
"Ya Tuhan, kenapa dia ada di sini?" gumam Clara begitu panik.
"Clara, sedang apa kau di sini? Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk pergi!" seru Edzar yang sudah berdiri di dekat pintu ruang biliard.
"Hah? A-a-aku mau di sini saja enngak apa-apa 'kan?" tanya Clara tersenyum kaku, mencari alasan agar tidak berpapasan dengan Brayen..
Edzar mengerutkan dahinya, menatap heran kepada wanita yang ada di depannya. "Ada apa dengan dia? Kenapa terlihat mencurigakan?" gumam Edzar dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu kau ikutlah denganku, bukankah kau ingin bertemu dengan saudaramu itu?" tawar Edzar.
Clara langsung membeliakan kedua matanya. Ada sedikit kegembiraan di hati Clara, tapi ia pun bingung. "Apa kita akan menemui kak Gerlad bersama tamu yang tadi?"
edzar mengangguk "Hm ... memangnya kenapa?"
Clara semakin dibuat bingung. "Aduh, aku harus bagaimana ini?" batin Clara, bingung antara ingin ikut dan tak mau bertemu dengan Brayen.
"Em, baiklah a-aku ikut," ucap Clara pasrah. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang kerja pribadi milik Edzar. Selagi berjalan Clara merasa tidak enak hati, perasaannya semakin berdebar tak karuan.
Matanya kian melebar, begitu melihat ruang kerja Edzar yang dalam beberapa meter lagi mereka akan sampai.
"Ah iya aku lupa, aku tidak bisa menemui kak Gerald sekarang," ucap Clara tiba-tiba. Membuat Edzar yang berjalan di depannya langsung berhenti dan menoleh ke arah Clara.
"Tuan, s-saya tidak jadi ikut. Saya lupa kalau saya lagi sakit perut, ini baru kerasa lagi hehe. Saya pamit ke kamar saja, Tuan," ujar Clara setengah gugup, berharap kalau Edzar akan memperbolehkannya pergi.
Edzar lagi-lagi mengerutkan dahinya merasa heran. "Ya sudah pergilah." Clara pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar. Sementara Edzar ia langsug masuk ke dalam ruang kerja miliknya.
Kini Edzar mendudukkan tubuhnya di atas sofa besar yang di khususkan untuknya, duduk berhadapan dengan Brayen yanga ada di sofa kecil di sebrangnya.
"Jadi bagaimana? Apa sudah terlihat perkembangannya?" tanya Edzar to the poin.
"Sudah, Tuan, dan di sini saya pun mendapat rekaman CCTV mengenai jejak Nona Ralline, sebelum ia menaiki taksi," imbuh Brayen.
"Taksi?" Edzar memandangnya heran.
Brayen langsung menunjukkan rekaman CCTV yang ada di laptopnya kepada Edzar.
"Apa benar itu Ralline?" tanya Edzar, karena ia tak bisa melihat dengan jelas wajah Ralline yang terhalang oleh seorang lelaki. Dan semakin diteliti, Edzar begitu tercengang, karena lelaki yang ada di samping Ralline dalam rekaman itu adalah Gerald.
"Dia!"
Brayen paham akan keterkejutan yang ditunjukkan oleh Edzar saat itu. "Iya Tuan, maka dari itu niat saya untuk bertemu dengan Tuan Gerald, selain saya ingin meminta data para gangster yang telah menculik Nona Ralline, saya juga ingin menanyakan perihal rekaman ini kepada Tuan Gerald nanti."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita temui Gerald," ajak Edzar begitu semangat.
Kini mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan di mana Gerald dikurung di sana. Di kurung dengan fasilitas lengkap dan mewah tentunya.
"Brayen," ucap Gerald begitu terkejut melihat temannya ada di sana.
Brayen pun memeluk Gerald sejenak, sambil menanyakan kabar dia.
"Kalian saling kenal?" tanya Edzar keheranan saat melihat Brayen dan Gerald begitu akrab.
"Iya Tuan, dia adalah teman sekaligus orang yang membantu saya saat menyelidiki kasus di pemerintahan," jawab Brayen.
"Oh ...." Edzar mengangguk paham.
Setelah berbincang singkat, melepas rindu. Kini mereka semua kembali fokus pada tujuan utamanya.
