
Clara terbangun dari tidurnya, ia merasakan tubuhnya yang terasa begitu kaku dan sakit, apalagi di bagian bawah perutnya. Ada sesuatu yang terasa perih di sana. Ia pun baru menyadari kalau semalam dirinya habis bertempur dengan Edzar si lelaki tak behati itu.
“Tidak, tidak mungkin? Semalam itu pasti hanya mimpi ‘kan?” gumamnya khawatir, ia pun melirik ke arah Edzar, yang tidur menghadap ke arahnya. Tubuh suaminya juga ikut tertutup oleh selimut yang menyatu dengannya.
Dan saat Clara menggeserkan tubuhnya, ia merasakan ada sesutau yang melingkar di pinggangnya. "Apa ini?"
Clara memberanikan diri untuk membuka perlahan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher itu, dan betapa terkejutnya ia, saat mendapati tubuhnya yang polos begitu saja tanpa ada pakaian yang menutupi, terlebih tangan Edzar yang masih melingkar erat di atas pinggulnya.
Clara pun perlahan menjauhkan tangan Edzar, dari atas pinggulnya. Ia melakukannya dengan begitu hati-hati, bahkan perasaannya sudah berdebar tak karuan, da jantungnya yang sudah berdentum kencang, saking groginya. Ia benar-benar begitu tak menyangka, kalau kejadian semalam yang ia lalui bersama suaminya itu adalah nyata.
Clara pun segera bangun, ia menarik selimut tebal berwarna putih itu untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dan saat ia terbangun, otomatis selimut yang mereka pakai bersama untuk tidur itu, membuat tubuh Edzar yang sama-sama polos tak tertutup apa pun itu, jadi terlihat oleh kedua matanya.
Kedua bola matanya membulat sempurna. “Argh!” teriaknya refleks. Membuat Edzar langsung terbangun dari tidurnya. Dan saat Edzar menggeliatkan badannya, otomatis si juniornya pun ikut bangun, dan lagi-lagi hal itu membuat kedua mata Clara membulat sempurna.
Entah dosa apa yang sudah ia lakukan, kenapa Tuhan harus memberinya pemandangan seperti ini di pagi hari.
“Apa-apaan ini! Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan seperti ini!” gumamnya dalam hati, merasa shock.
Clara langsung berbalik masih dengan posisi berdirinya yang sama. Dan saat Edzar membuka matanya, ia sendiri juga terkejut akan tubuhnya yang tak tertutup oleh apapun.
“Clara!” serunya, membuat Clara terhentak ketakutan.
“Clara! Kenapa kau mengambil selimutnya?” tanya Edzar langsung menghampiri Clara, bahkan dalam keadaan tubuhnya yang telanjang bulat, tanpa malu sedikit pun.
Edzar merasa tidak begitu malu, karena ia merasa kalau kini di antara mereka berdua sudah tidak ada yang perlu saling ditutupi lagi, apalagi setelah pergulatan semalam.
Dan tanpa pikir panjang, Edzar langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Clara, lalu melemparkannya ke sembarang arah begitu saja. Clara buru-buru menutupi bagian area wanitanya dengan kedua telapak tangannya.
"Tu-Tuan, eh, Su-suamiku, kenapa kamu melempar selimutnya?" tanya Clara menunduk, membuang pandangannya dari tatapan penuh nafsu dari Edzar.
Wanita ini kembali merasakan gugup yang begitu dahsyat, entah apa, tapi sesuatu tiba-tiba terasa berdenyut seolah membangkitkan hormon di dalam tubuhnya. Clara mengapit kepemilikannya agar tidak berdenyut-denyut, tapi entah kenapa denyutan itu malah terasa semakin kencang, membuat perasaan Clara jadi begitu resah.
“Tidak perlu ditutupi, bukankah semalam kita sudah menikmati tubuh kita bersama?” bisik Edzar dengan suara seraknya yang khas dan menggoda jiwa, seolah ia sedang menginginkan kembali hal semalam yang sudah mereka lakukan.
Edzar semakin melangkah mendekat, lalu ia menarik pinggul Clara, membuat Clara yang tadinya membelakanginya, jadi berputar saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Tidak, dia pasti minta jatah lagi," batin Clara, menahan dadanya agar tidak menempel dengan dada Edzar.
“Tu-tuan, sa-saya mau mandi, Tuan,” ucap Clara begitu gugup.
“Kau bilang apa? ... Tuan?” Lagi-lagi telinga Edzar terasa sakit setiap kali ia mendengar panggilan Tuan dari mulut istrinya itu. Ia menajamkan kedua matanya menilik manik cokelat milik Clara yang terlihat ketakutan itu.
“Ma-maaf, ma-maksudku Su-suamiku, a-aku harus mandi, ini sudah siang, Suamiku,” lanjut Clara mencoba melepaskan diri dari pelukan Edzar. Namun, semakin Clara bergerak semakin terasa sesuatu yang kerasa menyentuh area paha Clara.
Burung itu seolah mematuh bagian pahanya, memberi kode kalau dia sudah bangun dan ingin masuk kembali ke kandangannya.
“Benarkah kau ingin mandi?" tanya Edzar. Clara mengangguk pelan.
Edzar menyeringai, menunggingkan sebelah sudah bibirnya menatap Clara penuh maksud.
Ia menarik nafas. "Hm, baiklah ... kalau begitu ayo, kita mandi bersama saja.” Edzar langsung menarik tubuh Clara , menggendongnya ke dalam pangkuan tangannya lalu membawanya ke kamar mandi, untuk melakukan ritual mandi bersama.
