
Tak terasa, ternyata mereka kini sudah sampai tepat di depan halaman rumah. Clara sudah tertidur pulas, sejak tadi mereka melepaskan penyatuan bibirnya.
Sky membukakan pintu mobil untuk Edzar, lalu Edzar pun keluar sambil memboyong tubuh Clara dalam pangkuannya.
Di ruang tengah, terlihat Amel yang sejak tadi menantikan kedatangan Edzar. Namun, saat Edzar pulang ternyata dirinya diabaikan, bahkan tak dilirik sedikit pun. Edzar langsung membawa Clara ke kamarnya. Sementara Sky langsung berpamitan pulang, karena sejak tadi tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
Edzar membaringkan tubuh Clara yang sudah setengah kering itu di atas tempt tidur. Clara benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
"Aih... dia ini." Edzar menggelengkan kepalanya menatap wajah Clara yang tengah terlelap tidur. "Kau ini benar-benar masih polos, meminum wine sedikit saja langsung tepar begini," gumamnya.
Lalu Edzar pun segera pergi ke kamar mandi untuk berganti baju. Setelah itu, ia memanggil Angel salah satu pelayan rumah, via sambungan telepon khusus rumah, untuk datang ke kamarnya.
Suara ketukan pintu terdengar. Edzar mempersilakan Angel untuk masuk.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Angel begitu sopan, sambil menundukkan kepalanya.
"Tolong ganti pakaiannya." Edzar menoleh ke arah Clara. "Saya akan ke ruang kerja terlebih dahulu," lanjut Edzar. Angel pun mengangguk mengiyakan perintah Tuannya itu.
Edzar pun pergi ke ruang kerja. Namun sebelum sampai di ruang kerja, ia berpapasan dengan Amel yang hendak pergi ke kamarnya.
"Amel, kau belum tidur?" tanya Edzar.
Amel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum semanis mungkin di hadapan Edzar.
__ADS_1
"Kak Edzar juga, kenapa belum tidur?" tanyanya.
"Oh, ini aku mau mengambil dokumen penting di ruang kerjaku," jawab Edzar.
Mata Amel kini tertuju ke bibir Edzar, yang terlihat sedikit ada noda merah.
"Kak Edzar, tungggu." Ia menarik lengan Edzar, yang saat itu hendak pergi meninggalkannya.
Edzar menoleh heran.
"I-itu ... bibirmu kenapa?" Telunjuk Amel mengarah ke bibir Edzar.
"Hah? Apa?" Edzar segera memegangi bibirnya.
"Apa Kak Edzar memakai lipstik atau semacam lipbalm berwarna?" tanya Amel.
"Ya ampun, ini pasti noda lipstik dari dia," gumam Edzar dalam hati.
"Em, i-iya, aku memakai lipbalm karena bibirku kering. Kalau begitu aku pergi dulu. Kau, cepatlah tidur, tak baik tidur terlalu malam," ucap Edzar buru-buru, kemudian segera berlalu meninggalkan Amel.
Amel masih merasa heran, terdiam mematung di tempatnya. "Masa sih Kak Edzar memakai lipbalm? Apalagi, tadi terlihat sekali, warnanya sedikit merah cerah," gumam Amel.
Pikirannya kemudian terpikir akan sesuatu hal. Ia membulatkan kedua matanya dengan begitu sempurna, seolah tak mempercayai sekaligus benci dengan apa yang dipikirkannya sekarang ini.
__ADS_1
"Tidak! Tidak mungkin Kak Edzar dan wanita penggoda itu beradu bibir berciuman gitu," gumamnya, mengangakan mulutnya sambil ditutup oleh kedua telapak tangannya.
Edzar masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia langsung mengambil cermin kecil yang ada di dalam laci meja kerjanya. Ia langsung bercermin, dan ternyata benar saja, di luar area bibirnya, terlihat sedikit noda lipstik berwarna merah muda. Itu jelas terlihat karena kulit wajahnya yang begitu bersih dan putih, makanya noda berwarna merah muda itu akan sangat terlihat jelas di area sekitar bibirnya.
"Argh... kenapa dia harus memakai lipstik berwarna ini segala sih," gumamnya. Ia terus memegangi bibirnya, sambil memandangnya begitu dalam di dalam cermin.
Pikirannya kembali teringat akan kejadian beberapa menit yang lalu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, begitu pun dengan hatinya, yang seolah merasakan sesuatu yang tak biasanya.
Dan tanpa disadari, bibirnya itu sudah melengkung ke atas, menciptakan sebuah senyuman tipis penuh kebahagiaan. Ia kembali mengingat bagaimana hal itu bisa berlangsung dalam waktu cukup lama.
Dan masih dapat Edzar rasakan bagaimana deru nafasnya, kelembutan bibirnya, lidahnya yang aktif, pun dengan sedikit suara yang membangkitkan gairah. Edzar benar-benar terus terbayang akan hal itu.
Namun,, dalam sekejap pula pikiran Edzar berubah, ia mengerjapkan matanya, sambil memukul sebelah keningnya menggunakan tangannya.
"Ya ampun Edzar ... apa yang kau pikirkan ini. Sadarlah, kau tidak boleh jatuh cinta padanya. Ingat, kau menikahinya hanya untuk mempermainkannya saja, tidak lebih, dan kau hanya menjadikan dia sarana balas dendammu saja kepada Gerald. Itu saja Edzar, jangan terlalu berlebihan, dan jangan bermain perasaan," gumamnya pada diri sendiri.
Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu kembali mengambil flash disk, yang dibutuhkannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Mau lanjut enggak nih? Komen di bawah dulu dong, hehe