Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
The Same Suffering


__ADS_3

Buliran air mata, tak terasa sudah membasahi kedua pipi Gerald."Clara, maafkan aku ... aku benar-benar gagal dalam menjagamu. Aku memang tidak berguna menjadi Kakakmu. Maafkan aku Clara," ujar Kevin begitu berat, dengan ujung suara yang tercekat, seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya. Pikirannya begitu kalut. Sungguh ... hatinya begitu pedih, mengingat perjalanan hidup yang mereka lalui, terasa begitu banyak masalah.


 


"Kakak ... Kakak jangan berbicara seperti itu. Kakak tetap akan menjadi Kakak terbaik untukku. Dulu ... Kakak pernah bilang ‘kan, selagi kita bersama, kita pasti bisa melalui pedih dan pahitnya hidup ini. Termasuk dengan masalah kali ini, aku akan selalu ada di samping Kakak, begitu pun dengan Kakak, Kakak harus selalu ada di sampingku. Kita harus saling menguatkan satu sama lain Kak, dan Kakak jangan meninggalkanku," ujar Clara, dengan air mata yang semakin berhamburan membanjiri pipinya. Namun, sebisa mungkin ia berucap dengan nada yang normal, menahan isak tangisnya, sambil menguatkan hati dan tersenyum getir.


 


"Kau memang penguatku Clara, Kakak janji kita akan selalu bersama-sama, dan Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Gerald tersenyum getir. Hatinya semakin berkecamuk tak karuan. Namun, semangat dari adiknya itulah, yang mampu membuatnya untuk bisa bertahan setiap hari, agar ia tak putus asa.


 


Dalam kesedihan yang masih melanda hati keduanya. Tiba-tiba ada suara sorang lelaki yang terdengar begitu jelas menggema memenuhi seluruh isi ruangan itu.


 


"Sudah selesai nangisnya?"


 


Suara itu tak lain ialah suara dari seorang lelaki pemilik sel tahanan ruang bawah tanah ini. Dia adalah Edzar Alantska, putra pertama dari Tuan Darwin Alantska dan Nyonya Garet Harley.


Suara langkah kaki terdengar begitu jelas. Dan tiba-tiba, salah satu sepatu yang di pakai Edzar, sengaja dia injakkan ke tangan Clara dan Kevin, agar genggaman tangan mereka terlepas.


 


Sontak hal itu membuat Clara kesakitan. "Aw, tanganku," ringis Clara mendesis kesakitan.


Gerald begitu terkajut. "Clara apa tanganmu terluka?" tanyanya panik campur emosi.


 


"Tidak Kak, tidak apa-apa," jawab Clara.


 

__ADS_1


Gerald pun berdiri dan sejenak memandang lelaki bertubuh jangkung, memakai jas setelan berwarna hitam pekat yang terlihat begitu rapi, dengan nanar mata yang tak lagi terlihat ramah.


 


"Dasar brengsek! Berani-beraninya kau menyakiti adikku!" teriak Gerald penuh emosi. Sayangnya dia terhalang oleh jeruji besi, seandainya dirinya tak terhalang oleh jaruji besi itu, sudah di pastikan, kaki lelaki itu akan dia patahkan karena sudah berani menyakiti adik kesayangannya itu.


 


"Bagaimana rasanya melihat adik tersayang tersakiti hah?" seru Edzar, yang tiba-tiba terlihat penuh emosi, bahkan terlihat jelas rahangnya yang mengeras, dan tatapannya yang begitu tajam seolah ingin menerkam Gerald hidup-hidup.


 


"Apa maksudmu hah?" seru Gerald.


 


Edzar hanya membuang muka, sambil sejenak mengulum lidah, menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Lalu kembali menatap Gerald dengan tatapan penuh kebencian.


 


“Apa maksudmu berkata seperti itu hah?” tanya Gerald tidak santai.


Melihat ekspresi yang ditampilkan Gerald, jelas membuat Edzar semakin geram melihat wajah lelaki itu. "Jangan pura-pura lagi Gerald! Kau jelas-jelas adalah ketua gangster di kota ini. Kau dan komplotan gangstermu itu sudah menculik adikku! Dan kini ... aku kehilangannya!" teriak Edzar begitu penuh emosi dan geram.


 


"Apa! ... Kau menuduhku hah!"


 


"Aku berbicara fakta bukan menuduh!" sahut Edzar sedikit berteriak.


 


Gerald menyeringai sinis. "Hey Tuan! Sepertinya kau salah paham. Memang aku ketua mereka, tapi itu satu minggu yang lalu. Aku sudah tidak menjadi ketua gangster itu lagi. Dan masalah penculikan adikmu itu, aku tidak tahu sama sekali!" ujarnya menjelaskan.

__ADS_1


"Stop! Jangan membohongiku! Sudah jelas, adikku diculik satu minggu yang lalu. Dan itu artinya kau yang bertanggung jawab atas semuanya Gerald!" teriak Edzar. Api emosinya begitu menyala-nyala membara. Ia begitu frustrasi karena sudah tak bisa menemukan keberadaan adiknya itu.


 


"Aku tidak tahu! Aku tidak pernah menculik adikmu!" teriak Gerald penuh emosi.


Mendengarkan perdebatan antara kakaknya dengan Tuan yang tak dikenalnya itu, membuat Clara ingin ikut membantu menjelasakannya. "Tuan, dengarkan aku, Kakakku meskipun dia adalah seorang kriminal, tapi dia selalu berkata jujur, jadi kalau Kakakku—" Belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya. Edzar


terlebih dahulu meneriakinya.


 


"Diam!" Teriak Edzar, menatap sinis ke arah Moura, yang masih berdiri sambil memegang jeruji sel.


"Dasar brengsek! Jangan berani-beraninya kau berteriak seperti itu kepada adikku!" Gerald semakin merasa marah melihat lelaki itu menyentak Clara.


"Katakan! Di mana kau sembunyikan adikku Raline hah?!" tanya Edzar dengan mata yang semakin memerah menahan amarah.


 


"Aku sudah bilang, aku tidak tahu! … Aku tidak menculiknya!"


 


"Katakan dimana adikku! ... Dimana RALINE!" Edzar yang tak bisa menahan amarahnya, ia langsung menarik kerah baju yang digunakan Gerald, ia benar-benar begitu emosi. Karena meskipun ia berhasil meringkus ketua gangster yang ia ketahui telah menculik adiknya itu, tapi tetap saja, Edzar tidak bisa mendapatkan jawaban atas keberadaan adiknya itu.


 


"Lepaskan Kakakku, jangan berbicara seperti itu Tuan." Clara kembali memohon sambil menangis. Ia tak tega, jika melihat ada orang yang memarahi Kakak kesayangannya itu.


 


"Hey bocah! Diamlah! Atau ku bunuh kau!" Seru Edzar, melotot, kemudian ia menghempaskan tubuh Gerald dari tangannya, membuat Gerald jatuh tersungkur di lantai bata itu.


"Kalau kau tidak memberitahu keberadaan Raline secepatnya, kupastikan kau akan tersiksa di ruang bawah tanah ini! Dan juga ... adikmu.” Edzar sejenak melirik ke arah Clara, menatapnay dengan sinis. “Ingat, adikmu pun, akan ikut menanggung semua penderitaan ini Gerald!" tegas Edzar, kemudian berlalu meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2