Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Bertahan Di Tengah Ketidaknyamanan


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Clara pun datang menghampiri Edzar. Terlihat sedikit raut sedih di wajah Clara. Edzar sudah tahu, pasti ada sesuatu yang menyinggung perasaan istrinya itu.


"Kau, pergilah ke kamar," perintah Edzar saat Moura mendekatinya. Clara pun mengangguk mengiyakan dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.


Sementara Edzar, ia masih setia duduk di atas sofa di ruang TV. Dan tak lama datanglah Amel dan Agnes di susul juga dengan Bi Dora.


"Kak Edzar belum tidur ya?" tanya Amel dengan nada suara sok imut-nya, kemudian ia mendaratkan tubuhnya duduk di samping Edzar.


"Nonton acara apa Kak?" tanyanya lagi. Edzar masih diam tak menjawab.


"Aduh... Edzar, kau ini mencari pendamping hidup sangat sembarangan sekali." Suara Bi Dora tiba-tiba mengalihkan pandangan Edzar yang awalnya fokus menonton TV sekarang jadi fokus menatap ke arah Bibinya.


"Bibi tahu, Bibi bukan siapa-siapa kamu, tidak berhak mengatur kamu. Tapi ... ya kalau urusan mencari istri buat pendamping hidupmu, carilah yang keturunannya jelas dan bagus. Jangan asal menikahi gadis jalanan," ujarnya.


Perkataan Bibinya itu cukup membuat telinga Edzar sakit mendengarnya. Perkataan yang pedas melebihi cabai mercon itu seolah begitu mengganggu bagi Edzar.


"Kalau Bibi tahu akan hak Bibi yang tak bisa mengaturku. Lantas, untuk apa Bibi berbicara seperti itu mengenai istriku!" tegas Edzar memperingati.


Dora hanya berdecak kesal sambil memutar bola matanya sekilas, merasa sebal dengan penegasan Edzar. "Istrimu itu tak lebih baik dari Amel dan Agnes putri Bibi. Putri Bibi saja tahu batasan hal yang harus diucapkan di depan orang tua. Dan istrimu itu, tadi ... dia bahkan berani berbicara tidak sopan kepada Bibi," ucapnya mengadu.


Edzar hanya tersenyum kecut mendengarnya. "Aku tahu istriku, dia tidak akan berbicara sembarangan jika tidak dipancing. Kalau dia berkata tidak sopan,  berarti Bibi pun melakukan hal yang sama terlebih dahulu, berbicara tidak sopan padanya."


Dora semakin dibuat kesal akan jawaban Edzar. Bukannya di bela, eh malah ikut disalahkan. "Argh Kau ini, dari dulu emang keras kepala! Sama dengan adikmu si Ralline itu," gerutu Dora, "syukurlah dia hilang dari rumah ini, kalau pun ada, aku tidak akan betah tinggal di sini walaupun hanya satu malam," gumamnya dalam hati.


Dora dan Ralline memang kurang akrab, terlebih karena memang Ralline tak menyukai sikap Bi Dora yang terkadang seenaknya memperlakukan para pelayan di rumah ini. Dan yang membuat Dora tak menyukai Ralline  adalah, karena gadis itu gadis jahil yang suka mengerjai dirinya.


"Sudahlah, Bibi mau pergi ke kamar saja," ujar Dora sambil mencebikkan bibirnya kemudian pergi berlalu meninggalkan mereka semua.


Edzar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Amel dan Agnes secara bergantian.


"Jika kalian ingin tenang tinggal di sini, jangan bersikap seperti ibu kalian. Bersikap baiklah kepada istriku mulai sekarang!" tegas Edzar kemudian ia segera pergi ke kamar untuk menyusul Clara.


Agnes dan Amel saling memandang dengan mimik wajah tercengang. "Wah, sepertinya gadis kampungan itu sudah mempunyai tempat di rumah ini," gumam Agnes, Amel pun mengangguk.


"Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati jika berhadapan dengannya," ucap Amel pelan.

__ADS_1


"Besok kita buat rencana untuk gadis kampungan itu, gimana?" tanya Agnes. Amel sejenak terdiam sambil mengusap dagunya pelan. "Hm... baiklah," jawab Amel, tersenyum penuh maksud.


***


Edzar masuk ke dalam kamar, dilihatnya Clara yang sudah berbaring di tepi ranjang. Edzar pun ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Matanya masih melihat ke langit-langit rumah. Sejenak Edzar melirik ke arah Moura yang masih tidak bergerak dari tempatnya.


"Hm... apa dia benar-benar tidur secepat itu?" gumam Edzar dalam hati.


