Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Istri Tuan Edzar


__ADS_3

Namun, saat Brayen mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang beradapan dengan Edzar, ia begitu terkejut saat melihat Moura yang duduk di dekat Edzar.


"Rubah kecil," panggil Brayen tak percaya.


Moura yang tengah menuangkan minum untuk Edzar, ia pun begitu terkejut bahkan hampir saja ia menjatuhkan vas air yang tengah dipegangnya itu.


"Kak Brayen." Clara terkejut melihatnya.


"Hey Rubah Kecil, kau sedang apa di sini?" tanya Brayen begitu heran.


Jadi Brayen ini adalah salah satu lelaki yang menyukai Clara sejak dulu, sejak dirinya berteman dengan Gerald dan saat pertama kali ia bertemu Clara, Brayen sudah menaruh hati pada gadis lugu itu. Hanya saja, sudah tiga kali pula Clara menolak perasaannya, di karena kan Clara waktu itu ingin fokus  bekerja.


"Hah? A-aku sedang ikut makan," jawab Clara menyengir gugup.


Edzar menatap mereka berdua secara bergantian dengan penuh keheranan.


"Apa kalian saling mengenal?" tanya Edzar curiga.


Brayen mulai mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Iya, Tuan, kami saling mengenal sejak lama," jawab Brayen sambil tersenyum ceria. Ia begitu senang bisa melihat sang pujaan hati kembali, setelah beberapa bulan mereka tak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Tapi, kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau-" Belum sempat Brayen menyelesaikan perkataannya, Edzar  memotongnya terlebih dahulu.


"Oh ya, saya lupa memperkenalkannya, Dia Clara, istri saya," jelas Edzar. Membuat kedua mata Brayen membulat dengan begitu sempurna.


"Apa!" pekiknya tak percaya. Ia benar-benar terkejut mendengarnya.


"Istri, Tuan?" tanya Brayen memastikan, yang langsung dijawab dengan anggukkan pelan oleh Edzar.


Kini pandangan itu beralih ke arah Clara. "Clara, apa benar kau menikah dengan Tuan Edzar?" tanya Brayen meyakinkan. Sejenak Clara terdiam melirik ke arah suaminya, sebelum ia menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai tanda jawaban.


Dan ... deg, hati Brayen terasa di tikam. Seolah ada sesuatu yang menusuk di hatinya, ia begitu tak menyangka, wanita yang selama ini ia kagumi dan sukai, ternyata sudah menjadi milik orang lain. Dan sialnya lagi, yang menjadi suaminya itu ialah Edzar , lelaki yang paling sulit dikalahkan, bahkan hanya sekedar niat untuk mengalahkannya pun nyalinya keburu hilang.


"Kenapa?" tanya Edzar, saat melihat mimik wajah Brayen yang berubah 50% dari asalnya, mata Brayen tiba-tiba terlihat menjadi layu pun senyuman yang mengembang di bibirnya perlahan sirna.


"Tidak apa-apa. Em ... selamat ya, aku cukup tidak menyangka akan kabar pernikahan Tuan Edzar kemarin, ternyata istrinya adalah kamu Clara," ujar Brayen menatap sendu ke arah Clara.


Clara pun merasa tidak enak hati, karena ia tahu, Brayen pasti sedang kecewa padanya.


"Maafkan aku Kak Brayen," gumam Claradalam hati. "Kalau saja, bukan gara-gara ancaman pria jahat ini, aku juga tidak mungkin akan menikah dengannnya."


Sementara itu, Edzar masih mengamati wajah mereka berdua secara bergantian. "Hm ... sepertinya hubungan di antara mereka bukan hanya sekedar kenal biasa," gumam Edzar dalam hati.

__ADS_1


Edzar pun menyuruh Brayen dan Clara untuk segera menyantap makanan yang sudah dihidangkan di atas meja. Dan mereka bertiga pun makan dalam keheningan.


***


Setelah kepulangan Brayen tadi siang. Edzar sebenarnya masih penasaran, akan hubungan di antara mereka berdua, tapi Edzar tak ingin jika dirinya sengaja mencari informasi sendiri. Lebih tepatnya, ia gengsi menanyai perihal semacam itu kepada istrinya.


Sore harinya Edzar pergi untuk bermain golf. Seperti biasa Edzar di temani oleh sopirnya Pak Arvan untuk pergi ke sana.


"Kau boleh pergi menemui Kakakmu, tapi ... bertindaklah sesuai aturan," ucap Edzar, saat Clara mengantarkannya sampai depan teras rumah.


"Benarkah? Wah terima kasih, Tuan," ucap Clara begitu senang, bahkan Edzar pun dapat melihat raut wajah kebahagiaan dan senyum tulus di wajah istrinya itu yang jarang ia dapati.


“Apakah harus sesenang itu dia, kubebaskan hanya untuk bertemu dengan kakaknya," gumam Edzar. Edzar pun segera masuk ke dalam mobil. Dan tak lama mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan halaman rumah tersebut.


