
Sore harinya setelah pulang bekerja, seperti biasa Edzar akan mandi terlebih dahulu dan memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Clara. Hubungan di antara keduanya sebenarnya masih terasa begitu canggung, terlebih Clara yang kini merasa takut terhadap Edzar. Ia takut kalau Edzar akan melakukan hal yang sama dengan kejadian kemarin sore, bahkan Clara lebih takut lagi jika Edzar melakukan hal yang lebih dari itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Edzar saat melihat Clara sedang berdiri di depan cermin sambil mematikan ponselnya.
Clara yang sedikit terkejut akan kehadiran Edzar yang sudah ada di belakangnya, ia pun menoleh ke arah Edzar.
“Hah? I-ini, aku hanya mematikan ponselku saja,” ucap Clara gugup.
Edzar melemparkan handuk yang baru saja ia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah, itu ke sembarang arah. “Kenapa dimatikan?” tanya Edzar menatap tajam sambil mendekat.
“Hah? Emh... tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin memainkannya saja,” ucap Clara memberi alasan.
“Apa yang kamu lakukan dengan ponsel itu seharian ini?” tanya Edzar kian memajukan langkahnya mendekati Clara.
“Untuk apa dia bertanya seperti itu?” gumam Clara dalam hati, dengan jantung yang sudah berdebar kencang tak karuan, melihat tatapan mematikan dari Edzar.
“A-aku hanya bermain facebook dan instagram saja, dan berkirim pesan dengan beberapa temanku,” jawab Clara.
“Benarkah?” tanya Edzar sambil mengangkat dagu Clara dengan telunjuknya. Clara mengangguk pelan, dengan wajah polosnya yang kian terlihat jelas di mata Edzar.
“Kau mengirim pesan kepada teman-temanmu, tapi tidak kepadaku,” ucap Edzar sambil mendekatkan wajahnya.
Clara semakin merasa gugup. “Lagi pula untuk apa aku mengirim pesan kepadamu. Jangankan mengirim pesan, hanya sekedar melirik nomormu pun aku tak kepikiran,” gumam Clara dalam hati.
“Ma-maafkan aku Suamiku, t-tapi aku bingung harus mengirim pesan apa padamu,” ucap Clara beralasan.
__ADS_1
Edzar menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “Kau tahu, untuk apa aku memberikan ponsel itu kepadamu?” tanya Edzar, Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Edzar berdecak pelan, masih dengan seringainya yang tidak lepas dari bibirnya. “Kau seharusnya sudah mengerti akan maksudku memberikan ponsel itu padamu, Clara. Dan apa kau tahu? Seharian kau bahkan tak mengirimkan pesan apa pun kepadaku, dan kau tahu? Itu adalah sebuah kesalahan ... maka, jika kau melakukan kesalahan kau tahu akibatnya bukan?” tanya Edzar meyeringai penuh maksud.
“Apa? Tak mengirim pesan adalah sebuah kesalahan? Aku sendiri pun bahkan tak tahu, untuk apa aku mengirimi dia pesan. Dan apa dia akan menghukumku? Oh tidak ya Tuhan... orang macam apa dia ini, memintaku untuk mengertikannya, tapi dia sendiri sama sekali tak memberi tahu alasannya,” batin Clara merasa kesal.
“Apa aku akan dihukum?” tanya Clara dengan lirih.
“Tentu.” Sorot mata Edzar kini sudah mengarah ke bibir merah berwarna cherry milik Clara.
“Tapi Suamiku, aku kan tidak tahu kalau mengirim pesan kepadamu adalah sebuah keharusan,” ucap Clara hendak menyangkal.
“Lalu... apa yang kau pikirkan sekarang? Apa itu termasuk sangkalan, agar aku tak menghukummu, atau itu termasuk ucapan, jika kau menyalahkan aku yang tak memberi tahumu terlebih dahulu hah?” tanya Edzar semakin menatap penuh damba ke arah bibir Clara.
