
Edzar melemparkan jas yang ada di tangannya. Perlahan berjalan mendekati Clara. Lalu sejenak menatap wajah polos dari gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya itu. Eh, lebih tepatnya menjadi boneka barunya.
Dan tiba-tiba ... Edzar menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu dan melemparkan selimut itu, jauh ke sembarang arah.
Sontak hal tersebut membuat Clara terbangun dari tidur lelapnya. Ia begitu terkejut saat melihat Edzar yang sudah berdiri di depannya dengan memasang wajah yang tak ramah.
"Gimana, nyenyak tidurnya?" tanya Edzar begitu dingin, seraya mengulaskan senyuman sinis di bibirnya.
Clara langsung bangun dan berdiri tegap menghadap suaminya. Ia tahu, bahwa dirinya sudah melanggar peraturan, yang di mana seharusnya ia menyambut kedatangan suaminya ketika pulang. Dan malam ini, tepat di mala pertamanya, Clara mengira kalau Edzar tidak akan pulang, dan karena ia lelah, ia pun memutuskan untuk tidur duluan.
"Maaf Tuan, sa-saya tidak tahu kalau Anda malam ini akan pulang," ucap Clara gelagapan, sambil menundukkan kepalanya merasa takut.
"Tahu dari mana aku tidak akan pulang hah?" Edzar masih memandangi Clara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maaf Tuan, saya hanya mengira-ngira saja."
"Oh... mengira-ngira ya ... hm, kamu tahu 'kan, kalau kamu sudah melanggar satu peraturan di sini?" tanya Edzar sambil mengangkat dagu istrinya itu, pelan. Menampilkan wajah Clara yang sudah tegang karena ketakutan.
"Ma-maafkan saya Tuan, m-maaf." Lagi, Clara berucap gagap.
Lewat sorot mata, Edzar dapat melihat rasa takut di kedua manik mata berwarna biru milik istrinya itu. Ia memandangnya dengan pandangan yang tak biasnya, tiba-tiba ada rasa yang tak nyaman menyerang pikirannya.
"Siapkan pakaianku!" perintah Edzar sambil berbalik membelakangi Clara, dengan perasaan yang tiba-tiba tidak nyaman. Clara mengangguk lalu dengan cepat ia berlalu menuju ruang wardrobe untuk menyiapkan keperluan suaminya itu.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Edzar kembali mendekati Clara, yang sedari tadi masih duduk di atas sofa panjang yang tadi digunakannya untuk tidur.
__ADS_1
Clara hanya duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, ketika ia tahu suaminya datang menghampirinya.
Edzar berdiri tepat di hadapan Clara. Lelaki itu sedikit membungkukkan badannya. Ia mengangkat dagu Clara dengan jari telunjuknya. Hingga lelaki itu dapat lebih leluasa melihat wajah Clara yang kebali terlihat tegang.
Perlahan Edzar semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Clara. Membuat degup jantung Clara berdetak kencang tak karuan.
"Tunggu, apa dia akan melakukannya malam ini denganku? Ah tidak ... tidak mungkin dan semoga saja benar-benar tidak akan terjadi," gumam Clara dalam hati.
Semakin dekat Edzar, maka semakin kuat Clara memejamkan matanya. Edzar yang melihatnya hanya tersenyum kecut. Lalu lelaki itu pun meraih bantal yang ada di belakang Clara. Dan memberikannya kepada Clara dengan kasar.
"Tidur di ranjang, jangan di sini," ucapnya kemudian segera pergi merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Tenanglah Clara, kalau pun kamu tidur satu ranjang dengannya, dia tak aka tergoda olehmu," gumamnya dalam hati.
Clara pun merangkak naik ke atas tempat tidur, perlahan ia membaringkan tubuhnya membelakangi Edzar. Edzar yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tahu bukan aturan tidur denganku," ucap Edzar sambil membaringkan tubuhnya telentang.
Clara pun segera merubah posisinya, tidur telentang menatap langit-langit kamar.
"I-iya, Tuan, maaf," ucapnya pelan.
"Kalau begitu, matikan lampunya," ucap Edzar.
__ADS_1
"Oh iya," gumamnya pelan. Clara pun baru sadar, jika suaminya itu harus tidur dengan keadaan lampu kamar yang padam.
Clara segera turun dari ranjang dan berlalu untuk mematikan kontak lampu kamar itu, lalu ia kembali lagi membaringkan tubuhnya di salah satu sisi tempat tidur, dan menjaga jarak anatara dirinya dengan Edzar, lalu tiba-tiba sesuatu terasa mendekat padanya, ia berteriak, lalu dengan cepat ia menjauh dari tempat tidur.
"Apa kau sudah gila hah?! Berteriak malam-malam begini!"
"Apa yang kau pikirkan hah?!"
"T-tadi Anda menyentuh saya," ucap Clara gugup dan takut.
"Ck, menyentuh?! Aku hanya menyimpan guling di antara kita sebagai pembatas, bukan menyentuhmu! Dasar, terlalu percaya diri sekali kamu!"
"Cepat kembali ke tempatmu, dan tidurlah! Jangan sampai berteriak lagi!" seru Edzar dengan kesal.
Clara lagi-lagi merasa malu pada dirinya sendiri yang sudah berburuk sangka. Mentang-mentang lampu kamar padam, ia sampai mersakan yang tidak-tidak, padahal memang jelas, Edzar hanya menyimpan guling di tengah, dan secara tidak sengaja mengenai lengan Clara, hingga membuat wanita itu kegeeran.
Bersambung....
Aduh, Clara, Clara, gak usah terlalu takut gitu, Bang Edzar gak suka cewek kok, haha.
__ADS_1