
Clara pun kembali ke lantai bawah untuk menemui Alex.
"Maaf Nona, bolehkah saya tahu Anda mau pergi ke mana?" tanya salah seorang pengawal yang kebetulan melihat Clara hendak pergi.
"Saya mau menemui sekretaris Sky, di mana ya dia?" tanya Clara sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Oh, Tuan Sky ada di dapur, Nona," jawab pengawal itu. Clara pun mengangguk lalu segera pergi menuju dapur.
Sesampainya di dapur ia tak melihat ada Sky di sana, lalu Clara pun bertanya kepada seorang pelayan yang ada di dapur mengenai keberadaan Sky.
"Oh Tuan Sky ada di taman belakang Nona, mau saya antar?" tawar wanita paruh baya itu, yang bekerja sebagai tukang cuci piring di dapur.
"Oh tidak perlu, saya bisa sendiri. Terima kasih." Clara dengan ramah,
pamit berlalu menuju taman belakang.
Kedua matanya ia edarkan keseluruh penjuru taman. Ia mencari-cari keberadaan Sky yang entah berada di mana, karena taman belakang ini cukup luas dan rindang, juga terdapat beberapa pohon besar disana. Seperti pohon mangga, pohon jeruk, pohon beringin dan juga ada pohon apel.
Clara berjalan menyusuri arah jalan taman. Terdengar suara seseorang yang sepertinya sedang marah-marah. Clara pun perlahan mendekati sumber suara itu.Dan betapa terkejutnya Clara saat ia mendapati Sky tengah menampar keras pipi Geriel.
__ADS_1
Clara yang sedikit ketakutan, ia pun langsung bersembunyi di balik pohon apel. Berharap dirinya tidak ketahuan.
"Kalau kau sampai berani melakukan kesalahan seperti tadi pagi, aku tidak akan segan untuk menghentikan pekerjaanmu di sini!" sentak Sky, sambil menunjuk Geriel dengan tegas.
"Tuan saya mohon, jangan biarkan saya dipecat dari sini. Saya tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengabdikan diri di sini, Tuan," ujar Geriel memohon sambil berlutut, di hadapan Sky.
Lelaki berdarah dingin itu, hanya diam menatap dingin ke arah Geriel yang ada di bawahnya. "Berhenti atau tidaknya kau dari pekerjaan ini, tergantung dengan sikapmu kedepannya. Tolong untuk lebih tegaslah dan patuhi semua aturan di rumah ini!"
"Baik Tuan, saya berjanji akan lebih baik lagi kedepannya."
"Pergilah!" seru Sky. Geriel pun kembali berdiri dan buru-buru pergi meninggalkan Sky yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Sky memang orang yang cukup keras kepada setiap pelayan di rumah ini, entah itu perempuan atau laki-laki, jika ada yang berani melanggar aturan, Sky tidak akan segan untuk memberikan mereka hukuman.
Dan semua para pekerja di rumah ini, tentu akan setuju saja dengan peraturan ketat yang ada di rumah ini. Karena mereka tahu, hanya di kediaman keluarga Alantska lah, mereka bisa mendapat upah yang
besar, bahkan sampai di gaji 3 kali lipat per bulannya dibanding di tempat lain. Dan tentunya di tempat lain tak ada yang bisa menggaji mereka sebesar itu, dengan posisi mereka yang bisa di sebut hanyalah pelayan biasanya. Maka dari itu, semua pelayan di rumah ini sangat totalitas dalam melaksanakan pekerjaannya.
"Sungguh, penglihatan yang amat tajam, aku bersembunyi saja sudah ketahuan," gumam Clara, ia pun muncul dari balik pohon apel itu.
"Ada apa Nona kemari?" tanya Sky begitu dingin.
"Emh ... Tuan Edzar menyuruh saya untuk mempelajari peraturan di rumah ini denganmu," jawab Clara berjalan mendekati Sky.
"Pekerjaan macam apa lagi ini, mengharuskan aku berduaan dengan Nona Muda ini," keluh Sky dalam hati, sambil melirik sekilas ke arah Clara.
Sky mendesah pelan. Tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah tuannya.
"Baiklah, kalau begitu ikuti saya," ujar Alex
__ADS_1
sambil berjalan terlebih dahulu.
***
Sementara itu, setelah mampu meredam amarahnya, Edzar berniat untuk mendatangi Gerald yang berada di kamar khusus di lantai tiga rumah ini.
Edzar membuka pintu kamar itu. Di lihatnya Gerald yang tengah sibuk menikmati satu potong hot dog dan segelas susu.
"Aih, aih, aih... enak sekali ya, pagi-pagi sudah bisa makan nikmat seperti itu," ucap Edzar, menggeleng pelan, seraya berjalan mendekati Gerald. Gerald yang duduk membelakangi pintu masuk, ia cukup terkejut dengan kedatangan Edzar sepagi ini di kamarnya.
"Bagaimana, senang bukan bisa hidup lebih baik di tempat ini?" tanya Edzar, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Gerald masih terdiam, segera menyelesaikan kunyahan terakhirnya, lalu menghabiskan setengah gelas susu yang masih tersisa.
"Ada apa kau kemari?" tanya Gerald, membalikkan badanya.
"Kemari? ... Seharusnya kau tahu, aku datang kemari untuk apa." Edzar menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Menciptakan senyuman sinis yang menakutkan.
"Kau tahu, benda kecil ini?" tanya Edzar sambil mengeluarkan benda kecil berukuran 4x10 inci dari saku celananya.
Gerald mengerutkan dahinya, ia tahu betul, kalau benda kecil itu tak lain alah remote yang bisa mengontrol borgol mesin yang terpasang di sebelah pergelangan kakinya.
"Apa yang ingin dia lakukan? Apa Clara kembali melakukan kesalahan?" gumam Gerald dalam hati.
"Kau tahu bukan, kalau aku sudah mengeluarkan benda kecil ini tandanya apa?" Edzar kemudian mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terdapat di sana.
"Apa adikku membuat kesalahan?" tanya Gerald sedikit takut. Edzar tidak langsung menjawab, pria bermata elang itu, hanya menatap tajam ke arah Gerald lalu, tiba-tiba ....
Bersambung...
Yang suka dengan cerita ini, jangan lupa untuk kasih like, komen dan votenya ya. Terima kasih.
__ADS_1
Big Love buat pembacaku.