
Keesokkan harinya, Brayen, Gerald dan Ralline tahu-tahu sudah terbaring di atas tanah, dengan rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi. Gerald membuka matanya saat ia merasa sinar mentari menelisik kedua matanya. Ia menyipitkan kedua matanya yang terkena silaunya sinar mentari pagi. Pun punggungnya yang terasa begitu sakit, karena ternyata ia baru sadar kalau dirinya terbangun di atas tanah di tengah-tengah hutan tanpa alas apa pun.
Gerald pun terduduk, dan ia melihat ke sekelilingnya, yang ternyata Raaline dan Brayen pun ikut tidur di dekatnya, dengan jarak di antara mereka berkisar 2 meter.
“Brayen,” panggil Gerald mencoba membangunkan Brayen. Namun, Brayen masih tertidur pulas, dan malah Ralline yang terbangun.
“Di mana ini?” Ralline mengucek kedua matanya yang masih terasa ngantuk itu. Ia juga sama halnya dengan Gerald merasakan punggungnya begitu kaku, karena tidur langsung di atas tanah tanpa alas apa pun.
“Aku juga tidak tahu, kenapa kita sudah ada di sini,” jawab Gerald dengan cuek.
“Hm... sepertinya ritual semalam, sebagian rencana dari mereka, agar kita pergi tanpa mengetahui arah tempat tinggal mereka sebelumnya,” gumam Ralline. Gerald mengangguk memungkinkan.
Ralline mengingat kembali setelah ritual upacara pelepasan tadi malam, mereka bertiga disuruh untuk meminum sebuah minuman yang terasa seperti wine, tapi jelas beda, karena rasanya ada asam dan pahitnya juga. Dan yang ia tahu, setelah meminum minuman itu mereka tertidur dan tak ingat apa-apa lagi akan kejadian selanjutnya.
Tak lama, Brayen pun ikut terbangun, saat dirinya merasakan sakit di bagian daun telinganya yang ternyata digigit semut besar.
“Argh... semut sialan!” gerutu Brayen langsung duduk terbangun. Sambi menepuk-nepuk telinganya, takut masih ada semut yang tertinggal.
“Bangun juga kamu,” ujar Gerald. Brayen mengerutkan dahinya dengan mata yang menyipit, menatap Gerald dan Ralline secara bergantian.
“Kita di mana?” tanya Brayen sambil mengedarkan matanya ke sekitar.
“Di hutan lah,” jawab Gerald dengan ketus.
Setelah berdiam diri beberapa lama, mereka pun berdiskusi untuk mengambil alur jalan pulang. Jelas, kalau urusan jalan pulang Brayen lah yang akan mengaturnya, karena Ralline dan Gerald sama sekali tak mengerti soal jalanan di hutan, apalagi kalau mencari jalan menggunakan kompas manual, kecali pakai GPS di ponsel, baru Gerald bisa mengerti.
__ADS_1
***
Sementara itu di kantor, Edzar tengah memeriksa beberapa berkas mengenai program launching prodak terbaru perusahannya. Sesekali ia melihat ke ponselnya, yang sedari pagi tidak ada notif masuk dari siapa pun. Jelas saja yang mempunyai nomor ponsel Edzar hanyalah Ralline, Sky, Clara dan Bi Dora. Selain itu, tidak ada yang mempunyainya lagi.
Pikiran Edzar masih terbayang akan kejadian sore kemarin di kamar saat bersama Clara. Ia masih mengingat pipi Clara yang memerah karena menahan rasa malu. “Ah... menggemaskan sekali dia itu,” gumamnya dalam hati.
Edzar pun memutuskan untuk memanggil Sky, ia ingin mempelajari cara mengetahui aktivitas apa yang tengah Clara lakukan lewat ponselnya itu. Karena semua data akun sudah disamakan dengan ponsel Clara, jadi sekalipun Clara log in ke dalam akun sosial media miliknya, maka Edzar pun akan mengetahuinya.
Sky pun masuk ke dalam ruangan Edzar, setelah ia mendapat panggilan lewat telepon di meja kerjanya. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Sky menghampiri.
“Ajarkan aku cara mengetahui aktivitas yang Clara lakukan lewat ponselnya itu,” ucap Edzar sambil menyodorkan ponselnya kepada Sky.
“Baik Tuan.” Dengan pelan dan teliti serta penuturan kata yang runtun, Sky mengajarkan Edzar untuk mencari apa yang ingin diketahui oleh bos-nya itu.
“Nah, jadi kalau di lihat dari akun instgramnya, sekarang Nona Clara sedang aktif Tuan,” ucap Sky menjelaskan.
Sky pun kembali menjelaskan, mengenai postingan, love, dan pesan di instagram. Dan Edzar pun dengan cepat memahaminya. Setelah selesai menejelaskan mengenai apa yang ingin diketahui bos-nya itu, Sky pun pamit kembali ke ruang kerjanya.
Edzar kini sedang sibuk melihat-lihat akun media sosial milik Clara, mulai dari instagram, facebook, dan juga gmail-nya.
Matanya begitu terbelalak begitu melihat postingan instagram milik Clara. Ia begitu terkejut karena Clara di sana memposting foto-fotonya yang lumayan sedikit terbuka dan menampilkan keindahan wajahnya.
“Apa ini? Foto semacam ini dia upload ke sosial media?” geramnnya.
Matanya kembali membulat dengan sempurna saat melihat komentarnya, dengan banyak teman-teman lelakinya yang memuji kecantikan Clara.
__ADS_1
“Dia ini benar-benar tidak tahu malu. Kenapa fotonya harus diekspos seperti ini.” Edzar semakin geram dan kesal melihatnya, tapi sekalipun ia ingin menghapusnya, ia masih menghargai hak Clara, karena itu adalah foto yang diupload Clara sebelum menikah dengan dirinya.
Kini jari tangannya dengan lincah menscroll ke atas dan ke bawah, mencari tahu setiap komentar di postingan foto istrinya itu. Sambil mencari tahu hal apa saja yang dilakukan Clara dulu, ketika dia masih single. Dan Edzar semakin dikejutkan saat ia membuka kolom pesan di akun insatgram istrinya itu.
Banyak sekali lelaki yang mengirim pesan pada Clara, tapi hanya beberapa yang dibalas. Termasuk di sana ada akun bernama Brayen Colland.
“Brayen?” gumam Edzar, ibu jarinya pun mengklik pesan yang sudah lama itu. Terakhir chat dilihatnya sekitar 7 bulan yang lalu.
Edzar membacanya dari pesan teratas, mulai dari pertama Brayen basa-basi, sampai sok-sok perhatian kepada Clara.
“Hah, menjijikan sekali. Merayu dengan cara kuno seperti ini,” gumamnya merasa tak suka. Akhirnya dari pada kekesalan di dalam hatinya bertambah, Edzar pun memilih untuk mematikan ponselnya itu.
“Dasar, dia memang benar-benar wanita penggoda. Bahkan orang-orang hanya melihat fotonya saja yang alay seperti itu sudah tergoda,” gumamnya merasa tidak suka.
“Baiklah, aku akan menunjukkan caraku untuk merayumu melebihi rayuan si Brayen yang kuno itu,” gumam Edzar dalam hati.
Entah kenapa, sejak tahu kalau Brayen menyukai Clara saat itu, apalagi jika mengingat nama panggilan di antara mereka, Edzar merasa sangat membencinya. Kalau saja bukan karena urusan Ralline, mungkin sejak saat itu, Edzar tak akan mau untuk menemuinya lagi.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungan votenya ya... komen juga di bawah, biar autor makin semangat nulisnya.