Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Memadu Kasih di Atas Ranjang


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai makan malam, Edzar dan Clara langsung kembali ke kamar mereka. Sejak kejadian tadi sore, mereka berdua saling membisu tak bersuara. Bahkan saat di meja makan pun Amel dan Agnes merasa heran dengan sikap Edzar yang tak seperti biasanya.


Edzar mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil menatap penasaran ke arah Clara, yang baru saja masuk ke dalam kamar, lalu wanita itu pergi ke ruang wardrobe.


“Mau ngapain dia ke sana?” gumam Edzar pelan. Edzar pun mengikuti Clara dari belakang. Clara sempat menoleh. Namun, ia memilih untuk mengabaikan Edzar.


Edzar terus memperhatikan gerak-gerik Clara, yang sepertinya hendak mengambil sesuatu dari dalam lemari.


“Kau sedang mencari apa?” tanya Edzar, berdiri mematung di dekat pintu, dengan tubuhnya yang bersandar di dinding dan tangan yang disilangkan di atas perut.


“A-aku mencari selimut,” jawab Clara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Edzar.


Edzar merasa geram atas sikap Clara yang dingin padanya, akhirnya Edzar pun menghampiri Clara dan berdiri tepat di belakangnya. Clara merasa sudah tidak enak hati, akan posisi mereka yang sudah berdekatan seperti itu.


Clara mencoba untuk tak peduli, tapi saat dirinya hendak menarik selimut yang ada di lemari bagian paling atas, ia sedikit kesulitan, karena tangannya yang tak sampai untuk menarik selimut itu. Dan perlahan tangan Edzar  menumpu di atas tangan Clara. Edzar menarik selimut itu, lalu memberikannya kepada Clara.


“Ini, ambillah,” imbuh Edzar. Clara pun segera mengambilnya, dan dengan buru-buru ia melangkahkan kakinya pergi ke kamar tanpa mengucapkan terima kasih.


“Huft... apa aku harus bersabar kepadanya?” gumam Edzar sambil menatap kepergian Clara.


Sejenak ia berdiam di ruangan itu, dengan pikirannya yang masih kalut. Edzar membuang nafasnya dengan kasar. “Baiklah, aku memang harus menahannya. Lagipula aku tak boleh melakukan hal itu kepadanya. Setelah kepulangan Ralline nanti, aku harus bisa melepaskannya,” gumamnya lagi dalam hati.


Lalu, Edzar pun keluar dari ruangan itu, dan ia sedikit dikejutkan dengan Clara yang tengah berbaring di atas sofa. Dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Edzar seakan murka melihatnya. Dan tanpa segan Edzar  menghampirinya kemudian langsung menyingkapkan selimut itu dari tubuh Clara.


“Kenapa kau tidur di sini hah?” tanya Edzar dengan nada suara yang tak ramah.


Clara yang sangat terkejut akan perilaku Edzar, ia langsung bangun dan terduduk dengan kaki yang menjuntai di atas lantai, dan selimut yang masih menutupi sebagian badannya.


“A-aku hanya ingin tidur di sini saja,” jawabnya gugup.


“Lalu, jika kau tidur di sini, apa aku harus ikut tidur berdempetan denganmu di sofa ini hah?” tanya Edzar sedikit emosi.

__ADS_1


“T-tidak begitu, Suamiku.” Clara menundukkan kepalanya merasa takut akan amarah suaminya itu.


“Kalau begitu, cepat kau pindah kembali ke tempat tidur!” serunya.


Clara tak menyahut bahkan ia hanya diam tak bergeming sedikit pun. Clara sebenarnya sedang merasa takut, Clara takut kalau Edzar akan bertindak lebih kepadanya. Maka dari itu Clara berinisiatif untuk tidak tidur satu ranjang dengan Edzar, untuk antisipasi.


“Kenapa kau diam saja hah!”


“Ck! Dia ini, benar-benar menyebalkan. Aku harus bagaimana ya Tuhan... aku benar-benar takut padanya,” batin Clara merasa gundah.


Edzar masih menatap kesal istrinya itu. Karena Clara masih tidak mau pergi ke tempat tidur. “Baiklah, kalau kau tak mau berpindah sendiri, aku yang akan memindahkanmu.” Tanpa segan, Edzar langsung memangku Clara  dengan kedua tangannya. Clara memberontak minta diturunkan, tapi Edzar tak memedulikannya.


