
"Apa? Aku harus memakai baju ini?" gumam Clara dalam hati. "Ah... menyebalkan sekali. Mana tadi, aku menertawakan sekretaris Sky dengan keras lagi," batin Clara merasa enggan untuk memakai baju kodok itu.
"Lihat saja kau nona, aku memastikan kau akan lebih aneh dari pada aku, saat memakai baju itu," gumam Sky dari kejauhan.
Setelah itu, Clara dan Edzar pun pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Clara kembali lebih awal dan menghampiri Sky yang sedang sibuk menyusun beberapa vas bunga yang ada di sana.
Sky sedikit terkejut saat mengetahui Clara yang sudah berubah penampilan. Baju kodok berwarna orange menyala yang sedikit kedodoran di tubuhnya itu, membuat Clara terlihat seperti orang-orangan sawah.
Sky menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pipinya langsung menggembung dan tiba-tiba ia tertawa begitu keras. Sky benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, saat melihat penampilan Nona Mudanya itu yang membuat perutnya terasa dikocok geli.
"Kenapa kau malah menertawakanku hah! Kau ingin balas dendam ya!" gerutu Clara sambil berkacak pinggang, menatap Sky yang tengah terpingkal pingkal dengan tatapan tajam dan bibir yang mengerut kesal.
"Berhenti menertawakan aku, seretaris Sky!" teriak Clara. Namun, bukannya malah berhenti, Sky semakin tak bisa mengontrol tawanya itu, hingga matanya berair.
"Dasar! Sekretaris menyebalkan!" Clara memukul lengan Sky menggunakan gayung plastik untuk menyiram tanaman, yang ada di dekatnya.
Gayung plastik itu ia pukulkan sekeras mungkin. Sky menyilangkan lengannya untuk melindungi diri dari hantaman gayung milik Clara.
"Dasar menyebalkan, uh rasakan ini!" gerutu Clara. Sky mulai menyurutkan tawanya, karena ia tahu, ia sudah keluar dari batasannya, yang seharusnya tetap bersikap dingin dan tidak menertawakan nona mudanya sekencang itu.
"Sudah-sudah Nona, maafkan saya. Saya tidak akan menertawakan Anda lagi, Nona," ucap Sky yang masih terkekeh.
"Rasakan ini! Rasakan!" Clara masih memukulkan gayung itu ke punggung Sky. Namun, pukulan itu sama sekali tak membuat Sky kesakitan sedikit pun.
Tiba-tiba ....
"Sky!" gelegar suara Edzar terdengar jelas, memekik di telinga Sky dan Clara.
"Dasar sekretaris tidak tahu diri, berani-beraninya dia bercanda dengan istriku seperti itu," batin Edzar merasa kesal.
"Hah Tu-Tuan?" Sky dan Clara masing-masing menjauhkan tubuhnya, menjaga jarak. Terlihat raut wajah kepanikan di antara keduanya.
"Ya ampun... mati aku, lama-lama kalau tidak bisa mengontrol Nona Muda ini," batin Sky. Ia sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersiap untuk terkena semprotan kekesalan dari Edzar.
Ia sudah menyiapkan diri, untuk melakukan apa pun yang diperintahkan Edzar. Karena memang seperti itu, jika tuannya tengah marah kepadanya, maka Edzar akan menyuruhnya melakukan hal-hal di luar nalar.
"Apa yang kalian lakukan hah!" tanya Edzar penuh amarah.
Clara dan Sky masih diam menunduk, tak berani melihat ke arah Edzar.
"Kenapa menunduk? Lihat aku!" seru Edzar semakin kesal.
Perlahan Clara dan Sky pun sama-sama menegakkan kepala mereka. Dan rasa ingin tertawa pun semakin kian menjadi, saat melihat penampilan Edzar yang tak kalah buruk dari mereka.
Kaos dalam berwarna biru, baju kodok berwarna orange menyala yang begitu ketat, melekat di tubuh kekar milik Edzar, serta sepatu boots berwarna merah merona itu membuat Edzar benar-benar seperti badut raksasa, yang memakai baju kekecilan.
Kedua bahu Clara bergetar naik turun, ia sebisa mungkin menahan tawanya, agar tidak memecah. Namun, benteng pertahanannya ternyata tidak kuat. Dan "Ah ha ha ha ha ha ha." Clara tertawa terpingkal pingkal.
