
"Apa?" Clara terpanjat mendengarnya.
"Ha ha sudah kuduga, kau pasti akan merobeknya. Tapi tenanglah, tadi itu hanya duplikatnya saja, yang asli masih ada di tangan sekretarisku."
"Hey little doggy, kau tak ingin bukan jika Kakak kesayanganmu itu tersiksa di sini untuk selamanya? Jika kau tak menginginkan hal itu, maka patuhlah kepadaku, menikahlah denganku dan turuti semua keinginanku, kau sanggup?"
Sungguh perkataan yang diucapkan oleh Edzar barusan, membuat Clara begitu geram mendengarnya, geram karena terasa begitu menjijikkan.
"Tidak! Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu pria jahat!" teriak Clara menolak, penuh emosi.
"Heh! Aku tidak mengajukan persetujuan padamu, kau mau terima atau tidak itu bukan urusanku. Yang kau harus tahu sekarang adalah, besok kita akan menikah, dan tak lama lagi kau akan menjadi bonekaku," ujarnya diiingi tawa jahat yang begitu menggema, memekik di telinga Clara.
__ADS_1
Edzar pun kembali memberikan tatapan tajamnya itu ke arah Sky, memberikan isyarat kepada sekretaris pribadinya itu.
Sky yang mengerti akan tatapan dari Tuannya itu, ia langsung mengaktifkan benda kecil yang terpasang dk sebelah telinganya.
"Dua orang masuklah." Begitu Sky berucap sambil memegang alat kecil yang menempel di telinganya.
Edzar pun berlalu begitu saja dari sana. Sedangkan Sky ia kembali menyodorkan selembar kertas mengenai persetujuan pernikahan itu kepada Gerald.
"Tuan, pikirkan kembali akan nasib dirimu dan adikmu. Tuan Muda kami tentunya akan memberikan jaminan hidup yang lebih baik jika kau mengizinkan adikmu untuk menikah dengannya," tutur Sky begitu tegas dengan tatapan wajahnya yang dingin bagaikan es.
"Seperti yang Anda ketahui, tak lain hanyalah sebagai nafsu dan sarana balas dendam atas apa yang Anda lakukan kepada keluarganya."
Perkataan Sky sungguh begitu menjengkelkan di telinga Gerald, membuat dirinya naik darah dan begitu emosinya.
__ADS_1
"Apa! Kesalahan yang aku perbuat?!” tanyanya begitu geram. “Sudah kujelaskan beribu kali kalau aku tidak pernah menculik adiknya atau siapapun itu dari keluarga ini! Kau paham!" teriak Gerald dengan rahang yang mengeras, dan kedua tangan yang menggenggam erat jeruji besi yang ada di hadapannya.
Namun, teriakan Gerald sepertinya tak berpengaruh apa-apa, buktinya Sky hanya tersenyum kecut saat mendengarnya. Ia seakan acuh bahkan benar-benar acuh.
Sky menoleh ke arah Clara. "Dan Anda Nona, sebaiknya patuhlah kepada Tuan Muda, jika Anda tidak ingin melihat saudara Anda tersiksa di ruang bawah tanah ini. Dan perlu Anda ingat! Ini bukan bentuk rasa peduli saya kepada kalian, kalian mau hidup atau mati pun saya tidak peduli. Saya di sini hanya ingin memastikan apa yang Tuan saya inginkan semuanya harus berjalan dengan lancar. Jadi, pikirkanlah kembali,” ucapnya tanpa ekspresi.
“Dan persetujuan dari Tuan Gerald saya tunggu sampai sore ini. Permisi." Sky pun berlalu begitu saja, layaknya sebuah robot yang sudah selesai melakukan misinya. Pergi dengan wajah datar tanpa ekspresi, bahkan langkah kakinya saja terlihat begitu kaku seperti robot besi yang karatan.
Clara melemaskan badannya, ia sangat sadar dan mengerti akan ucapan lelaki tadi. "Hidup dan mati pun tak ada yang peduli," batinnya. Ia pun terduduk lemas tepat di depan jeruji sel milik Gerald.
Sementara Gerlad ia masih merutuki dirinya sendiri, karena lagi-lagi Clara harus terseret dalam masalah yang tak seharusnya ditanggung oleh gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku bersikukuh dengan naluriku, tentu Clara akan semakin menderita. Tapi aku pun tidak siap memberikan adikku begitu saja kepada lelaki seperti dia. Ya Tuhan … apa yang harus aku lakukan?" batin Gerald, menenggelamkan wajahnya di anatara kedua lututnya yang ia peluk.
__ADS_1
Bersambung