“T-tidak, bukan seperti itu Suamiku, aku tidak menyalahkanmu,” ucap Clara ketakutan, karena lagi-lagi ia mendapati tatapan Edzar, yang sama persis dengan tatapannya kemarin sore.
Clara menunduk, tapi lagi-lagi Edzar menarik dagu istirnya itu.
“Maaf Suamiku, maafkan aku, aku tak bermaksu— emh,” Belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya, Edzar terlebih dahulu membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya.
Edzar benar-benar sudah kecanduan bibir manis Clara. Rasanya ia tak ingin meninggalkan kesempatan seperti ini. Bahkan sedari pagi, ia ingin sekali melakukannya kembali. Tapi, itu tidak memungkinkan. Dan dengan dalih Clara melakukan kesalahan, maka Edzar pun menjadikan kesalahan Clara sebagai alasan untuk menghukumnya.
Edzar menarik tengkuk kepala Clara, bahkan jari jemarinya menelisik masuk ke dalam helaian rambut Clara. Sebelah tangannya menarik pinggul Clara hingga tubuh mereka kini saling menempel satu sama Lain.
Edzar memberikan kecupan dan hisapan yang begitu lembut. Dan lagi-lagi tubuh Clara dapat menerima setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu, bahkan kini, Clara sudah tak kuasa untuk menahan hasrat dalam dirinya. Clara begitu pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Meski ada rasa takut, tapi ia benar-benar sangat menginginkannya pula.
__ADS_1
Perlahan Edzar menggiring tubuh Clara ke tempat tidur dan membaringkannya pelan, dengan tubuh Edzar yang mengungkung badan Clara. Pun dengan bibir mereka yang masih melekat satu sama lain tak saling melepaskan.
Clara sekarang sudah benar-benar diambang keresahan, karena tangan Edzar mulai bergerak aktif di bagian puncak dadanya. Bahkan tak terasa buliran bening keluar begitu saja, dari kedua sudut mata Clara. Membuat Edzar yang merasakan basah di pipinya, tak kuasa untuk melanjutkan pergulatan panasnya. Ia tak bisa jika melakukan hal ini saat melihat istrinya menangis, hati Edzar seolah tak rela, ia tahu ia tidak bisa memaksakan keinginannya jika Clara belum sanggup melayaninya.
“Sial, kenapa dia menangis,” batin Edzar merasa kesal, karena lagi-lagi ia harus menahan hasrat yang sudah bergejolak di dadanya itu.
Edzar melepaskan ciumannya, lalu dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari Clara, kemudian beranjak pergi meninggalkan Clara yang masih terbaring menyedihkan di atas tempat tidur.
Clara yang sejak tadi memejamkan matanya, ia pun perlahan membukanya tatkala merasakan pergerakan dari Edzar saat menjauhinya. Ia terdiam dengan ketakutan dan jantung yang berdebar kencang. Ia sadar, bahwa dirinya masih belum bisa memberikan hak sepenuhnya untuk Edzar.
“Argh... sialan! Ada apa denganku ini!” Edzar mengacak rambutnya begitu frustrasi. Ia benar-benar kesal, tapi entah kesal kepada siapa, yang pasti ini adalah pertama kalinya ia merasakan kekesalan yang begitu menyesakkan dada dan membuat otaknya seakan panas menahan emosi. Mungkin hal itu terjadi karena ada sesuatu hal yang benar-benar harus ia tahan dan tak bisa ia salurkan begitu saja.
“Aku tidak tahan lagi, aku tidak bisa!" teriaknya menggebrak meja di ruang kerjanya.
"Aku harus melakukannya,” gumamnya, dengan seringai tatapan membara penuh nafssu.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa dukungan votenya ya... komen juga di bawah, biar autor makin semangat nulisnya.
__ADS_1
Follow ig author @dela.delia25