Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Membantu Mengobati


__ADS_3

Malam harinya, Edzar sudah memasuki kamar. Clara dengan cepat menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya itu. Setelah selesai berganti baju, Edzar pun segera naik ke atas tempat tidur, berselonjor sambil menyandarkan punggungnya di bahu ranjang.


Sejenak Edzar melirik ke arah calra yang masih duduk di sudut ruangan di atas sofa. Ia menatap Clara yang ternyata sedang memperhatikannya juga.


"Kenapa dia melihatku seperti itu? Ada apa?" batin Edzar, curiga. Edzar semakin memperdalam tatapannya ke arah Clara. Namun, bukannya takut atau malu, Clara malah semakin menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hey kau, kenapa melihatku seperti itu hah?" ujar Edzar , tapi Clara tak menjawab.


"Ada apa dengan dia?" batinnya. "Hey, kenapa kau diam saja hah?" Namun, lagi-lagi Clara hanya menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Edzar mengerti.


Hening ....


Mereka berdua hanya saling memandang dari kejauhan. Karena merasa tak enak hati, Edzar pun mulai berprasangka pasti ada yang tidak beres dengan istrinya itu.


"Kenapa dia dari tadi diam saja? Apa dia sedang melamun? Atau dia sedang sakit, sampai menatap kosong seperti itu," batin Edzar.


"Clara," panggil Edzar pelan. Kedua mata Clara semakin membulat dengan sempurna, saat untuk pertama kalinya, ia mendengar Edzar memanggilnya dengan menyebut namanya secara langsung.


"Apa aku tidak salah dengar? Barusan dia memanggil namaku?" gumam Clara dalam hati.


"Clara... apa kau baik-baik saja?" tanya Edzar lagi. Membuat Clara semakin percaya, bahwa yang ia dengar itu benar, dan bukan salah.


"Kenapa dia dari tadi diam terus? Apa yang dia pikirkan? ... Apa dia sedang berencana untuk menyusul Gerald ke gunung?" batin Edzar menduga-duga.


"Kyaaaa!" Edzar berteriak sekencang mungkin, membuat Clara semakin terkejut dibuatnya. "Kenapa kau diam saja hah! Aku memanggilmu dari tadi!" seru Edzar dengan nada suara yang lobi tinggi dan keras.


Clara tersadar. "I-iya Tuan, eh... suamiku," jawab Clara sambil berdiri dari duduknya.


Edzar menatapnya tajam, ia bisa melihat bahwa ada yang tidak beres dengan istrinya itu. "Kau ini, kenapa sih hah, dari tadi diam saja?! Kau mau semalaman duduk di situ?"


Clara menggeleng pelan. "Tidak Tuan, eh... tidak Suamiku," jawab Clara pelan.


"Ya sudah kalau begitu, cepat naik ke mari, dan tidurlah."


Clara menganggukkan kepalanya, perlahan ia n merangkak naik ke atas tempat tidur.


Sebenarnya sedari tadi, Clara sibuk melamunkan sekaligus memikirkan kesehatan suaminya itu. Dan dari tadi pula, Clara ingin sekali menanyakan perihal alergi itu kepada Edzar.


"Apa aku harus menanyakannya? Tapi ...." pikir Clara masih menimbang-nimbang.


Mereka berdua duduk terdiam dengan pikiran masing-masing.


Edzar melirik-lirik Clara. "Aih... wanita ini, masih saja memperhatikanku."


Dan tiba-tiba, Edzar merubah posisinya, mendekati Clara. Ia mengungkung Clara dalam kedua tangannya yang ia tekankan di bahu ranjang. Membuat jarak tubuh di antara keduanya begitu dekat.


"Kenapa melihatku seperti itu hah? Apa yang kau pikirkan tentangku?" Sekarang Edzar berbicara tepat berada 10cm di depan wajah Clara.


Clara sedikit terkjeut dengan perlakuan suaminya saat ini. Tapi di sisi lain, dengan radius yang cukup dekat ini, Clara jadi bisa melihat dengan jelas, kesempurnaan di wajah suaminya, mata belo bermanik abu, bulu mata lentik dan alis yang neyripit, serta hidung mancung dan nafasnya yang wangi khas mint.


