Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Mencoba Menghibur Clara


__ADS_3

Edzar yang merasa jengah melihat Gerald dan Clara yang masih berpelukan itu, ia pun dengan paksa menarik tubuh Clara dari dekapan Gerald.


"Sudah, jangan mengulur waktu dia untuk pergi," ujar Edzar. Clara hanya bisa mengusap sedikit bulir air yang keluar dari kedua sudut matanya.


"Hey Rubah Kecil, jangan menangis seperti itu. Kita berdua pasti akan cepat pulang kok," ujar Brayen menenangkan Clara.


Clara pun dengan terpaksa harus melebarkan senyumannya. "Baiklah, kalau begitu kalian berdua hati-hati ya... dan semoga Nona Ralline bisa berhasil di temukan dalam keadaan baik-baik saja," lanjut Clara.


"Aih ... sungguh menyebalkan sekali," gumam Dora melihat mereka semua. Dora pun memilih untuk pergi ke ruang TV dari pada melihat drama perpisahan yang ada di depan matanya itu. Begitu pun dengan Amel ia lebih memilih mengikuti Mamanya, setelah tahu kalau itu hanyalah drama perpisahan yang begitu amatir dan menyebalkan. Tapi tidak dengan Agnes, ia malah ikut keluar mengantar Brayen dan Gerald naik mobil.


Sebelum menaiki mobil, Gerald membisikkan suatu kalimat di dekat telinga Edzar.


"Jangan pernah coba-coba enyakiti adikku Clara, dan ingatlah janjimu untuk menceraikannya setelah adikmu Ralline berhasil ditemukan, ingat baik-baik hal ini, Tuan Edzar yang terhormat!" bisik Gerald begitu pelan.


Edzar yang mendengarnya hanya bisa diam tertegun, sambil menelan salivanya dengan begitu berat.


"Dah Kakak... aku akan merindukanmu," teriak Clara saat mobil yang Gerald tumpangi sudah melaju jauh meninggalkan halaman rumah.


"Gerald? Bye Kak Gerald ... aku menunggu kepulanganmu," gumam Agnes dalam hati melihat kepergian Gerald dan Brayen.


Edzar membalikkan badannya, ia sedikit merasa heran, kenapa ada Agnes di belakangnya.


"Agnes, kau sedang apa di sini?" tanya Edzar mengerutkan alisnya.


"Hah? ... Oh i-ini aku hanya ingin melihat saja. A-aku akan masuk lagi kok." Dengan gugup Agnes pun kembali masuk ke dalam rumah.


Edzar kemudian memutar kepalanya, menoleh ke arah Clara yang diam mematung menatap jauh ke taman halaman.


"Hey, apa kau akan diam saja di situ?" tanya Edzar, membuyarkan lamunan Clara.

__ADS_1


Clara pun berbalik menghadap Edzar. "Oh, tidak Tuan," jawabnya.


"Apa?"


"Eh, maksudnya tidak Suamiku," ulang Clara. Meskipun sudah beberapa hari ia membiasakan memanggil Edzar  dengan sebutan 'Suamiku.' tapi, tetap saja ... terkadang ia masih suka keceplosan memanggil suaminya itu dengan sebutan Tuan.


"Ya sudah, kalau begitu kau ikutlah aku ke ruang perpustakaan," ucap Edzar. Clara pun mengangguk menurut. Dan mereka pun pergi ke perpustakaan.


Edzar berdiri tepat di depan jajaran rak buku, yang di mana di rak tersebut banyak sekali buku-buku yang membahas mengenai bergabagi macam tumbuhan dan pepohonan.


"Hey, apa kau suka menanam bunga?" tanya Edzar sambil mengambil satu buku yang berjudul 'Bercocok Tanam Bunga Cinta'.


"Em, iya aku menyukainya" jawab Clara, yang masih setia berdiri di samping Edzar, dengan wajah yang terlihat lesu dan tak bersemangat, karena di pikirannya sekarang hanya ada Gerlad, Gerlad dan Gerald.


