Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Seberapa Nakal Dia?


__ADS_3

Sore harinya, setelah selesai dengan semua pekerjaannya. Edzar dan Alex pun bergegas pulang. Di dalam perjalanan, terdengar suara dering ponsel milik Edzar yang bergetar dan membunyikan suara nada dering yang cukup nyaring.


Edzar meraih ponsel yang berada di saku jasnya itu. Dilihatnya satu panggilan masuk dari bibinya yang bernama Dora. Dora adalah adik dari ibunya Leon dan bibinya itu sekarang tinggal di Paris bersama suami dan kedua anak gadisnya yang bernama Amel dan Agnes.


"Hallo bibi?" ucap Edzar, menempelkan benda pipih itu di dekat daun telinganya.


"Edzar, apa benar berita di sosial media itu, yang menggosipkan kamu sudah menikah?” tanya Dora di sebrang sana.


"Itu bukan gosip, itu benar," jawab Edzar santai. "Memangnya kenapa?"


"Kau ini, berani-beraninya sekali menikah tanpa memberitahu bibimu ini," terdengar jelas suara Dora yang sepertinya sedang marah.


"Memangnya kenapa kalau aku tidak memberi tahu, Bibi? Aku menikah pun mendadak dan lupa tidak mengabari, Bibi."


"Anak siapa yang kau nikahi?"


"Anak orang lah."


"Ya maksudnya apa marganya?"


"Mardallene"


"Mardallene? Marga keturunan mana itu? Bibi tidak pernah mendengar keluarga kaya yang bermarga Mardallene di Los Angeles."


"Sudahlah Bi, aku sedang sibuk." Tanpa basa-basi Edzar pun mematikan ponselnya, ia sudah tahu, pasti bibinya disana sedang kesal dan menggerutu mengumpatinya.


Sky sesekali melihat bayangan Edzar lewat kaca spion mobil.


"Sky, apa kau sudah memastikan dia hari ini?" tanya Edzar.


"Em, maksud Tuan ... Nona Clara bukan?"


"Kau kira siapa lagi kalau bukan dia!" seru Edzar.


"Hey Tuan aku hanya memastikan saja, siapa tahu yang Anda tanyakan itu mengenai Tuan Gerald," gumam Sky dalam hati.


"Sudah Tuan, Nona juga hari ini tidak pergi ke mana-mana hanya berdiam diri di dalam kamar saja," jawab Sky menjelaskan.


"Hm... baguslah."


Dan seperti biasa sesampainya di rumah, Clara sudah dengan rapi, cantik dan wangi menyambut kedatangan suaminya itu, kali ini ia tidak terlalu berdandan berlebihan, hanya polesan lip tint merah di bibirnya yang memberikan efek fresh saat dilihatnya.


"Heh, sudah berapa kali aku bilang, jangan memakai warna lipstik seperti itu, kau tahu warna merah ini membuat mataku sakit melihatnya." Lagi-lagi bukan pujian yang didapat oleh Clara, tapi protes dari mulut Edzar akan masalah warna merah cerah yang menghias bibir manis istrinya itu.


"Benar kan, sudah kupastikan dia akan tetap protes meskipun aku sudah mengganti warnanya juga. Padahal warna kali ini tak seburuk warna hari kemarin," gerutu Clara dalam hati sambil mengekori suaminya itu menuju kamar.


***

__ADS_1


Setelah selesai menyiapkan keperluan untuk Edzar, malam harinya, ketika mereka selesai makan malam, Sky  datang membawa beberapa file penting untuk diberikan langsung kepada Edzar.


Clara yang melihat kedatangan Sky, ia jadi teringat akan masalah tadi pagi, saat para pengawal suruhan Sky itu menjaganya seketat mungkin.


"Tuan, semua berkas yang, Tuan minta tadi siang, sudah ada." Alex mendekati Edzar yang tengah duduk di atas sofa, di ruang TV bersama Clara.


"Baiklah ikuti aku." Edzar berjalan ke lantai atas untuk pergi ke ruang kerja pribadinya.


Clara yang masih kesal kepada Sky, ia pun diam-diam mengikuti Edzar dan Sky ke atas.


Clara menunggu cukup lama di luar pintu. Ia menantikan saat Sky keluar, ia akan dengan cepat menyeret lelaki itu, untuk memberinya peringatan.


Dan hal yang diinginkan pun terjadi. Sky baru saja keluar dari ruang kerja Edzar. Dan saat itu pula, Clara langsung menarik lengan Sky membawanya ke salah satu ruangan yang biasa di pakai untuk menyimpan dokumen-dokumen pribadi dan berbagai macam penghargaan perusahaan.


"Nona, hentikan apa yang kamu lakukan," protes Sky sambil menepiskan tangannya dari cengkeraman kuat tangan Clara.


Mereka berdua langsung menghentikan langkah kakinya saat mereka berhasil memasuki ruangan itu.


Kini sorot mata Clara yang penuh emosi itu, dilayangkan pada kedua netra cokelat milik Sky. "Heh Tuan Sky, aku butuh penjelasan darimu!"


Sky mengernyitkan dahinya. "Penjelasan ... penjelasan apa?" tanyanya kebingungan.


