
Edzar melihat leher putih Clara yang dibiarkan terbuka seperti itu. "Lepaskan ikat rambutmu!"
"Hah?" Clara malah melongo.
"Lepaskan ikat rambutmu!" ulang Edzar dengan kesal.
"Ikat rambutku? Memangnya kenapa aku--"
Belum sempat Clara menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba, Edzar membalikkan tubuh Clara dan dengan cepat ia melepaskan ikat rambut yang terpasang di kepala istrinya itu. Lalu mulai menggeraikan rambut berwarna hitam madu itu, merapikannya hingga membaginya sebagian ke bagian depan dada.
"Sudah, lebih baik rambutmu digerai seperti itu," ucap Edzar. Lalu segera mengajak mereka untuk pergi.
"Kalian mau ke mana?" tanya Bibi Dora sedikit berteriak, menghentikan langkah mereka di depan pintu.
"Kita akan pergi keluar Bi," jawab Edzar dengan cuek.
"Pergi? Lalu apa Bibi dan sepupumu tidak di ajak?" tanya Bi Dora merasa kesal.
"Kalau Bibi mau, pergi lah bersama Pak Arvan. Aku akan pergi dengan mereka," ucap Edzar dengan santai, kemudian berlalu begitu saja.
Dora mencebikkan bibirnya, sambil melipat kedua tangan di dada. "Dasar! Keponakan tidak tahu sopan santun! Kepada Bibinya sendiri dia berlaku seperti itu," gerutu Dora. Karena sudah hampir satu minggu mereka tinggal di sini, tapi Edzar seolah tak menganggap kehadirannya.
"Enggak Edzar, enggak Meghan, mereka semua sama! ... Sama-sama menyebalkan!" gerutunya sambil mengentakkan kaki ke lantai.
***
Sky menyewa sebuah ruang makan privat, di restoran bintang lima. Ia sengaja menyewa dua meja di ruangan itu. Tapi ternyata Edzar malah menyuruhnya untuk makan satu meja dengannya nanti.
Ini, untuk kedua kalinya Clara bisa makan di restoran privat seperti itu. Jika dulu ia di ajak oleh Brayen, saat Brayen berencana untuk menyatakan perasaannya pada Clara. Maka kali ini, ia di ajak oleh suaminya sendiri.
"Wah... bagus sekali, pemandangan di sini jauh lebih indah dari pemandangan restoran yang dulu," gumam Clara melihat keluar jendela, mengamati suasana malam indah yang penuh dengan gemerlap cahaya lampu gedung dan kendaraan di kota Los Angeles.
Edzar yang mendengar gumaman istrinya itu, membuat ia penasaran. "Memangnya kau pernah makan di restoran privat seperti ini?" tanya Edzar yang mulai mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
Clara sejenak menoleh. "Pernah ... sama kak Brayen dan kak Gerald, tapi tempatnya memang lebih indah yang ini sih," jawabnya dengan jujur, sambil terus mengamati gemerlapnya langit malam.
"Brayen? Dia yang memanggilmu dengan sebutan rubah kecil itu?" tanya Edzar lagi, mulai kepo.
Sky yang mengerti akan sikap dari Tuannya itu, ia hanya menahan senyum dengan melipatkan bibirnya ke dalam.
"Tak kusangka ternyata Tuan Muda bisa kepo seperti itu juga," batin Sky yang masih berdiri menunggu pelayan membawakan makanan.
__ADS_1
"Hm... benar," jawab Clara dengan jujur.
"Memang apa hubungan kamu sama dia?" tanya Edzar lagi sedikit menyelidik.
"Ya ampun, Tuan, ternyata ada seingin tahu itu, padahal biasanya bodo amat dengan hubungan orang lain, haha Anda benar-benar lucu ternyata," batin Sky. Masih setia mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Aku dan dia ... tentu saja berteman, tak mungkin bermusuhan," jawab Clara sompral. Namun, keadaan tiba-tiba hening.
"Ya ampun, apa yang aku katakan barusan." Ia melirik sedikit ke arah Edzar yang sudah melayangkan tatapan dingin padanya. "Benar saja."
"Ya ampun Clara, kenapa kau tak bisa menjaga mulutmu ini sih!" gumam Clara sambil membulatkan kedua matanya. Ia menepuk-nepuk bibirnya dengan gereget.
Ia berpikir, kalau sekarang pasti suaminya itu tengah membuka matanya, melotot lebar-lebar ke arahnya, karena ia tahu, ia sudah berbicara sembarangan. Dan perlahan Clara pun Berbalik, menghadap lurus ke arah Edzar sambil sedikit memejamkan matanya karena takut.
Namun, ternyata itu jauh di luar dugaannya. Edzar malah terlihat sedang tersenyum-senyum sendiri tak karuan.
"Apa? Kenapa dia tersenyum? Oh ya Tuhan, apa kata-kataku tadi begitu salah, sampai bibirnya yang terbiasa diam kaku jadi tiba-tiba tersenyum mengembang seperti itu? Ampuni aku Tuhan...." batin Clara.
