Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Akhir Keputusan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Kau sudah memastikan semuanya Sky?" tanya Edzar.


 


"Sudah Tuan, nanti akan ada dua pelayan yang membantu Nona Clara untuk merias diri."


 


"Baguslah, aku sudah tidak sabar melihat wanita itu menangis dan menderita hidup denganku. Terlebih aku tidak sabar, menyaksikan bagaimana perasaan si bedebah sialan itu saat melihat adiknya tersiksa hidup denganku," ucap Edzar sambil tersenyum sinis, membayangkan putaran adegan menyedihkan antara Gerald dan Clara.


"Lihat saja nanti,a meski aku memberinya kehidupan yang mewah dan berkecukupan. Dengan segala yang aku punya, akan aku pastikan mereka hidup menderita di rumah ini sampai adikku kembali ditemukan," sambungnya.


 


"Baiklah, baiklah, terserah Anda saja Tuan. Yang penting Anda bahagia," gumam Sky dalam hati. Yang masih setia mematung dua meter di belakang Edzar.


 


"Kalau begitu, kau uruslah si bedebah sialan itu. Dan pindahkan dia ke kamar lain," perintahnya. Alex pun mengiyakan dan langsung berlalu menuju ruang bawah tanah untuk kembali menemui Gerald


 


***


Setelah dibawa paksa oleh dua orang bodyguard, kini Clara terduduk lemas di sebuah ruangan yang begitu mewah dan megah. Ruangannya sangatlah luas, mereka menyebutnya sebagai kamar. Tapi bagi Clara yang selalu hidup di kost-an kecil, tentu ruangan itu bukanlah kamar, tapi ia anggap sebagai rumah.


Memang benar, di ruangan itu ada tempat tidur. Tapi kalau boleh jujur, ini untuk pertama kalinya Clara bisa melihat kamar yang seluas dan semegah itu. Karena begitu luasnya Clara sampai berpikir kamar sebesar itu bisa ia jadikan 6 sampai 8 kamar kost dan bisa menghasilkan banyak uang jadi juragan kostan.


 


Ia di bawa ke kamar itu, setelah tadi diseret paksa oleh dua orang lelaki ber-jas hitam, yang tak lain adalah pengawal di rumah ini. Kini Clara memandangi pantulan dirinya di hadapan sebuah cermin rias yang begitu besar. Clara sempat ingin melarikan diri dari kamar itu, namun ternyata pintunya sudah lebih dahulu dikunci dari luar, dan dia tak bisa ke mana-mana sekarang.


^


Setelah beberapa menit menunggu. Pintu kamar pun terbuka lebar, bersamaan dengan datangnya dua orang wanita cantik yang terlihat masih muda, mungkin seumuran dengannya. Mereka berpakaian layaknya seorang Putri istana, dengan balutan gaun hitam putih selutut, yang begitu sama, tapi kalau dilihat-lihat seperti seragam kerja.


 


Kedua wanita itu adalah pelayan di rumah ini, mereka di suruh Sky untuk memandikan sekaligus mendandani Clara.


“Permisi, Nona. saya Angel dan ini teman saya Elin, kami berdua diperintahkan oleh Tuan Sky untuk mengurus Anda, Nona.” Clara pun mengangguk dan menyapa mereka dengan ramah.


 


"Baiklah, kalau begitu … mari ikuti kami ke kamar mandi, Nona," ajak dua wanita itu. Clara pun mengangguk mengiyakan. Ia sekarang hanya bisa pasrah mengikuti setiap perintah dan arahan dari dua pelayan tersebut. Dan ia pun tak tahu, hal apa yang akan dilakukan oleh dua wanita itu di kamar mandi nanti.


 


Sesampainya di kamar mandi yang cukup luas dan lagi-lagi penuh dengan kemewahan. Salah satu dari pelayan itu, yang bernama Angel, ia mencoba membuka baju yang dikenakan Clara. Sontak hal itu membuat Clara merasa tak nyaman dan menolak.


"Kalian mau apa?" Clara menyilangkan kedua tangannya di dada.


 


"Kami hanya ingin memandikan Nona saja, ini atas perintah Tuan Sky," ujar Angel menjelaskan. Membuat Clara mengernyit tak percaya.


 


"Apa? Hanya untuk urusan mandi pun harus sampai dimandikan segala oleh pelayan? Memangnya siapa aku? Aku bukanlah anak kecil, lagi pula aku tidak perlu dilayani sampai seperti ini," batinnya.


 

__ADS_1


"Kalau begitu, biar saya mandi sendiri saja. Maaf, saya merasa kurang nyaman kalau kalian ada di sini," pinta Clara begitu sopan.


 


Kedua pelayan itu cukup tercengang, mendengar perkataan maaf dari Nona Mudanya itu, yang dirasa begitu sopan. Dan memang, mereka dapat melihat penampilan Clara yang begitu kumal dan lusuh, tapi mereka juga dapat melihat wajah cantik dan manis Clara di balik kelusuhannya itu.


 


"Nona, biarkan kami menjalankan tugas kami Nona. Kalau kami membiarkan Nona mandi sendiri, kami takut akan hukumannya nanti, Nona," ujar pelayan yang bernama Elin.


 


"Apa? Dihukum? Sebenarnya tempat apa ini? Kenapa apa-apa di sini selalu ada hukuman?" batin Clara.


