
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Edzar menghampiri Sky yang tengah duduk bersama satpam penjaga di area perusahaan tambang batu bara itu.
“Sky, apa tugas yang tadi pagi sudah kamu kerjakan?” tanya Edzar.
“Sudah Tuan, handphone yang dipesan Tuan sudah siap diambil,” jawab Sky. Lalu, Edzar pun segera pergi dari sana dan mampir terlebih dahulu ke toko handphone, untuk mengambil pesananan ponselnya.
Setelah selesai, Edzar kembali ke dalam mobil bersama Sky. Ia terlihat sedikit menyunggingkan senyumannya, demi mengingat, ponsel yang akan diberikannya itu untuk siapa.
“Wah, sepertinya Tuan Muda benar-benar sudah berubah pikiran. Apa ia lupa akan tujuan utamanya menikahi Nona Clara?” gumam Sky dalam hati sambil terus fokus menyetir.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Clara sudah menyambutnya dengan senyuman hangat dan menentramkan. Namun, ada yang sedikit berbeda dari penampilan Clara kali ini. Clara terlihat sedikit menor, karena ia memakai makeup yang lebih berani, dengan perpaduan warna eye shadow berwarna nude dan bibir yang berwarna merah cabai. Membut riasannya seperti riasan wanita penggoda yang begiu memukau, tapi sayang... justru saat ini Edzar tak suka melihatnya.
“Siapa yang menyuruhmu berdandan seperti ini hah?” tanya Edzar setengah berbisik saat ia sudah berada tepat dua langkah di depan Clara.
“Bu-bukannya Anda yang meminta saya untuk berdandan seperti ini?” ucap Clara sedikit gugup.
Edzar kembali teringat akan pesannya tadi pagi kepada pelayan yang bernama Angel. Ia sedikit berdecak. “Aku tidak menyuruhmu untuk melakukannya sore ini, tapi nanti malam,” tegas Edzar.
“T-tapi, bukankah itu sama saja,” jawab Clara.
“Kau ini! Sudah, cepat hapus riasanmu itu, mata orang-orang di sini akan sakit jika melihat riasanmu yang seperti ini,” cetus Edzar begitu sadis, kemudian ia segera berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Clara hanya bisa berdecak kesal sambil mencebikkan bibirnya merasa kesal mendengar ucapan dari suaminya itu, bukannya pujian yang ia dapat, tapi malah cemoohan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Dasar, suami macam apa dia ini! benar-benar tidak mengghargaiku!" batinnya kesal.
***
Setelah selesai mandi, Edzar menghampiri Clara yang tengah duduk di depan cermin rias, sedang sibuk membersihkan sisa-sisa makeup-nya tadi.
“Ini, bukalah,” ucap Edzar seraya menyodorkan satu kantung berwarna putih, dengan logo nama handphone terkenal di dunia.
__ADS_1
“Apa ini?” tanya Clara heran, sambil mengambil kantung itu dari tangan Edzar. Lalu ia pun segera membukanya. Dan mengeluarkan sebuah kotak handphone di dalamnya.
Kedua mata Clara membelalak sempurana. “Handphone? Kau membelikan ini untukku?” tanya Clara tak percaya, mendapat handphone yang sedang hits di kalangan orang-orang kaya masa kini.
“Hm, gunakan itu seperlunya,” jawab Edzar dingin, sambil mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dan memandangi Clara.
“T-terima kasih, Tuan,” ucap Clara tersenyum senang, dengan kedua pipi yang tampak sedikit memerah. Edzar mengerutkan dahinya mendengar ucapan yang tak disukainya itu.
“Tuan?” tanya Edzar menatap tajam.
“Eh? Ma-maaf, maksudku terima kasih, Suamiku,” ulang Clara membenarkan.
Clara terlihat sangat senang sekali dengan handphone barunya itu, karena dengan adanya hanphone baru itu, kini ia bisa menghubungi teman-temanya lagi, dan setidaknya ia tidak akan terlalu bosan tinggal di rumah jika Edzar sedang sibuk bekerja.
