Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Panah Beracun


__ADS_3

Sementara itu di satu sisi, udah satu minggu Brayen dan Gerald mencari keberadaan Raline di dalam hutan belantara itu. Tapi tetap saja mereka belum bisa menemukan jejak Ralline. Bahkan persediaan makanan  yang mereka bawa pun sudah hampir habis.


"Brayen, kau sudah memastikan bukan, kalau Nona Ralline benar-benar memasuki wilayah hutan ini?" tanya Gerald sambil menyenderkan tubuhnya di bawah pohon besar, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


"Benar Ger, aku melihatnya sendiri lewat CCTV, dia lari masuk ke hutan ini. Dan aku cari info dari teman-teman detektifku yang lain, di hutan ini sebenarnya terdapat pedesaan dari suatu suku yang jauh dari modernisasi, hanya saja, mereka sering kali berpindah-pindah tempat, jadi aku pun tidak bisa memastikan desa itu terletak di sebelah mana dari hutan ini," jawab Brayen menjelaskan.


"Kau memperkirakan penemuan Nona Meghan akan memakan waktu berapa lama?" tanya Gerald yang tengah mengatur nafas, seolah kehabisan oksigen.


"Kemungkinan kita bisa menemukannya dalam kurun waktu dua minggu sampai satu bulan, itu pun kalau di minggu ke dua kita mendapat jejak," ujar Brayen.


"Apa? Sampai satu bulan?" tanya Gerald cukup terkejut, dibalas anggukkan pelan oleh Brayen.


Gerlad mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hm, baiklah, demi adikku, aku akan terus berjuang untuk menemukan dia."


Sebenarnya, Gerald merasa dirinya begitu sangat lelah, setelah satu bulan lamanya ia terkurung di rumah Edzar, kini sudah satu minggu pula, ia harus hidup di dunia luar dan liar yang cukup menyeramkan ini, dan ini untuk pertama kalinya Gerlad hidup di tengah hutan belantara.


Tidak sedikit pula, hewan-hewan melata dan menakutkan kerap kali memunculkan diri di hadapan mereka, seperti ular, kelabang besar, lintah besar, kalajengking dan hewan buas seperti babi hutan, anjing hutan dan monyet.


Ingin rasanya Gerald pulang saja, kembali ke kehidupan sebelumnya yang biasa-biasa saja. Jika di suruh  memilih antara dikejar oleh para bodyguard suruhan dan babi hutan, jelas Gerlad akan memilih di kejar oleh komplotan anak buah para petinggi, dari pada dikejar oleh hewan buas di hutan.


Setelah satu jam mereka beristirahat mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, yang arahnya pun masih tidak jelas.


Mereka berdua terus berjalan menyusuri pepohonan yang semakin lama kian semakin menjulang tinggi, pun kian lebat dan menutup cahaya dari langit.


Dari kejauhan ada beberapa pasang mata yang sedang mengintai mereka sejak dua hari yang lalu.


Selagi berjalan, Brayen mendengar suara keresek-keresek dari semak-semak lain, seperti ada langkah kaki orang lain yang mengikuti mereka.


Brayen mencoba mengabaikannya, ia berpikir mungkin itu hanyalah semak-semak yang tertiup angin, atau mungkin dari hewan lain yang sedang melintas di sana. Tapi, semakin lama, semakin hawa dingin menusuk tubuhnya, perasaan tak enak pun mulai merasuki pikirannya.


"Ger, berhentiP" panggil Brayen pelan. Gerald yang berada satu meter di depan Brayen, ia pun menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Brayen.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gerald.


"Ger, kamu merasa enggak, seperti ada orang yang sedang mengintai kita?" tanya Brayen berbisik. Gerald yang polos, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ger, kamu masih ingat kan dengan jejak kaki manusia yang kita temui kemarin di lembah hijau itu?" Gerald mengangguk.


"Apa kau tak curiga, kalau sebenarnya, di sekitar sini ada pendaki lain selain kita?"


Gerald sejenak terdiam, ia kembali mengingat hari kemarin saat ia dan Brayen hendak menangkap kelinci untuk di jadikan bahan makanan. Mereka juga tidak sengaja melihat ada beberapa jejak kaki di sekitaran sana, dan jejak kaki itu semakin terlihat jelas saat mereka kembali ke lembah yang mereka lewati.