Clara sangat terkejut, melihat sikap romantis yang dilakukan oleh suaminya. Sepanjang jalan ke kamar mandi, wanita itu memberontak minta diturunkan tapi, lagi-lagi Edzar membungkam kecerewetan mulut istrinya itu dengan sebuah kecupan singkat di buah dada milik Clara.
Clara menunduk dalam, ia merasa begitu malu, karena kini mereka berdua sudah berada di dalam bathup yang sama. Aroma mawar menguar kuat dari bath bomb yang ikut tenggelam bersama mereka di dalam bathup penuh air itu. Cuaca dingin ikut menusuk pori-pori tubuh mereka. Namun rasa dingin itu terkalahkan oleh hawa panas yang muncul dari diri mereka masing-masing karena tubuh mereka yang masih terasa begitu bergairah.
“Kalau bisa bersama, kenapa harus sendiri?” tanyanya, mengangkat dagu Clara dengan telunjuknya.
“Malah masih bertanya lagi, sudah tahu juniornya itu menggangguku sedari tadi, apa dia tidak sadar, kalau juniornya itu berdiri lagi, bahkan terus tegak paripurna sejak tadi,” batin Clara megegerutu kesal.
“T-tidak apa-apa, hanya saja, a-aku 'kan terbiasa mandi sendiri, jadi—” Belum sempat Clara menyelesaikan perkataannya, Edzar terlebih dahulu memotongnya.
“Kalau begitu, mulai hari ini kita biasakan untuk mandi bersama saja,” ujarnya dengan enteng, membuat Clara sedikit terkejut mendengarnya.
"Dasar, lelaki ini ternyata begitu mesum, aku tidak menyangka, kalau gairahnya cukup tinggi dan sangat-sangat diluar dugaan sekali," batin Clara mengeluh di dalam hatinya.
Dan seperti dugaan Clara, lagi-lagi pria berdarah dingin itu, meminta jatahnya kembali. Clara ingin sekali menolaknya, karena alasan milik-nya masih terasa sakit dan perih, tapi tetap saja lelaki itu seperti sudah kecanduan, dan tetap memaksa Clara untuk melayaninya kembali.
Bahkan tangan jahilnya itu sudah tidak segan memainkan puncak piramida kesukaannya, dan sebelahnya lagi asyik memainkan lembah basah di dalam air bathup sana.
“Pelan-pelan saja Clara, kali ini tidak akan sesakit semalam kok, percayalah,” bujuknya kepada Clara dengan suaranya yang berat menahan keinginannya.
__ADS_1
Clara menatapnya bingung, ia tak bisa berkata-kata kecuali mendengus pelan, apalagi tangan-tangan Edzar yang sudah membangkitkan gairah Clara.
Wanita itu akhirnya hanya bisa mengangguk, menerima nasib, dari pada ia harus dihukum yang lebih parah lagi karena membuat lelaki itu marah, mending ia lakukan sekarang saja, lagi pula Edzar sudah memancingnya dan membuatnya menjadi ingin melakukannya.
“Ba-baiklah,” jawabnya pasrah. Membuat pria bertubuh kekar itu kembali melancarkan aksinya di dalam bathup, dengan posisi Clara yang duduk di atas lahunannya.
***
Setelah melakukan pergumulan di dalam kamar mandi selama 1 jam, kini mereka pun sudah selesai membersihkan diri masing-masing, meskipun rasanya Leon tak ingin mengakhiri semua hal itu, tapi ia juga tak bisa terus-terusan meminta hal ini kepada Clara, karena ia tahu, Clara pasti sangat kesakitan, terlebih wanita itu, ternyata masih benar-benar perawan. Mengingat bercak merah semalam yang tersisa di atas tempat tidurnya. Meyakinkan Edzar, kalau Clara tak pernah terjamah oleh siapa pun.
Setelah selesai berpakaian, Edzar keluar dari kamarnya terlebih dahulu, lalu ia meminta Angel dan Elin, untuk membereskan kamarnya dan membantu Clara untuk berias.
"Bantu rias istriku agar tampil cantik!"
"Baik, Tuan."
Elin dan Angel pun masuk ke dalam kamar khusus Tuan dan Nonya-nya itu.
“Elin, kamu ingin merias Nonya Muda, atau membersihkan kamar?” tanya Angel untuk berbagi tugas.
“Aku membersihkan kamar saja deh,” jawabnya.
“Hm, baiklah kalau begitu aku akan pergi ke ruang wardrobe untuk merias Nonya Clara.” Angel pun pergi untuk menemui Clara.
Sementara Elin, pelayan berwajah manis itu kini tengah membersihkan tempat tidur, ia hendak mengganti sepreinya dengan seprei yang baru. Namun, kedua mata Elin tiba-tiba membulat sempurna, saat ia menilik dengan teliti bercak merah yang tesebar di beberapa titik di atas seprai putih tersebut.
“Ya Tuhan darah apa ini—?” Elin tak mampu berkata-kata, cukup pikirannya saja yang travelling, membayangkan sesuatu yang terjadi di atas ranjang sana. “Apa Nyonya dan Tuan semalam sudah ... ah aku tidak boleh berpikiran ke sana,” tukasnya menyadarkan diri.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Waduh, Elin, Elin, kaget ya Tuan Mudanya udah hem-heman sama si Nyonya Muda, haha.