Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 11 Reuni


__ADS_3

Bantu author recehan ini dengan cara tekan like... like.... like yang banyak ya.


****


Abelia terus menyusuri jalan setapak yang ada dikebun bunganya, udara pagi yang dingin mengiringi langkah kecil kakinya.


Orang-orang masih bergulung di atas kasur dibawah selimut, Abelia sudah berada dibawah embun pagi yang menyelimuti Desa Mekar sari.


Abelia sesekali menggosok-gosok kedua tangannya, untuk membuat kedua tangannya menjadi hangat dan menempelkan tangannya ke pipinya. Tetapi hal tersebut tidak dapat mengurangi rasa dingin nya.


"Hih.. kenapa dingin sekali, jaket yang kukenakan tidak ngaruh sepertinya ." Abelia menarik kancing jaketnya sampai ke lehernya.


"Kenapa neng?" tanya ibu-ibu pemetik bunga yang melintas dari depannya.


"Dinding sekali hari ini ya bi ." kata Abelia.


"Mungkin karena tadi malam baru turun hujan neng." jawab ibu.


"Mungkin ya bi, sudah selesai bi ?" tanya Abelia.


"Sudah neng." ucap ibu tersebut, dan kemudian meninggalkan Abelia sendiri dengan rasa dinginnya.


Abelia kemudian kembali untuk melihat para pekerja yang menyusun semua bunga yang akan dibawa kepasar.


"Mang Sukri sendirian yang antar ke pasar ya ." ucap Abelia ke pada Mang Sukri.


"Nak Jo kemana ?" tanya Mang Sukri, karena selalunya dirinya dan Jonathan yang mengantar bunganya ke pasar.


"Hari ini Bang Jo ada urusan katanya Mang ." kata Abelia.


"Oh gitu ya Neng, Kalau Neng ikut mobil atau naik sepeda ?"


"Naik sepeda saja Mang, hitung-hitung olahraga saja ."


"Eneng sudah kurus begitu ." celetuk seorang ibu.


"Olahraga bukan buat kurus bi, tapi biar sehat."


"He....he..iya.ya Neng, kurus belum pasti sehat. Gendut kayak bibi belum tentu banyak penyakit ya.." ucap bi Marni yang mempunyai badan gendut tapi lincah pergerakannya.


"Marni bukan gendut, tapi makmur.." ucap bi Ida.


"Dah ah...Abel duluan ya, nanti buru matahari bangun ."


"Hati-hati Neng ." ujar Mang Sukri.


"Iya mang ." Jawab Abelia.


Abelia mengambil sepedanya, dan mendorongnya sampai keluar pagar rumahnya. Kemudian Abelia mulai mengayuh sepedanya dengan santai, suasana masih gelap tapi jalanan sudah banyak orang berlalu lalang menuju pasar pagi.


"Selamat pagi bunga.." sapa orang yang berpapasan dengan dirinya.


"Pagi.."

__ADS_1


"Pagi Neng bunga." sapa setiap orang yang berpapasan dengan nya dijalan.


"Hih... bisa-bisa orang melupakan nama Abelia." gumamnya.


****


Hari ini Abelia berjanji jumpa dengan Andy dan kedua temannya.


"Andy, elu kenapa ganteng sih ? dulu elu cupu ." ucap Rozi spontan.


"Ya..elah... manusia harus berubah makin berkembang, tidak seperti elu kenapa makin hancur ." balas Andy sembari tertawa.


"Gue muji elu tong.. kenapa elu ngejek gue, nggak asik elu jadi teman ah..." cemberut Rozi.


"Sudah..! kenapa ribut sih, Mai mana ni ?" tanya Abelia.


"Tadi katanya dia telat datang, mau nganterin emaknya dulu ." kata Rozi.


"Andy kapan elu pulang ?"


"Kenapa, elu bosan lihat gue ?"


"Hih ni bocah, gue nanya bagus-bagus. Kalau elu masih lama dirumah kakek elu, kita bisa kumpul-kumpul lagi ." ujar Rozi dengan jengkel.


"he..he...besok gue sudah balik, nanti kalau gue tidak sibuk. Kita temuan lagi."


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Mai tiba dengan ngos-ngosan. Begitu tiba langsung mengambil minuman yang berada diatas meja.


"Minta dulu, lu pesan lagi ." Mai menghabiskan minuman Abelia.


"Duduk, kenapa elu kecapean begini." Abelia menyuruh Mai duduk di kursi sebelahnya.


"Huaa..hua..a.a...." tiba-tiba Mai menangis, membuat ketiga temannya kaget.


