Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Draft


__ADS_3

Clara membuka matanya perlahan. Ia begitu terkejut saat ia membuka mata, ternyata keadaannya sangat gelap gulita. Ditambah, seperti ada seseorang yang sedang mengungkung tubuhnya.


 


 


Dan dengan refleks, Clara pun berteriak sekencang mungkin, karena ia takut jika itu adalah penjahat.


 


 


"Tidak ... tolong...."


 


 


Teriakan Clara yang begitu kencang sambil mencoba untuk bangun.


 


 


Teriakan itu cukup membuat telinga Edzar merasa sakit mendengarnya, dan dengan kasar ia menjauhkan tubuhnya dari Clara. Lalu Edzar pun bertepuk tangan tiga kali, dan lampu pun menyala secara otomatis.


 


 


Sekarang terlihat sudah, Clara yang sudah terduduk di tepi ranjang, dengan muka yang terlihat panik dan bingung.


 


 


"Tuan," ucap Clara pelan sangat malu.


 


 


Edzar berdecak kesal. "Kau ini! Tahu tidak, teriakanmu itu membuat telingaku sakit!" seru Edzar menatapnya kesal.


 


 


Clara pun menundukkan pandangannya. "Maaf, Tuan, saya kira tadi ada penjahat," ucap Clara pelan, masih dengan perasaan yang berdebar tidak karuan.


 


 


"Sudahlah, kau lanjutkan tidurmu itu! Aku akan ke ruangan kerjaku!" ucap Edzar lalu pergi begitu saja meninggalkan Clara di kamar sendirian.


 


 


***


 


 


Pagi harinya Edzar bangun lebih awal. Dan untuk pertama kalinya, ia bangun pagi hari dengan dihadapkan wajah cantik sang istri di depan matanya. Siapa lagi kalau bukan Clara.


 


 


Edzar menatap lekat wajah Clara yang masih tertidur pulas, ia masih ingat bahwa semalam, Clara kesulitan tidur karena sudah nyenyak tidur di mobil. Jadi, yang biasanya jam lima pagi ia sudah bangun, tapi kali ini tidak.


 


 


Secara tak sadar, kedua sudut bibir Edzar sekilas terangkat sedikit menampilkan senyuman tipis di wajahnya.


 


 


"Dasar, gadis ceroboh," gumam Edzar begitu pelan. "Eh, untuk apa aku memandangi wajah si Ceroboh ini," sangkalnya dalam hati. Edzar pun segera bangun dan pergi menuju kamar mandi.


 


 


Mentari pagi di ufuk timur sana, sudah menampilkan cahayanya. Clara terbangun saat sinar mentari, terasa menyinari wajahnya. Ia pun begitu terkejut saat, mendapati Edzar yang sudah berdiri di dekat tirai, terlihat rapi dengan kemeja putih dan setelah jas berwarna mocca di badannya.


 


 


"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak, sampai bangun sesiang ini," ucap Edzar dengan sinis.


 


 


Dengan cepat Clara pun segera bangun. "Ma-maaf Tuan, saya bangun terlambat," ucap Clara tak enak hati.


 


 


Edzar tdiak menanggapinya.


 


 


"Bersiaplah, hari ini kau akan ikut bersamaku ke pameran lukisan," titah Edzar sambil sibuk membenarkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


 


 


"Hah? Pameran?" Clara terlihat bingung.


 


 


"Iya ...." Edzar berbalik menghadap ke arah Clara yang tampak sedang kebingungan.


 


 


"Kenapa kau malah bengong, cepat bersiaplah aku akan menunggumu di ruang makan," ucapnya kemudian berlalu keluar dari kamar.


 


 


Clara pun dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap.


 


 


"Pagi... Kak Edzar," sapa Amel dan Agnes dengan manja.


 


 


"Pagi," jawabnya begitu dingin.


 


 


"Tumben sekali wanita penggoda itu tak turun bersama dengan Kak Edzar," gumam Amel dalam hati.


 

__ADS_1


 


Edzar pun segera mendudukkan tubuhnya di atas kursi khususnya, di ruang makan.


 


 


Geriel dan dua orang pelayan wanita, datang ke ruang makan untuk menyajikan menu sarapan pagi hari, di atas meja. Menghidangkan menu elite dan beberapa buah-buahan serta jus segar di sana. Setelah selesai mereka pun pergi kembali ke dapur.


 


 


"Kenapa kalian masih berdiri di sana?" Edzar melirik ke arah Agnes dan Amel, yang masih berdiri dua meter di sampingnya.


