
Gerald masih tak menjawab, ia semakin menarik erat kerah jas yang dipakai Edzar dengan kedua tangannya. Rahangnya pun ikut mengeras, dengan gigi geraham yang semakin mengerat menahan amarah.
"Apa? Kau di dalam jeruji besi ini tidak akan bisa apa-apa ... kecuali, melihat adikmu men—de-rita—." Edzar menepiskan kedua tangan Kevin, yang masih mengait di bajunya dengan kasar.
Lalu Edzar pun berlalu mengambil segenggam kunci yang ada di dinding dekat tangga. Kemudian ia kembali berjalan mendekati sel milik Clara dan mulai memasukkan kunci itu ke gembok yang mengait di tulak sel. Ia membuka gembok itu. Lalu perlahan masuk ke dalam sel Clara.
Clara begitu ketakutan, saat pria yang bertubuh jangkung dan besar itu mulai berjalan mendekatinya.
Gerald yang mengetahui hal itu, ia hanya mampu berteriak, agar Edzar tidak bermacam-macam kepada adiknya itu. Namun, teriakan Gerald tak di dengar oleh Edzar.
"Hai, little doggy." Edzar mengelus pelan dagu runcing Clara.
Membuat Clara langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Edzar. Dan perlahan ia menggeser tubuhnya agar menjauh dari Edzar.
Namun, dalam sekali tarikan Edzar mampu membuat wajah Clara, menghadap ke arahnya. Ia mengapit dagu sekaligus pipi Clara, menggunakan sebelah tangannya yang cukup besar itu.
"Berani-beraninya kau menyentuhku!" seru Clara, dengan bibir yang mengerucut karena apitan tangan Edzar, membuat bibir berwarna merah ceri itu sedikit mengerut dan terbuka, menampilkan kesan seksi yang cukup menggoda di mata Edzar.
"Ha ha, galak juga ternyata," ucap Edzar, tertawa sinis.
"Kuperhatikan, wajahmu lumayan juga," sambung Edzar, sambil perlahan mendekatkan wajahnya mendekati wajah Clara. Bahkan, kini jarak wajah di antara mereka berdua hanya berkisar 5 cm saja.
Perasaan Clara semakin tak bisa terkendalikan, jantungnya berdesir hebat, hatinya merasa tak karuan. Ada rasa takut, cemas, marah dan ingin sekali ia bisa melawan. Namun, apalah daya, tubuhnya begitu lemas tak berenergi, tenaga pun seakan hilang entah ke mana.
"Jangan mendekat!" teriak Clara ketika lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Hey brengsek, jangan menyentuh adikku!" teriak Gerald di sel sebelah. Gerald, tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak meminta Edzar agar tidak menyakiti atau menyentuh Clara.
"Wajahmu, tubuhmu ... cocok juga untuk jadi mainanku." Edzar masih menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jauhkan tanganmu Tuan!" seru Clara.
"Aih, aih, aih... ternyata kau berani juga ya menatapku seperti itu." Edzar semakin mengeratkan cengkeramannya mengapit dagu Clara.
"Hey Bung, adikmu ini boleh juga. Akan kunikahi saja ya." Teriak Edzar terkekeh, dengan ekspresi wajah yang begitu garang.
"Heh brengsek! Jangan macam-macam terhadap adikku!" teriak Gerald. Hatinya begitu waswas, atas apa yang sedang Edzar lakukan sekarang kepada adiknya. Ia takut, kalau Edzar benar-benar berani menyentuh tubuh Clara.
Edzar tertawa lepas mendengar jawaban Gerald. Ia masih tak mengalihkan pandangannya dari kedua manik mata berwarna biru kelabu milik Yura. Ia terus memandanginya dengan tatapan yang begitu dalam.
Ibu jari Edzar perlahan mengusap lembut bibir bawah Clara, memandangnya dengan tatapan penuh damba.
"Hey kau, jangan berani-berani menyentuh adikku!" teriak Gerald, berharap bahwa adiknya itu baik-baik saja.
"Tenanglah, aku adalah orang yang menaati hukum. Aku tidak akan melakukannya, sebelum adikmu ini resmi menjadi istriku," ujar Edzar tersenyum miring. Lalu ia pun berlalu keluar dari sel Clara, tak lupa mengunci kembali gembok sel tersebut.
Langkah kakinya kini berjalan menghampiri sel milik Gerald.
"Hey Bung, persiapkan dirimu, sebentar lagi aku akan menikahi adikmu," ujarnya memberi tahu. Membuat Gerald langsung naik darah, ingin rasanya memukul wajah pria brengsek yang ada di hadapannya. lumayan cocok untuk jadi mainanku," ucap Edzar sambil melirik ke arah sel milik Clara.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu hah?" tanya Gerald penuh amarah, ia begitu tak menyukai perkataan yang Edzar ucapkan barusan.
__ADS_1
"Maksudku? ... ah, iya maksud dari perkataanku tadi sederhana sekali, aku hanya ingin kau melihat adikmu menderita denganku," ucap Edzar begitu santai. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan ruangan bawah tanah itu. Meskipun Gerald terus meneriaki dan memanggil-manggil namanya, namun Edzar tak memedulikannya.
"Dasar brengsek, apa maksud dia berbicara seperti itu," gumam Gerald frustrasi sambil mengacak rambutnya.
***
Lalu tak lama kemudian, datanglah Bi Ella, yang membawa dua bungkus nasi putih dan dua botol air mineral untuk Gerald dan Clara.
Clara dan Gerald semakin terlihat begitu lusuh, lingkaran hitam di mata mereka, kian terlihat begitu jelas. Bahkan pipi mereka pun semakin hari semakin terlihat tirus.
"Makanlah dulu," ujar Bi Ella sambil menyodorkan sebungkus nasi dan sebotol air kepada mereka.
"Terima kasih Bibi," ucap Calara, tersenyum.
"Jangan lupa di minum obatnya, Bibi tak bisa membawakan sesuatu yang lebih, hanya obat magh ini yang bisa Bibi bawa buat kalian," ujar Bi Ella sambil menyelipkan dua tablet obat magh untuk mereka.
"Tidak apa-apa Bi, kami bisa makan saja sudah beruntung," ujar Gerald.
Lagi-lagi Bi Ella harus dengan kuat menahan cairan bening di pelupuk matanya agar tak terjatuh membasahi pipinya. Wanita paruh baya itu, selalu merasakan pedih dan pilu ketika melihat dua insan tak berdosa, yang harus di hukum karena salah sangka.
Bi Ella sudah benar-benar tak bisa menahan air matanya. Ia pun berpamitan untuk kembali bekerja.
"Bibi kembali bekerja dulu ya, kalian jangan lupa untuk memakan obatnya agar perut kalian tidak sakit," ujar Bi Ella kemudian ia segera pergi dari sana.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa beri vote, komen dan likenya ya. Biar author makin semangat lanjutin ceritanya. Cerita ini akan tetap tayang di NT tidak akan dipindahkan ke mana pun.
__ADS_1