"He..Maimun, kenapa nangis. Cup...cup..wes diam ya nanti kita beli permen ." ujar Rozi.


"Gue lagi sedih, hiks....hiks..!" Mai tetap melanjutkan tangisannya dan kepalanya ditundukkan nya ke meja.


"Sedih apa ?" tanya Abelia.


Mai mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah Andy yang baru disadarinya keberadaan nya.


"Siapa cowok ganteng ini..?" tanya Mai sembari menghapus air matanya dan tangisannya langsung reda.


"Hih dasar cewek, tadi sok nangis. Begitu melihat pria bening sedikit langsung reda tu air mata ." omel Rozi.


"Itu Andy, elu lupa ?" tanya Abelia.


"Hai Mai." sapa Andy.


"Elu Andy, cowok cupu dan kutu buku itu ?" tanya Mai heran, karena setahu nya dahulu Andy tidak sekeren saat ini.


"Lengkap bener elu sebut tentang gue Mai, cowok rangking 1 belum elu sebut Mai ." kata Andy.

__ADS_1


"He...he..sorry, elu berubah sekali. Makin keren, mana kacamata elu. " ujar Mai.


"Gue operasi mata, bye...bye kacamata.." ucap Andy sembari tertawa.


"Hiks...hiks..." Mai melanjutkan tangisannya, membuat temannya heran.


"Lah..! lanjut lagi nangis nya, dasar betina. Ntar nangis lalu berhenti, nangis lagi...." ujar Rozi sewot melihat kelakuan Mai.


"Mai, kenapa lanjut lagi sih nangisnya. Diam, malu dilihatin orang. Ada masalah apa ?" tanya Abelia.


"Kalian pasti tidak percaya, gue segede ini akan punya adek bayi. Hiks...hiks...!" ucap Mai sambil menangis lagi.


"What...!? Rozi kaget dan mulutnya terbuka lebar.


"Nah lo saja kaget, apa lagi gue. Seharusnya tu gue yang pantes punya anak, bukannya emak gue yang sudah jompo !" ujar Mai.


"Mai, emak elu belum jompo. Gila lu bilang emak lu jompo ." ujar Abelia.


"Emak elu 50 saja belum, elu bilang jompo." ujar Rozi.


"Emak gue baru 40 tahun ." kata Mai.


"Ya..elah, nggak pa-pa kali punya baby lagi. " Andy ikut nimbrung.


"Gue kan malu, sudah segede gini punya adek baby. Hiks...hiks."


"Sudah terjadi, elu mau apa. Apa elu mau tu adek lu di musnahkan ?" tanya Rozi.


"Buset lu Rozi, emangnya calon adek gue sampah. Pakai di musnahkan segala." ujar Mai memandang Rozi dengan juteknya.


"Gue bilang gitu elu marah, sayang nya elu dengan calon adek lu." kata Rozi.


"Nggak tahu ah, bunda dan ayah gue tu. Main Antam kromo aja, hamil kan jadinya."


"Terima saja Mai, syukur punya adek, gue mau minta adek. Tidak bisa lagi, Orang tua gue sudah happy terus di sana ." ucap Abelia dengan ekspresi yang sedih.


"Maaf Abel, gue mengingatkan pada orang tua lu ." kata Mai dan mengelus pundaknya Abelia.


"Sudah ah, sedih-sedihnya. Besok gue mau pulang. Masa pertemuan kita setelah lama Pisah dibanjiri air mata." ujar Andy.


"Iya nih, Mai elu pasrah saja. Terima tu adek elu, kalau elu nggak mau nerima tu orok kasih ke gue. Gue sudah lama minta adek, tapi tidak bisa. Bibit nya sudah tidak ada lagi, mak gue tidak akan gue izinkan cari bibit baru ." kata Rozi.


"Enak aja elu main minta, buat sendiri punya elu. Hamilin anak orang ." balas Mai.


"Elu saja gue hamilin mau ." ujar Rozi sembari mengedip-ngedipkan matanya dengan tatapan yang genit.


"ogah gue, tapi kalau Andy gue terima. Anak gue nanti pintar, kalau elu nanti bisa-bisa Bayi gue gemulainya seperti elu." kata Mai.


Mereka tertawa mendengar ucapan Mai, begitu juga dengan Rozi. Tidak ada sakit hati mendengar perkataan sahabat nya sejak SMP.


**Bersambung


Bantu like...like... like ya kakak-kakak, biar author semangat ngehalu ðŸĪŠðŸ˜›ðŸ˜œ**

__ADS_1


__ADS_2