Selagi melamun, tiba-tiba sebuah panah melesat begitu saja tepat di depan wajah Gerald, bahkan hampir saja mengenai hidungnya yang mancung itu. Sontak hal itu membuat Gerald dan Brayen  berteriak ketakutan dan langsung berlari tak tentu arah.


"Tidak ... siapa pun itu, jangan sakiti kami, aku mohon," teriak Gerald sambil berlari tunggang langgang melewati semak-semak dan akar belukar.


Begitu pun dengan Brayen, ia begitu ketakutan, pikirannya jadi terbayang akan film Kanibal. Ia takut kalau di sini masih ada orang-orang seperti itu yang suka memakan manusia.


"Apa di hutan ini ada sekelompok Kanibal? Apa aku akan di makan dan di panggang oleh mereka hidup-hidup?" pikir Brayen, sudah over thinking.


Gerald yang berada tiga meter di depan Brayen, ia terpaksa harus kembali dan membantu Brayen untuk segera bangun.


Tapi naas, nasib baik sepertinya tak memihak mereka.  Sebelah kaki Brayen terkena masalah, sehingga membuat Brayen tak bisa berdiri dengan sempurna.


"Ayo Brayen, coba berdirilah, kamu pasti kuat ayo, kau pasti bisa Brayen" ujar Gerald memberi semangat sambil terus mencoba membantu Brayen untuk berdiri.


Perlahan Brayen pun mulai menegakkan tubuhnya, mencoba berdiri dengan sempurna, dengan bertumpu pada sebelah kakinya dan tangannya ia rangkulkan di bahu Gerald.


Tapi, nasib baik lagi-lagi tak memihak kepada mereka berdua. Tiba-tiba ... jlep ... sebuah anak panah berukuran 30cm, menancap begitu saja di bahu kanan milik Gerald.


"Gerald!" pekik Brayen begitu terkejut, saat ia melihat anak panah tertancap lurus di bahu sahabatnya itu.


"Aw... lenganku," lirih Gerald merasa kesakitan, sambil menoleh ke arah bahunya yang terluka itu. Brayen pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan. Ia harus memastikan, siapa orang yang sudah berani memanah Gerald dengan kejam.

__ADS_1


"Gerald, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Brayen khawatir. Gerald mengangguk pelan sambil mengaduh kesakitan.


Dan hanya dalam hitungan menit, tubuh Gerald kian terasa melemas, kepalanya terasa begitu pusing, pandangan matanya perlahan kabur dan buram.


"Gerald, berusahalah untuk tetap sadar, Gerald," ucap Brayen, khawatir.


Mereka berdua kini sudah terduduk di atas tanah, masih di posisi tempat yang tadi. Brayen mencoba menepuk-nepuk pipi Gerald yang sudah putih memucat pasi.


"Gerald, sadarlah jangan tertidur! Kau harus tetap sadar, Gerald!" Brayen semakin tidak tenang, ia tetap berusaha untuk tidak membiarkan Gerald kehilangan kesadarannya. Akan tetapi, Gerald tidak sekuat itu, apalagi saat ia merasakan pusing yang begitu kuat di kepalanya.


"Brayen, selesaikan misi ini, dan tolong bebaskan Clara dari si Edzar brengsek itu," ucap Gerald lirih dan pelan.


Brayen semakin khawatir. Ia terus mencoba untuk menyadarkan Gerald, tapi semakin lama, kini pandangan Gerald semakin terasa buram, pusing dan menggelap secara perlahan, hiangga akhirnya ia pun sudah tidak sadarkan diri.


"Gerald! Gerald!" teriak Brayen penuh khawatir. Tangannya semakin bergetar hebat, ia mencoba mendengarkan detak jantung Gerald, ia masih bersyukur karena detak jantung Gerald masih berdetak dengan normal.


"Apa dia pingsan?" gumamnya, matanya mencoba meneliti anak panah yang masih tertancap di bahu Gerald. "Apa anak panah itu mengandung racun atau semacam obat bius?" gumam Brayen.


Dan tisak lama kemudian, jlep ... anak panah yang sama, ikut tertancap di lengan Brayen. Membuat Brayen terkejut bukan main, langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


"Pa-panah?" Dan tak berapa lama Brayen pun ikut pingsan di samping Gerald.


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya ada kesalahan update semalam, nanti habis ini author nulis lagi dan update lagi ya, hehe.

__ADS_1


__ADS_2