
Edzar mengajak Clara ke sebuah kamar, yang sempat tadi Edzar datangi, ke mana lagi kalau bukan kamar yang ditempati Gerald.
"Kakak!" pekik Clara saat melihat Gerald tengah duduk di tepi ranjang sambil memijit kakinya yang masih terasa sakit.
"Clara," ucap Gerald begitu senang melihat kedatangan adiknya itu.
"Kakak kau baik-baik saja kan Kak?" tanya Clara sambil membenamkan tubuhnya dalam pelukan Gerald.
Gerald tersenyum sambil mengusap pelan punggung adik kesayangannya itu. "Iya, Kakak baik-baik saja."
Edzar mencibir, ia merasa jengah melihat keharmonisan dua saudara itu, ia pun tak segan menginterupsi pembicaraan mereka.
"Hey Gerald, kau sudah tahu bukan maksud dan tujuanku kemari membawa adikmu ini?" tanya Edzar, "kau tahu, adikmu baru saja sudah membuat kesalahan lagi, padahal ini masih pagi, belum 24jam adikmu itu sudah membuat dua kali pelanggaran!" sambungnya.
“Apa? Pelanggaran lagi? T-tapi apa?” Clara bertanya pada Edzar dengan wajah yang penuh kebingungan.
“Sudah salah, tidak sadar pula! Kau ingin kakakmu itu dihukum tiga kali lipat?” Edzar memandangnya rendah.
__ADS_1
"Kakak, maafkan aku ...." Clara memasang wajah penuh penyesalan. “Apa ... tadi dia menghukumu?” tanya Clara menatap sendu.
Gerald mengembangkan senyumannya. "Tidak, kau tidak perlu mencemaskanku, Clara," jawab Gerald berbohong, sambil mengelus pelan puncak kepala gadis menggemaskan itu.
Kini kedua manik Gerald beralih fokus ke arah Edzar.
"Edzar, bersabarlah sedikit terhadap adikku, aku tahu, kau pasti memberinya begitu banyak peraturan yang mesti dia hafalkan. Ini belum satu hari, dan wajar saja kalau adikku masih melakukan kesalahan yang tak diketahuinya," protes Gerald kepada Edzar.
Edzar hanya menepiskan senyum sinis di bibirnya, sambil membuang muka ke sembarang arah. "Haha, bersabar? Kalian kira kalian ini siapa hah? Berani-beraninya menyuruhku untuk bersabar."
Edzar kembali mengeluarkan remote kecil dari saku celananya. "Lihat benda ini ... kalau adikmu hari ini sampai melakukan kesalahan yang ke tiga kali, sudah ku pastikan, sebelah kakimu besok tidak akan bisa bergerak!" ancam Edzar begitu kasar.
"Tadi pagi? ... Apa kau tadi menghukum Kakakku?" tanya Clara berdiri menatap tajam ke arah Edzar.
"Jelas, aku tidak akan segan untuk menghukum kakakmu itu jika kau melakukan kesalahan!"
"Kau!" Clara mengepalkan tangannya dengan erat, gigi gerahamnya pun kiat mengerat menahan amarah di dadanya.
__ADS_1
"Clara sudahlah, Kakak tidak apa-apa. Duduklah!" pinta Gerald.
“T-tapi, Kak, dia sudah menyakiti, Kakak! Kakak juga, kenapa tidak jujur? Kenapa tidak bilang kalau dia sudah menyakiti kaki, Kakak?!” Suara Clara kian meninggi.
“Sudah, sudah ... jangan memperpanjang masalah lagi, sebaiknya kamu menurut saja padanya, Clara,” pinta Gerald dengan lembut.
Meski masih kesal akan perlakuan Edzar yang ternyata tidak main-main. Hal itu menyadarkan Clara, bahwa Edzar memang lelaki kejam yang tak berhati nurani. Di dalam hatinya semakin menguar kuat rasa kebencian kepada lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Edzar berdecak kesal. "Sudahlah, kau seharian temani saja Kakakmu yang malang itu di sini. Dan kau Gerald, lebih tegaslah kepada adikmu, ajari dia tentang sopan santun pada suami! Agar dia bisa patuh dan menuruti perintahku!" Edzar pun berlalu meninggalkan Gerald dan Clara begitu saja di ruangan tersebut.
"Dasar, pria tidak berhati!" umpat Clara melirik sinis kepergian Edzar.
Dan ternyata, nasib sial tidak hanya menimpa Gerald pagi ini, akan tetapi Geriel dan si manusia robot pun sama mendapatkan sial, akibat ulah Clara pagi ini. Sky si sekretaris setia itu, dia juga mendapat hukuman dari Edzar, karena sudah berani menyentuh Clara dan berdekatan dengan jarak yang tidak normal.
Sky di suruh oleh Edzar untuk menyusun buku di perpustakaan tadi sesuai abjad judul.
Rak yang awalnya tersusun sesuai gendre, kini harus ia ubah sesuai dengan perintah atasannya itu. Sungguh, pekerjaan ini adalah pekerjaan paling melelahkan, karena selain merombak sususan buku, ini sama halnya ia di suruh untuk membuat perpustakaan baru dengan tanpa bantuan siapa pun, dan hanya Sky sendiri.
__ADS_1
"Huh, benar-benar sial, masih pagi begini sudah ketiban masalah gara-gara nona muda menyebalkan itu," gerutu Sky sambil sibuk merapikan buku, menyusun satu persatu sesuai abjad. "Harus sampai kapan aku menyelesaikan semua ini," keluhnya. Memandang tumpukan buku yang masih acak-acakan.
Bersambung...