 


 


"Hah? Oh iya Kak." Mereka berdua pun segera duduk di bangku mereka masing-masing.


 


 


Amel hendak membantu Edzar untuk mengambilkan sarapan. Tapi, Edzar langsung melarangnya.


 


 


"Ambillah untuk dirimu sendiri, punyaku ... biar istriku yang menyiapkannya," tolak Edzar begitu tegas.


 


 


Sungguh, kata-kata itu benar-benar membuat telinga Amel semakin panas. Ini sudah ke beberapa kalinya Edzar selalu menolak bantuannya. Wanitu itu akhirnya hanya bisa mendesah pelan, dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah muram.


 


 


Jujur saja, sebenarnya Amel itu sudah menyukai Edzar sejak Amel masih duduk di bangku SMA, mungkin Edzar adalah cinta pertama bagi Amel.


 


 


Akan tetapi, hubungan kekeluargaan di antara mereka, membuat Amel hanya bisa memendam perasaannya sendiri. Ia tak mampu mengungkapkan perasaannya, karena ia tahu, Edzar pasti akan menolaknya. Dan kalau sampai hal itu terjadi, jelas ia tak akan bisa bertemu dengan Edzar lagi. Meskipun begitu, tapi tetap saja, Amel tidak senang dan tidak suka jika ada wanita lain selain Ralline yang bisa dekat dengan Edzar. Termasuk Clara, kali ini Amel benar-benar tidak menyukai Clara karena alasan tersebut. Apalagi saat mendengar kalau Edzar menikah dengan Clara, itu bagaikan kabar berita yang sangat-sangat teramat buruk baginya.


 


 


Keadaan cukup hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan tidak lama kemudian, Clara masuk ke ruang makan. Agnes menatap Clara dengan begitu kagum, ia merasa kalau wanita penggoda itu, kali berpenampilan sangat jauh berbeda dari biasanya. Baju formal yang digunakan oleh Clara, menampakkan dirinya seperti orang-orang kelas elite.


 


 


"Wow, benar-benar luar biasa," gumam Agnes menatap ke arah Clara yang berjalan menghampiri mereka.


 


 


Saat pandangan Clara dan Amel saling bertemu, dengan naluri Clara memberikan senyuman manisnya pada gadis itu.


 


 


"Wah, ternyata dia cantik juga kalau senyum," gumam Agnes dalam hati. Agnes pun kembali membalas senyuman itu kepada Clara.


 


 


Dan tak lama, setelah Clara masuk, ada nenek lampir juga yang ikut masuk, siapa lagi kalau bukan Bibi Dora. Dan kini mereka semua pun duduk bersampingan di atas kursi meja makan.


 


 


 


 


"Mau ke mana kamu? Pagi begini sudah rapi seperti itu?" tanya Dora dengan mimik wajahnya yang angkuh.


 


 


Clara mendongak ke arah Dora. "Saya mau pergi ke pameran, Bi," jawab Clara begitu sopan.


 


 


"Pameran?" Dora menautkan kedua alisnya. "Pameran apa? Emang ada orang yang mengundang kamu datang ke pameran?" tanya Dora begitu kepo.


 


 


"Aku yang mengajaknya," seloroh Edzar menimpali.


 


 


Dora pun langsung tercengang tak percaya. "Apa! Kau mengajak dia pergi ke pameran? Apa itu pameran lukisan Sun Ran?" tanya Dora.


 


 


"Benar, memangnya kenapa?" tanya Edzar.


 


 


"Kenapa kau malah mengajaknya? Kenapa kamu tidak mengajak kedua sepupumu ini?" tanya Dora sekilas melirik ke arah Amel dan Agnes. Amel dan Agnes pun memandang Edzar penuh harap.


 


 


"Aku membutuhkan istriku di sana, bukan mereka!" jawabnya lugas.


 


 


Seketika darah di dalam diri Dora seakan bergejolak dan memanas. Ia semakin tidak tahan akan sikap Edzar kepada dirinya dan juga anak-anaknya. dan perkataan yang baru saja Edzar lontarkan padanya, itu benar-benar membuat dirinya semakin murka.


 


 


"Kau ini! Kepada keluargamu sendiri saja kau tak peduli! Malah mendahulukan orang lain!" seru Dora berdiri dari duduknya dengan mimik wajah yang terlihat penuh emosi.


