Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Jelasakan Semuanya


__ADS_3

Setelah dua hari berada di hutan bersama orang-orang aneh yang tak mereka kenal. Brayen dan Gerald dipisahkan dari gerombolan orang itu. Dan siang itu, ada seorang lelaki yang menghampiri mereka dan memberikan mereka dua kelinci panggang dan juga dua kelapa muda yang sudah dilubangi, sebagai air untuk minum mereka.


“Brayen, sampai kapan pengaruh racun ini akan hilang di tubuh kita? Kenapa efek racun ini bisa terus-terusan membuat badan kita lemah dan lemas seperti ini?” tanya Gerald.


Brayen hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, tapi syukurlah ternyata mereka orang-orang baik. Hanya saja, aku tak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan.”


“Iya sama, aku pun tak mengerti.”


“Ya sudah, ayo kita makan saja.” Mereka berdua pun segera memakan kelinci panggang itu. Dan selama dua hari ini, mereka tak pernah memakan nasi, mereka hanya diberikan kelinci panggang, daging burung yang dipanggang, dan sempat pas awalan mereka makan, mereka diberi daging ular panggang. Yang katanya bisa menyembuhkan efek racun panah yang ada di tubuh mereka.


^


Sementara itu Ralline bersama para wanita dari suku Yahi sedang sibuk membuat serat benang dari daun nanas, mereka menggunakan serat nanas itu untuk membut benang yang nantinya akan mereka sulam menjadi kain.


Selama beberapa minggu Ralline tinggal bersama mereka, Raliine juga sebenarnya ingin segera pulang. Namun, ketua suku mereka tidak memperbolehkannya, karena alasan bahaya jika Raliine pulang sendirian. Raliine juga meminta kepada mereka untuk mengantarkannya pulang dan menjanjikan kepada mereka akan memberikan imbalan apa pun yang mereka mau. Tapi tetap saja suku Yahi itu tidak mau melakukannya, karena mereka tahu, kalau sampai ada orang berkulit putih yang mengetahui keberadaan mereka, pasti mereka akan dibantai seperti para leluhurnya dulu. Maka dari itu, Raliine pun tidak diperbolehkan pulang, maupun kabur sebelum ada orang lain yang akan ikut pulang bersamanya.


Dan kehadiran Brayen serta Gerald itu adalah petunjuk keberuntungan untuk Raliine, karena dengan begitu, ia pasti akan segera diperbolehkan untuk pulang dan keluar dari hutan itu.


Tak lama kemudian Ishi Kanu datang menghampiri Raliine, ia mengajak Raliine untuk berbicara empat mata. Dan mereka pun berpindah tempat, ke tempat yang sekiranya jauh dari kebisingan orang-orang.


“Raliine, apa benar mereka itu adalah suruhan dari keluargamu?” tanya Ishi Kanu.


Raliine mengangguk membenarkan. Ishi Kanu adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengan Raliine.


“Baiklah kalau begitu, besok kalian sudah boleh pergi dari sini. Tapi ingat pesan Ishi, jangan menceritakan keberadaan kami di sini. Jika kamu pulang, bilanglah kamu bisa bertahan hidup sendirian di gunung ini. Jangan sampai orang-orang di luaran sana mencari keberadaan kami,” ucap Ishi Kanu.


“Baik Ishi, terima kasih. Saya tidak akan bilang kepada siapa pun perihal keberadaan suku Yahi di sini,” ucap Raliine sambil tertunduk, sebagai tanda menghormati.


“Baguslah, kalau begitu. Sekarang kau boleh menemui dua lelaki itu. Dan bilang kepadanya, nanti malam, kita akan mengadakan ritual untuk kalian. Agar kalian selamat dan bisa melupakan keberadaan kami di sini,” lanjut Ishi.


“Baik Ishi, saya sekarang akan menemui mereka terlebih dahulu.” Raliine pun berlalu dari sana dan segera menemui Gerald dan Brayen yang berada di salah satu rumah gubuk yang ada di sana.

__ADS_1


“Hai.” Raliine membuka pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Gerald dan Brayen yang baru saja selesai makan, mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Lalu Raliine pun menghampiri mereka, dan ikut mendudukkan diri diri di dekat mereka.


“Oh ya, sebelumnya kita belum pernah berkenalan kan? ... Aku Raliine, adik kak Edzar,” ucap Raliine memperkenalkan diri.


Brayen dan Gerald sejenak saling beradu pandang lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepada Raliine. “Oh aku Gerald,” ucap Gerald kemudian disambung oleh Brayen yang ikut memperkenalkan diri.


“Kalian mencariku pasti karena disuruh oleh kak Edzar ya?” tanya Raliine.


“Hm... bisa jadi. Tapi aku ikut mencarimu kemari bukan karena itu, aku mencarimu karena ada seseorang yang harus aku selamatkan,” balas Gerald dengan dingin.