Edzar masih dapat melihat senyuman manis yang terkembang di wajah Clara lewat kaca spion mobilnya yang perlahan kian menjauh dan tak terlihat.


Dan tanpa ia sadari, bibirnya sudah tertarik naik, menciptakan senyuman indah di wajah tampannya.


“Ada apa dengan Tuan Muda? Tumben dia tersenyum seperti itu? Bahkan, sudah sejak lama, saya tidak melihatnya  tersenyum seperti itu,” gumam Pak Arvan yang melihat pantulan wajah Edzar dari kaca spion.


***


Sementara itu, di ruang tengah Amel dan Agnes tengah berbisik, sambil memperhatikan Clara yang baru saja kembali dari luar.


"Oke, ayo." Amel menganggukkan kepalanya penuh maksud.


"Hey Upik Abu!" teriak Amel memanggil Clara.


Clara yang tengah berjalan, hendak menaiki tangga. Mendengar panggilan itu, ia sejenak menoleh ke arah Amel dan Agnes yang ada di ruang tengah. Clara hanya menoleh saja, tanpa menyahutinya. Lalu berjalan kembali.


Amel dan Agnes terlihat begitu kesal, saat Clara mengabaikan mereka berdua.


"Heh Upik Abu! Kau tuli ya!" Namun, tetap saja Clara tak memedulikan panggilan mereka.


"Benar-benar ya!" ucap Amel begitu geram.


"Siapa sih namanya?"


"Clara namanya," jawab Agnes cepat.


"Heh Clara!" teriak Amel kembali memanggil.


Clara pun menoleh saat mereka memanggilnya dengan nama yang benar.

__ADS_1


"Iya ada apa?" tanya Clara dengan dingin, menghentikan langkahnya.


Amel mencibir kesal. "Ada apa, ada apa! Kau dari tadi aku panggil, apa kau tak bisa mendengar hah!"


"Memanggil? Bukannya kau baru satu kali memanggil namaku ya," jawab Clara yang tengah berdiri di pertengahan anak tangga.


"Kau!" Amel mengeratkan gigi gerahamnya merasa kesal.


"Kau kemarilah!" perintah Agnes. Clara pun menurut dan kembali menuruni anak tangga, menghampiri mereka.


"Ada apa?" tanya Clara begitu ia hampir sampai di depan mereka.


"Heh! Kau jangan belagu ya! Kak Edzar itu menikahi kamu hanya sebagai sarana balas dendam saja!" seru Agnes.


"Ya terus? Memang kenapa kalau dia menikahiku untuk sarana balas dendam?" tanya Clara dengan gaya bicaranya yang santai.


"Halah ... sombongnya! Heh! Kau jangan sok berperilaku seperti seorang Nyonya di rumah ini ya!" Agnes mencibir.


"Tapi, kenyataannya aku sekarang memang seorang Nyonya di rumah ini 'kan?"


Amel dan Agnes semakin kesal mendengar setiap jawaban yang dilontarkan Clara.


"Haha, memang sih, kau sekarang adalah Nyonya di rumah ini. Tapi ... itu tidak akan bertahan lama, karena aku mendengar dengan jelas, kalau kak Edzar akan menceraikanmu setelah Ralline ditemukan. Jadi, bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini," ujar Amel sambil menatap sinis.


Clara mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah? Hm ... baguslah kalau begitu, aku pun sudah tidak tahan tinggal di dalam sangkar emas ini," jawabnya dengan cuek.


"Sangkar?" Amel dan Agnes membulatkan kedua matanya begitu tak percaya mendengar perkataan Clara. "Kau kira ini kandang burung apa!"


"Terserah kalian mau menganggapnya apa. Yang jelas aku sangat akan berterima kasih dan bahagia, jika aku bisa keluar dari tempat ini!" tegas Clara lalu pergi berlalu menaiki anak tangga, ingin segera menemui Gerlad kakaknya.


"Argh ... dasar wanita sombong! Lihat saja kau! Tak perlu waktu banyak, kau akan aku pastikan secepatnya diusir dari rumah ini!" teriak Amel begitu geram. Namun, tetap saja Clara tak memedulikannya.


Sementara itu, dari sudut ruangan, ada seseorang yang tengah mengawasi mereka sejak tadi. Dia adalah Pak Bram. Sejak kejadian di meja makan itu, Pak Bram di tugaskan oleh Edzar untuk mengawasi tiga dedemit rumah yang tak lain, Amel, Agnes dan Dora si nenek lampir.


Pak Bram menggelengkan kepalanya saat melihat perlakuan mereka kepada Nona Mudanya itu.


"Kalau Tuan Edzar yang melihat semua ini, sudah aku pastikan malam ini kalian akan berada di dalam pesawat, di usir kembali ke negara kalian yang jauh di sana," gumam Pak Bram dalam hati.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Komen dong di bawah hehe, author itu suka banget tahu baca komentar kalian, Love You para pembacaku.


__ADS_2