Dan saat Edzar hampir sampai ke tempat tidur, tanpa diduga, kakinya terpeleset karena menginjak selimut yang menjuntai dari tubuh Clara. Dan ....


Bruk!


Mereka berdua langsung terjatuh tepat di atas tempat tidur, dengan tubuh Clara yang tertindih oleh tubuh kekar suaminya itu. “Aw... kepalaku,” ucap Clara mengusap keningnya yang sakit, karena keningnya beradu cukup kerasa dengan kening Edzar.


"Sudah, tidak apa-apa," jawabnya lirih.


Edzar mengusap-usap kening Clara dengan pelan. Hingga kini, matanya tertuju pada dua bola mata berwarna coklat muda yang begitu indah dan menyejukkan pandangan, apalagi saat bulu mata lebat milik manik istrinya itu saling bertautan secara pelan, membuat Edzar semakin terpesona dan terpaku melihatnya.


Begitupun dengan Clara yang tertegun takjub saat ia menatap kedua bola mata Edzar yang berwarna silver itu. Hidung bangir suaminya yang bagai perosotan, pun bibir Edzar yang sedikit merah dan tampak bergelombang.


Perasaan di antara mereka pun kian berdebar. Edzar menatap sayu bibir imut yang sedikit berisi milik istrinya itu, ia menelan dengan kuat saliva yang terasa tercekat di kerongkongannya. Pun dengan Clara yang tak bisa berpaling dari wajah tampan milik suaminya. Mereka berdua seakan benar-benar terhipnotis, tak bisa lagi saling mengelak akan msing-masing perasaannya, yang selalu berdebar setiap kali mereka bertatap mata, apalagi dengan jarak yang begitu dekat.


Dan ... tiba-tiba, tanpa aba-aba Edzar langsung membenamkan bibirnya dengan bibir Clara. Kedua mata Clara langsung membulat dengan sempurna, saat sentuhan hangat dari bibir suaminya itu tepat membungkam mulutnya.


Perlahan kecupan itu berubah menjadi sebuah *******, ******* dan gigitan yang terasa lembut dan pelan. Clara memejamkan matanya, mencoba mengikuti permainan bibir dari suaminya. Dan lagi-lagi Clara hanya bisa terdiam, menikmati setiap ritme yang dilakukan suaminya itu, karena jujur saja, Clara masih begitu kaku untuk melakukan semua hal ini. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam, Clara juga teramat senang dan sangat menikmatinya, karena memang dirinya yang sudah dewasa dan tentunya ia sudah menginginkan hal-hal seperti ini.


Lidah Edzar kini mulai menerobos masuk ke dalam mulut Clara, mereka berdua pun saling belajar bertukar saliva. Dan semakin lama, keadaan pun semakin terasa memanas, darah di dalam tubuh mereka seakan kian deras mengalir, dengan tubuh yang sudah meremang merasakan sensasi denyut dan gundah yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan.

__ADS_1


Edzar perlahan menggeser bibirnya ke bawah dagu Clara, ia mengecup dan menghisap leher putih istrinya itu dengan kuat, bahkan ia juga meninggalkan beberapa tanda kiss mark di sana. Tangannya kini mulai bergeriliya lincah masuk ke dalam piyama yang digunakan Clara. Perlahan tangannya bermain dengan asyik di atas gundukan kembar milik Clara. Clara sudah tak bisa menahan desahannya lagi. Dan tanpa ia sadari, mulutnya itu mulai mengeluarkan suara yang mampu membangkitkan gariah semangat Edzar.


Edzar yang mendengarnya, ia merasa begitu semakin bersemangat, benih-benih kejantanannya itu seolah meronta-ronta. Dan tanpa pikir panjang, ia langsung melucuti semua pakaiannya dan juga pakaian Clara. Hingga akhirnya, mereka berdua, bisa melihat masing-masing  tubuh mereka satu sama lain tanpa tertutup benang sehelai pun.


Meskipun Clara menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Edzar, tapi tetap saja dalam hatinya ia masih merasa takut, ia benar-benar was-was jika penyesalan akan datang setelah mereka melakukan hal ini.


