Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Hanya Gadis Rendahan


__ADS_3

Sekarang Clara sedang berdiri tepat di samping Edzar yang sudah sah mejadi suaminya. Mereka sudah melangsungkan akad nikah dua jam lalu, dan sekarang para tamu sedang sibuk memberi ucapan selamat dan menyalami mereka berdua.


Balutan gaun putih dan riasan wajah yang sangat elok, membuat Clara tampil jauh lebih cantik bahkan terlihat sangat pangling. Rambut berwarna madu yang disanggul dengan sedemikian rupa ditambah hiasan bunga putih yang indah, melingkar menjadi mahkota di kepalanya, membuat tampilan Clara terlihat bak ratu dunia. Begitu


pun dengan Edzar, setelan tuksedo putih yang membalut tubuh kekarnya kian membuat ketampanan Edzar semakin terpancar layaknya seorang bintang.


Pesta yang begitu mewah yang hanya dihadiri oleh para tamu dari petinggi-petinggi dunia, para investor dan orang-orang kaya. Jamuan yang mewah menyajikan berbagai macam makanan dari beberapa dunia mulai dari makanan khas California, Jepang, Korea, Fhilipina dan Rusia. Serta hiburan musik yang elegan dengan artis papan atas, serta suasana aula yang semakin malam semakin ramai.


Andaikan saja mereka berdua menikah atas dasar cinta, mungkin pernikahan ini akan menjadi pernikahan terindah bagi keduanya. Aka tetapi sayang, semewah dan seindah apa pun pernikahan ini, sama sekali tak memberikan kebahagiaan di hati keduanya, terutama bagi Clara.


Bisa jadi, hari ini adalah hari patah hati nasional bagi para wanita di kota besar ini. Mereka yang melihat Clara bersanding dengan Edzar seolah menyayangkan, kenapa lelaki setampan dan sekaya Edzar bisa-bisanya menikahi gadis rendahan biasa, yang tak ada istimewanya di mata mereka.


"Dia hanya beruntung saja dinikahi oleh Tuan Edzar, bahkan jika dilihat dari tampang wajahnya saja, dia sepertinya wanita dari kalangan bawah."


"Mungkin dia menggunakan cara curang untuk mendapatkan Tuan Edzar. Secara gak mungkin lelaki seperti Tuan Edzar mau menikahi gadis kampungan seperti dia."


"Eh, eh, menurut gosip yang beredar, dia itu hanya wanita dari kalangan pemberontak di jalanan, anak gangster gitu."


"Hem ... malang sekali nasib Tuan Edzar, harus menikah dengan gadis kampungan seperti itu. Pasti suatu hari nanti Tuan Edzar akan menyesal telah menikahinya."


Begitulah obrolan yang terdengar dari para wanita yang hadir sebagai tamu undangan di sana. Mereka begitu iri kepada Clara yang bisa bersanding di pelaminan bersama Edzar.


"Tegakkan kepalamu, jangan menunduk seperti itu. Ingat, kau sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Alantska," titahEdzar dengan suaranya yang terdengar begitu tegas, penuh penekanan. Clara hanya bisa mengangguk mengiyakan oerkataan lelaki yang di sampingnya.


Meskipun pernikahan ini atas dasar keinginan Edzar, akan tetapi lelaki itu pun tak bisa memungkiri, bahwa ia tak bahagia. Ia juga merasa mulai tak nyaman dengan keadaan sekitar, karena setiap kali orang memberinya ucapan selamat, ia harus bisa menciptakan ekspresi bahagia, dan senyum yang dipaksakan.


"Argh, sungguh menyebalkan ternyata mengadakan pesta seperti ini," gumam Edzar dalam hati.


***


Sementara itu, Gerald yang malang, ia hanya bisa melihat siaran langsung acara pernikahan adiknya itu dengan lelaki kejam yang ia benci, lewat ponsel.


Gerald masih dikurung di ruangan besar yang berfasilitas lengkap. Namun, meskipun begitu ia tetap tidak bisa ke mana-mana, ia bahkan tak bisa menginjakkan kakinya keluar dari ruangan itu. Karena jika ia melebihi batas areanya, maka sebuah borgol canggih yang mengunci sebelah pergelangan kakinya, akan mencengkeram erat kakinya dan menimbulkan suara yang cukup berisik, yang bisa menyakiti telinganya. Dirinya benar-benar seperti burung yang terkurung di sangkar emas.

__ADS_1


"Maafkan aku Clara," lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca. Gerald pun memilih untuk mengakhiri video siaran langsung itu. Dan menyimpan ponsel itu di atas nakas, yang ada di dekatnya.


"Andai saja aku bisa menggunakan ponsel ini untuk menelepon, sudah aku pastikan .. aku akan menyuruh anak buahku untuk membawa Clara kabur dari rumah sialan ini. Tapi sayang, bahkan ponsel ini pun hanya bisa di gunakan untuk menonton siaran pernikahan dia saja," gumam Gerald merasa kesal, tanpa daya.