"Jangan pura-pura tidak tah! Cepat, jelaskan kenapa tadi pagi kau menyuruh dua pengawal untuk mengawasiku, melarangku keluar dari kamar, bahkan aku ingin bertemu dengan kak Gerald pun dilarang! Bukannya di peraturan yang waktu itu kau berikan, kalau suamiku sedang bekerja aku bebas melakukan apa pun di rumah ini!" seru Clara  sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan mimik muka yang terlihat kesal.


Sky menggelengkan kepalanya. Ia seakan malas jika harus membahas hal sepele seperti itu. "Aku hanya menjalankan tugas sesuai perintah Tuan Muda, Nona," jawab Sky kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Clara sendirian di ruang itu.


"Sekretaris Sky, berhenti!" teriak Clara sambil mencebikkan bibirnya. Dan tepat di depan pintu ruang kerja milik Edzar, Sky menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menghadap Clara yang tengah berjalan cepat mendekatinya.


Tanpa pikir panjang dan tanpa diduga, Clara langsung menarik dasi yang terpasang di kerah kemeja yang digunakan Sky, membuat lelaki itu sedikit kesakitan dan terpaksa harus mencondongkan wajahnya mendekati wajah Clara, agar lehernya tidak tercekik.


"Jangan kabur dariku ya! Urusan kita belum selesai, sekretasis Sky!" Clara memandangnya serius.


"Katakan, kenapa kau ikut campur dalam urusan pribadiku!" seru Clara menatap tajam.


"Nona, lepaskan tangan Anda. Atau Tuan Edzar akan marah kepadamu," jawab Sky, seperti orang kehabisan nafas.


Clara semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sky, kedua matanya melotot dengan sempurna, seolah ia ingin menerkam hidup-hidup, lelaki menyebalkan yang ada di hadapannya kini.


"Nona, saya mohon, lepaskan dulu, dan jangan dekat-dekat. Atau Anda akan menerima masalah besar atas perbuatan Anda ini, Nona!"


"Aku tidak peduli!" balas Clara dengan tegas.


Sementara itu, Edzar yang baru saja selesai mengecek beberapa dokumen penting yang tadi diberikan oleh Sky, ia merasa kalau di depan pintu ruangan kerjanya itu sedang ada keributan. Edzar pun memutuskan untuk pergi mengecek. Dan saat ia membuka pintu ruang kerjanya, Edzar begitu tercengang saat mendapati Clara dan Sky yang bisa berhadapan dengan jarak yang begitu dekat, dengan tangan Clara yang masih kuat menarik dasi di leher Sky.


"Aku tidak peduli dia marah atau tidak!" Begitulah kata terakhir yang diucapkan Clara saat Edzar membuka pintu.


Dan sontak hal itu membuat Clara terkejut sambil menjauhkan tubuhnya dari Alex, saat mengetahui Edzar yang sudah muncul di sampingnya.

__ADS_1


Kedua mata Edzar kembali menatap tajam ke arah Alex, dan semakin dipertajam saat ia menatap ke arah istrinya yang selalu membuat masalah itu.


"Ya Tuhan, apa kali ini aku akan mati? ... Hukuman apa lagi yang harus aku terima gara-gara Nona Muda menyebalkan ini," batin Sky, berdiri tegak menghadap Edzar.


Jantung Clara semakin berdegup kencang saat suaminya itu menatap ke arahnya. "Ya ampun Clara... kenapa kau harus membuat kesalahan lagi sih," gumamnya kepada diri sendiri.


Edzar mengepalkan kedua tangannya begitu erat, gigi gerahamnya ia eratkan demi menahan kekesalan. Tampak binar-binar api emosi muncul di kedua matanya. Kalau sudah seperti ini, Sky maupun Clara harus segera mempersiapkan diri, dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.


“Wanita ini, benar-benar berani sekali dia. Tak kusangka, dia bahkan bisa seberani itu kepada Sky,” batin Edzar, ia merasa kalau dugaannya terhadap Clara sedikit melenceng. Clara ternyata bukanlah wanita penakut, bahkan dia terlihat lebih seperti wanita pemberontak.


"Baiklah, kalau kau seberani itu kepada sekertarisku, lantas aku akan mengujimu, seberapa berani dan nakalnya dirimu jika bersamaku," gumam Edzar dalam hati.


"Sky, kau pulanglah!" tegas Edzar begitu dingin. Lalu matanya menatap kedua bola mata Clara dengan tatapan penuh amarah.


"Dan kau! ... Ikut aku ke kamar!" tegasnya lagi kemudian berjalan terlebih dahulu.


“Untunglah ... tidak jadi mati aku,” gumam Sky begitu pelan, seraya bisa bernafas lega.


Sedangkan Clara wanita itu, kini harus mempersiapkan mentalnya.


“Ya ampun Clara kau ini benar-benar bodoh sekali! Ayo berpikirlah ... berpikirlah ... jangan sampai akibat kesalahan ini, kak Gerald yang kembali kena hukumannya. Aku harus bisa merayunya, aku harus bisa menawar kepadanya, biar aku saja yang dihukum, jangan sampai dia menambah beban penderitaan kepada kakakku,” gumam Moura dalam hati, sambil berjalan mengikuti Leon dari belakang.


“Haha, bertahanlah, Nona, kalau bisa bujuklah suamimu itu,” gumam Sky sambil tersenyum sinis, begitu ia menuruni anak tangga dan sekilas melihat punggung Clara yang semakin menjauh dari pandangannya.


Bersambung...


Jangan lupa tekan likenya dulu dong temen-temen :)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2