"Baiklah, kalau begitu kita langsung wawancara saja mengenai kasus Nona Raliine," lanjut Brayen, mengajak kepada Gerald. Gerald mengangguk siap.
__ADS_1
Pertama-tama Brayen meminta data para gengster kepada Gerald. Dilanjut dengan meminta klarifikasi masa kerja Gerald sebelum dia lengser dari jabatannya itu.
"Gerald kalau kau memang serah jabatan di tanggal itu, berarti kau memang harus bertanggung jawab atas kasusu hilangnya Nona Ralline ini," jelas Brayen, berucap serius.
Gerlad yang tidak tahu apa-apa akan kasus itu, ia tetap membela dirinya.
"Tapi aku benar-benar tidak terlibat dengan penculikan itu, Brayen! Dan masalah yang divideo itu, aku hanya membantunya memberikan ongkos taksi saja, tidak lebih dari itu. Dan perlu kalian ketahui pula, rencana untuk menculik Nona Ralline saja aku tidak tahu." Gerald menjelaskan begitu serius seolah sudah capek, karena dirinya tetap tersudutkan atas tanggung jawab kasusu penculikan itu.
"Iya ... aku paham perasaanmu, Gerald. Tapi, kalau menurut hukum yang berlaku, kau tetap yang bertanggung jawab meskipun perbedaan masa kerjamu dan kasus kehilangan Nona Ralline hanya berkisar dua hari," ujar Brayen kembali menjelaskan.
Gerald berdecak kesal. "Lalu, apa yang harus aku lakukan hah! Aku sudah dituduh, dihukum juga, sekalinya ada klarifikasi kebenaran, tetap saja aku yang harus menanggung semuanya." Gerald benar-benar ada dalam pengaruh emosi.
Edzar semakin paham. "Oke tenanglah, Gerlad. Kalau begitu kau ingin kompensasi apa atas kesalah pahaman ini?" tanya Edzar memberikan penawaran.
"Cih! Kompensasi? Setelah yang kamu lakukan padaku kau baru menawariku kompensasi?!" Gerald masih begitu marah kepada Edzar atas kesalah pahaman yang membawa kesengsaraan pada dirinya maupun adiknya itu.
"Aku minta maaf, dan aku akan memberikan konpensasi padamu atas semua ini," ucap Edzar.
Gerald cukup terkejut saat seorng Edzar dengan mudahnya bilang minta maaf padanya. Sebenarnya, pemintaan maaf yang baru saja ia dengar dari mulut Edzar, cukup membuatnya merasa sedikit tenang, dan merasa diakui kalau dirinya memang tidak bersalah.
Gerald sejenak terdiam menatap Edzar dengan tatapan penuh kebencian.
"Baiklah, aku akan memaafkan semua kesalah pahaman antara kita, saat kau sudah berhasil mengabulkan keinginanku," ucap Gerald.
"Hm, baiklah. Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Edzar.
Sorot mata Gerald masih tak hentinya menyiratkan kebencian pada Edzar.
"Bercerailah!" ucap Gerald begitu tegas dan serius.
Mendengar perkataan tersebut, sedikit membuat Edzar tercengang mendengarnya.
Dan yang ada di pikiran Gerald sekarang hanyalah bagaimana caranya Clara bisa lepas dari ikatan pernikahannya dengan Edzar. Dan penawaran kompensasi ini adalah satu-satunya Gerla bisa membebaskan Clara dari rumah dan sesosok pria berdarah dingin yang terkenal kejam yaitu Edzar.
Meski sedikit terasa berat, Edzar harus tetap mengambil keputusan terbaik. "Baik, aku akan menceraikannya setelah kau memenuhi tanggung jawabmu itu!" tegas Edzar tanpa pikir panjang.
Brayen masih tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka masalahkan mengenai perceraian itu. Namun, ia tidak ingin ambil pusing ia kembali melanjutkan obrolannya mengenai cara mencari Ralline.
"Baiklah, kita kembali ke topik pembicaraan," lanjut Brayen.
"Jadi, satu-satunya cara adalah, kau harus menemukan Ralline di hutan belantara di kaki gunung San Gabriel," jelas Brayen, "karena taksi yang ditumpangi Ralline waktu itu mengarah ke sana."