Sedangkan Sky, ia tak bisa lagi menyangkal, kalau Tuannya itu, sepertinya sudah mulai menyukai Nona Mudanya itu. "Ah... kenapa Anda bisa berekspresi seperti itu? Apa harus seterang itu, menunjukkan perasaan Anda Tuan," batin Sky, sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, tiga orang pelayan mengetuk pintu ruangan, Sky dengan cepat membukakan pintu itu, dan mempersilakan mereka untuk masuk.
Setelah makanan tersaji semua di atas meja makan, Edzar menyuruh Sky untuk makan satu meja dengannya. Sky pun menurutinya meskipun sedikit canggung dan tak enak hati.
Sky memakan spageti seafood tiram, Edzar spageti barbaque, dan Clara ia menyantap makaroni barbaque dengan lada hitam kesukaannya.
Di tengah-tengah aktivitas makannya, Clara menahan senyumnya saat melihat Sky yang makan dengan menyisakan noda di bagian pipinya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Edzar kepada Clara dengan sinis.
"Tidak, aku hanya merasa lucu saja melihat sekretarismu makan seperti anak kecil, sampai menyisakan noda di wajahnya," ujar Clara terkekeh.
Edzar mengerutkan dahinya. "Apa? Lucu? Apa dia sedari tadi memperhatikan Sky?" gumam Edzar dalam hati, tiba-tiba merasa kesal.
Sky dengan cepat mencoba menghapus noda itu dengan ibu jarinya. Namun, tidak kena.
"Bukan di situ, tapi di sini." Clara menunjukkan contoh letak noda itu di wajahnya sendiri.
Sky mengikuti arahan Clara, mencoba menghapusnya tapi tetap saja, tidak kena.
"Apa!" Edzar semakin menautkan kedua alisnya merasa kesal. "Apa harus sampai seperti itu dia memperhatikan sekretarisku!" batin Edzar menatap tajam ke arah Sky.
__ADS_1
Sky yang mendapat tatapan tak mengenakan dari Tuannya itu, ia dengan cepat hendak mengambil tisu yang berada di tengah meja. Namun, dengan bersamaan, tangan Sky dan tangan Clara sama-sama beradu hendak mengambil tisu itu.
"Apa! Beraninya sekali tangan mereka saling bersentuhan!" Edzar mencengkeram erat sendok dan garpu yang sudah berdiri tegak di genggaman kedua tangannya. Matanya semakin menyorot tajam ke arah tangan Edzar dan Clara yang bersentuhan.
Sky pun dengan cepat menjauhkan tangannya dari Clara.
"Hey, Nona apa yang akan Anda lakukan?" gumam Sky dalam hati, saat melihat Clara mulai mendekatkan tisu yang berhasil di ambilnya itu ke wajah Sky.
Clara semakin membungkuk, memanjangkan tangannya hendak menjangkau wajah Sky.
Pelan, dan hampir sampai. Namun, melihat reaksi itu dari nona mudanya, Sky yang seharusnya segera menghindar, tubuhnya malah terasa begitu kaku saking nervousnya.
"No-nona, aku bisa sendiri," jawab Sky, saat tangan Clara hampir menyentuh wajahnya.
"Ya sudah, ambillah!" Clara memberikan dua lembar tisu itu kepada Sky. Sky dengan cepat menyambarnya. Lalu ia menggosokkan tisu itu di seluruh wajahnya dengan kasar. Hatinya begitu terasa tak karuan, jantungnya berdetak semakin kencang, seluruh tubuhnya bahkan menjadi bergetar.
Dan hal yang paling ia takuti adalah ketika mendapatkan tatapan tajam dari Tuannya itu. Dan benar saja, saat ia selesai menghapus wajahnya dengan tisu itu, ada sepasang mata elang yang tengah menatapnya dengan tatapan begitu tajam seolah ingin membunuhnya.
"Apa ini? ... Tatapan macam apa ini?" batin Sky ketakutan melihat sorot netra Edzar. "Ya, Tuhan bantulah aku ...."
"A-a-anu ... Tuan, Nona, saya izin ke toilet dulu," ujar Sky dengan cepat pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dan jantung yang berdebar-debar.
"Argh... matilah aku kalau nona muda itu masih saja bersikap sembarangan seperti ini padaku, di hadapan Tuan Muda," gumamnya sambil berjalan menuju toilet, dengan keringat dingin yang sudah membasahi seluruh permukaan dahinya.
Sementara itu, Clara yang sempat menoleh melihat kepergian Sky. Kini ia hendak kembali fokus ke arah piring makanannya. Namun, sepertinya ada sedikit aura yang berbeda dari lelaki yang berada di dekatnya.
Clara masih menunduk melihat piringnya, ekor matanya pun mulai ia gerakkan untuk mengintip ke arah sampingnya, memastikan keadaan suaminya.
Satu ... dua ... tiga. Dan hal mengejutkan pun terjadi.
.
.
.
Bersambung...
hehe jangan lupa like, komennya ya gaes, lanju gak nih?
Hayo tebak, kira-kira apa yang akan terjadi kepada mereka berdua?
__ADS_1