Edzar terheran-heran melihatnya. Sky sebisa mungkin untuk menahan tawanya pula, ia benar-benar tidak berani jika harus menertawakan bosnya sendiri.
"Kenapa kau tertawa hah?" seru Edzar kepada Clara.
Sky kembali menundukkan kepalanya, bahunya sudah bergetar naik turun, menahan tawa yang begitu menggelitik di dadanya.
"Hah? T-tidak Su-suamiku ha ha." Lagi-lagi Clara tertawa terbahak melihat penampilan Edzar.
__ADS_1
Dan puk ... sebelah tangan Clara menepuk bahu Sky. "Sky, lihatlah Tuanmu itu, ternyata dia tidak jauh lebih lucu dari kita ha ha ha."
"Apa? Lucu?" tanya Edzar bingung.
Sky pun jadi ikut tertawa lepas, tapi dengan cepat ia membungkam mulutnya kembali. Ia tahu, kalau ia sampai menertawakan Tuannya itu, itu sama saja, menyerahkan diri kepada Algojo untuk di penggal.
"Maafkan saya Tuan. Maaf," ucap Al, sadar karena telah menertawakan Edzar.
Tiba-tiba, Dora datang menghampiri mereka. "Aduh... ada apa ini, kok rame sekali?" tanyanya, sambil melirik ke arah Clara yang sedang mengontrol diri menahan tawa.
Dora pun mengalihkan pandangannya ke arah Edzar, yang mematung di dekat pohon jambu yang ada di sana. "Ya ampun Edzar! Pakaian apa yang kau gunakan itu?" pekik Dora, merasa ilfiel melihatnya.
"Memangnya kenapa, Bi?"
"Kau tidak sadar? Pakaianmu yang seperti ini sudah seperti orang-orangan sawah, badan besar dan tinggi, pakai baju ketat kayak begitu duh, memalukan sekali!" protesnya.
"Memangnya kenapa kalau aku pakai baju ketat seperti ini?"
"Kenapa? ... Ya masa seorang miliarder sepertimu, pakaiannya harus seperti ini, norak!"
"Terus aku harus pakai apa?"
"Ya kau harus pakai jas lah, kemeja yang rapi, sepatu yang elegan. Bukan baju orang-orangan sawah seperti ini!"
Edzar menautkan kedua alisnya. "Bibi ini aneh sekali! Masa aku mau menanam bunga harus pakai jas formal," protes Edzar.
Dora membeliakkan matanya. "Apa! Menanam bunga?" pekik Dora tak menyangka. "Sejak kapan kau suka bercocok tanam hah? Bukankah kau alergi dengan kotor?" tanya Dora membulatkan matanya begitu penuh.
Edzar berdecak kesla, ia seakan tak suka dengan apa yang diucapkan oleh Bibinya itu di hadapan Clara.
"Bibi yang alergi! Kalau aku tidak!" ujarnya kemudian Edzar pun segera mengambil ember dan bunga yang akan di tanam.
Dora pun menggelengkan kepalanya, melihat sikap Edzar. "Dasar, sudah tahu dari kecil alergi kotor, masih ingin main kotor-kotoran," gumam Dora kemudian berlalu meninggalkan mereka semua.
Sementara itu, dari atas balkon belakang, Agnes dan Amel sedari tadi sudah memperhatikan gerak-gerik Clara, Sky dan Edzar yang tengah sibuk bercocok tanam di taman.
"Kenapa Kak Edzar tiba-tiba mau bermain tanah kotor-kotoran seperti itu ya? Bukannya dari kecil Kak Edzar memang alergi kotor ya?" tanya Agnes dengan heran.
"Hm... entahlah, sepertinya ada sesuatu yang membuat Kak Edzar harus melakukan itu," jawab Amel, sambil menopang dagunya menggunakan satu tangan, memperhatikan mereka dari atas balkon.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, karena cuaca yang semakin panas dan gersang Sky, Clara dan Edzar pun menghentikan kegiatannya.
Sore harinya, Edzar sedang memeriksa beberapa berkas pekerjaan mengenai data laporan pertambangan batu bara miliknya itu di ruang kerja sendirian. Selagi fokus akan pekerjaannya, kulit tubuhnya sudah mulai merasakan ruam dan sedikit gatal di beberapa titik di bagian lengannya.
"Aih... sial, selalu saja gatal seperti ini!" gumam Edzar, ia tahu hal ini akan terjadi, dan entah kenapa ia pun rela melakukannya.