 


***


 


Malam kian berlalu, para tamu undangan hilir mudik silih berdatangan, dan sebagian sudah ada yang pulang. Berdiri tegak selama berjam-jam di atas panggung pelaminan, cukup membuat kedua kaki Clara terasa pegal, bahkan dengkulnya terasa hampir copot. Apalagi kalau bukan karena hells setinggi 7 cm yang gunakan. Dan hal itu, tentu membuat Clara merasa tak nyaman.


"Pergilah, cari angin di belakang. Sepertinya kau tidak baik-baik saja," ucap Edzar sedikit tak tega melihat Clara yang sedari tadi tidak mau diam, terus menggerak-gerakkan kakinya yang terlihat pegal.


"Emh baiklah, terima kasih." Clara pun berlalu meninggalkan panggung pelaminan.


Sementara itu kini datanglah seorang wanita yang mengenakan balutan dress mini berwarna merah terang, dengan riasan make up yang cukup menor dan juga tak lupa hells tinggi yang berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan.


"Kak Edzar, aku tak menyangka Kakak akan menikah secepat ini," ucap Marina, wanita centil adik dari mantan pacar Edzar. Wanita itu memang sudah terbiasa bersikap manja kepada Edzar. Terlebih dia sok merasa berkuasa karena bisa dekat dengan Edzar Sang Penguasa California. Bahkan di saat seperti ini pun dia masih berani-beraninya bergelayut manja di lengan Edzar.


"Kakak... jangan seperti itu dong. Kak, kau tidak serius kan akan pernikahan ini? Kenapa semuanya begitu mendadak sekali?" tanyanya lagi masih enggan melepaskan tangannya dari lengan Edzar.


Edzar mendengus kesal, sambil membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Lepaskan! Atau aku akan memanggil pengawal untuk menjauhkanmu dariku!" tegasnya dengan tatapan mata elang yang begitu tajam.


"Okay, baiklah, baiklah. Tapi Kakak, aku berharap kau tidak benar-benar mencintai wanita itu. Aku selalu berharap jika kau tak menjadi Kakak iparku, aku siap menggantikan posisi--" Belum sempat Marina menyelesaikan ucapannya Edzar terlebih dahulu memberinya kode, dengan tatapan tajam yangterpusat di kedua manik mata wanita itu.Sontak membuat Marina terdiam dan mengurungkan ucapannya.


Wanita itu pun mencebikkan bibirnya, merasa kesal. "Argh sudahlah, aku mau pergi saja. Aku doa kan semoga Kak Edzar secepatnya menjadi duda," kutuknya kemudian pergi berlalu begitu saja meninggalkan panggung pelaminan.


"Apa! Duda? Kau kira aku bermain-main apa soal pernikahan ini," gumam Edzar dalam hati, sambil menatap tak suka ke arah Marina yang sudah pergi menjauh meninggalkan aula pernikahan.


***

__ADS_1


Sedangkan itu, kini Clara sedang mendudukkan tubuhnya di atas sebuah bangku yang berada di taman luas di samping area hotel.


Matanya yang berkilat berkaca-kaca, seolah sedang menahan genangan air mata yang sejak tadi tertahan di kedua kelopak matanya. Ia masih benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah terjadi padanya hari ini.


“Tenanglah, tenanglah aku tak boleh menangis. Jangan! Jangan menangis Clara ... jangan,” ucapnya menguatkan hati. Dengan perasaan yang kian terasa sesak di hati.


Pikirannya kembali terbayang akan sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya kini. Ia begitu takut, akan melewati malam bersama lelaki yang paling dibencinya itu.


“Aku harap, semoga aku tidak satu kamar dengannya.”


Tiba-tiba, terdengar suara seorang lelaki yang memanggil namanya.


“Nona Clara,” panggil Sky, lelaki itu ternyata sedari tadi sudah mengikuti Clara dan mengawasinya dari kejauhan. Sampai pada akhirnya dirasa waktu istirahat sudah cukup, Sky menghampiri kembali Nona Mudanya itu.


 


 


“Tuan Sky,” ucap Clara menoleh, setelah sesaat ia menghapus sebulir air mata yang terjatuh dari ujung sudut matanya.


“Nona, sebaiknya seekarang Anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Tuan. Sekarang Anda bisa memanggil nama saya secara langsung,” ucap Sky, masih dengan ekspresi wajahnya yang begitu datar.


“Hm, baiklah. Ada apa?”


“Waktu istirahat Anda sudah selesai, Nona. Tuan Muda meminta Anda untuk masuk kembali ke dalam.”


“Begitu ya ... baiklah," jawab Clara mengangguk, lalu ia segera melenggangkan kakinya pergi meninggalkan taman itu bersama Sky dan masuk kembali ke gedung aula yang tak surut sepi sedikit pun.


 


 


Bersambung...

__ADS_1


Jadi gimana, masih mau lanjut gak? Komen dong bair lapak author gak sepi-sepi amat, sekaligus biar author semangat up ceritanya hehe.


__ADS_2