Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant
Sekretaris Menyebalkan


__ADS_3

Keesokan paginya, Clara begitu bersemangat untuk menyiapkan keperluan suaminya, yang katanya hari ini akan bekerja. Edzar bangun dari tidurnya, dan sudah mendapat sapaan hangat dari sang istri.


"Selamat pagi, Tuan, bagaimana tidurnya ... nyenyak bukan?" Clara yang sudah berdandan cantik dengan polesan bedak dan sedikit lipstik di bibirnya, serta dres bunga-bunga berwarna putih selutut yang dikenakannya, membuat tampilan gadis itu begitu anggun dan menawan, terlebih rambut berwarna madu yang digerai menggantung di belakang punggung, membuat Clara tampil cantik alami dan menyejukkan pandangan.


Edzar menyipitkan kedua matanya, sambil terduduk di tepi ranjang. Ia membuang muka tak ingin melihat kecantikan istrinya itu. "Cih, dia mulai berani menggodaku ternyata," batin Edzar, tanpa berkata sepatah kata pun, lelaki itu bergegas pergi ke kamar mandi.


"Aneh sekali, pagi-pagi seperti ini dia sudah menyambutku dengan senyumannya yang menggelikan itu," gumam Edzar menggidikkan bahunya.


Setelah selesai mandi, Edzar pun segera mengenakan pakaiannya di ruang wardrobe. Setelah itu, ia keluar untuk menemui Clara sejenak.


"Hey, kenapa kau berdiam diri di situ?" tanya Edzar, saat melihat Clara sedang asyik menikmati pemandangan di balkon.


Clara segera menoleh sambil tetap mengembangkan senyuman manisnya. "Ada apa, Tuan?"


"Bantu aku memakai dasi," ucap Edzar dengan wajahnya yang tidak terlihat ramah, ia pun kembali masuk ke ruang wardrobe, diikuti oleh Clara di belakangnya.


"Pilihkan yang sesuai dengan bajuku," titah Edzar.


Clara pun segera mendekati lemari, di mana, terdapat banyak dasi-dasi yang begitu bagus dengan bebagaimacam warna dan model. Ia pun memilih beberapa dasi yang menurut ia cocok dengan setelan jas navy yang dipakai oleh suaminya itu.


Perlahan Clara mengalungkan dasi berwarna navy kombinasi garis putih dan hitam itu di leher Edzar, Namun, karena tinggi Edzar yang jauh berbeda dengannya, membuat Clara agak kesulitan untuk merapikan dasinya.


"Tuan, apa kau bisa lebih sedikit membungkukkan badanmu?" pinta Clara, sopan. Tiba-tiba Edzar melirik ke bangku kecil yang memang dikhususkan untuk Clara. Lalu ia pun menarik bangku kecil yang ada di dekatnya itu menggunakan sebelah kakinya.


"Naiklah." Clara menunduk melihat bangku kecil yang sudah ada di dekat kakinya, ia pun menurut.


Saat Clara sedang sibuk membuat simpul dasi, Edzar tiba-tiba memajukan tubuhnya satu langkah lebih dekat, membuat jarak di antara mereka begitu dekat.


Clara berusaha  untuk tetap fokus, meski saat ini jantungnya sedang tidak aman karena di landa debaran kencang. "Fokus, Clara, fokus," batinnya.


Sedangkan Edzar, kedua matanya kini mulai mengamati keindahan wajah sang istri, bulu mata yang lentik dan hitam, alis yang tersisir rapi, lekuk tulang hidung yang begitu indah, serta bibir berwarna merah alami yang selalu menggoda matanya itu semakin lama ditatap semakin membuat debaran jantungnya tidak normal. Bahkan Edzar dapat menghirup wangi khas dari rambut Clara.


"Sudah, Tuan." Clara menjauhkan wajahnya dari Edzar.


Edzar terhenyak, ia baru tersadar, karena sejak tadi terlalu fokus kepada wajah Clara.


"Emh." Edzar berbalik membelakangi Clara, setelah hatinya merasakan sesuatu yang mendebarkan.


"Sial, kenapa aku bisa gagal fokus padanya."

__ADS_1


***


Setelah sarapan pagi, Clara mengantar Edzar ke depan rumah. Sky sudah bersiap membukakan pintu mobil untuk Tuannya itu.


"Kau masih ingat bukan dengan peraturan yang aku buat?" tanya Edzar sedikit berbisik. Clara yang mematung tegap itu, ia mengangguk mengiyakan.


"Ingat! Jangan kau berani melanggar aturan lagi. Atau kakakmu yang akan menderita. Camkan itu!" seru Edzar penuh penekanan, lalu lelaki itu pun masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mendengar pernyataan itu, Clara masih harus bersandiwara tetap memasang wajah manisnya, sambil memberi lambaian tangan, pertanda selamat jalan kepada suaminya.


"Hati-hati," ucap Clara dengan senyumannya yang begitu manis. Sky yang melihat sekilas dari senyuman Clara ia langsung menunduk takut tidak kuat, dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyetir. Sedangkan Edzar, lelaki itu sama sekali tak menanggapi istrinya itu, bahkan sekedar menengok pun tidak.


Setelah mobil yang di tumpangi Sky dan Edzar melaju jauh, Clara pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Huh, sangat menyebealkan, harus tersenyum kepada orang dingin seperti dia. Tapi tidak apa, kini aku bebas bisa melakukan semua hal yang aku inginkan. Yeay ...." Clara begitu gembira penuh semangat melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga hendak menuju kamarnya.