Edzar pun jadi teringat akan hari pertamanya saat Moura di bawa ke ruang bawah tanah. Sebelum ia memutuskan untuk menikahi Clara, Edzar terlebih dahulu menyuruh Sky untuk mencari informasi semua hal tentang Gerald dan Clara mulai dari data resmi kependudukan, hingga cerita lewat orang-orang terdekat mereka.


Edzar juga tahu kalau Gerald dan Clara adalah sepasang yatim piatu yang tinggal di lingkungan kurang baik, maka dari itu Edzar juga tahu seluk-beluk Gerald yang menjadi ketua gangster di Los Angeles itu.


"Apa Bi Dora menyinggung tentang kedua orang tua dia ya?" gumam Edzar dalam hati.  "Ah sudahlah, lagi pula seharusnya aku tidak memedulikannya."


Sementara itu, sejak tadi masuk ke dalam kamar Clara masih terjaga, ia hanya berpura-pura tidur saja, saat tahu Edzar hendak membuka pintu kamar.


Pikirannya kini kembali teringat akan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Perkataan Bi Dora tadi, cukup membuat hatinya sedikit sakit, karena perkataan Bi Dora yang begitu menyayat hati.


"Aku harus apa? Aku tak bisa memberontak, karena aku tahu itu akan berakibat buruk bagi kak Gerald. Tapi aku pun tidak bisa diam saja. Ayolah Clara ... berpikirlah," batin Clara.


Sudah satu minggu ini ia menahan diri agar bisa mengikuti peraturan di rumah ini. Tapi, semakin diikuti semakin ia tak tahan dan ingin melarikan diri.


***


Ke esokkan paginya seperti biasnya Edzar bangun pagi dibangunkan oleh Clara. Hari ini ia tidak pergi ke kantor karena memang sedang libur bekerja. Terlebih hari ini akan ada tamu penting yang akan datang ke rumah.


Di meja makan, Clara dan Edzar duduk bersampingan sarapan pagi, di susul oleh Amel dan Agnes serta Bi Dora untuk ikut sarapan bersama.


Sepanjang sarapan, Edzar tak henti-hentinya memandangi Clara, ia menelisik setiap sudut di wajah Clara.


"Apa dia semalam habis menangis? Kenapa matanya terlihat sembab seperti itu?" batin Edzar sambil menyuapkan sepotong hotdog ke dalam mulutnya.


Sedangkan Amel dan Agnes mereka berdua terlihat begitu iri, saat melihat Edzar yang terus memperhatikan istrinya itu.

__ADS_1


"Lihatlah, dari segi penampilannya saja, dia terlihat sangat biasa, bahkan tidak ada istimewa-istimewanya sama sekali," bisik Amel di daun telinga Agnes.


"Iya benar, apa sih yang Kak Edzar lihat dari wanita itu, Cantiknya pun standar, bahkan sepertinya dia tidak bisa di makeup, lihat saja wajahnya begitu kumal," bisik Agnes.


"Makanlah yang benar, dan jangan berbisik seperti itu!" tegas Edzar tanpa melihat ke arah mereka. Amel dan Agnes pun terkejut saat mendengar perintah Edzar. Mereka pun akhirnya duduk terdiam sambil fokus memakan sarapannya.


"Hih, menjijikkan," batin Dora.


***


Siang harinya, Sky datang menemui Edzar yang tengah berada di ruang biliar, di temani oleh Clara yang hanya duduk menonton suaminya bermain biliar.


"Tuan Muda, Tuan Brayen sudah datang," ujar Sky.


"Baiklah, ajak dia masuk ke ruang kerja," ujar Edzar, sambil kembali melakukan 1x permainan.


"Baik Tuan." Sky pun pergi.


"Kau pergilah ke kamar, jangan dulu keluar sebelum aku menyuruhmu," ujar Edzar memerintah kepada Clara. Clara pun mengangguk mengiyakan. Clara keluar terlebih dahulu meninggalkan ruang biliar itu.


Clara berjalan melewati ruang kerja milik Edzar . Matanya di kejutkan saat ia melihat sesosok lelaki yang tak asing di matanya itu.


"Kak Brayen?" gumam Clara terkejut, sambil membulatkan kedua matanya begitu sempurna.


Brayen dan Sky pun tengah berjalan menuju ruang kerja. Kening Brayen sejenak mengerut saat melihat sesosok wanita yang tengah berdiri di depan ruang kerja Edzar.


Clara yang tahu kalau Brayen sedang melihat ke arahnya, ia langsung berbalik dan pergi kembali menuju ruang biliar dengan jantung yang berdebar.


"Ya Tuhan, kenapa dia ada di sini sih?" gumam Clara begitu panik.


 


 


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa dukungan star, gift dan reviewnya ya... kalian bisa tebak gak? Ada hubungan apa Brayen sama Clara?


__ADS_2