"Tu-Tuan." Clara tergagap sambil menahan nafas.


"Tuan?" Edzar mengulang panggilan Clara, sambil mengernyitkan matanya.


"Ma-maksudku, Suamiku, a-ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Clara begitu gugup. Rasanya ia sudah kehabisan nafas, karena harus terus menahan nafas jika posisi mereka masih terus dekat seperti ini. Karena Clara juga tak ingin berbagi oksigen yag sama dengan Edzar dalam jarak sedekat itu.

__ADS_1


Edzar semakin menautkan kedua alis hitamnya itu. "Apa?"


"T-tapi, bi-bisakah kamu lebih menjauh terlebih dahulu, aku kehabisan nafas," ucap Clara, sambil membuang nafas perlahan.


Edzar pun menjauhkan tubuhnya dari Clara, ia duduk bersampingan dengan Clara.


"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?"


Clara masih merasa ragu-ragu. Tapi jika tidak, ia akan merasa sangat bersalah.


"Ma-masalah alergimu itu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Clara tak berani menatap Edzar.


Edzar terdiam tak langsung menjawab. "Apa kau tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Dr. Edward?" tanyanya penuh selidik. Clara pun menganggukkan kepalanya pelan.


"T-tapi a-aku tidak sengaja mendengarnya," kilah Clara sebelum Edzar berburuk sangka padanya.


Edzar pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, masih diam tak menjawab pertanyaan yang sebelumnya Clara ajukan.


"Kenapa dia tidak menjawabnya? Apa dia marah ya, karena aku tahu soal alerginya itu," batinnya.


"Suamiku, apa kamu sudah mengobatinya?"


"Hm... aku sudah meminum obatnya tadi," jawab Edzar dingin.


Clara mengangguk pelan. "Apa salep yang diberikan dokter itu sudah kamu pakai?" tanya Clara lagi.


Kini Edzar berbalik, menoleh menatap lurus ke arah Clara. "Belum, kenapa memangnya?" Edzar menatap wajah Clara dengan tatapan penuh keheranan.


"Kalau begitu, bolehkah aku membantu mengoleskan salep itu di tubuhmu?" tawar Clara.


Lalu Edzar pun mengangguk pelan, kemudian menyuruh Clara untuk mengambil salep itu di ruang kerja. Clara pun menurut. Ia pun segera pergi ke ruang kerja Edzar dan mengambil salep alergi itu yang tergeletak di atas meja kerja. Lalu ia pun segera kembali ke kamar.


Namun, saat Clara masuk ke dalam kamar, ia begitu terkejut, karena sudah mendapati Edzar dalam keadaan tak memakai baju, hingga Clara dapat melihat dengan jelas bagaimana penampakan dari setengah badan suaminya itu, tubuh bersih yang begitu sispax dan perut yang menunjukkan roti sobeknya yang indah, serta baru kekar yang berotot itu semakin membuat Clara malu melihatnya, ia jadi membayangkan sekuat dan sekekar apa tubuh suaminya itu jika di raba.


"Astaga! Jangan berpikir yang aneh-aneh, Clara," gumamnya menyadarkan pikirannya sendiri yang tiba-tiba melanglang buana entah kemana.


"Ya ampun, kenapa dia harus melepas bajunya seperti itu sih, pikiranku 'kan jaid travelling kemana-mana,?" gumam Clara pelan, sambil menundukkan kepalanya.


Clara pun kembali merangkak menaiki tempat tidur. Matanya kini disuguhkan dengan benjolan-benjolan kecil, kemerahan, yang tersebar di beberapa titik punggung dan lengan suaminya itu.


"Ya ampun, apa harus sampai seperti ini? Hanya karena ingin menghiburku, dia harus menanggung alerginya yang parah begini," batin Clara merasa iba.


Clara pun menunjukkan salep yang sudah dibawanya. "Apa benar ini obatnya?" tanya Clara, Edzar pun mengiyakannya.