“Siapa? Apa dia hilang di hutan ini juga?” tanya Raliine penasaran.


“Tidak, dia tidak hilang, dia hanya terkurung di sebuah rumah orang kaya.”


Raliine mengerutkan dahinya karena merasa bingung dan tidak mengerti. “Kalau terkurung di rumah orang kaya, kenapa mencarinya sampai ke hutan ini?” tanya Raliine heran.


Gerald hanya berdecak kesal, ia benar-benar kesal jika mengingat perlakuan Edzar terhadap adiknya yang semena-mena itu. Brayen yang mulai merasa tidak enak hati atas sikap yang ditunjukkan Gerald kepada Raliine, ia pun ikut bersuara.


Raliine membeliakkan kedua matanya begitu terkejut. “Apa! ... Menikah apa? Aku tidak mengerti.” Raliine semakin menautkan kedua alisnya, dengan dahi yang sudah berkerut kebingungan.


“Sudah dijelaskan pun kau masih tak mengerti,” ujar Gerald dengan kesal. “Dasar bodoh,” lanjutnya dalam hati.


“Iya jadi begini, kakakmu, Tuan Edzar sudah menikahi Clara-adiknya Gerald, empat minggu yang lalu,” jelas Brayen.


“Apa! Kenapa bisa menikah?” tanya Ralline tak percaya.


“Sebenarnya, hal itu terjadi karena kesalah pahaman antara Tuan Edzar dan temanku ini. Tuan Edzar menyangka kalau Gerald yang sudah menculikmu, dan dia meminta pertanggung jawaban atas kehilanganmu. Karena Gerald  tak bisa memberikan bukti apa-apa mengenai kehilanganmu, dan saat penculikanmu Gerald masih menjabat sebagai ketua gangster, yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat oleh anak buahnya itu, makanya kakakmu, balas dendam kepada Gerald dengan cara dia menikahi Clara--adiknya. Padahal Clara sama sekali tidak bersalah dan harusnya ia tak terlibat akan masalah ini.”


Ralline begitu terhenyak, ia tak berkutik sedikit pun, ia begitu tercengang mendengar penjelasan yang diberikan oleh Brayen. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa kakaknya tega melakukan hal itu terhadap wanita tak berdosa. Raliine berpikir, seharusnya kakaknya itu sadar dan bisa merasakan bagaimana jika hal itu terjadi padanya.


“Kak edzar bisa berbuat sampai seperti itu? Dia sudah keterlaluan!” gumam Raliine merasa kecewa.

__ADS_1


“Memang, kakakmu itu sangat keterlaluan. Dan sepulang dari sini, kau lah yang harus berusaha untuk menjelaskan semuanya, kalau aku tidak pernah ada sangkutannya dengan kasus penculikanmu itu,” jelas Gerald dengan nada suara yang tak ramah.


“Hm... baiklah, maafkan aku, Tuan Gerald, atas kesalah pahaman ini, kau dan adikmu jadi menanggung semua derita ini.” Raliine menundukkan kepala sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, meminta maaf.


“Tak perlu meminta maaf padaku. Ini aku lakukan karena sebagai kewajibanku untuk menyelamatkan hidup adikku kedepannya,” balas Gerald ketus.


“Hm... baiklah kalau begitu terima kasih,” lirih Raliine pelan.


Hening ....


Tak ada yang bersuara. Hanya desiran ranting pohon yang terengar dari luar karena tertiup angin kencang.


Dalam diamnya, Ralline baru teringat akan pesan dari Ishi Kanu. “Oh iya, besok kita sudah bisa pulang. Ishi Kanu sudah memperbolehkan kitu untuk pergi dari hutan ini. Dan nanti malam, mereka akan membuat ritual pelepasan kita,” ucap Raliine saat mengingat pesan Ishi yang tadi.


“Pulang? Badanku saja masih merasa lemas begini gara-gara efek dari panah beracun itu,” protes Gerald.


“Bukankah kalian tadi sudah di beri air kelapa muda ya?” tanya Ralline.


“Iya, tapi apa hubungannya panah beracun dengan air kelapa? Apa itu akan berguna untuk kita?” tanya Brayen.


“Iya, tentu saja. Aku juga pas pertama begitu, mereka memanah lenganku dengan panah beracun itu dan mengurungku di gubuk ini selama dua hari, sama seperti kalian. Nanti malam pasti kalian akan diberikan minyak penawar racun itu dan tubuh kalian akan segar bugar kembali. Malah akan terasa lebih kuat.”


“Benarkah?” tanya Brayen antusias. Raliine mengangguk sambil melebarkan senyuman manisnya.


"Aku harap, besok kita bisa pulang dengan selamat. Dan tentunya aku ingin segera menjelaskan kesalah pahaman ini kepada kak Edzar," imbuh Ralline sambil membuang nafas, sedikit merindukan Edzar yang jauh di sana.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2