"Kau yang benar saja! Aku bukanlah anak alam yang mengerti akan kehidupan di hutan, apalagi hutan belantara seperti itu." Gerlad menolak.
"Tenanglah, kau ke sana bersamaku, kita berdua akan menemukan Nona Ralline bersama-sama," lanjut Brayen dengan tenang.
"Berdua?"
Brayen mengangguk mengiyakan.
"Baiklah kalau begitu aku setuju," jawab Gerald dengan pasrah.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi, kapan kalian akan memulainya?" tanya Edzar tidak sabar.
"Emh, kemungkinan minggu depan Tuan. Karena aku juga harus memaksimalkan persiapannya terlebih dahulu," jawab Brayen.
"Baiklah." Edzar mengangguk menyetujuinya.
Akhirnya keputusan pun sudah mereka semua sepakati. Edzar begitu senang mendengar kabar ini, sudah ada harapan kalau adik kesayangannya itu akan segera kembali.
__ADS_1
Setelah itu mereka semua pun keluar dari ruangan itu. Dan Edzar mengajak Brayen untuk makan siang bersama terlebih dahulu. Awalnya Brayen menolak, tapi Edzar tetap memintanya, sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah memberikan titik terang mengenai kasus adiknya itu. Brayen yang tidak punya alasan penolakan, akhirnya ia menyetujuinya.
Edzar pun menyuruh Angel untuk memanggilkan Clara yang ada di kamar.
Angel mengetuk pintu kamar Clara. Tak lama kmeudian Clara keluar dan berdiri di balik pintu kamar.
"Ada apa?" tanya Clara.
"Nona, Tuan Muda meminta Anda untuk turun menemaninya makan siang sekarang, Nona," ucap Angel.
"Makan siang?" tanya Clara dengan heran.
Angel mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, sebentar lagi saya akan turun ke bawah, kau boleh duluan pergi," jawab Clara.
Kini, Clara menuruni anak tangga menuju ruang makan. Terlihat Edzar yang tengah duduk sendirian di kursi meja makan. Clara pun dengan gesit mempercepat langkah kakinya, lalu mendudukkan tubuhnya di ats kursi samping Edzar.
"Syukurlah, Kak Brayen ternyata sudah pulang," gumamnya dalam hati, menepiskan senyuman tipisnya.
"Kau kenapa, senyum-senyum sendiri?" tanya Edzar begitu heran, saat sudut matanya tidak sengaja menangkap senyuman dari bibir Clara.
"Hah? T-tidak kenapa-napa, aku hanya sedang senang saja karena diajak makan siang olehmu," jawab Clara. Membuat Edzar menautkan kedua alisnya.
"Kenapa dia bisa senang? Padahal aku 'kan memang sering mengajaknya makan siang," gumam Edzar dalam hati.
Koki pun datang menyuguhkan makanan siang untuk mereka. Kini di atas meja sudah ada beberapa makanan yang tidak terlalu berat, seperti salad buah, salad sayur, pie, dan beberapa makanan lainnya yang kandungan kalorinya sangat rendah.
"Tumben sekali dia makan jam 12 siang seperti ini. Bukankah jadwal makan siangnya jam dua siang ya?" gumam Clara dalam hati.
Tidak lama kemudian Brayen pun kembali setelah tadi izin dari kamar mandi.
Brayen awalnya tidak curiga akan sesososk wanita yang duduk di samping Edzar itu. Karena tadi pagi saat ia baru datang, Brayen melihat ada dua orang gadis cantik di rumah ini, yang kata Sky itu adalah sepupunya Edzar.
Namun, saat Brayen mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang beradapan dengan Edzar, ia begitu terkejut saat gadis yang duduk di dekat edzar itu ternyata adalah Clara adik dari temannya.
"Rubah kecil," panggil Brayen tak percaya.
Clara yang tengah menuangkan minum untuk Edzar, ia pun begitu terkejut, bahkan hampir saja ia menjatuhkan vas air yang tengah dipegangnya itu.
"Kak B-brayen!" pekiknya.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukungan like, komen dan votenya ya mentemen, biar author makin semangat lanjuti ceritanya hehe.
Terima kasih, follow ig author untuk mendapat info seputar novel yang author buat.
__ADS_1