
Edzar pun dengan cepat menutup kembali pintu ruangan itu. Dan sontak, suara gebrakan pintu itu membuat Clara menoleh ke belakang, lalu celingukan mengamati seluruh penjuru ruangan, sambil menutupkan handuk kimono yang masih membalut tubuhnya.
"Dari mana asal suara pintu itu?" gumam Clara, ia pun buru-buru melanjutkan diri untuk memakai baju. Setelah selesai memakai pakaiannya, Clara perlahan berjalan mendekati pintu wardrobe milik Edzar.
Matanya terbelalak hebat, dan teriakan kencang pun keluar dari mulutnya. "Argh...." Moura berteriak kencang, terkejut saat kehadiran Edzar di sana.
"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Clara membeliakkan matanya.
__ADS_1
"Sial, malah ketahuan," batin Edzar.
"Aku kemari ingin mengambil baju olahragaku!" jawab Edzar ketus.
"Tidak! ... Suara gebrakan pintu itu? ... Apa jangan-jangan tadi dia melihatku sedang berganti pakaian?" batin Moura menduga-duga.
"Cepat siapkan pakaianku!" titah Edzar kemudian berlalu meninggalkan Clara begitu saja.
Edzar mendudukkan tubuhnya di atas kursi di balkon kamarnya. Ia tak habis pikir, jika sepagi ini dia akan mendapat pemandangan yang tak terduga.
Tiba-tiba bayangan tubuh molek Clara, kembali terbayang di pikirannya. Ia tadi tak sengaja melihat Clara yang sedang mengaitkan tali BH-nya.
Kulit putih mulus, dengan dua gundukan gunung itu masih terbayang-bayang, hingga membuat Edzar harus pintar-pintar menenangkan dirinya, mengatur nafas sambil menahan si juniornya agar tidak terbangun dari tidurnya.
Clara pun kembali menghampiri Edzar yang berada di balkon.
Edzar mengangguk, ia tak ingin menatap wajah polos istrinya itu. Ia pun berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk istrinya tersebut.
"Hih, ucapin terimakasih kek," gerutu Clara dalam hati.
***
Clara turun meniti anak tangga yang cukup banyak itu. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Lagi-lagi matanya dibuat terbelalak begitu melihat suasana dapur yang teramat luas, bahkan di sana terlihat beberapa orang sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang mencuci buah dan sayur, ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk membersihkan peralatan masak.
Kedatangan Clara ke dapur, tentu membuat semua orang terkejut, karena sepagi ini, Nona muda mereka sudah datang menghampiri dapur kotor. Dan salah seorang dari mereka ada yang menghampiri Clara.
"Selamat pagi Nona, apa ada yang bisa dibantu?" tanya seorang lelaki bernama Geriel, dia adalah salah satu koki di rumah ini yang sekaligus bertugas sebagai ketua pengurus dapur.
"Pagi juga, saya kemari ingin memasak sarapan untuk suami saya," ujar Clara.
__ADS_1
Geriel tercengang, mengerutkan dahinya seolah heran tak percaya. "Ka;kalau begitu biar saya saja yang buatkan Nona. Nona mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Geriel.
"Emh... biasanya Tuan Edzar suka sarapan apa?" tanya Clara.
"Untuk menu sarapan tuan Edzar, semuanya ada di jadwal itu Nona." Tunjuk Geriel ke salah satu papan kecil yang terpajang di dinding dapur. Clara mendekatinya dan membaca tulisan yang ada di papan itu dengan teliti.
Lagi-lagi ia tercengang melihat sederet peraturan, syarat dan ketentuan yang di terapkan di dapur ini.
"Aduh ... begini nih, kalau orang kaya terlalu tajir melintir, menu sarapan saja sampai dibuat jadwal selama tiga puluh hari seperti ini," gumamnya dalam hati.
"Oh ya, apa menu di sini harus sesuai dengan tanggalnya?"
"Iya Nona, semua yang terdata di sini, harus menyesuaikan dengan tanggalnya, dan sekarang tanggal sepuluh, jadi menu sarapannya juga nomor sepuluh," jawab Geriel menjelaskan, dibalas anggukan pelan oleh Clara.
"Berarti memang benar, pepatah orang yang bilang, berinovasi itu bisa di sebut gila. Dan ini benar-benar inovasi yang gila," batin Moura, "ditambah jadwal makan siang, dan makan malam pun semuanya harus teratur,
huft ... ya sudahlah, mungkin memang seperti ini kehidupan seseorang yang terlampau kaya."
Di lihatnya jadwal menu tanggal sepuluh adalah clam cowdah.
"Baiklah, mari kita membuat clam cowdah untuk sarapan pagi ini," ujar Clara sambil menepuk bahu Geriel lalu berlalu menuju meja kitchen set, di mana semua bahan yang di perlukan tinggal ia ambil.
Geriel masih begitu heran, dengan sikap Nona Mudanya itu, bahkan ia cukup terkejut saat Clara tanpa segan menepuk bahunya begitu saja.
"Nona, biar saya saja yang buat Nona," ucap Geriel merasa tidak enak.
"Tidak perlu, saya juga ingin membuatkan sarapan spesial untuk suami saya," ucap Clara mengembangkan senyuman palsu di wajahnya. Berakting seolah ia benar-benar senang membuatkan sarapan pagi untuk Edzar.
"Huh, kalau bukan karena peraturan mengenai aku harus menjadi istri yang baik untuknya, aku juga tidak mau membuatkan lelaki jahat itu sarapan," batinnya. Mencebik kesal.
__ADS_1