Apakah ia rela melakukannya hanya demi menyenangkan Clara, atau semata-mata ia menyenangkan Clara karena untuk membalas kebaikan Gerald yang mau membantu menemukan adiknya itu.
Edzar pun menelepon dokter pribadinya untuk segera datang menemuinya di rumah.
Sekitar 30 menit menunggu, Dr. Edward pun datang menemui Edzar di ruang kerja.
"Kenapa lagi?" tanya Edward.
"Kau lihatlah sendiri tubuhku ini," ucap Edzar menarik lengan bajunya ke atas, hingga menampilkan benjolan merah yang cukup banyak di lengan berkulit bersih itu.
__ADS_1
"Ya ampun, Tuan, alergi mu kambuh. Kenapa bisa sampai begini?" Edward segera mengeluarkan perlatan kesehatan yang dibawanya.
"Tak penting karena apa. Cepat kau periksa saja, dan beri aku obatnya," titah Edzar. Dr. Edward pun segera memeriksa seberapa parah alergi tuannya itu.
"Untunglah, Tuan memanggil saya dengan cepat, kalau tidak, benjolan ini bisa menjalar keseluruhan tubuh Anda Tuan. Lain kali lebih berhati-hatilah. Tuan kan sudah tahu kalau Tuan alergi dengan debu dan kotoran." Edward berbicara layaknya seorang ibu yang sedang menceramahi anaknya, karena membuat kesalahan.
"Iya, iya aku tahu," ucap Edzar dengan malas.
Sementara itu, di sisi lain, ada seseorang yang tengah mendengarkan pembicaraan mereka di luar pintu ruang kerja yang sedikit terbuka itu. Orang itu tak lain ialah Clara. Ia datang untuk memberi tahu Edzar, kalau makan sore sudah siap. Tapi, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan antara Edzar dengan orang yang ada di dalam.
"Jadi... apa yang dikatakan Bi Dora tadi pagi itu benar. Kalau dia alergi terhadap kotor," gumam Clara dalam hati.
"Memangnya tadi kau melakukan apa? Apa kau bermain kotor-kotoran sampai alergimu kambuh begini?" tanya Edward, cemas, sambil menyuntikan cairan obat di lengan atas Edzar.
"Tadi aku menanam bunga," jawabnya malas.
"Apa? Untuk apa kau melakukan itu? Bukannya ada tukang kebun ya?"
Edzar berdecak. "Aku hanya ingin menyenangkan istriku saja, karena dia sedang sedih atas kepergian saudaranya," ucap Edzar, menjawab dengan jujur.
"Kepergian saudaranya? Meninggal maksudnya?"
"Bukan! Sodaranya istriku pergi ke hutan untuk membantu mencari Ralline-adikku," jawabnya.
"Oh, ku kira meninggal," balasnya cengengesan.
"Apa? ... Jadi, dia melakukan itu untuk menyenangkanku?" batin Clara sedikit terkejut tidak menyangka.
Ia langsung diam tertegun, sambil terus mendengarkan pembicaraan mereka. "Apa kak Gerald yang memberitahunya kalau aku suka bercocok tanam ya?" batinnya lagi.
"Ya sudah, ini salepnya Tuan pakai saja setiap malam, dan paginya Tuan minum obat anti alergi ini," ucap Edward, mengakhiri pemeriksaannya.
Clara yang mengetahui kalau orang yang ada di dalam itu sudah selesai dan akan keluar dalam beberapa detik lagi. Ia pun dengan cepat berlari menuju ruangan biliard yang ada di ujung sana, bersembunyi agar tidak diketahui, kalau ia sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Huh, untung saja, tidak ketahuan," gumam Clara pelan mengatur nafas dan detak jantung yang tak beraturan.
Ia kembali berpikir, kenapa suaminya itu sampai rela melakukan hal itu, hanya demi menghilangkan kesedihannya atas kepergian Gerald.
Ia menarik nafas, lalu mencebik sedih. "Hm... seharusnya aku tidak menampakkan kesedihanku di depannya. Kalau dia sampai melakukan hal berbahaya seperti ini, bahkan hal yang membuat dirinya sakit, aku jadi merasa bersalah sekali," gumamnya pelan merasa sedih.
"Ternyata, dibalik sikapnya yang aroogant dan galak itu, dia peduli juga dengan sekitarnya."
Bersambung...
Lanjutin gk nih? Bantu ramaikan kolom komentarnya dulu dong gaes...
Luv luv luv luv
__ADS_1