Di belakang Clara, ada dua pengawal yang biasa berjaga di ruang depan, tapi kali ini pengawal itu mengikuti Clara. Mereka berdua berjalan tepat 5 meter di belakang Clara.


Awalnya Clara tidak curiga, mungkin pengawalnya itu hendak mengecek ruangan di atas juga.


Sampai pada akhirnya Clara masuk ke dalam kamarnya untuk mengikat rambutnya di ikat dengan model bun, ikatan yang paling di sukainya.


"Loh, kalian kenapa ada di sini?" tanya Clara heran.


"Kami ditugaskan oleh Tuan Sky, untuk menjaga, Nona," jawab kedua pengawal itu bersamaan.


"Apa-apaan sekretaris kaku itu, main ngasih bodyguard segala! ... Hih, dasar sekretaris menyebalkan!" gerutu Clara dalam hati.


"Aku kan ada di rumah, tidak akan pergi ke mana-mana, kalian berdua kembalilah, tidak perlu menjagaku sampai seperti ini," ucap Clara tidak nyaman.


"Tidak, Nona, ini sudah tugas kami untuk menjaga Nona dalam jarak dekat," jawab salah seorang pengawal itu.


"Oh ya Tuhan... baiklah, kalau begitu saya mau pergi berkeliling di rumah ini," ujar Clara, hendak melangkah keluar melewati dua pengawal itu. Namun, ternyata dua pengawal itu menahan tubuh Clara agar wanita itu tak bisa pergi ke mana pun.


"Maaf Nona, tapi Tuan Sky bilang Nona hanya boleh melakukan kegiatan Nona di dalam kamar saja, dan jika ada sesuatu yang dibutuhkan oleh Nona, Nona bisa memintanya kepada kami," ucap salah seorang pengawal itu.


"Apa! Peraturan macam apa ini?!"  Clara mencebikkan bibirnya merasa kesal. Lalu ia pun masuk kembali ke dalam kamar sambil menutup pintunya dengan keras.


"Dasar sekretaris menyebalkan. Berani sekali dia melarangku untuk melakukan sesuatu di rumah ini." Akhirnya mau tak mau Clara pun mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.

__ADS_1


"Argh... sungguh membosankan! Masa iya aku harus seharian berada di kamar ini." Clara mengambil remote yang ada di samping TV, lalu menyalakannya. Ia mencari tontonan yang menurutnya menarik, tapi ia tak bisa menemukan satu pun tontonan yang menarik baginya.


"Ahhhh ya Tuhan, apa aku harus terkurung setiap hari di kamar mewah ini? Kalo aku terkurung bersama kak Gerlad sih nggak apa-apa. Setidaknya kak Gerald orangnya seru, pandai menghibur dan tidak membosankan. Argh... kenapa harus seperti ini sih! Aku serumah dengan saudaraku, tapi kenapa untuk bertemu dengannya saja begitu sulit," keluh Clara sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk, mengotak-atik remote TV yang tak ada hentinya terus mencari-cari tontonan menarik.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Edzar baru saja selesai melakukan meeting dengan beberapa investor di perusahaannya.


Sky datang untuk menyerahkan berkas perizinan mengenai detektif yang akan mencari keberadaan Ralline.


"Tuan Brayen sudah menunggu di ruangan Anda Tuan," ucap Sky memberi tahu. Edzar mengangguk kemudian ia pun segera bergegas pergi ke ruang kerjanya.


Setelah duduk beberapa menit dan berbincang mengenai surat perizinan serta biaya yang harus dikeluarkan. Kini edzar mulai menanyakan perihal estimasi waktunya.


"Lalu untuk perkiraan, semua masalah ini bisa selesai dalam jangka waktu berapa lama?" tanya Edzar.


"Paling cepat satu bulan, Tuan dan paling lambat bisa sampai 3 bulan," jawab Brayen.


Edzar mengerutkan dahinya. "Apa harus selama itu?"


"Benar, Tuan, dikarenakan saya harus mengumpulkan data dari semua orang yang terkait, juga saya harus mengidentifikasi jejaknya terlebih dahulu, Tuan."


"Hm... baiklah, kau uruslah semuanya, kuharap adikku ini bisa ditemukan lebih cepat dari waktu yang kamu perkirakan." Brayen mengangguk, lalu setelah selesai, lelaki itu pun bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Edzar.


***


Sky masih fokus dengan ponsel yang ada di tangannya. Ia sedari tadi terus menghubungi pelayan rumah, yaitu Angel. Untuk memastikan keadaan Clara, jangan sampai Clara membuat kekacauan ketika Edzar tak ada di rumah.


[Nona Clara baru saja meminta dibuatkan mie instan campur telur, apa saya harus membuatkannya? Karena dia tidak mau jika dibuatkan mie handmade. - Angel]


[Buatkan saja, tapi cukup satu kali ini saja. Dan jangan biarkan Tuan Edzar mengetahuinya. Setelah itu, berikan dia camilan buah. - Sky]


Setelah selesai mengirim pesan kepada Angel. Sky pun kembali mematikan ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.


"Haih... sudah kuduga, dia pasti akan meminta hal- hal yang tak menyehatkan seperti itu," gumam sky dalam hati, sambil menggeleng pelan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2