
"Beri aku panggilan khusus!" ucap Edzar dengan lantang, sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Clara, karena sebenarnya ia gengsi harus meminta hal semacam ini kepada istrinya itu.
Kedua mata Clara terbelalak ketika mendengar permintaan suaminya itu. "Apa? Panggilan khusus?" pekik Clara.
Edzar langsung menoleh sinis. "Kenapa?" tanya Edzar melebarkan kedua matanya, sambil mengangkat kedua alisnya menatap sinis ke arah Clara, lalu ia pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di sana. Dengan gaya duduk yang macho, ala pria dewasa.
Clara masih berdiri mematung di tempatnya. "Permintaan macam apa ini? Dia menginginkan panggilan khusus dariku," batin Clara.
"Kenapa diam saja hah! Kau tidak bisa memberikanku panggilan khusus hah?" seru Edzar, sambil menyatukan jari-jemari kedua tangannya, dengan sikut lengan yang di tekuk di atas lutut.
Clara mengerjap. "Hah ... tidak, Tuan," ucap Clara spontan. "Eh, maksudnya bisa, Tuan," ulangnya, meralat jawaban paling aman.
"Ya sudah apa?" tanya Edzar tidak sabar.
"Apa?" ulang Clara dalam hati. "Aduh... aku harus memanggilnya dengan sebutan apa ya?" Clara berpikir keras.
Edzar berdecak kesal. "Hah! Sudah ku pastikan dia tidak akan bisa memberikan panggilan khusus untukku, tidak seperti dia memberikan panggilan kepada Brayen," pikir Edzar mulai merasa kesal.
"Suamiku," ucap Clara dengan spontan . Entah ide dari mana, ia sampai mengucapkan satu kata yang terdengar begitu menggelikan di telinganya.
__ADS_1
"Ya ampun Clara... kenapa harus se-alay itu sih! Memanggil dia dengan sebutan, suamiku'," pikirnya, sambil membayangkan geli saat dirinya memanggil Edzar dengan sebutan 'Suamiku’.
Clara pun menggidikkan bahunya, mengakhiri bayangan menggelikan yang ada di pikirannya itu.
"Apa? Suamiku?" tanya Edzar, mengulang, sedikit tercengang namun ada rasa senang di hatinya.
Clara menganggukkan kepalanya pelan, sambil tersenyum lebar menyengir kuda, lalu ia pun ikut mendudukkan tubuhnya di atas sofa, yang berhadapan dengan Edzar.
Clara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, he he ... karena, Tuan adalah suami saya, jadi ... sebaiknya saya memanggil, Tuan dengan panggilan khusus yaitu, Suamiku," jelas Clara, merasa geli sendiri dengan alasan klise yang ia buat secara dadakan itu, tanpa di pikir panjang bin lebar terlebih dahulu olehnya.
“Kau benar-benar sudah gila Clara, benar-benar gila! Bagaimana bisa kamu memberikan dia panggilan seperti itu, kalau dia sampai setuju, bisa mati kau Clara! " batinnya, seolah menyesali perkataan yang baru saja keluar dari mulut cerobohnya itu.
Entah kenapa, ada sesuatu yang bergejolak di hati Edzar saat ia mendengar Clara memanggilnya dengan sebutan 'Suamiku'.
"Baiklah, kalau begitu ... mulai detik ini sampai kedepannya panggil aku dengan sebutan itu," ujar Edzar, memerintah.
"Apa! Jadi dia langsung menyetujuinya begitu saja?" Clara benar-benar tidak percaya, panggilan yang asal ia ucapkan itu, ternyata main disetujui begitu saja oleh Edzar.
"Baik, Tuan," ucap Clara pelan dan terpaksa.
__ADS_1
"Apa?" Edzar memicingkan matanya, mendengar kata terakhir yang Clara ucapkan, karena masih memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan.’
"Eh, ma-maksudku, baik S-Su-Suamiku," ralatnya begitu berat.
Edzar tersenyum tipis mendengarnya, menahan sebisa mungkin rasa senang di hatinya agar tidak nampak di hadapan istrinya itu. “Apa? Kurang keras?” goda Edzar seolah tidak mendengar.
“Baik Suamiku,” ulang Clara dengan polosanya.
“Berbicaralah yang benar, aku tidak bisa mendengarnya!” seru Edzar dengan sengaja, agar ia bisa kembali mendengar Clara menyebutnya dengan panggilan khusus.
"Ish! Dia ini sengaja atau emang tuli sih!" geramnya dalam hati. "Dasar! Kayak anak kecil saja!" gerutu Clara dalam hati. Ia hanya bisa menggerutu kesal di dalam hati. Karena pada kenyataannya ia pun harus mengulangi ucapan yang menggelikan itu.
“Baik Suamiku....” Clara berucap begitu anggun dan lembut. Membuat Edzar tertawa begitu kencang, melihat ekspresi dari wajah Clara yang seperti sedang kesal padanya.
Wajah Clara semakin meringsut kesal. Melihat tanggapan mengesalkan dari suaminya itu. “Apa! Si Tuan Kejam ini ternyata dia bisa tertawa selepas itu?” batin Clara, terheran-heran yang baru pertama kali ini melihat suaminya tertawa kencang dan lepas seolah tengah meledeknya.
Clara pun hanya menyengir kuda, tak mengerti akan hal apa yang sedang suaminya itu tertawakan.
“Ha ha, Anda benar-benar sudah gila, Tuan,” batin Clara.
__ADS_1
Bersambung...
Gimana mau lanjut gak nih? Ramaikan kolom komentarnya dong kakak baik😘