“Emh, Suamiku... kalau boleh tahu, kenapa kamu memberikan ini kepadaku?” tanya Clara, karena merasa ada yang janggal dengan sikap baik suaminya itu. Terlebih saat Angel menceritakan tentang Edzar tadi pagi.
“Ya agar kau bisa menghubungiku lah, memangnya untuk apa lagi,” jawabnya dengan simpel.
‘Menghubunginya? Memang siapa yang mau menghubunginya? Lagi pula, aku pun tak terlalu memikirkannya, jika dia tak ada di rumah,’ batin Clara.
Ia pun segera membuka ponselnya itu, lalu mengecek satu persatu aplikasi serta kameranya. Dan ia pun membuka kontak di handphone-nya itu, di sana sudah ada satu nomor yang tak lain ialah nomor Edzar, dengan nama kontak yang cukup menggelikan, yaitu ‘Suamiku Tercinta’.
“Apa-apa-an ini? Kenapa nama kontaknya begitu menggelikan sekali,” gumam Clara pelan, sambil sedikit meggidikkan bahunya.
“Kau kenapa?” tanya Edzar, saat melihat ekspresi Clara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
“Hah? Oh enggak, ini ... ternyata sudah ada kontak kamu di sini,” jawab Clara tersenyum kaku.
Edzar menatapnya heran. “Ya sudah, kalau begitu, cepat telepon nomornya,” perintah Edzar.
“Hah?” Clara malah cengo.
__ADS_1
“Iya, ayo telepon ke nomorku.” Edzar mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya.
Clara pun langsung menelepon nomor suaminya itu, dan saat panggilannya terhubung, Edzar langsung memperlihatkan bahwa nomor Clara sudah masuk. Tapi... ada yang sedikit ganjal dengan nama kontak nomor Clara di ponsel Edzar.
Edzar memberi nama kontak Clara dengan nama ‘Wanita Penggoda’.
“Loh, kenapa di ponselmu, nama kontakku wanita penggoda?” tanya Clara tak terima.
Edzar sedikit terkekeh, sambil menyungingkan senyumannya. “Ya karena, kau memang wanita penggoda,” jawab Edzar sambil tersenyum meledek.
“Apa!” Clara menekuk wajahnya, ia seolah tak terima bahwa Edzar berani-beraninya menamai ia sebagai wanita penggoda.
“Dasar! Main seenaknya menyebut aku dengan panggilan seperti itu. Lagi pula aku bukanlah wanita penggoda, sekalinya aku jadi wanita penggoda pun, aku tidak akan pernah menggoda lelaki sepertimu!” tegas Clara sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
Edzar kembali memiringkan senyumannya, seolah meledek perkataan yang Clara baru diucapkannya itu. Ia pun berdiri, dan perlahan berjalan mendekati Clara.
“Benarkah kau bukan wanita penggoda?” tanya Edzar dengan tatapan tajamnya yang seolah mematikan.
Clara tiba-tiba merasa takut akan tatapan yang diberikan oleh suaminya itu. Perlahan ia memundurkan tubuhnya, menepi ke arah tembok. Akan tetapi, Edzar terus saja mendekati Clara, hingga kini punggung Clara sudah menyentuh tembok kamar, membuatnya tak bisa memundurkan langkahnya lagi.
Semakin dekat dan semakin lekat, Edzar memandangnya. “Kalau kau bukan wanita penggoda, lalu... apa yang kau lakukan semalam kepadaku?" tanyanya membuat kedua bola mata Clara langsung membulat sempurna.
"Bukankah hal itu bisa disebut bahwa, kau memang menggodaku, Clara,” ucap Edzar tepat di dekat daun telinga kanan milik Clara. Membuat tubuh Clara langsung meremang, merasakan sedikit hembusan nafas yang cukup menggelikan di telinganya.
"Kau mengingatnya bukan?" tanya Edzar semakin mendekatkan wajahnya membuat degup jantung Clara semakin berdebar tidak terkendali.
"Apa-apaan ini, kenapa dia malah makin mendekat ke arahku," batin Clara menahan nafasnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....