Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Tidur di Bahuku


__ADS_3

Satu ... dua ... tiga.


Edzar tengah menatapnya dengan tatapan tajam, pun dengan tangan yang masih menggenggam erat garpu dan sendok yang ada di kepalan tangannya.


"Tu-tuan, kau baik-baik saja kan?" tanya Clara melebarkan senyumannya.


Entah kenapa Edzar merasa begitu kesal dan tak suka, saat melihat Clara lebih memperhatikan lelaki lain di hadapannya.


"Sudah melakukan kesalahan pun dia masih bisa tersenyum lebar seperti itu," gumam Edzar kesal.


Edzar pun kembali memakan spagetinya dengan begitu agresif. Ia ingin tahu, apa yang kan dilakukan Clara jika dirinya makan berlepotan seperti Sky tadi.


"Apa! Dia hanya asyik makan saja?" batin Edzar.


Ia pun semakin menjadi-jadi, memakan spageti itu dengan begitu rakus, bahkan saus spagetinya saja melebar di luar bibirnya.


Clara terlihat melipatkan bibirnya ke dalam, seolah sedang menahan tawa. Sambil sesekali melirik ke arah Edzar.


"Ehem...." Edzar berdehem begitu keras, saat dirinya selesai menghabiskan sepiring spageti favoritnya. Berharap Clara akan membantunya untuk membersihkan noda di bibirnya. Atau setidaknya memberikan ia lembaran tisu.


Dan benar saja, tangan Clara kini sedang menjangkau kotak tisu. Edzar sudah dengan pede-nya mempersiapkan diri, sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Clara. Tapi ternyata, kenyataan tak seindah harapan.


"Tuan, tisunya, Tuan." Clara mengangsurkan kotak tisu itu kepada Edzar.


Dengan perasaan yang sedikit malu, karena sudah berharap lebih. Edzar pun mengambil lembaran dari kotak tisu itu dengan kasar, lalu segera membersihkan noda di bibirnya.


"Dasar! Sama sekali tidak peka!" batin Edzar begitu kesal.


Tanpa berlama-lama, Edzar pun segera berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan dengan wajah yang di tekuk.


"Kenapa dia?" gumam Clara saat Edzar keluar begitu saja, tanpa ada sepatah kata pun yang diucapkannya. Dan dengan cepat Clara pun segera menyusul suaminya itu.


"Tuan, Anda mau ke mana, Tuan?" tanya Clara yang berjalan cepat di belakang Edzar.


"Pulang!" seru Edzar, sesaat sebelum ia mematikan panggilan via ponsel dengan Sky.


"Apa? secepat ini harus pulang? Padahal aku kan belum menghabiskan makananku," gumam Clara dalam hati, sambil mengikuti langkah Edzar satu meter di belakang, hendak menuju lobby.


Kini mereka semua pun sudah berada di dalam mobil, di perjalanan. Suasana di antara mereka bertiga, benar-benar begitu sepi dan terasa canggung.


Terlebih Sky, sekretaris itu masih merasa bahwa Tuannya sedang marah kepada dirinya. Sky dapat melihat kemarahan yang mendalam di wajah Edzar. Amarh yang sedang ditahan.


"Bagaimana ini? Apa aku akan terkena hukuman lagi, gara-gara Nona Muda yang tak bisa mengontrol dirinya itu?" gumam Sky dalam hati.

__ADS_1


Sky pun mulai membuka suara, ia menawarkan kepada Edzar jika ingin pergi ke suatu tempat lain yang ingin dikunjunginya.


Tapi dengan tegas Edzar menolak. "Tidak! Langsung pulang saja!"


Sky begitu tersentak mendengarnya, bahkan kedua tangannya pun mulai terasa bergetar. "B-baiklah Tuan." Sky pun semakin tak enak hati, ketika mendengar suara Edzar yang tidak seramah biasanya.


Perjalanan dari restoran tadi menuju rumah memang cukup lama. Mungkin harus menempuh jarak sekitar 30menit perjalanan, kalau lancar.


Clara yang merasa jenuh, ia pun sudah berkali-kali menguap, menahan rasa kantuk yang sudah melanda di kedua matanya.


Berkali-kali kepala Clara merunduk ke depan, lalu dengan cepat ia memposisikan tubuh dan kepalanya itu dengan benar.


"Hoam... aku benar-benar mengantuk," gumam Clara dalam hati, saat dirinya menguap untuk yang ke sekian kalinya.


Edzar sesekali melirik ke arah Clara, ia melihat istrinya yang sedang berusaha melawan kantuk. Namun, karena rasa kesalnya, ia pun tak ingin bersimpati padanya untuk memberikan istrinya itu izin tidur.