Tapi semakin Edzar bergerak menjamah setiap inchi tubuhnya, pun dengan tangannya yang sudah bermain ke atas dan ke bawah, hal itu  benar-benar memanjakan tubuh Clara, Clara sudah tak bisa  lagi menahannya. Ia benar-benar harus merelakan mahkotanya itu untuk lelaki tampan yang sudah berstatus sebagai suaminya tersebut.


“Aku menginginkanmu, Clara,” bisik Edzar begitu pelan, sambil memberikan kiss mark di leher Clara. Membuat Clara kembali melenguh dan mengeluarkan suara yang benar-benar membuat Edzar bersemangat.


“Aku sudah tak bisa menahannya lagi Clara, aku harus melakukannya,” ucap Edzar langsung, membuka kedua kaki Clara, melebarkannya dan segera membenamkan kepemilikannya ke dalam mahkota Clara. .


Meski sangat susah untuk memasukkannya, tapi dalam beberapa hentakkan akhirnya burung keras milik Edzar itu berhasil memasuki kandangnya. Meski sang pemilik kandang, merasa kesakitan, hingga Clara sedikit mengeluarkan buliran air mata dari kedua sudut netranya itu.


Perlahan, Edzar mencoba memainkannya. "Aw ... s-sakit, ah," lirih Clara, meskipun di awal terasa cukup meyakitkan bagi Clara, tapi lama-kelamaan, semua terasa begitu nikmat, seiring dengan pergerakan nikmat yang dilakukan suaminya itu, membuat Clara terasa tengah diterbangkan ke atas awang-awang.


Dan malam panjang pun berlalu, dinding kamar pun menjadi saksi bisu atas pergulatan antara dua insan yang tengah dimabuk nafsu itu. Dan kamar yang awalnya sepi itu, kini dipenuhi oleh suara manja dari mulut Clara. Suara yang begitu nagih di telinga Edzar. Suara yang nantinya akan menjadi candu bagi lelaki yang saat ini tengah menikmati enaknya surga dunia.


Setelah beberapa kali membuat Clra mencapai titik puncaknya, bahkan membuat wanita itu kewalahan dengan kekuatan Edzar, akhirnya Edzar sampai juga pada titik puncak kenikmatannya. Edzar memejamkan matanya, dengan dagunya yang terangkat ke atas, juga mulutnya yang sedikit terbuka dan tubuhnya yang meggelinjang demi mengeluarkan sesuatu yang sudah begitu lama, dipendam dalam tubuhnya itu. Dadanya yang naik turun mengikuti ritme nafasnya yang terengah-engah. Ia mengerang keras, saat sensai kenikmatan itu semakin menjalar di seluruh tubuhnya. "Ahhh ..."


Sekian detik berikutnya, Edzar melapaskan penyatuan antara dirinya dengan Clara, lalu Edzar kembali mengecup bibir manis Clara dengan lembut, sementara Clara, wanita itu sudah terlelap karena kelelahan. Edzar tersenyum begitu bahagia memandangi wajah cantik dari wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. Terlebih ia sangat bahagia karena bisa memiliki Clara secara seutuhnya, meski kedepannya ia tidak tahu hal apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua, mengingat ia sudah berjanji kepada Gerald akan menceraikan Clara setelah Ralline ditemukan.


Ia pun membalutkan selimut tebal berwarna putih itu di tubuh Clara juga di tubuhnya. Ia memeluk tubuh Clara dengan begitu erat. Dan setelah melakukan pergumulan itu, ada sesuatu yang kian tumbuh di hatinya. Edzar semakin yakin untuk tidak melepaskan Clara dari hidupnya.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku, Clara,” gumam Edzar, sambil memberi kecupan penuh kasih sayang di puncak kepala Clara, berulang kali. Hingga akhirnya lelaki itu pun ikut tertidur di samping istrinya dengan lelap.


Maafkan author yang membuat adegan macam ini ya.


Yuk ahhh istighfar bereng-bareng dulu. Astagfirullah hal'adzim.


Hahaha. Jangan lupa untuk menabur vote, like dan juga komentarnya ya...

__ADS_1


Follow ig author @dela.delia25 untuk cek visual para tokoh dari novel Love's Mr. Arrogant.


__ADS_2