“Saya mohon, Nona. Ini demi kebaikan Nona dan kita semua,” pinta Angel.


 


Clara tak bisa lagi menolak, apalagi ketika ia melihat wajah melas dari kedua pelayan tersebut. Akhirnya ia pun memperbolehkan kedua gadis itu untuk membersihkan tubuhnya.


^


"Tubuhku sekarang terasa lebih baik, tapi bagaimana dengan ka Gerald di penjara sana? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Clara menatap lurus ke depan cermin dengan tatapan yang kosong. Dengan berbalut-kan kimono putih yang tebal.


 


Setelah melakukan ritual mandi yang dibantu oleh dua orang pelayan, tubuhnya terasa jauh lebih segar dibanding sebelumnya.


Sedangkan dua pelayan yang bernama Angel dan Elin, kini mereka masih sibuk merias wajah Clara. Tak lupa rambut Clara pun ikut dihias, disanggul dengan sebegitu cantiknya.


 


Bahkan kedua pelayan itu pun merasa takjub, mereka sedikit bangga dengan hasil riasan yang mereka lakukan. Karena kini Nona Mudanya itu benar-benar terlihat pangling.


 


Setelah selesai dengan tugasnya, mereka berdua pun hendak pergi keluar dan membereskan kembali tempat riasannya.


 


Namun, sebelum mereka membuka pintu kamar, Clara terlebih dahulu melemparkan sebuah pertanyaan kepada mereka.


 


"Maaf Nona, apa kalian tahu jalan menuju ruang bawah tanah ada di mana ya?"


 


Lagi-lagi, kedua pelayan itu tercengang, begitu Clara memanggil mereka dengan sebutan Nona, padahal mereka hanyalah pelayan biasa di sana.


 


"Maaf Nona, kami tidak tahu," jawab mereka berdua bersamaan. Lalu mereka pun buru-buru keluar meninggalkan kamar itu.


 


"Angel, apa kau dengar perkataan Nona Muda tadi?"


 


"Aku tidak percaya, dia begitu sopan. Padahal kita di sini hanyalah pelayan bukan saudara ataupun orang yang pantas dipanggil Nona olehnya," timpal Elin, mereka pun berjalan menuju ruang belakang.

__ADS_1


 


***


Sky masih diam mematung menunggu selembar kertas yang sempat ia berikan tadi pagi kepada Gerald untuk di tanda tangani.


 


Dengan perasaan kalut dan bingung, akhirnya dengan terpaksa Gerald memutuskan untuk menandatangani surat pernikahan antara Edzar dan Clara.


 


Tapi sebelum itu, Gerald lebih dulu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sky.


 


"Apa aku boleh mengajukan beberapa pertanyaan?"


 


"Silakan." Sky masih mematung lurus, tanpa menatap ke arahnya sedikit


pun.


 


"Cih, dasar manusia robot,” batin Gerald.


"Apa benar, jika aku mengizinkan adikku untuk menikah dengan Tuan Mudamu


itu dia akan menjamin kehidupan adikku selayak mungkin?"


 


"Benar Tuan," jawab Sky masih dengan posisi yang sama, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi sedikit pun dan mungkin yang ia lihat hanya embok besar di balik jeruji.


 


 


"Tapi kenapa dia harus menikahi adikku? Kenapa dia tidak membebaskan adikku saja. Biarkan aku yang mendekam di sini, tanpa harus melibatkan Clara adikku." Lagi-lagi Gerald berdecak kesal sambil merutuki dirinya.


 


"Ini sudah menjadi keputusan Tuan Muda, Anda tidak akan bisa mengganggu gugat keputusannya, sekalipun Anda tidak menyetujuinya, pernikahan akan tetap dilangsungkan. Tuan Edzar memberi kertas perjanjian ini kepada Anda, sebagai bentuk pertimbangan, apakah adikmu layak dia perlakukan dengan sebaik mungkin atau tidak. Jadi, sekali lagi  tanda tangan Anda tidak berpengaruh sama sekali untuk Tuan Muda, tapi sangat berpengaruh untuk kehidupan adik Anda," tegas Alex. Ia sudah menahan rasa kesalnya, karena sedari tadi Gerald hanya memandang kertas itu bolak-balik dengan seabrek pertanyaan yang hanya membahas mengenai kelayakan hidup adiknya


itu.


"Saya beri waktu 10 detik lagi Tuan. Silakan keputusan ada di tangan Anda."


 


"Huh, menyebalkan sekali, kakiku bahkan sudah terasa pegal, berdiri selama dua jam hanya karena menunggu pria ini untuk menyerahkan tanda tangannya," batin Sky yang mengumpati Gerald dalam hati.


Gerald menghela nafas, begitu berat. "Maafkan Kakak Clara." Dengan berat hati, akhirnya Gerald pun menandatangani surat perjanjian itu. Lalu menyerahkannya kepada Sky.


“Nah begini dong, bukannya dari tadi kek,” gerutu Sky dalam hati saat menerima kertas tersebut dari Gerald.


"Semoga dengan seperti ini, kamu bisa hidup lebih baik Clara. Setidaknya kamu  tidak akan tinggal, di penjara bawah tanah ini lagi." Gerald melemaskan tubuhnya dan menyenderkan punggung kekarnya itu di dinding, sambil mengacak rambutnya, merasa frustrasi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2