Edzar masih ingat akan pesan Gerald semalam padanya, mengenai Clara.


'Kalau aku tidak ada di dekatnya, Clara pasti akan sedih, dan cara ampuh untuk mengalihkan kesedihannya yaitu dengan mengajak dia menanam bunga, karena adikku sangat menyukai bunga. Atau kalau dia masih sedih, ajaklah dia menemui anak kecil di jalanan, karena dengan kehadiran mereka, akan membuat dia melupakan kesedihannya.'


Setelah selesai menemukan buku yang di cari. Edzar dan Clara, kini pergi menuju taman belakang.


Di sana terlihat Sky yang tampil berbeda dari biasanya.


Tangannya memakai sapu tangan karet yang panjang, kakinya memakai sepatu boots yang besar, dan yang paling uniknya lagi Sky memakai baju kodok, khas tukang kebun.


Clara seketika tertawa terbahak melihat Sky dengan penampilan seperti itu, sedang memeluk ember hitam berisi pasir.


"Sekretaris Sky, ternyata kamu bisa juga berpenampilan lucu seperti ini ya," ujar Clara cekikikan.


Edzar yang melihatnya, ia ikut senang yang melihat Clara bisa tertawa lepas seperti ini. Dan ini, mungkin pertama kalinya Edzar melihat Clara tertawa sebahagia itu.

__ADS_1


"Ternyata benar apa yang dikatakan Gerald, dia terlalu sederhana, sampai hal sekecil itu pun bisa membuat dia tertawa," batin Edzar.


"Dasar Nona Muda menyebalkan, memangnya aku ini badut apa! Di bilang lucu segala," gerutu Sky dalam hati.


"Sekretaris Sky, kau bisa mendapatkan semua perlengkapan ini dari mana? Hebat sekali, terlihat sangat berbeda dari biasanya, bahkan aku tadi sempat mengira kalau kamu bukan sekretaris Sky, ha ha ha."


"Tertawalah! Tertawalah sepuas hati Anda Nona," batin Sky, yang semakin tak nyaman ditertawakan oleh Clara.


"Nona, Tuan, saya juga sudah menyiapkan perlengkapan yang sama untuk kalian," ucap Sky kepada Edzar.


"Apa? Perlengkapan yang sama apa maksudnya?" tanya Clara dengan heran, saat ia sudah berhenti dari tawanya.


"Yang akan memakai kostum seperti saya hari, bukan saya saja Nona, tapi Anda dan Tuan Edzar juga akan memakainya. Hari ini kita akan bercocok tanam, jadi Anda harus memakai semua perlengkapan seperti ini untuk menjaga keamanan diri kita," ucap Sky menjelaskan dengan nada bicara yang sedikit sewot.


"Apa memakai kostum samaan?" Clara tercengang.


"Benar, Nona."


"Sudah, ayo kita ganti pakaian dulu," ajak Edzar sambil berjalan menghampiri meja taman, yang di atasnya terdapat baju khusus untuk perlengkapan berkebun.


Clara mengambil baju itu. Dan dengan ragu ia membeberkannya sambil melihat dengan saksama, baju yang akan di pakainya itu.


"Apa? Aku harus memakai baju seperti ini?" gumamnya dalam hati. "Ah... menyebalkan sekali. Mana aku tadi menertawakan si Sky dengan keras lagi," batin Clara merasa enggan untuk memakai baju kodok itu. "Mati aku, kalau penampilanku terlihat aneh dimatanya nanti," batinnya kebingungan.


"Lihat saja kau Nona, aku memastikan kau akan lebih aneh dari pada aku saat memakai baju  itu," gumam Sky dari kejauhan. Menatap Clara yang masih sibuk menilik baju di tangannya.


Bersambung...


 

__ADS_1


 


__ADS_2