"Ya sudah, cepat kau olesi punggungku terlebih dahulu," ucap Edzar sambil merubah posisi duduknya membelakangi Clara.


Perlahan Clara pun membuka salep itu, dan mulai mengeluarkan isinya ke ujung telunjuk jarinya, dan mulai mengoleskannya di benjolan-benjolan merah itu.


"Suamiku," panggil Clara pelan.


"Hm."


"Maaf," ucapnya pelan.


Edzar mengerutkan dahinya merasa aneh. "Maaf untuk apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Maafkan aku sudah merepotkanmu, dan terima kasih sudah mencoba untuk menghiburku, meski pun akhirnya kamu harus menanggung alergi ini," ucap Clara merasa bersalah.


"Tidak perlu meminta maaf, lagi pula aku melakukannya hanya agar kau tidak terlalu sedih akan kepergian kakakmu itu," jawab Edzar.


"Hm... terima kasih kalau begitu," lanjut Clara.


Setelah selesai mengobati punggung Edzar, kini Clara menyuruh Edzar untuk berbalik menghadapnya, perlahan dan dengan teliti Clara mulai mengoleskan salep itu di beberapa titik lengan Edzar.


Edzar menatap Clara yang sedang sibuk mengobatinya. "Sepertinya, aku salah karena berniat membalaskan dendamku kepada Gerald dengan cara menikahinya. Jika aku perhatikan, wanita ini, terlalu polos dan baik. Seharusnya aku tak mengekangnya dengan begitu ketat. Apalagi sekarang Gerald sudah melakukan pertanggung jawaban. Seharusnya aku pun memperlakukan wanita ini dengan lebih baik," batin Edzar merasa kasihan melihat Clara. Entah angin apa yang bisa membuat pikiran Edzar jadi terbuka seperti itu.


Tangan Edzar kini memegang salah satu tangan Clara. Membuat Clara terperanjat dan sedikit terkejut akan perlakuan suaminya itu.


"Ada apa?" tanya Clara.


"Tidak apa-apa. Apa sudah selesai?" tanya Edzar pelan. Clara yang sedikit bingung, ia pun menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya sudah kalau begitu, tidurlah," ucap Edzar melepas tangan Clara kemudian ia kembali meraih atasan piyama miliknya dan memakainya kembali.


Clara hendak beranjak pergi untuk mematikan lampu kamar. Namun dengan cepat Edzar menahan lengannya.


"Kenapa?" tanya Clara bingung.


"Tak perlu mematikannya, kau bertepuk tangan tiga kali saja lampunya pasti akan padam," ucap Edzar.


"Apa?" Clara membulatkan kedua matanya.


"Iya, kau coba saja," ucap Edzar.


Dengan ragu, Clara pun mencobanya karena ia pun sedikit penasaran dengan apa yang diucapkan suaminya itu. Dan benar saja, saat ia bertepuk tangan tiga kali dengan cepat, lampu kamar tiba-tiba mati dengan sendirinya.


"Wah, kok bisa? ... Apa kamu sudah mengganti lampunya?" tanya Clara tak percaya.


"Tidak, memang sedari dulu seperti itu" jawab Edzar.


"Apa! ... Terus selama ini, kenapa kamu selalu menyuruhku untuk mematikan lampu lewat tombol yang ada di dekat pintu itu?" tanya Clara dengan polosnya sambil menunjuk ke arah stop kontak.


Edzar tersenyum miring. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin menyuruhmu saja," jawabnya dengan santai. Lalu Edzar pun segera merebahkan tubuhnya begtiu saja.


Clara berdecak kesal. "Ish dasar, menyebalkan! Kalau tahu segampang itu dari dulu, kenapa dia malah menyuruhku mematikan lampunya di sana! Dasar, senang sekali menyusahkan orang," gerutunya dalam hati, sambil mencebikkan bibir imutnya itu, ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Edzar, masih dengan jarak tidur yang saling berjauhan.


.


.


.


Bersambung....


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2