"Rasakan! Kau kira, menahan kantuk itu enak apa!" gumam Edzar dalam hati, sambil mencibir.


Semakin lama, semakin Clara tak bisa menahan kantuknya. Bahkan kepalanya sempat terbentur dengan kaca jendela mobil di sampingnya itu. Tentunya hal itu membuat Clara tersadar, tapi tetap saja ia kembali mengantuk.


Edzar merasa semakin tidak tega, melihat kepala Clara yang sudah terkulai ke segala arah demi menahan kantuk.


"Tidurlah, kalau kau mengantuk," ucap Edzar begitu dingin. Namun, sebelum Clara menyahut, kepala Clara kini sudah bersandar di bahu Edzar.


Entah kenapa, tetapi ada sedikit perasaan senang di hatinya, saat istrinya itu bersender padanya.


Edzar pun melipatkan bibirnya ke dalam, menahan senyum sambil membuang wajah ke samping jendela mobil. Ia menekankan kepalan tangannya, di sebelah sudut bibirnya, untuk menutupi, kilasan senyum yang terkembang di wajahnya.


Sky yang memperhatikan Edzar dari kaca spion dalam mobil, ia sedikit dikejutkan, dengan senyuman yang terkembang di wajah Tuannya itu.


"Apa? ... Apa tadi Tuan Muda tersenyum selebar itu?" batin Sky, begitu tak percaya, karena sudah begitu lama, Edzar tak pernah tersenyum semanis dan selebar itu, kecuali kalau di hadapan adiknya, Ralline.


"Apa benar, Tuan Muda tersenyum karena Nona Clara?" pikir Sky.


Perlahan Edzar pun mulai membenarkan kepala Clara, agar lebih nyaman bersender di bahunya itu, tapi ... kejadian tak di sangka pun semakin menjadi.


Clara secara tidak sadar, mengaitkan lengannya dengan lengan Edzar. Membuat Edzar membulatkan kedua matanya merasa tak percaya.


Setelah sekian lama, tak ada satu pun wanita yang mampu menggait Edzar, kini Clara, si gadis ceroboh itu, bahkan dengan tidak sadar, sudah melakukannya.


Hati dan jantung Edzar berdetak begitu kencang, lagi-lagi senyuman manis itu terkembang di wajahnya. "Apa ini? Kenapa kau merasakan hal aneh seperti ini?" gumam Edzar dalam hati sambil menahan senyum malu.


Sky yang melihat hal itu, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Benar ternyata, sudah kusangka, wanita ceroboh seperti dia, pasti bisa memenangkan hati Tuan Arogan seperti Tuanku ini," batin Sky.


Kini mereka pun sudah sampai di depan halaman rumah. Sky membukakan pintu mobil untuk Edzar.


Edzar pun keluar dari mobil sambil membawa tubuh Clara dalam pangkuan tangannya.


Amel dan Elin yang berada di ruang TV, mereka berdua seolah tak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat.


"Daebak!!! Adegan romantis apa lagi ini!" pekik Agnes ternganga, sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar itu dengan kedua tangannya.


"Dasar, dia benar-benar wanita penggoda!" gerutu Amel menekuk wajah, sambil berdiri dari duduknya.


"Kenapa kalian ini?" tanya Dora, yang baru saja kembali dari ruang makan.


"Mama, lihatlah gadis penggoda itu digendong Kak Edzar," gerutu Amel tak terima.


Dora pun ikut terkejut saat melihat Edzar yang tengah memangku Clara, berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Wanita itu, kalau dibiarkan lama-lama, dia bisa menguasai Edzar juga," batin Dora, menatap punggung Edzar yang kian menjauh dari pandangannya.


Edzar membawa Clara ke dalam kamar, dengan keadaan kamar yang masih gelap gulita, karena tadi lampunya sempat Clara matikan, saat mereka hendak pergi keluar.


Dengan berjalan pelan dan hati-hati, Edzar mulai membaringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur.


Clara sedikit membuka matanya, karena merasa tubuhnya sedari tadi ada yang memangku, dan karena ia merasakan sedang ada orang yang membaringkan tubuhnya. Clara pun semakin membuka matanya.


Ia begitu terkejut saat ia membuka matanya lebar-lebar, ternyata keadaannya sangatlah gelap gulita. Di tambah, seperti ada seseorang yang sedang mengungkung tubuhnya.


Dan dengan refleks, Clara pun ....


 


 


Bersambung.


Jangan lupa dukungan star, gift dan reviewnya ya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2