 


 


Edzar langsung mendongak, emanatap wanita tua yang berdiri di hadapannya. "Siapa yang Bibi maksud orang lain hah? Dia istriku! Bukan orang lain!" Edzar pun berjingkat meninggalkan ruang makan itu. Clara yang sudah mendapat tatapan tajam dari ketiga wanita yang memusuhinya itu, ia memilih untuk mengejar Edzar keluar.


 


 


"Maaf, saya permisi," ujar Clara sesaat sebelum ia meninggalkan ruang makan itu.


 

__ADS_1


 


"Dasar! Keponakan tidak tahu adab!" gerutu Dora sambil mengepalkan kedua tangannya, melayang di udara.


 


 


***


 


 


Kini Edzar dan Clara baru saja sampai di pameran lukisan Sun Ran, pelukis terkenal nomor dua di dunia. Sun Ran adalah pelukis terkenal asal Jepang yang sudah mendunia, bahkan karya-karyanya pun sampai tak ternilai dengan harga uang.


 


 


Sky mengikuti Edzar dan Clara dua meter di belakang mereka. Beberapa pembisnis yang mengenal Edzar, mereka saling bertegur sapa, dan sesekali mengobrol singkat.


 


 


Karena Edzar tampak sibuk dengan rekan-rekannya, Clara pun memilih untuk mengitari pameran sendirian, ia masuk ke dalam galeri yang menampilkan berbagai macam lukisan karya Sun Ran, mulai dari ukuran yang kecil sampai yang besar.


 


 


"Wah... benar-benar indah. Tapi sayang, aku sendiri tidak tahunilai lukisan ini seberapa dalam artinya, aku hanya bisa menikmati keindahan dari setiap coretan warnanya saja," gumam Clara memandangi sebuah lukisan, yang menggambarkan sebuah rumah tua dengan pemandangan alam pedesaan.


 


 


Ia menautkan kedua alisnya, menatap dengan jeli lukisan yang ada di depanya, sampai kedua matanya sedikit menyipit untuk memeprjelas apa yang ia lihat.


 


 


"Kenapa di atas atap itu ada siluet anak lelaki ya?" ucap Clara sambil mengamati lukisan tersebut dengan saksama.


 


 


Tiba-tiba, seseorang menjawabnya. "Itu artinya, lukisan ini mengartikan, ada anak kecil yang kehilangan jejak dan kehilangan keluarga, tapi dia tinggal di keluarga kaya. Namun, tetap setiap malam menjelang tidur, hatinya merindukan keluarganya," jelas suara seorang lelaki yang terasa familiar di telinga Clara membuat ia langsung menengok.


 


 


Clara pun menoleh ke belakang setelah mendengar penuturannya, dan ternyata ada Brayen yang tengah berdiri di dekatnya.


 


 


"Kak Brayen?" pekik Clara begitu terkejut mendapati Brayen ada di sampingnya.


 


 


Brayen melebarkan senyuman manisnya kepada Clara. "Hai Rubah Kecil, akhirnya kita bertemu kembali."


 


 


Clara membalas senyuman itu, sambil menatap takjub. "Kok Kak Brayen bisa ada di sini?" tanya Clara.


 


 


"Bisa dong, masih ingat 'kan, di mana ada Clara di situ ada Brayen," ucapnya dengan ciri khas yang selalu menaikan sebelah alisnya, sambil menatap manis.


 


 


Clara terkekeh mendengarnya, karena sudah lama, ia tak mendengar istilah kata itu dari Brayen.


 


 


"Haha, Kak Brayen bisa aja." Brayen dan Clara pun sama-sama tertawa melebarkan bibir mereka tampak begitu bahagia.


 


 


Sementara itu, dari jauh ada dua pasang bola mata yang tengah mengawasi Clara dan Brayen saat itu, yaitu sepasang mata milik Sky dan sepasang mata milik Edzar, yang sama-sama memperhatikan Clara dari kejauhan.


 


 


"Ya ampun, Nona. Tidak bisakah Anda sehari saja, tidak membuat masalah," batin Sky, sudah membayangkan hal apa yang akan terjadi jika nanti mereka sudah sampai di rumah.


 


 


"Perempuan ini, benar-benar selalu mencari masalah!" batin Edzar. Ia mengepalkan kedua tangannya merasa begitu kesal. "Lihatlah, sekarang juga, aku akan memberikan kamu pelajaran, Clara!" gumam Edzar menatap tajam ke arah Clara dan Brayen.


 


 


 


 


 


 


Bersambung.


 


 


Lanjut gak nih?


Bantu like, komen dan votenya ya mentemen, biar author makin semangat nulisnya hehe... terima kasih.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2